
Drrt Drrt Drrt
"Disha, sepertinya ada yang meneleponmu tuh." Ucap Belvina mengarahkan pandangannya pada handphone yang terletak di atas meja yang letaknya agak jauh dari mereka.
Disha ikut melihat ke arah yang sama, lalu pergi dan mengambil handphonenya.
"Pak Leon? Kenapa dia meneleponku?" Gumam Disha menatap LCD handphonenya.
Leon adalah sekretaris Kakeknya—Tuan Gerald Vin Mataya.
Disha heran kenapa Leon meneleponnya, padahal sebelumnya ia tak pernah menelepon Disha untuk urusan sepenting apapun. Apa karena sekarang Disha sudah memegang jabatan penting di perusahaan? —Ah, ralat, maksudnya sebentar lagi.
"Halo?" Sapa Disha.
"Ya, Halo Nona muda. Tuan Gerald saat ini menunggu Anda di Mansion. Anda harus segera datang." Ucap pria bernama Leon itu dari balik telepon genggam.
"Apa? Kakek? Maksudnya ada di kediamanku?" Tanya Disha memastikan.
"Bukan Nona, ada di Mansion milik Tuan Mataya." Jawab Leon.
'Bukankah mansion Kakek jauh dari sini? Apa sempat kalau aku ke sana?' Tanya Disha dalam hatinya. Ia cukup pusing memikirkannya.
"Tapi aku ada di mansion Paman Marco, apa Kakek tidak apa menungguku?" Tanya Disha sambil memijit pelipisnya yang mulai nyut-nyutan.
"Sebentar saya tanyakan Nona." Ucap Leon.
"Ya."
Tak lama kemudian, Leon berkata dari handphone Disha, "Nona, Tuan Gerald berkata akan menunggu Anda."
'Apa ada masalah penting sampai Kakek mau menungguku?' Benak Disha.
"Baiklah, aku akan segera ke sana."
"Baik Nona—Ah, seharusnya Anda menjawab telepon Ayah Anda tadi, sehingga Tuan Gerald tidak menunggu terlalu lama. Saya tutup." Ketus pria bernama Leon yang kemudian memutus panggilan tanpa mendengarkan sepatah kata pun dari Disha.
__ADS_1
"Ayah menelepon?" Gumam Disha yang kemudian membuka daftar riwayat panggilan di handphonenya. Dan benar saja, ada 10 panggilan tak terjawab dari Xander.
Melihat itu, Disha menghela napasnya panjang, lalu menggusar kepalanya sambil berkata dalam hatinya, 'Masalah apa lagi yang akan aku hadapi, oh Tuhan.' Keluhnya dalam hati.
Melihat sepupunya yang frustasi, Belvina datang menghampiri untuk bertanya apa yang terjadi padanya. Belvina memegang pundak Disha, lalu bertanya, "Disha, apa yang terjadi?"
Disha menoleh, tersenyum, lalu berkata, "Entahlah Belvy. Yang jelas aku harus cepat ke tempat Kakek, akan kuceritakan padamu setelah pulang nanti." Ucap Disha yang kemudian terburu-buru mengambil beberapa barang-barangnya yang terletak di meja.
"Ah baiklah. Kau tidak mandi dulu?" Tanya Belvina menatap Disha yang berjalan terburu-buru menuju tangga lantai 1, karena saat ini mereka ada di ruang latihan yang letaknya di basement.
"Tidak, tidak akan sempat sepertinya. Aku hanya akan izin pada Paman sebelum pergi." Ucap Disha.
"Kau serius Disha? Nanti kau dapat masalah kalau pergi dengan keadaan seperti ini." Belvina berkata demikian sambil berlari kecil mengikuti Disha.
"Baik, Baik. Aku akan ganti baju saja."
Mereka pun kemudian berpisah karena Disha harus mengganti pakaiannya dulu. Setelah selesai mengganti pakaiannya di kamar tamu, Disha pergi ke lantai dua mansion itu untuk menemui Pamannya. Disha tahu pamannya ada di sana dari kepala pelayan yang barusan memberitahunya.
"Paman..." Panggilnya mencari-cari Marco.
"Permisi, dimana Paman?" Tanya Disha saat salah seorang maid yang kebetulan sedang melewatinya.
'Astaga, seharusnya aku tak beritahu. Tuan pasti marah besar kalau tau Nona Disha pergi ke ruang kerjanya yang itu.' Ucap maid wanita itu dalam hatinya. Ia panik memikirkan kesalahannya.
