Nona Milik Tuan Mafia!

Nona Milik Tuan Mafia!
Cedric Voltage


__ADS_3

Di hari berikutnya,


Voltage Corp. adalah salah satu perusahaan ternama di Indonesia yang masih terhitung baru, namun sudah mampu mengembangkan sayapnya hingga perusahaan besar seperti Mataya menggandengnya untuk menjalin kerja sama.


Perusahaan itu tak lain adalah milik pengusaha bernama Cedric Voltage.


Cedric Voltage adalah pengusaha misterius yang jarang muncul di acara-acara penting yang beberapa kali digelar di Indonesia, sebab kabarnya ia tinggal di luar negeri dan sibuk mengurus perusahaannya yang lain di sana.


Tetapi meskipun begitu, namanya selalu disebutkan ketika acara besar diselenggarakan. Itu sudah pasti karena kehebatannya dan reputasi baik yang ditorehkannya.


Para pengusaha lainnya hanya pernah mendengar namanya, dan hanya sedikit yang pernah melihat sosoknya. Jangankan pengusaha lain, para pegawai di perusahaan Cedric Voltage sendiri pun tidak pernah melihat boss mereka. Bahkan fotonya saja tidak pernah dipajang di perusahaan.


Karena itu, berbagai rumor mulai bermunculan mengenai Cedric. Mulai dari Cedric yang dikatakan punya penyakit sosial, trauma berat, punya penyakit menular, dan masih banyak lagi. Tidak sedikit juga yang yakin bahwa Cedric mempunyai tampang buruk rupa, sehingga mungkin ia malu tampil di depan banyak orang. Tetapi rumor ini terbantahkan karena beberapa pengusaha yang pernah melihatnya secara langsung, bilang bahwa Cedric sangatlah tampan.


Karena tidak ada yang pernah mengambil fotonya dan membuktikannya, jadi itu dianggap hanyalah rumor belaka.


Karena itulah, untuk membuktikan itu semua, hari ini seisi perusahaan Voltage menyiapkan hati, mata, dan pikiran mereka untuk menyaksikan sosok Cedric yang misterius.


Hari ini adalah hari dimana boss mereka, Cedric Voltage, berkunjung ke perusahaan setelah sekian lama.


"Ahh, aku tidak sabar melihat tuan Voltage. Namanya saja sudah keren, apalagi orangnya!" Seru seorang pegawai dengan semangatnya membayangkan wajah Cedric.


"Kyaa~~! Benarr!!" Teriak mereka satu sama lain.


Karena asik membicarakan boss mereka, tanpa sadar mereka sudah meninggalkan tugas yang diperintahkan oleh Sylvia, asisten Manajer perusahaan Voltage.


Sylvia geleng-geleng melihat kumpulan wanita yang berdiri melingkar sambil kesenangan membahas Cedric.


"Apa aku boleh gabung? Sepertinya kalian membahas sesuatu yang menyenangkan." Ucap Sylvia sambil tersenyum. Namun dibalik senyumannya itu, jelas ia menyimpan kemarahan.


"Ah, No-nona Sylvia." Ucap salah seorang pegawai. Mereka semua pun melihat ke arah Sylvia, sebelum akhirnya kabur berhamburan karena tertangkap basah.


"Dasar." Gumam Sylvia.


Sylvia kemudian kembali ke ruangannya. Ia duduk dan menatap pemandangan di luar kaca besar itu.


"Cedric, sudah lama sejak saat itu. Kuharap kali ini kau tinggal lebih lama." Gumamnya.


Kemudian perlahan ia menutup matanya sambil bersandar di kursi kerjanya yang empuk.


Bzzzt... bzzztt...


'Siapa yang menelepon?' Batinnya sambil menghela napas. Dengan malas ia menjangkau handphone yang terletak cukup jauh darinya.


'Erwin?' Ucapnya dalam hati ketika membaca nama penelpon yang tertera di hpnya.


Sylvia mengangkat panggilan itu, lalu berkata, "Halo?"


