Nona Milik Tuan Mafia!

Nona Milik Tuan Mafia!
Pedang Hitam


__ADS_3

...Cinta memang berbahaya. Satu saja kesalahan fatal, ia bisa mengubahmu menjadi iblis....


...-Romano...


.......


.......


...🥀🥀🥀...


"Tuan! Mohon maafkan saya!! Saya salahh, saya mohon ampuni saya...!" Mohon salah seorang tahanan sambil bersimpuh di hadapan Ello.


"Ya Tuan, kasihani saya juga!" Teriak yang lainnya sambil menangis.


"Ck, kalian pikir siapa kalian? Permohonan kalian itu sia-sia. Hahaha, lucu sekali melihat wajah-wajah pengkhianat yang sedang ketakutan." Sinis Ello dengan tatapan nyalang.


"Tuan, jika kau membunuh kami, kau akan melakukan dosa! Apa kau tidak takut pada hukuman Tuhan?!" Teriak tahanan itu.


"Berani sekali kau berteriak pada Tuan!!"


BRAKK


Bawahan Ello menampar tahanan yang bicara tadi hingga terpental cukup jauh.


"Apa kau pikir pendosa pantas menasehati pendosa? Lalu, kau bertanya apa aku takut padaNya? TIDAK, aku tidak percaya pada ilusi yang kau ucapkan itu. Jika kau begitu takut, maka panggil Dia sekarang untuk menolongmu!!!" Sergah Ello.


Semua yang melihat Ello tertunduk ketakutan. Saat ini Ello benar-benar seperti Iblis yang penuh aura gelap.


"Berikan pedang itu padaku!" Perintah Ello pada Romano sambil mengembalikan senjata api di tangannya.


"Aku ingin memberinya kematian yang paling menyakitkan. Dan kita lihat apakah ilusinya itu dapat menolongnya saat ini juga!" Sambungnya lagi sambil tertawa remeh.


Setelah pedang pendek itu didapatkannya, Ello melangkah mendekat ke arah para tahanannya.


"Apa kalian pernah mendengar kelompok mafia yang bernama Lama Nera?" Tanya Ello sambil memain-mainkan belati di tangannya.


"Y-ya, aku pernah mendengar nama i-itu." Jawab salah satu tahanan itu bergetar ketakutan.


Mendengar itu, Ello tersenyum menyeringai.


"Apa kalian tahu kenapa dinamakan Lama Nera?" Tanyanya lagi.


"Ti-tidak, kami tidak tau Tuan." Aku tahanan itu dengan tubuh gemetar karena Ello mulai mengelus leher dan wajahnya dengan mata pedang yang tajam.


Sedikit saja Ello menambah kekuatannya pada pedang itu, maka kulitnya pasti sudah terkoyak.


Ello menyeringai, ia mendekatkan wajahnya dan berbisik ke telinga pria di hadapannya itu.


"Itu karena mereka selalu mengakhiri musuhnya dengan cara mengoyak-ngoyak mereka. Lalu mengukir simbol Lama Nera pada bagian tubuh mereka."

__ADS_1


Tahanan yang mendengar bisikan Ello hanya bisa terdiam mematung. Ia tak tahu harus berkata apa sangkin terintimidasinya.


"Kalian pasti bertanya-tanya kenapa aku menanyakan tentang Lama Nera kan? Kalian akan tau jawabannya." Ucap Ello.


Dengan memberi tanda, para bawahan Ello mengerti dan langsung berdiri masing-masing di belakang setiap tahanan.


Lalu dengan pedang hitam di tangan mereka, mereka menggorok leher para tahanan itu dan mengoyak kulit mereka.


Suara teriakan tertahan akibat gorokan dan bau anyir darah memenuhi ruangan yang cukup luas itu.


Beberapa bawahan Ello ada yang menunduk karena belum terbiasa dengan suasana itu, dan ada beberapa yang memasang wajah datar seolah sudah terbiasa dengan peristiwa seperti itu.


Hanya Ello seorang yang masih bisa tersenyum di situasi seperti itu.


"Selamat datang di Lama Nera." Ucapnya tersenyum puas.


Sesuai dengan apa yang dikatakan Ello, setelah dibunuh, para bawahannya mengukirkan huruf "LN" pada bagian tubuh para pengkhianat itu dengan pedang hitam.


Meski membeberkan sign ciri khas mereka setiap membunuh musuhnya, tetap saja aparat tak pernah berhasil mengendus jejak mereka.


Lama Nera terkenal sebagai kelompok mafia kelas kakap, paling berbahaya di dunia, cerita tentang kebengisan kelompok mafia ini sudah tersebar di belahan dunia, namun tak pernah satu orang pun mengaku pernah melihat anggotanya, apalagi pemimpinnya.


Jika ada yang tahu atau mengenal salah satu anggota Lama Nera dan berani membocorkannya, maka siap-siaplah untuk dibunuh saat itu juga.


