Nona Milik Tuan Mafia!

Nona Milik Tuan Mafia!
Dia Orangnya?!


__ADS_3

(Dialog bercetak miring menggunakan bahasa Inggris)


Dengan cepat, Disha berlari menghampiri Belvina untuk mengajaknya pergi meninggalkan tempat itu sebelum ada yang menyadarinya. Untungnya mereka ada di tempat yang sepi, sehingga mereka bisa lolos begitu saja dari tempat itu.


Meski dalam keadaan mabuk, Belvina masih bisa menuntun jalan untuk keluar dari tempat itu melalui jalan yang jarang dilalui oleh orang banyak.


"Sebenarnya seberapa sering kau datang ke tempat seperti ini?" Tanya Disha sambil berjalan mengikuti Belvina.


Belvina hanya bisa tertawa menanggapi pertanyaan sepupunya itu.


"Dan dimana pacar yang kau bangga-banggakan itu? Aku kesal jika dia tau kejadian ini dan tetap diam saja. Akan kuhajar dia jika itu terjadi!" Geram Disha.


"Dia bilang dia sedang ada urusan dengan seseorang, jadi tak bisa menemaniku, jadi aku juga tak bisa mengenalkannya padamu." Jawab Belvina dengan suara ala-ala orang mabuk, sambil berjalan lunglai.


"Disha, kukembalikan hoodiemu. Sebaiknya kau tutupi luka di wajahmu itu, sebelum orang-orang kakek melihatnya."


Disha menerima hoodie itu, lalu memakainya. Setelah itu, mereka lanjut berjalan hingga sampai di depan sebuah lift darurat.


Belum sempat lift itu terbuka, Belvina sudah pingsan deluan. Untung Disha sempat menangkapnya sehingga tak membuat Belvina jatuh ke lantai.


TING—


Saat pintu lift terbuka, Disha terkejut karena melihat pria yang ditabraknya tadi juga ada di dalam lift. Disa gugup dan takut karena entah kenapa aura pria itu terasa menakutkan.


Mata biru yang terlihat dari balik topeng itu tampak sangat dalam dan menyimpan banyak kekelaman.


'Apa dia juga orang yang sering datang ke tempat ini? Kenapa dia juga tahu jalan ini?' Tanya Disha pada dirinya sendiri.


Meski curiga dan sedikit takut, Disha tetap memutuskan untuk masuk ke dalam lift. Pelan-pelan Disha memapah tubuh Belvina yang pingsan untuk masuk ke dalam lift. Tentu saja Disha tidak masuk begitu saja tanpa mempersiapkan mental dan fisiknya, kalau-kalau pria itu mencoba macam-macam padanya, ia siap untuk menyerang.


"Anda mau kemana? Saya akan menekankan tombolnya untuk Anda." Ucap pria itu menawarkan bantuannya.


'Suaranya lumayan juga.' Puji Disha dalam hatinya.


"Terimakasih, tolong ke basement." Jawab Disha sambil tersenyum kecil.


Kedua manik mata berwarna biru milik pria itu tak sengaja menatap senyum manis Disha dari sudut matanya.


"Anda menjaga pacar Anda dengan baik." Puji pria itu menatap ke arah Disha dan Belvina yang sedang dipapahnya.


Ia mengucapkannya sambil tersenyum tipis. Tipis sekali, nyaris tak terlihat.


Dan Disha, dia hanya diam tak menanggapi pujian pria itu.

__ADS_1


TING—


Pintu lift terbuka di lantai 1. Itu artinya pria itu akan keluar dari lift meninggalkan Disha dan Belvina.


Sesaat setelah melewati mereka, pria itu kemudian berbalik dan menyodorkan plester luka pada Disha.


"Ambillah, kurasa kau membutuhkannya." Ucap pria misterius itu.


Disha terkejut karena pria itu bisa melihat luka di sudut bibirnya, padahal dia sudah berusaha menutupinya dengan memakai topi hoodienya yang dirasa cukup besar.


Mau tidak mau Disha menerima plester itu, lalu mengangguk untuk berterimakasih pada pria itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Setelah itu, ia pergi meninggalkan Disha dan Belvina.


'Siapa pria misterius itu? Apa jangan-jangan...'


Disha mulai menduga-duga hal yang beberapa saat lalu dirasanya adalah hal yang konyol dan mustahil, mengingat pria itu tampak begitu misterius dan menakutkan.


.......


.......


...🥀🥀🥀...


17.00 WIB


"Hah, sudahlah Belvy, lebih baik kita lupakan saja." Ucap Disha sambil menyeruput kopinya.


