
(Dialog dan Monolog bercetak miring mengguanakan Bahasa Italia, dan yang bercetak tebal menggunakan Bahasa Inggris)
Tiga tahun kemudian
Banyak hal telah terjadi selama tiga tahun belakangan semenjak peristiwa waktu itu. Peristiwa yang telah mengubah segalanya. Peristiwa yang merenggut segalanya dari kedua wanita dari keluarga Mataya itu—Ayudisha dan Belvina.
Sambil menatap kalung dengan liontin berhuruf A dan B yang saling bertautan, tak sadar Belvina meneteskan air matanya. Ia begitu merindukan sepupunya yang sudah seperti saudara kandungnya itu. Bagi Belvina, Disha adalah kakak sekaligus sahabatnya sejak masih kecil, jadi mana mungkin ia melupakannya begitu saja.
'Bagaimana kabarmu Disha? Apa kau baik-baik saja di sana?' Ucapnya dalam hati.
"Kuharap kita bisa bertemu lagi. Dan saat itu tiba, semoga kau tidak terlalu membenciku. Percayalah, aku juga tidak tau kenapa jadi seperti ini." Gumamnya dengan suara bergetar. Jemarinya bergerak mengelus liontin kalung yang berhurufkan A itu.
"Bell? Apa yang kau lakukan di sini? Semua orang sedang merayakan kemenangan di bawah dan kau malah menyendiri di teras?"
Ya, Belvina dan beberapa rekannya baru saja menyelesaikan misi rahasia yang diperintahkan dari markas utama. Karena mereka berhasil menyelesaikannya dengan sempurna, mereka langsung mengatur perayaan kecil-kecilan di markas mereka sekarang.
"Aku hanya ingin menghirup udara segar." Jawab Belvina dengan gerakan cepat menghapus air matanya. Ia tidak ingin bersedih di depan kekasihnya itu.
Miguel melangkah mendekat ke arah Belvina, lalu mengelus kepala kekasihnya itu dengan lembut.
"Kau tidak perlu mengkhawatirkannya. Dia pasti baik-baik saja di Indonesia. Kau bilang dia wanita yang kuat kan? Jika memang begitu, maka tak ada yang perlu dikhawatirkan." Ucap Miguel dengan suara paraunya yang lembut menyapa telinga Belvina.
"Maaf."
"Maaf? Buat apa?" Tanya Miguel heran.
Belvina mengalihkan pandangannya dari wajah Miguel, lalu bekata,
"Karena aku, kau jadi kehilangan mata kananmu." Ucap Disha sambil menahan air matanya agar tidak terjatuh.
Mendengar itu, Miguel kemudian tersenyum lembut, lalu membawa Belvina masuk ke dalam pelukannya.
"Aku ini adalah pria. Hmm... kalau bisa dibilang, mataku ini hanyalah aksesoris, karena tanpa mata pun aku masih bisa hidup dan bertahan di hutan amazon sekalipun." Ucapnya sambil tertawa pelan.
__ADS_1
Belvina kemudian mendongak dan sedikit memukul dada bidang pria itu.
"Apa yang kau katakan? Candaanmu itu tidak lucu tau!" Belvina kesal dengan ucapan Miguel barusan.
"Hahaha, maaf kalau kau kesal mendengarnya. Tapi aku serius Bell. Aku siap menyerahkan segalanya jika itu berkaitan denganmu. Aku tau bahwa sepupumu itu sangat berarti bagimu, jadi aku mana tega melihatmu bersedih jika sampai kehilangannya? Selain itu, jika aku tidak melakukan hal itu, aku yakin bahwa Tuan Ello takkan melepaskanmu. Yang kulakukan hanya untuk melindungi kekasihku, jadi apa aku salah? Lagi pula aku punya dua mata, kehilangan salah satunya tidak membuatku menjadi lemah. Kau setuju kan?" Jelas Miguel dengan tersenyum lembut.
Senyuman itu sangat lembut dan hangat hingga membuat hati Belvina terasa seperti meleleh. Belvina menjulurkan tangannya, menyentuh dengan lembut mata kanan kekasihnya yang ditutupi oleh penutup mata berwarna hitam.
"Terimakasih." Belvina tersenyum haru.
Miguel kemudian menunduk, menempelkan dahinya pada dahi Belvina lalu berkata, "Daripada ucapan terimakasih, aku lebih ingin mendengar sesuatu yang lain."
Belvina peka, jadi ia langsung mengerti apa yang diinginkan prianya itu. "I Love You." Ucapnya sambil tersenyum lebar. Hanya dengan mantra ajaib itu telinga Miguel jadi memerah, terlihat jelas bahwa ia begitu mencintai Belvina. Miguel mendekatkan wajahnya pada wajah Belvina, pandangannya mengunci pada satu titik yang tak lain adalah bibir Belvina yang sangat menggoda baginya.
Miguel meraih tengkuk Belvina lalu perlahan menempelkan bibir mereka. Tetapi sebelum mereka benar-benar melakukan ciuman yang sesungguhnya, sudah ada orang yang mengagalkannya. Suasananya jadi rusak karena deheman pria yang tak lain adalah rekan mereka.
"Maaf, tapi ada panggilan untukmu Miguel."
Miguel menghela napasnya kasar, sementara Belvina membuang muka, berpura-pura tak terjadi apapun. "Dari siapa?"