Selain itu, para anggota yang lalai karena identitasnya bocor pasti akan dihukum seberat-beratnya sesuai hukum yang berlaku di Lama Nera. Maka dari itu, jika kau tahu sesuatu tentang mereka lebih baik tutup mulut.


Setelah peristiwa eksekusi itu, Ello segera membersihkan dirinya lalu bersantai di tempat kesukaannya, yaitu ruang kerja utama.


"Kita tidak akan pergi. Aku tidak mood. Utus seseorang untuk membereskannya." Jawab Ello, lalu berlalu dari ruangan itu.


"Tapi Tuan—"


"HAISHH..." Desah Romano yang kesal.


...***...


...Di hari lain...


...-Kota X, Indonesia-...


...***...


"Astaga, sebenarnya kenapa Belvy mengajakku pergi ke tempat seperti ini?" Tanya Disha pada dirinya sendiri.


Ia sedikit mengeluh karena Belvina mengajaknya melepas penat ke sebuah club VIP di kota itu, namanya Anonymus club.


Masalahnya adalah, Disha adalah gadis yang terbatas ruang geraknya. Ia tidak bebas pergi kemanapun tanpa pengawasan dari Kakeknya.


Dan hari ini, demi sepupu sekaligus sahabatnya itu, Disha harus menyamar menjadi anak laki-laki, dan diam-diam pergi ke tempat yang seharusnya tak akan pernah dikunjunginya selama sisah hidupnya.

__ADS_1


"Tunggu bro, bukankah kau harus menunjukkan sesuatu padaku?" Ucap seorang penjaga club itu.


Tanpa berlama-lama, Disha menunjukkan "kunci" masuk yang ia simpan di ponselnya. Ya, darimana lagi kalau bukan dari Belvina ia mendapatkan "kunci" itu.


"Apa kau benar-benar sudah cukup umur? Kau cukup kecil." Kata penjaga itu menaruh curiga.


'haishh, kenapa kau tak membiarkan aku masuk saja?!' Keluh Disha dalam hatinya.


"Aku baru saja genap berumur 20 tahun." Jawab Disha dengan membongorkan suaranya.


"Baiklah, dewasa muda rupanya. Tapi kenapa kau terus menyembunyikan wajahmu? Hoodie yang kau gunakan itu, bukankah terlalu besar untukmu?" Tanya penjaga itu lagi.


'Ck, buang-buang waktu saja!'


"Bukan urusanmu!" Jawab Disha dengan nada kasar, lalu berjalan cepat masuk ke bar itu.


"Hey, santai dong! Dasar!" Sergah pria itu.


Setelah sampai di dalam club itu, Disha sedikit risih karena bisingnya suasana di tempat itu. Banyak orang yang dance menikmati musik keras di tempat itu, ada juga yang kelihatan mabuk, dan berbagai orang-orang aneh lainnya.


Tetapi dari segi penampilan, mereka memang terlihat seperti orang-orang berada. Tidak heran kenapa disebut sebagai salah satu club elit di kota ini.


"Ah ya ampun, sebenarnya ada dimana anak ini?!" Keluh Disha karena panggilannya tak kunjung dijawab oleh Belvina.


Namun beberapa saat kemudian, akhirnya panggilannya dijawab.


"Halo, Belvy, kau ada dimana?" Ucap Disha sambil berjalan perlahan ke sembarang arah.


"Apa?! Aku tak bisa mendengarmu Belvy, di sini sangat berisik!" Ucap Disha meninggikan suaranya karena tak dapat mendengar suara Belvina.


"Lihat ke belakangmu!!!" Teriak Belvina dari balik telepon itu.


Mendengar itu, Disha pun berbalik dan menemukan Belvina yang tengah melambai-lambai mengajaknya untuk ikut. Belvina berpakaian cukup terbuka, membuat Disha sedikit geleng-geleng melihatnya.


'Lihat betapa bebasnya putrimu ini, Paman Marco' Ucapnya dalam hati.


"Pfftt... apa-apaan tampilanmu Disha? Kau terlihat lucu, pretty boy." Ledek Belvina tertawa puas.


Disha hanya memasang wajah datarnya, "Harusnya aku yang bertanya, apa-apaan tampilanmu itu Belvy? Siapa yang ingin kau goda di tempat ini?"


"Tidak ada kok, pakaian ini memang lazim di tempat seperti ini, dasar kudet." Balas Belvina.


Disha membuka hoodienya hingga menyisakan kaus hitam polos dan celana ponggolnya, lalu ia pakaikan hoddienya itu pada Belvina. "Jangan banyak omong." Ucapnya.


"Hah yaudah deh, terserah. Ayo kita cari tempat yang lebih tenang." Ajak Belvina menuntun Disha meninggalkan area dance floor di tempat itu.


Belvina mau tidak mau memakai hoodie yang dipakaikan Disha karena kebetulan ia juga merasa kedinginan.


.

__ADS_1


.



__ADS_2