Nona Milik Tuan Mafia!

Nona Milik Tuan Mafia!
Mengenang (II)


__ADS_3

...Bencilah aku sebesar kau menaruh cinta padanya. Karena hanya dengan begitu kau akan menemukan kebenarannya....


...-D'layola...


.......


.......


...🥀🥀🥀...


"ANJING SIALANN!! APA YANG KAU LAKUKAN, BAJINGANNN!!!!" Teriaknya keras saat melayangkan tinjunya.


Sayangnya, tinjuan itu tidak tepat sasaran. Pria bertopeng itu menghindar dengan mudahnya.


Tidak sampai di situ, dengan membabibuta Ello melayangkan tinjuan dan tendangannya lagi.


Namun tampaknya pria di hadapannya itu 10 kali lebih mahir daripada Ello. Dan satu tinjuan balasan dari pria itu, mampu membuat Ello ambruk seketika.


Tatapan dan aura membunuh dari Ello terasa begitu pekat. Air mata amarah perlahan menetes dari kedua matanya.


"Seorang pria seharusnya tidak menangis." Pria bertopeng itu mulai bersuara.


"DIAM KAU BAJINGANN!!" Hardik Ello dengan suara yang menggelegar bersamaan dengan suara petir yang menyambar.


Dengan cepat, Ello kemudian bangun dan melayangkan tinjunya lagi kepada pria itu.


"APA YANG KAU LAKUKAN PADA IBUKU DAN ADIKKU, BANGSATT?!" Teriak Ello lagi sambil menyerang pria bertopeng itu dengan membabibuta.


Namun pria itu lagi-lagi dapat menghindari serangan Ello.


Hingga satu serangan tipuan dari Ello membuat pukulannya mengenai topeng pria itu, sehingga setengahnya hancur dan memperlihatkan setengah wajahnya.


Saat akan melayangkan serangannya sekali lagi, tiba-tiba tengkuk Ello dipukul dari belakang.


Akibat pukulan itu, Ello ambruk dan terjatuh ke lantai. Ia berusaha mengembalikan kesadarannya, namun pandangannya kian memudar.


Yang ia tahu, orang yang barusan memukulnya itu adalah komplotan pria itu. Dan dari suaranya, jelas dia adalah seorang wanita.


"Mulai saat ini, hiduplah dalam kebencian." Ucap pria itu sambil berjongkok menatap Ello yang berusaha keras untuk bangun.


Meski pandangan Ello kabur, namun telinganya masih berfungsi dengan baik.


Sehingga ia berusaha merekam dengan jelas suara mereka berdua.


Ia berharap suatu hari akan menemukan kedua orang itu dan membalas dendam atas kematian Ibu dan adiknya.


...


Ello perlahan menatap ke arah Ibu dan adiknya bergantian, berusaha melihat dengan jelas kedua orang tersayangnya itu untuk terakhir kalinya.


Ia sedang mencoba menanamkan apa yang dilihatnya itu dalam kepalanya, agar ia tidak pernah lupa akan rasa sakit dan dendamnya seumur hidup.


Jika ia bertahan hidup, maka tujuan hidupnya hanyalah untuk membalas dendam!


Ello menangis, dengan tatapan nanar ia masih setia melihat ibu dan adiknya bergantian.

__ADS_1


Memori indah saat bersama mereka terulang kembali di kepala Ello.


"Tuhan, apa yang kau lakukan kepadaku? Dimana Kau saat semua ini terjadi? ... Mulai detik ini, aku tak lagi menganggapmu ada." Ucapnya lirih.


Dan tak lama kemudian, Ello kehilangan kesadarannya.


Satu hal yang masih diingat Ello dari percakapan yang samar itu adalah, wanita komplotan pria itu memanggilnya D'Layola.


.......


.......


...🥀🥀🥀...


Beberapa hari kemudian saat Ello terbangun, Ia sudah berada di kamar tidurnya


Ello bertanya dimana Ibu dan adiknya, ia berharap bahwa semua itu hanya mimpi buruknya.


"Maaf Tuan, seperti yang Anda tau, Nyonya Arumi dan Nona Serena sudah meninggal dunia." Ucap Isaac tanpa segan.


Mendengar itu, Ello bangun dan langsung menarik kerah baju asistennya.


"Apa yang kau katakan!!" Bentak Ello menggeram penuh amarah. Meski kepalanya teramat pusing saat ini, namun rasa emosinya jauh lebih mendominasi, sehingga membuatnya melupakan rasa sakitnya.


"Tuan Ello, tenanglah... Apa yang dikatakan Isaac memang benar. Kami juga sangat bersedih, tapi kami tak bisa melakukan apa-apa." Ucap salah seorang pelayan yang bekerja di mansion keluarga Ello.


