NAKU JOSEI

NAKU JOSEI
KEBENCIAN YANG TERPENDAM


__ADS_3

"Nori-san!" seru Yuki dari kejauhan.


"Jangan! Tetaplah di sana!" Nori-san memperingati Yuki dan Jack untuk tidak mendekat, tapi Naku Josei yang sudah menyadari kedatangan mereka berdua itu, langsung menerjang ke arah mereka.


Jack menarik tangan Yuki dan mendorongnya ke samping. Hal itu membuat Jack menerima serangan dari Naku Josei, dan membuatnya terlempar ke sebuah batang pohon.


"Jack!" teriak Yuki.


"Sial!" Nori-san hendak keluar dari lingkaran tersebut, namun Tomo-san menahan tangannya.


Sambil menyodorkan kitab yang di genggamnya itu, Tomo-san berkata, "Ambillah kitab ini, dan pergi ke tempat yang teduh. Kalau kitabnya sampai basah, kau akan kesulitan untuk membacanya."


"Tapi- "


"Dengarkan aku!" sela Tomo-san. "Kau harus melakukannya sekarang juga, atau semuanya akan sia-sia!"


"Tapi, bagaimana denganmu?" tanya Nori-san.


"Untuk apa kau mengkhawatirkanku? ini semua salahku! Jadi ... pergilah! Pergi!" bentak Tomo-san sambil mendorongnya.


Di sisi lain, Yuki berlari ke arah Jack untuk membatunya berdiri. Untuk kedua kalinya iblis itu kembali menyerang mereka berdua, tapi kali ini serangan itu digagalkan oleh Nori-san yang dengan cepat melemparkan garam terakhir yang dia miliki dari belakang.


Nori-san berlari ke arah mereka berdua dan langsung menarik tangan Yuki. "Cepat! kita harus pergi dari sini!"


Mereka bertiga pun kembali menuju kubangan air lumpur itu, lalu melompat ke bawah dan berlari memasuki gua.


"Hey, nyalakan senter ponsel kalian berdua!" suruh Nori-san.


"Bagaimana dengan Tomo-san?" tanya Yuki.


"Tidak ada yang bisa kita lakukan dalam keadaan seperti ini selain lari. Aku sudah mendapatkan kitabnya, karena itulah kita harus memancing iblis itu ke tempat yang sedikit luas," jelas Nori-san.


Mereka bertiga terus berlari di dalam kegelapan lorong gua itu untuk kembali menuju kuil Raion. Sedangkan di waktu yang sama, Tomo-san yang terlihat sudah sekarat itu, tersandar di sebuah pohon dengan darah yang tak berhenti mengalir keluar dari perutnya.


Dia tahu bahwa dia akan mati, karena pendarahannya yang sangat parah itu tidak mungkin bisa dia hentikan.


Kepalanya terasa pusing dan penglihatannya mulai kabur; detak jantung yang melemah; nafas yang terengah-engah; dia mulai berhalusinasi dan mengingat semua masa lalunya.


Kilas balik ...


Juni, 1989. Kuil Raion.


"Hoe, Tomo-kun," seorang pria mendekat. "Lihatlah ... ada murid baru. Dia seorang gadis," ucapnya sambil mengarahkan pandangannya ke salah seorang gadis cantik yang sedang berjalan bersama Kotaro sensei di koridor kuil.


"Siapa itu ?" batin Tomo-san.

__ADS_1


"Baiklah anak-anak, sekarang berkumpul di depan halaman kuil" suruh seorang biksu di sana.


Para murid pun berjalan menuju halaman kuil dan membuat barisan.


Siang itu, Kotaro sensei mengumumkan tentang liburan musim panas yang akhirnya telah tiba. Hal itu membuat para murid menjadi senang dan bersorak sorai gembira.


"Oh ya, sebelum kita memulai pelajaran siang ini, aku akan memperkenalkan teman baru kalian di akademi ini," Kotaro sensei memanggil gadis yang dilihat olah Tomo-san beberapa saat yang lalu.


Gadis itu terlihat rapih, sopan, dan murah senyum. Dari penampilannya saja sudah membuat para murid yang berbaris menjadi terpukau.


"wooaah ... cantik sekali," gumam beberapa murid yang sedang berbaris.


Gadis itu berjalan ke depan menaiki tangga, lalu mulai memperkenalkan diri.


"Watashinonamaewa Noridesu. hajimemashite,"


(Namaku Nori, senang berkenalan dengan kalian) sapanya dengan menunduk.


"Namaku Jintan! Salam kenal, ya ...," seru seorang murid bertubuh gemuk di sana yang kemudian di timpal oleh beberapa murid lainnya yang juga memperkenalkan nama mereka kepadanya.


Hari itu pun berlalu, dan hari berganti hari. Nori-san yang merupakan murid baru di sana, mulai beradaptasi dan terbiasa dengan para murid yang lain. Tidak hanya teman-temannya yang dibuat kagum olehnya. Para guru pun kagum melihat kepintaran dan kecerdasan yang dia miliki. Hal itu sepertinya telah membuat Tomo-san terpesona setiap kali melihat Nori-san.