"Halo, Nona Sylvia, kami akan sampai 30 menit lagi. Kau sudah mempersiapkannya dengan baik kan?" Ucap pria bernama Erwin dari telepon.

__ADS_1


"Ya, sudah beres. Kupikir akan lebih lama lagi." Balas Sylvia.


"Heeh? Aku tau kau malah berharap kurang dari 30 menit kan? Hahaha, kau tidak berubah." Goda Erwin.


"Ck, diamlah. Menyetir saja yang benar!" Sergah Sylvia, namun sekarang wajahnya tengah memerah menahan malu.


"Ahahaha... baiklah. Sudah ya."


"Ah, tunggu." Kata Sylvia.


"Huh? Ada apa? Apa ada sesuatu?" Tanya Erwin. Ia bingung kenapa Sylvia jadi suka berbicara lama lewat telepon selain urusan pekerjaan.


"Kali ini apa alasan Tuan Cedric kembali?" Tanya Sylvia ragu-ragu.


"Ah ya ampun, kukira ada apa. Kita bicarakan nanti saja di kantor. Sepertinya Tuan Cedric akan memarahiku. Dia terus menatapku dari belakang." Ucap Erwin setengah berbisik.


Mendengar itu, Sylvia sedikit panik. Ia takut dinilai buruk oleh Cedric karena menelepon terlalu lama pada waktu bekerja, apalagi yang dibahas bukanlah tentang pekerjaan.


"Ah baiklah. Hati-hati." Ucap Sylvia.


Setelah itu, sambungan panggilan berakhir. Sylvia menghela napasnya panjang, kemudian menidurkan kepalanya di atas mejanya.


"Bagaimana ini..." Gumamnya pelan.


.......


.......


.......


.......


Di Perjalanan menuju Voltage Corp.


"Ah ini menyenangkan, setiap kali kita berkunjung ke perusahaanmu di berbagai negara, aku bebas meledek para fans wanitamu. Kasihan mereka yang selalu dicueki oleh seseorang~" Sindir Erwin, tangan kanan Cedric.


Cedric sadar bahwa ia sedang disindir, tapi ia hanya menatap Erwin datar lalu berkata, "Aku tidak tertarik dengan urusan wanita."


"Dasar sialan." Gumam Erwin pelan sambil mengemudikan mobil.


Mata Cedric menyipit karena merasa seperti mendengar umpatan untuknya dari orang yang tengah duduk di kursi kemudi itu. "Apa kau bilang?"


"Ah tidak, tidak ada." Balas Erwin sambil tersenyum manis.


"Ngomong-ngomong Cedric, pelafalan bahasa Indonesiamu sudah jauh lebih baik. Skillmu berkembang jauh lebih cepat dari yang kubayangkan." Puji Erwin.


"Ya, seharusnya kau tidak terlalu terkejut. Cepat lajukan mobilnya, aku ingin segera menyelesaikan urusanku di negara ini." Jawab Cedric dingin.


Erwin memasang senyuman paksa, lalu memutar bola matanya malas sambil bergumam, "Ck, dasar."

__ADS_1


35 Menit kemudian sampailah Erwin dan Cedric di Voltage Corp. Mereka disambut dengan sangat baik oleh para staf/pegawai, serta golongan penting perusahaan.


Tidak ada satu media pun yang datang untuk meliput kedatangan pengusaha kaya raya dan misterius itu, karena begitulah permintaan Cedric sejak awal. Keamanan di sekitar perusahaan itu benar-benar sangat ketat.


Selain itu, siapa pun yang hadir menyambut Cedric, dilarang memotretnya tanpa seizin Cedric sendiri. Dan begitulah mereka semua menuruti perintah atasan mereka, karena keloyalitasan mereka yang luar biasa.


Saat Cedric mulai melangkah keluar dari mobil mewahnya, semua mata yang memandangnya jelas menunjukkan rasa kagum. Mereka saling berbisik melihat boss mereka yang sangat tampan dan bertubuh atletis itu. Para wanita jelas dibuat berdebar-debar melihat sosoknya yang begitu maskulin.


