
...Jika bisa, aku ingin mati saat ini juga. Rasanya berat melihat orang yang dicintai pergi untuk selamanya....
...-Donzello...
.......
.......
...๐ฅ๐ฅ๐ฅ...
(Dialog dan Monolog yang bercetak miring menggunakan Bahasa Italia.)
...FLASHBACK ON...
.......
.......
|Kejadian 15 tahun yang lalu|
"Halo, Ibu." Sapa Ello dari balik telepon genggamnya.
Senyuman cerah diperlihatkan olehnya ketika mendapati sang Ibu menelepon.
"Ello sayang, kamu sudah dimana sekarang? Apa masih lama sampainya?" Balas wanita itu.
"Iya Bu, tadi ada beberapa kendala. Sekitar 30 menit lagi aku akan sampai di rumah. Apa Ibu merindukanku?" Tanya pria yang baru genap berumur 20 tahun itu.
"Tentu saja. Kami sangat merindukanmu, nak. Lihat, adikmu merengek karena kau belum juga sampai."
"Ahaha... benarkah? Kalau begitu katakan padanya aku akan segera sampai. Dan katakan aku membawa banyak hadiah untuknya."
"Benarkah? Apa untuk Ibu tidak ada?"
"Tentu saja ada Bu. Tunggulah aku kembali."
Cukup lama mereka berdua berbincang hangat. Rasa rindu bertemu keluarganya setelah menyelesaikan pendidikan di luar negeri membuat senyuman Ello tak memudar sedikit pun selama perjalanan.
Ello adalah anak yang jenius, sehingga ia dapat menyelesaikan studinya di umur 20 tahun. Ia begitu cemerlang. Ia populer dalam segala bidang yang diikutinya, bukan hanya karena otaknya yang encer, tetapi karena ia juga dikenal sebagai Prince Charming.
Tak sesuai perkiraan, akhirnya Ello sampai di mansion keluarganya 40 menit kemudian.
Sesampainya Ello di mansion itu, tidak ada Ibu maupun sang adik yang menyambutnya.
Bahkan tidak ada satu pun pelayan yang terlihat.
"Isaac, kenapa mansion ini sangat sepi? Apa mereka ingin membuat kejutan untukku?" Tanya Ello kepada asistennya.
"Saya juga tidak tahu Tuan Ello. Saya rasa ada yang aneh." Jawab asisten Ello yang mulai menatap serius ke sekelilingnya.
Rupanya perkataan Isaac barusan membuat Ello jadi sedikit cemas. Degupan jantungnya perlahan mulai berpacu memikirkan hal-hal buruk.
"Segera kau periksa cctv setiap ruangan di mansion ini! Oh ya, cobalah untuk menghubungi Javer. Dia kepala pelayan, harusnya dia bertanggung jawab atas apa yang terjadi di mansion ini." Perintah Ello.
Ello mulai berjalan mengitari setiap ruangan di mansion itu. Ia berharap bahwa semua hal buruk yang dipikirkannya saat ini takkan terjadi.
Dengan wajah masam, Ello tak henti memanggil nomor Ibu dan adiknya. Namun, tak ada jawaban sama sekali.
"Ini tidak lucu." Gumamnya sambil menatap layar handphone miliknya.
"Ibu! Serena! Berhenti, sudah cukup main-mainnya! Ini tidak lucu!!" Pekik Ello berpindah dari ruangan yang satu ke ruangan yang lain.
"Tsk, kemana pula perginya semua pelayan mansion ini!" Gumamnya sambil berdecak kesal.
Saat akan meninggalkan ruangan dapur, mata Ello tak sengaja melihat banyak tumpukan piring kotor yang terletak di meja dapur. Ello merasa semakin yakin bahwa ada yang tidak beres.
Itu karena Javer, sang kepala pelayan, adalah orang yang sangat tegas. Ia tak mungkin membiarkan bawahannya meninggalkan pekerjaan seperti sekarang ini.
__ADS_1
"Sepertinya ini sudah sempat dikerjakan oleh mereka. Mereka sengaja meninggalkan piring-piring ini di sini. Tapi kenapa?" Tanya Ello dalam hati, berusaha menyimpulkan sesuatu.
Tiba-tiba, handphonenya berbunyi. Itu adalah panggilan dari Isaac.
"Apa kau menemukan sesuatu Isaac?"
"Tuan, Anda harus datang ke ruang keamanan. Kurasa Anda harus melihatnya sendiri." Jawab Isaac dengan suara yang terdengar gugup.
Ello berusaha menepis semua pikiran buruknya. Dalam hati, ia berdoa pada Tuhan agar tak terjadi sesuatu yang buruk pada keluarganya.
Sesampainya di ruang keamanan di mansion itu, Isaac memperlihatkan bahwa cctv di setiap ruangan telah sengaja dimatikan oleh seseorang.
Sesuatu membuat cctv itu tidak bisa beroperasi kembali, dan beberapa rekamannya sudah tidak ditemukan.
"Isaac, coba periksa rekaman cctv taman belakang mansion." Perintah Ello pada Isaac.
Entah kenapa, ada dorongan yang membuat Ello harus memeriksanya.
"Ya, kebetulan saya juga belum memeriksa yang itu." Jawab Isaac, dan kemudian ia mulai mencari rekaman cctv di taman belakang mansion.
Dan benar saja, Ello melihat Ibu dan adiknya diseret ke taman belakang oleh seorang pemuda bertubuh kekar.
Wajah pria itu tidak kelihatan, karena dia menggunakan topeng.
Ibu dan adik Ello tampak tidak berdaya untuk melawan pria itu. Tak lama setelah mereka berdua diseret, datanglah sekelompok orang dengan pakaian dan topeng yang sama.