Ello kemudian melepaskan kerah Isaac sembarang, lalu ditatapnya pelayan itu dengan tatapan sinis.


"Kau, dimana saja kau saat kejadian itu?" Tanya Ello mengintimidasi.


Mendengar jawaban dari pelayannya, Ello tertawa. Ia merasa tergelitik atas jawaban pelayan itu. 


Setelah puas tertawa, Ello bangkit dan turun dari kasurnya. Ia berjalan perlahan berusaha menjangkau wanita itu.


Ingin rasanya ia tekan leher kurusnya itu sekuat tenaga, untuk memuaskan hatinya.


Namun, keadaan tubuh yang masih belum membaik membuat Ello terjatuh ke lantai.


Saat beberapa pelayan dan Isaac melihat Ello terjatuh, mereka berteriak panik.


Kemudian, karena mendengar teriakan itu, dengan terburu-buru masuklah dua orang perawat beserta dokter keluarga Ello.


"Apa yang terjadi?!" Tanya Thomson, dokter keluarga Ello.


"Tu-tuan Ello terjatuh karena mencoba untuk berjalan." Jawab salah satu pelayan di tempat itu.


"Ello, kau belum boleh bergerak. Sudah 3 hari kau tidak sadarkan diri, jadi keadaan tubuhmu belum normal." Jelas Thomson.


"Tsk, menyebalkan!!" Ucap Ello sambil memegang pelipisnya.


"Ibu dan Serena?" Sambung Ello dengan pertanyaan.


"Tuan besar memerintahkan agar Nyonya dan Nona Serena segera dimakamkan di hari yang sama ketika mereka ditemukan." Jawab Isaac.


Mata Ello terbelalak. Ia tertawa sinis lagi setelah mendengar ucapan Isaac barusan.

__ADS_1


"Pria sampah itu bahkan tak bisa melindungi keluarganya sendiri. Aku bersumpah takkan menjadi sampah sepertinya!" Ucap Ello dengan sangat yakin.


Kemudian perlahan matanya tertutup, dan Ello kembali pingsan.


Beberapa hari setelah itu , Ayah Ello mengalami kecelakaan yang membuatnya menjadi pria cacat seumur hidup.


Ia menjadi lumpuh.


Dan semenjak hari itu pula, Ello tidak pernah lagi menganggap Ayahnya ada.


...FLASHBACK OFF...


.......


.......


Bagi tiran seperti Ello, sosok Ayahnya sudah mati 15 tahun yang lalu bersama Ibu dan adiknya.


Rasa bencinya pada sang Ayah, membuat Ello enggan untuk menikah. Ia jijik jika harus hidup dan menjadi seperti Ayahnya.


Peristiwa waktu itu telah membangkitkan kebencian dan kegelapan dalam diri Ello.


"Ibu, bukankah hidupku sangat mengenaskan? Kenapa hanya aku yang masih hidup? Kenapa kalian meninggalkanku sendirian?" Ucap Ello sambil mengelus kedua nisan di hadapannya.


"Setelah kejadian hari itu, aku terus saja mendapati pengkhianat di sekitarku. Aku yakin kalian sudah tau siapa." Kata Ello sambil tersenyum sinis.


"Sangkin terbiasanya, aku takkan terkejut lagi jika masih ada pengkhianat di sekitarku." Sambungnya lagi.


"Setelah balas dendamku terwujud, aku akan segera datang menemui kalian. Tunggu aku." 


Setelah mengatakan itu, kemudian Ello bangkit berdiri dan pergi meninggalkan tempat itu.


...***...


Setibanya di mansion, Ello langsung pergi ke area latihan untuk menyalurkan rasa amarahnya yang sempat bangkit karena mengingat memori lama.


"Ello, kau sudah kembali?" Tanya Romano yang kebetulan sedang berlatih pedang di ruangan itu.


"Seperti yang kau lihat."


"Ini pistolmu." Ucap Romano sambil memberikan senjata api milik tuannya itu. 


Ia tahu bahwa Ello akan berlatih dengan senjata apinya karena sarung tangan yang sudah terpasang di tangannya.


"Panggil para pembuat onar itu kemari. Aku bosan dengan sasaran mati, sasaran hidup akan menghiburku." Pungkas Ello sambil mengokang senjatanya.


Sesuai permintaannya, beberapa tahanan dari ruang bawah tanah milik Ello dihadapkan padanya.


Ini adalah hari eksekusi bagi mereka, dan hari penghiburan diri bagi Ello.


.


.


__ADS_1


__ADS_2