"Hehehe, maaf ya. Lagi pula aku gak akan minum sebanyak itu kalau kau langsung kembali dari toilet. Kau ngapain saja di toilet, huh?" Tanya Belvina sambil menaik-turunkan alisnya dan tersenyum meledek.


"Jangan berpikir yang aneh-aneh Belvina. Semalam itu, aku tak sengaja menabrak seorang pria misterius."


"Hooo, pria misterius? Semisterius apa dia sampai Nona muda Ayudisha ini memasang wajah serius begitu~" Goda Belvina, mengira ucapan Disha hanya omong kosong belaka.


"Belvina, ayolah, aku serius. Aku yakin dia bukan orang Indonesia, tingginya kira-kira 190 cm, bola matanya biru terang, kulitnya tan, dia tidak berbicara sepatah katapun saat aku menabraknya, lalu yang lebih aneh lagi, dia mengenakan topeng. Dan hanya dia satu-satunya yang begitu di club itu. Apa kau tau siapa dia?" Tanya Disha dengan wajah seriusnya.


"Hmm... Mengingat club itu memang club kalangan atas, tidak jarang ditemukan lelaki dengan ciri seperti yang kau sebutkan. Tapi aku tidak tau kalau soal kenapa dia memakai topeng. Apa ada orang yang bersamanya?" Tanya Belvina menanggapi sepupunya.


"Tidak, dia berjalan sendiri."


"Yah, lupakan saja. Mungkin dia hanya tamu biasa." Kata Belvina berusaha menenangkan pikiran Disha.


"Apa tamu langganan club pacarmu itu tau mengenai jalan rahasia di club itu?" Tanya Disha lagi.


"Tunggu, kau tau? Dari siapa?" Ucap Belvina terkejut karena Disha bisa tau mengenai jalan raasia di club yang hanya diketahui oleh pemilik club, pacarnya, dan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Yang benar saja, aku tau darimu Belvina. Kau yang menunjukkan jalannya padaku semalam ketika mabuk. Aku bertanya dimana jalan yang aman, dan kau menuntunku." Jawab Disha jujur.


"Hehehehe... aku memang luar biasa. Yah, namanya juga jalan rahasia, sesering apa pun tamu club itu datang berkunjung, jalan rahasia ya tetap jalan rahasia. Sampai saat ini, hanya aku, Miguel, dan pemilik club itu yang mengetahuinya."


DEG—


"Ada apa Disha? Kenapa kau pucat begitu?" Tanya Belvina melihat reaksi sepupunya yang sangat terkejut karena ucapannya barusan.


"Kalau begitu, siapa pria itu Belvy?" Tanya Disha syok.


"Siapa? Pria mana?"


"Pria misterius itu! Sewaktu kau pingsan di depan lift di jalan rahasia itu, aku melihatnya turun dari lantai atas. Kita berada dalam satu lift dengannya! Dan dia berjalan seolah sudah tau setiap sudut club itu! Apakah dia..." Ucap Disha penuh penekanan karena cukup syok. Dia mulai menduga-duga.


Belvina tampaknya sudah mengerti apa yang dipikirkan Disha, ia juga kelihatan syok.


Spontan Belvina menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangannya.


"Dia si pemilik club!" Sambung Belvina dengan suara tertahan.


"Jadi dia orangnya?!" Ucap Disha terkejut. Belvina hanya membalasnya dengan anggukan pelan.


Untuk sesaat suasana di antara mereka berubah hening.


Kemudian Disha teringat akan sesuatu, tiba-tiba ia merogoh tasnya mencoba mencari sesuatu.


"Oh ya, saat pria itu pergi, dia juga menjatuhkan ini." Ucap Disha sambil meletakkan kancing kecil di atas meja.


Melihat benda yang diletakkan Disha, Belvina mengambilnya, lalu dibolak-baliknya kancing itu, hingga ia menemukan hal mengejutkan lainnya.


Setelah melihat lambang huruf LN pada kancing itu, Belvina kembali syok.


"Kau bilang pria itu menjatuhkan ini? Apa kau yakin, Disha?" Tanya Belvina dengan wajah pucatnya.


"Ya tentu saja. Hanya ada kita bertiga di lift itu." Jawab Disha enteng.


"Tidak salah lagi, dia adalah pemilik club itu. Dia adalah orangnya Lama Nera. Kancing ini adalah buktinya!"


Setelah mengatakan itu, Belvina tiba-tiba memeluk erat Disha yang duduk di hadapannya. Gerakan tiba-tiba gadis itu membuat gelas di meja mereka menjadi tumpah.


.


.

__ADS_1



__ADS_2