Di perjalanan menuju ruang kerja Marco, Disha jadi kepikiran karena sudah tidak sopan pada maid yang menolongnya tadi, jadi ia berniat kembali ke mansion ini besok untuk minta maaf, sekalian menceritakan pada Belvina alasan kenapa ia tiba-tiba dipanggil ke mansion sang Kakek.
Disha berhenti berlari kecil saat dilihatnya ruang kerja Marco di depan matanya. Ruang kerja yang sampai sekarang belum pernah diinjaknya sama sekali. Pintu ruangan itu tampak sedikit terbuka, memperlihatkan sedikit interior di dalamnya.
"Paman?" Panggilnya sambil sedikit mengetuk pintu itu sebelum masuk.
'Sepertinya tidak ada siapa pun di dalam?' Tanya Disha dalam hatinya karena tidak mendengar sahutan apa pun dari dalam ruangan itu.
Sampai beberapa detik kemudian samar-samar terdengar dari dalam suara getaran handphone. Dan benar saja, saat sedikit mengintip ke dalam ruangan itu, ada handphone yang terlihat tergeletak di atas meja kerja Marco. Karena penasaran, Disha pun membuka pintu ruangan itu perlahan, tetapi ia tidak melihat siapa pun di sana.
"Permisi..." Ucapnya lagi untuk memastikan.
__ADS_1
"Paman meninggalkan handphonenya?" Tanya Disha pada dirinya sendiri saat melihat handphone yang sering digunakan Marco tergeletak di atas meja kerja sambil terus berbunyi.
TAP TAP TAP
Tiba-tiba seseorang berjalan cepat dari arah belakang dan menarik lengan Disha cukup kasar. Orang itu adalah Anastasya—istri Marco.
Setelah menarik Disha keluar dari ruangan kerja Marco itu, Anastasya menutup pintu ruangan kerja Marco, lalu menarik Disha menjauh dari sana. Sementara Disha? Saat ini tubuhnya hanya bergerak mengikuti Anastasya. Sejujurnya ia bingung dengan perlakuan wanita yang sepertinya sangat marah itu. Tapi apa yang dilakukan Disha hingga membuat wanita itu marah besar? Itu yang dipikirkan Disha.
Setelah membawa Disha cukup jauh dari ruangan kerja Marco, ia memelototi Disha sebelum akhirnya memarahi keponakannya itu.
"Apa yang kau lakukan?!"
Daripada takut, Disha lebih merasa bingung melihat reaksi bibinya yang tiba-tiba memarahinya tidak jelas.
"Apa aku melakukan kesalahan?" Tanya Disha bingung.
"Haish, anak ini! Kau hampir melewati batasmu, kau tau?! Beruntung aku melihatmu." Ucap Anastasya.
"Maaf Bi, aku tidak paham." Ucap Disha jujur.
"Kau sudah sangat lama datang ke tempat ini, apa tidak ada yang memberitahumu kalau ruangan kerja Marco yang tadi tidak boleh dimasuki oleh siapapun?!" Tanya Anastasya membentak.
"Tidak, tidak ada yang pernah bilang. Bahkan pelayan yang memberitahuku kalau Paman ada di sana, tidak mengatakan apapun." Jawab Disha yang sebenarnya masih bingung.
'Apa Paman menyimpan rahasia di tempat itu?' Tanya Disha dalam hati setelah mendengar omelan dan melihat reaksi marah bercampur rasa takut dari Anastasya.
Setelah mendengar pengakuan dari keponakannya itu, Anastasya menghela napasnya untuk meredakan amarahnya.
"Sudahlah, intinya jangan pernah masuk ke ruangan itu. Kalau tidak, bukan hanya kau, tapi aku juga akan dimarahi Marco. Apa kau paham?" Ucap Anastasya menuntut.
"Aku mengerti Bi. Kalau begitu, aku izin ke Bibi saja. Aku pamit pulang ya Bi." Ucap Disha sopan lalu pergi meninggalkan tempat itu dengan banyak pertanyaan di kepalanya.
"Astaga, kejadian waktu itu hampir saja terulang. Waktu itu Marco sangat marah pada seisi mansion karena Belvina yang masih kecil bermain ke sana. Aku hampir saja mati." Gumam Anastasya menatap punggung Disha yang perlahan menjauh. Ia sampai berkeringat dingin mengingat kejadian waktu itu.
.
__ADS_1
.