Setelah itu, kamera cctv ditembak oleh salah seorang di antara mereka.
Melihat itu, hati Ello terasa sangat terbakar. Matanya penuh amarah, napasnya memberat, dan rahangnya mengeras.
"Siapa bajingan itu?!" Umpatnya dengan suara tertahan.
"Tuan, sebaiknya kita pergi dulu dari sini. Mungkin ada petunjuk di taman belakang. Ayo kita kesana." Ucap Isaac.
Tidak berpikir lama, Isaac dan Ello kemudian pergi menuju taman belakang mansion.
"Tuan... Tuan Elloo... Tolong, Tolong selamatkan Nyonya dan Nona muda! Mereka dibawa ke tempat ini!" Ucap pelayan wanita yang berderai air mata itu sambil memberikan alat pelacak pada Ello.
Belum sempat menanyakan mengenai orang yang menyandera Ibu dan adiknya, pelayan itu sudah lebih dulu meregang nyawa.
'Ini gila! Apa yang sebenarnya terjadi?!' Pikir Ello frustasi.
"Tuan, biar saya urus pelayan ini. Anda pergilah lebih dulu ke tempat itu. Sepertinya pelayan ini menempelkan alat pelacak di tubuh orang yang menyandera Nyonya dan Nona Serena." Kata Isaac.
Sebenarnya ia juga syok dengan semua ini, namun ia berusaha tegar agar Tuannya tidak semakin terpuruk.
"Tapi bagaimana mungkin seorang pelayan punya alat seperti ini? Apa yangโ"
"Tuan! Itu tak penting sekarang! Anda pergilah menyelamatkan Nyonya dan Nona Serena!!" Sergah Isaac.
Entah keberanian dari mana yang membuatnya mampu meninggikan suaranya pada sang Tuan.
Dengan pikiran dan perasaan yang campur aduk, Ello cepat-cepat pergi mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh ke titik yang tertera di alat pelacak dari pelayan itu.
Langit gelap dan petir yang menyambar-nyambar seolah menambah suasana mencekam yang terjadi. Derasnya air hujan, seolah meramalkan kesedihan mendalam yang akan dialami oleh Ello.
Tidak peduli dengan derasnya hujan dan petir yang menyambar-nyambar, Ello berlari sangat cepat mendekati titik itu.
Ia tidak bisa membawa mobilnya karena jalan ke tempat itu lebih sempit.
Itu adalah tempat yang sepi, banyak rumah, namun tidak ada siapa pun penghuni tempat itu. Sangat aneh, tapi Ello menepis pikirannya dan terus berlari ke titik yang ditujunya.
Hingga tak beberapa lama kemudian, ia sampai di tempat itu. Itu semacam rumah peternakan yang kumuh dan besar.
Ello tidak langsung masuk, ia memutuskan untuk mengintip dan mengawasi situasi di dalam rumah itu melalui jendela kecil pada sisi depan.
Dan saat melihat keadaan di dalam, samar ia melihat 2 tubuh manusia yang sepertinya sudah tak benyawa. Seorang tergeletak di tanah, sementara yang satunya tergantung, menjuntai di atap rumah itu.
__ADS_1
Pandangan Ello memburuk karena air hujan yang deras terus mengganggu penglihatannya.
Ia berkedip, berusaha membetulkan pandangannya.
Saat penglihatannya sudah membaik, ia melihat seorang pria bertopeng yang dilihatnya di cctv tadi.
Pria itu terlihat memegang pisau yang menancap di tubuh seseorang yang kelihatannya sudah terkulai lemas dalam pangkuannya.
"Siapa orang yang dibunuh pria itu?" Gumam Ello.
Saat dilihatnya lebih jelas lagi, betapa terkejutnya Ello ketika menyadari bahwa orang yang ada di pangkuan pria itu adalah Ibunya.
HAH HAAHH HAHHH...
Suara napas Ello tak lagi stabil.
Napasnya kian memberat dan terus memburu kala menyaksikan dan memikirkan hal buruk di kepalanya.
'Itu artinya tubuh yang digantung itu?'
'Siapa dia?'
...
Ello terdiam. Ia berusaha mencerna apa yang tengah disaksikannya.
Saat matanya mengarah pada tubuh yang tergantung itu,
DEGGโ
Tidak salah lagi, itu adalah adiknya, Serena.
Kilatan cahaya petir memperjelas bagaimana kondisi adiknya saat ini.
Ello melihat Serena dalam keadaan telanjang dan tubuh yang bersimbah darah. Dengan keji Serena digantung menjuntai dari atap rumah itu.
Melihat pemandangan keji itu, tubuh Ello mematung dan bergetar hebat. Entah karena tubuhnya yang kedinginan karena guyuran hujan, atau karena syok melihat kondisi Ibu dan adik tercintanya.
Hanya dalam hitungan detik, kegelapan datang seolah melahap akal sehatnya.
Tanpa pikir panjang Ello langsung masuk dan mendobrak pintu itu dengan sangat keras.
BRAKK
Sangkin kerasnya, pintu itu rusak dan terpental cukup jauh.
Tanpa pikir panjang Ello kemudian berlari menyambar tubuh pria itu dengan tinjunya yang sudah mengeras.
"ANJING SIALANN!! APA YANG KAU LAKUKAN, BAJINGANNN!!!!" Teriaknya keras saat melayangkan tinjunya.
.
.
.
Elloo ๐ญ
Gak kebayang deh gimana kalau aku jadi Ello.
Dalam sekejap jdi manusia paling kesepian di dunia karena semuanya hilang meninggalkan.
Perlahan tapi pasti...
Ehh malah spoiler ๐
__ADS_1
Btw terimakasih ya udh mampir.