NAKU JOSEI

NAKU JOSEI
KEBENARAN YANG MULAI TERUNGKAP (Part 2)


__ADS_3

"Saat itu, hatiku benar-benar terasa hancur lebur. Aku tidak habis pikir dan tak menyangka kalau dia bisa sampai senekat itu.


Kau tahu ... setelah kejadian itu, kupikir warga desa akan berhenti untuk membicarakan hal negatif tentangnya. Tapi sebaliknya, gosipan mereka itu semakin menjadi-jadi. Mereka mulai bergosip tentang arwah Hanako yang tidak tenang dan gentayangan. Mereka mengatakan bahwa arwahnya selalu menangis setiap kali seseorang bertemu dengannya.


Tidak hanya sampai di situ saja. Tak lama kemudian, entah dari mana datangnya, tiba-tiba saja ada sebuah cerita tentang iblis yang di panggil dengan sebutan 'Naku Josei' beredar di kalangan masyarakat. Mereka mengatakan bahwa iblis itu sering kali menculik anak-anak untuk dimakan jantungnya dan diminum darahnya hingga tubuh mereka menjadi kurus kering. Hal itu membuatku semakin membenci para penduduk desa ketika tuduhan itu dilontarkan kepada Hanako, istriku."


"Tunggu dulu ... tadi kau mengatakan bahwa kejadian itu terjadi enampuluh tahun yang lalu, 'kan?" tanya Yuki.


"Ya, saat itu aku berumur duapuluh tujuh tahun, sedangkan Hanako duapuluh lima tahun," jawab Yusuke-san.


"Ini aneh sekali," sela Yoshino-san. "Berdasarkan cerita yang beredar, mereka pernah menyegel Naku Josei di gunung Tomioka sekitar enampuluh enam tahun yang lalu. Lalu ... bagaimana mungkin?"


"Enampuluh enam tahun yang lalu ?" batin Yuki; menatap Yoshino-san. "Itu artinya ... saat peristiwa penyegelan, Hanako-san masih hidup. Benar, 'kan?"


Mereka semua terdiam sejenak, kemudian Yusuke-san tertawa lirih. "Itulah akibatnya kalau kalian mendengar cerita yang tersebar dari mulut ke mulut. Sudah kubilang, Hanako tidak mungkin menjadi iblis yang mengerikan seperti itu," ujarnya yang kemudian duduk kembali di kursi. "Aku tidak tahu kenapa mereka bisa menganggapku gila. Bagaimana menurutmu? Apa munurutmu aku ini terlihat seperti orang gila, hah?" Dia mendekatkan wajahnya ke arah Yuki.


Yuki memundurkan kursinya. "Kenapa kau masih menyendiri di sini? Itu membuatmu menjadi bahan pembicaraan bagi orang-orang di desa," ujarnya.


"Hah? Sendiri? Aku tidak pernah sendirian di sini. Hanako selalu ada bersamaku di rumah ini, dia akan selalu ada, dan tidak ada seorang pun yang boleh mengganggu kami berdua," jawab Yusuke-san; berdiri dari kursinya dan berjalan menuju sebuah ruangan yang tak jauh dari tempat merereka duduk.


"Dasar gila," gumam Jack dalam hati.


Nori-san berdiri dari tempatnya. "Kalau begitu, sepertinya tidak ada lagi yang perlu kami dengar darimu. Ayo ... kita per- "


"Di ruangan inilah Hanako menggantung dirinya sendiri," sela Yusuke-san yang membuat perkataan Nori-san terhenti. "Di kamar inilah dia mengakhiri hidupnya," tuturnya lagi.


Mereka berempat pun mengikutinya memasuki kamar tersebut.


"Jika aku merasa kesepian, aku selalu memasuki kamar ini untuk berbincang dengan istriku, Hanako. Lihatlah ... bahkan tali yang dia gunakan untuk menggantung dirinya sendiri masih tergantung di atas sini," Yusuke-san membuka sehelai kain yang menutupi jendela kayu.


Cahaya yang masuk melalu jendela itu, menerangi seisi ruangan tersebut, dan di saat itu juga wajah Nori-san terlihat kaget setelah dia melihat sesosok tengkorak manusia yang sedang terduduk di kursi goyang, dengan rambut panjang yang terurai.


"A-apa maksudnya ini? Tengkorak siapa ini!" tanya Nori-san dengan nada membentak.


"Aaaaghh ...," jerit Yuki yang baru saja menyadarinya.


"Orang ini ... dia benar-benar sudah gila," gumam Jack dalam hati sambil menarik Yuki mundur.


"Ke-kenapa ... Yusuke-san?" tanya Yuki terbata-bata; tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Yusuke-san membalikan badannya. "Kenapa kalian terlihat kaget seperti itu? Sudah kubilang, 'kan. Hanako akan selalu ada di rumah ini bersamaku, he..he..he. Aku juga memasangkan rambut palsu di kepalanya. Bagaimana? Dia terlihat cantik, 'kan?"


"Orang ini ...," gumam Nori-san dalam hati sambil melangkah mundur. "Tadinya ... kupikir perkataan orang-orang desa itu salah, tapi ternyata kau memang benar-benar tidak waras! Ayo ... kita pergi dari sini!" tegas Nori-san, berjalan keluar.


"Ayo ... Yuki." Jack menarik tangannya.


Mereka pun melangkah keluar dari gubuk tersebut, dan berjalan menuruni tangga menuju desa.