"Baik, aku akan menyusul."
Setelah mendapat jawaban Miguel, pria itu pun pergi.
"Tunggu di sini, aku akan kembali." Ucap Miguel yang dibalas anggukan pelan dari Belvina. Setelah itu, Miguel mengecup dahi Belvina lalu pergi. Belvina menatap punggung Miguel yang perlahan menjauh.
'Aku bersyukur mendapatkan pria seperti Miguel yang sangat mencintaiku. Jika tidak, tidak akan ada yang mengisi kekosonganku. Aku pun berharap kau mendapatkan pria yang sangat mencintaimu Disha, supaya kau tidak terlalu bersedih dan menyerah akan hidupmu. Jika hari itu tidak ada Miguel, mungkin aku akan mengakhiri hidupku. Semoga... semoga kau tak pernah terpikir untuk mengakhiri hidupmu...' Benak Belvina dengan tatapan nanar mengingat kejadian tiga tahun yang lalu.
FLASHBACK ON
BRUGH
Belvina terjatuh karena didorong dengan keras oleh seorang wanita bertopeng yang mengawalnya. Wanita itu memakai pakaian yang sama dengan orang-orang Lama Nera, jadi sudah jelas kalau dia juga adalah anggotanya. Meski memakai topeng, Belvina tau bahwa wanita yang mengawalnya itu cantik, tubuhnya semampai, sungguh sangat proporsional. Jika tidak memakai semua aksesori Lama Nera dan tidak sedang memegang senjata, mungkin orang yang melihatnya akan mengira kalau wanita itu adalah seorang model.
__ADS_1
Sebenarnya Belvina bisa saja melawan wanita itu jika tangannya tidak diborgol dan mulutnya tidak dibekap.
Beberapa waktu lalu sebelum wanita itu mengawalnya ke tempat yang gelap ini, Belvina mendapat surat panggilan dari Lama Nera. Ia diminta bertemu di suatu cafe yang sepi pengunjung di kota Milan, Italia.
Tetapi kemudian setelah lama menunggu, dia malah disergap, diikat, dan dibawa secara paksa ke tempat yang ia yakini adalah markas Lama Nera.
"Tuan, saya sudah membawanya." Ucap wanita itu.
"Kerja bagus Cayena, kau boleh pergi." Kata Romano.
'Namanya Cayena ya.' Benak Belvina.
Setelah wanita bernama Cayena itu keluar, Belvina mendongak, menatap ke sekelilingnya. Ia melihat ada dua orang pria bertubuh tegap di depannya. Mereka berdua terlihat tinggi dan gagah. Yang seorang memakai topeng dan berdiri menghadapnya, dan yang seorang lagi berdiri membelakanginya dengan kedua tangan yang ia masukkan ke saku celananya.
"Bell, Kau Bell, benar kan?" Romano membuka suara.
Dengan tersengal-sengal sambil mengatur napasnya, Belvina mengangguk, membenarkan ucapan pria di hadapannya itu, yang tidak ia tau siapa.
"Buka penutup mulutnya, dan bawa dia lebih dekat kemari." Ello mulai bersuara sambil berjalan ke arah kursi kosong di ruangan itu, lalu duduk dengan gestur angkuhnya.
'Dia juga memakai topeng. Kenapa wanita bernama Cayena tadi dan juga kedua pria ini memakai topeng? Tunggu... mereka tau kalau aku anggota Lama Nera tetapi masih juga memakai topeng di hadapanku, itu berarti... mereka adalah anggota inti?!' Ucap Belvina membuat kesimpulan dalam hatinya.
'Dan kalau tidak salah dengar, tadi Cayena menyebut "Tuan" dalam bahasa Italia. Berarti kemungkinan besar di antara mereka berdua, salah satunya adalah Tuan Donzello kan? Dan dilihat dari situasi sekarang, jelas pria yang sedang duduk di sana kemungkinan besar adalah Tuan Donzello, pemimpin Lama Nera.' Belvina menatap ke arah Ello sambil menelan salivanya karena gugup.
"Mimpi apa aku sampai bisa bertemu Tuan Ello? Apa aku akan mati hari ini?" Gumam Belvina tak dapat menyembunyikan kegugupannya.
Romano pun kemudian berjalan ke arah Belvina untuk menjalankan perintah tuannya itu. Setelah Belvina dibawa lebih dekat ke hadapan Ello, tiba-tiba wajah Belvina menggelap. Tenggorokannya terasa tercekat saat ia melihat pria yang duduk di depannya itu.
'Di-dia kan pria yang ada di pesta Disha waktu itu?! A-astaga—' Disha dengan cepat berpaling melihat baik-baik pria yang satunya, dan benar saja, ia sangat mengenal wajah bertopeng kedua pria itu. Mereka adalah kedua pria yang ia temui di acara Disha. Manik mata biru terang milik Ello, dan manik mata warna cokelat terang milik Romano, Belvina tak mungkin salah mengenalinya.
'Ja-jadi, Tuan Cedric sebenarnya adalah Tuan Ello?!' Benak Belvina. Napasnya mulai tak beraturan setelah mengetahui kebenarannya.
"Apa yang membuatmu begitu ketakutan? Apa kau sudah menyadari sesuatu?" Ucap Ello sambil tersenyum menyeringai.
__ADS_1
"Mati aku!"