"Sepertinya Nori-chan akan menjadi sainganmu, ya ... Tomo-kun," ucap salah seorang temannya; menyindir, karena Tomo-san adalah murid terpintar saat itu dengan nilai tertinggi di akademi.


"Sepertinya aku mulai menyukainya," gumam Tomo-san dalam hati.


Perasaannya itu mulai berbunga-bunga ketika akademi melakukan kegiatan berkemah di gunung Tomioka. Malam itu, mereka bedua duduk bersebelahan. Sambil meminum teh hangat, mereka berbincang satu sama lain; saling bertukar cerita dan memberitahu cita-cita mereka.


Hati Tomo-san menjadi semakin tidak karuan ketika senyuman manis Nori-san membuat jantungnya berdebar sangat kencang.


"Aku harus jujur padanya. Aku akan mengatakannya," batin Tomo-san.


Beberapa hari setelah malam itu, Tomo-san berkata kepada teman-temannya bahwa dia akan mengungkapkan perasaannya kepada Nori-san. Semua teman-temannya terlihat kaget, tapi juga mendukungnya.


Mereka pun mempersiapkan waktu dan tempat yang tepat.


Sampai hari itu pun tiba bagi Tomo-san untuk mengungkapkan perasaannya. Khisima, salah satu temannya memberikan serangkai bunga untuk diberikan kepada Nori-san.


"Ini, dia pasti akan suka dengan bunga ini," ucap khisima sambil menyodorkan bunga tersebut.


Akhirnya, siang itu, pukul 2:00 PM. Tomo-san mengajak Nori-san ke sebuah taman yang ada di belakang kuil. Di sana, dia mulai mengungkapkan semua perasaannya.


Tomo-san menyodorkan bunga kepadanya. "A-aku ... menyukaimu, Nori-chan!" ungkapnya.


Tidak ada jawaban apa pun dari Nori-san selain hanya sebuah tawaan yang keluar dari mulutnya.

__ADS_1


"Kenapa kau tertawa? Aku bersungguh-sungguh, tahu!" tegasnya.


"Eeeeto ... bagaimana, ya. Jujur saja, aku tidar tertarik dengan hal percintaan, atau tepatnya belum tertarik, apalagi dalam usia semuda ini," Nori-san melangkah mundur. "Dan kau juga, Tomo-kun. Bukankah kau akan menjadi seorang biksu? Seorang biksu itu tidak boleh pacaran, tahu!" ujarnya.


"Ta-tapi ...,"


"Sudahlah, aku tidak punya waktu untuk hal semacam ini. Bukankah kita ini teman, 'kan?" Nori-san mulai berjalan. "Oh ya, satu lagi...," dia membalikan badan. "Aku sangat alergi dengan bunga," ucapnya yang kemudian berjalan pergi meninggalkan Tomo-san.


Hal itu membuat Tomo-san terdiam sejenak, sampai teman-temannya yang mengintip dari kejauhan itu mendekatinya dan menepuk pundaknya.


"Sudahlah, masih banyak gadis yang lebih manis darinya, Tomo-kun," bujuk Jintan.


Tapi, semua bujukan dari teman-temannya itu tidak menghibur sama sekali bagi Tomo-san. Dia mulai terlihat kesal dan melempar bunga yang di genggamnya itu, lalu menginjak-injaknya sampai hancur.


"Hoe ... apa yang kau lakukan? Tomo-kun!" khisima memegang tangannya.


Tomo-san melepaskan genggaman tangan khisima; menghiraukan semua ucapan teman-temannya itu, dan berlari pergi.


Semenjak hari itu, secara diam-diam Tomo-san mulai membenci Nori-san. Perasaan cintanya itu telah berubah menjadi kebencian yang mendalam.


Kebenciannya terhadap Nori-san semakin menjadi-jadi ketika Nori-san mulai mengambil alih posisinya sebagai murid dengan peringkat tertinggi.


Semua perhatian mulai tertuju kepada Nori-san yang sudah menjadi murid terpintar di akademi saat itu, apalagi saat dia mendapatkan penghargaan dari pemerintah atas prestasi yang diraihnya.


Hal itu membuat Tomo-san iri dan dengki terhadap gadis yang dulu pernah dia kagumi. Dia terus menjalani hidup dengan memendam benci di dalam hatinya, dan kebencian itu pun terus berlangsung hingga saat ini.


*****


JREEESSSSSSS ... GLUDIK GLUDUK!


Hujan turun semakin deras, dan Tomo-san terbaring sekarat dengan darah yang masih mengalir hebat dari perutnya itu.


"Hujan ini, aku benar-benar membencinya. Tidak, Nori-chan ... sampai detik ini pun, kau masih saja membuat hatiku berdebar-debar. Seandainya saja kau merasakan apa yang kurasakan selama ini. Nori-chan ...," batin Tomo-san.


"Waktuku sudah tiba, ya? Akhirnya ...," Tomo-san mulai menutup kedua matanya.


"Selamat tinggal ... Nori-chan."


.


.


*****


BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2