Dari kejauhan, Yusuke-san berteriak kepada mereka, "Kalian semua akan mati! Tidak ada seorang pun yang bisa selamat dari jeratan iblis itu! Kalian semua ... mati! Ha..ha..ha ...!"

__ADS_1


Mereka semua menghiraukan teriakannya itu, dan terus berjalan menuruni tangga.


Sesampainya di desa, mereka langsung berlari menuju mobil.


"Sekarang kau sudah puas, Yuki-chan?" tanya Nori-san.


Yuki tidak menjawabnya dan hanya memalingkan wajahnya ke luar jendela mobil.


"Kita harus bergegas pergi menuju jembatan itu sebelum malam tiba," tegas Nori-san yang langsung menancap pedal gas.


*****


Pukul 5:15 PM.


Saat itu, langit sudah terlihat semakin gelap ketika mereka tiba di jembatan Han'ei.


"Biara itu tak jauh dari ujung jembatan ini," ujar Yoshino-san.


Dari kejauhan, terlihat sebuah mobil yang sedang terparkir di ujung jembatan.


"Nori-san, mobil itu ...," ucap Yoshino-san menatap tajam.


Mereka pun memarkirkan mobil di ujung jembatan; turun dari mobil, dan berjalan mengikuti jalan setapak menuju biara.


Sesampainya mereka di sana.


"Ayo ... cepat! Kita harus mencari kitabnya di belakang" tegas Nori-san, berjalan memutari biara.


"Cepat lepaskan kain itu dan buka petinya!" suruh Nori-san.


"Ah ... peti ini terkunci!" keluh Yoshino-san yang berusaha untuk membuka peti tersebut.


"Pasti kuncinya disembunyikan di suatu tempat," ucap Jack.


Tanpa pikir panjang, Jack langsung mengambil sebuah batu yang berada di sana, dan langsung memukulkannya ke peti tersebut. "Tidak ada cari lain lagi selain menghancurkannya, 'kan?"


Beberapa saat setelah usahanya itu, peti itu pun akhirnya hancur terbongkar.


"Berhasil! Eh?" Jack keheranan setelah melihat peti yang terlihat kosong. "Apa maksudnya ini? Kenapa petinya kosong?"


Yoshino-san dan Nori-san saling bertatapan mata. Mereka menganggukan kepala satu sama lain, seakan-akan baru menyadari sesuatu hal.


"Ayo kita pergi dari sini! Sepertinya ucapan si kakek tua Takamura itu hanyalah sebuah omong kosong belaka!" tegas Nori-san; berjalan pergi memutari biara.


"A-apa! Apa maksudmu? Kita sudah jauh-jauh datang kemari," keluh Yuki. "Kitab itu pasti ada di sekit- "


"Yuki-chan! Ikuti saja perintahnya! Ayo pergi," sela Yoshino-san yang juga berjalan pergi.


"Ayo ... kita juga," Jack menarik tangan Yuki.

__ADS_1


.


.


Beberapa menit setelah mereka meninggalkan tempat itu, tiba-tiba saja seseorang menampakan dirinya dari belakang pohon yang berada di dekat biara tersebut. Itu adalah Tomo-san.


"Huufft ... Hampir saja. Bagaimana mereka bisa tahu tentang kitab ini? Apakah Takamura-sama yang memberitahu mereka ?" gumam Tomo-san dalam hati; menggenggam sebuah kitab di tangannya.


Sambil menyeka keringat di jidatnya, dia kemudian berjalan pergi menuju mobilnya yang terparkir di dekat jembatan. Namun, sesampainya dia di sana ...


"Sudah kuduga ... kau orangnya, Tomo-san!" bentak Yoshino-san yang tiba-tiba saja muncul bersama Yuki dan Jack dari balik mobilnya.


Tomo-san terkejut melihat mereka bertiga. "Ka-kalian ... bagaimana bisa ...," ucapnya terbata-bata.


Yoshino-san berjalan mendekatinya. "Hah? Kenapa kau terlihat terkejut seperti itu? Mobilmu saja terparkir terang-terangan di sini!


Kilas balik ...


"Nori-san, mobil itu ...," Yoshino-san menatap tajam ke arah Nori-san.


.


.


Ayo kita pergi dari sini! Sepertinya ucapan si kakek tua Takamura itu hanyalah sebuah omong kosong belaka!" tegas Nori-san; berjalan pergi memutari biara.


"A-apa! Apa maksudmu? Kita sudah jauh-jauh datang kemari," keluh Yuki. "Kitab itu pasti ada di sekit- "


"Yuki-chan! Ikuti saja perkataannya! Ayo pergi," sela Yoshino-san yang juga berjalan pergi.


"Ayo ... kita juga," Jack menarik tangan Yuki.


Mereka semua memutari biara, dan berjalan menuju sebuah mobil yang sedang terparkir di dekat jembatan itu. Yuki bertanya kepada Nori-san mengenai apa yang harus mereka lakukan.


"Jadi ... apa rencanamu selanjutnya?" tanya Yuki.


"Rencana? Tidak ada. kita tidak perlu rencana B ... karena Kitab itu masih ada di sini," jawabnya.


"A-apa maksudmu? Aku tidak mengerti," tanyanya lagi yang terlihat kebingungan.


Yoshino-san melangkahkan kakinya mendekati mobil tersebut. "Nori-san, mobil ini ...?"


Nori-san menatap wajah mereka bertiga. "Ya, tidak salah lagi. Ini mobil milik Tomo-san!"


.


.


*****

__ADS_1


BERSAMBUNG ...


__ADS_2