Ekspresi Cedric yang tegas dan dingin menambah karismanya, sehingga ia semakin terlihat mendominasi. Memang pantaslah Cedric disebut sebagai boss.


"Lihatlah kulit tan Tuan Cedric, Oh Tuhan, dia sangat hot~!" Puji salah satu staf saat melihat Cedric dari kejauhan.


"Dan jangan lupakan juga mata birunya yang menyala itu! Astaga, dari kejauhan pun matanya terlihat jernih~!" Ucap salah seorang lainnya.


Para staff dan pegawai yang berbaris menyambut Cedric menjadi ricuh saat mereka menyaksikan secara langsung boss mereka yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya. Rasanya mereka ingin memamerkan boss mereka yang super tampan kepada perusahaan lainnya.


"Sepertinya tak apa kalau satu foto? Iya kan? Lagi pula aku tidak melihat Nona Sylvia di sekitar sini." Ucap pegawai wanita di barisan itu.


Saat diangkatnya handphonenya dan bersiap untuk memotret, tiba-tiba seseorang muncul dari belakangnya, menyentuh kedua pundaknya sambil berkata, "Coba saja kau memotretnya, kau akan lihat akibatnya." Ucapnya dengan nada penuh tekanan yang mengancam.


Karena terkejut, mereka spontan melihat ke arah belakang. Beberapa staff di sekitaran itu langsung menunduk dan meminta maaf pada orang itu, yang tak lain adalah Sylvia sendiri. Setelah Sylvia memperingatkan mereka sekali lagi, ia segera pergi menghampiri Cedric dan Erwin yang tengah berbincang ringan dengan beberapa orang penting yang tengah menyambut mereka.


"Lama tidak bertemu Tuan Cedric." Sapanya sambil menatap Cedric.


Cedric hanya mengangguk membalas sapaan Sylvia, sebelum akhirnya Erwin menyapa Sylvia sambil tersenyum hangat, "Halo Nona Sylvia, Anda semakin cantik saja."


"Terimakasih Erwin. Tuan Cedric, Sebaiknya kita berbicara di dalam saja." Ucap Sylvia.


Cedric kemudian mengangguk, sementara Erwin menatap kesal pada Sylvia yang masih bersikap cuek padanya.


Cedric beserta rombongannya pun berjalan di antara barisan para pegawai dan orang-orang yang berkepentingan di perusahaan itu. Perhatian tak hanya ditujukan untuk Cedric, beberapa diantara para staf wanita juga ada yang mengagumi dan memuji ketampanan tangan kanan Cedric, yaitu Erwin.


Setelah beberapa pembicaraan singkat di ruang meeting perusahaan, Cedric kembali ke ruangan pribadinya untuk melanjutkan beberapa pekerjaannya. Sementara Sylvia menyeret Erwin ke ruangannya untuk membicarakan sesutu.


"Aduh Nona Sylvia, Anda ini membuat saya salah paham." Goda Erwin sambil tersenyum nakal.


Sylvia menatap malas pada Erwin, lalu ia duduk di kursinya.


"Apa alasan Tuan Cedric kembali? Pasti alasannya bukan hanya karena ingin melihat perkembangan perusahaan kan?" Tanya Sylvia serius.


Melihat ekspresi Sylvia yang begitu serius, membuat Erwin jadi lebih ingin menggodanya. Menurutnya menggoda wanita yang perasaannya sangat terlihat jelas seperti Sylvia ini sangatlah menyenangkan. Apalagi Sylvia adalah wanita yang gengsian.


"Bagaimana kalau kubilang Tuan Cedric datang karena ingin melihatmu?" Ucapnya sambil tersenyum lebar.


Mendengar itu, mata Sylvia terbelalak. Meski ekspresinya tetap datar dan masih dapat dikendalikan, namun telinganya yang memerah itu tak dapat ia sembunyikan.


.


.

__ADS_1



__ADS_2