Nona Milik Tuan Mafia!

Nona Milik Tuan Mafia!
Tidak Mungkin!


__ADS_3

(Dialog dan monolog bercetak miring menggunakan Bahasa Inggris, sedangkan bercetak tebal menggunakan Bahasa Italia)


.......


.......


...***...


Para pengawal Cedric tidak tinggal diam melihat sikap kurang ajar Gerald, salah satu dari mereka memukul pundak Gerald dengan senjatanya hingga kursi Gerald terseret sekitar dua kotak keramik.


BRAKK


"AHGG!!!" Teriak Gerald kesakitan.


Cedric tersenyum remeh, lalu berkata, "Pilihan ada di tanganmu."


Lama berpikir dan mempertimbangkan, akhirnya Gerald memutuskan untuk kerja sama. Dia berpikir lebih penting keluar dulu dari tempat ini hidup-hidup, lalu soal kehancuran perusahaannya bisa dipikirkan belakangan. Toh ia diberikan waktu sebelum Cedric menghancurkan perusahaannya. Itu berarti, akan ada waktu juga baginya untuk menyusun rencana melawan pria bernama Cedric itu.


"Pilihan yang bijak. Baiklah, aku akan memberimu waktu 6 tahun dari sekarang. Selama enam tahun ini, akan kubawa kau menikmati surga. Lalu setelah itu—" Cedric menatap tajam, lalu mendekatkan wajahnya ke hadapan Gerald. "—aku berjanji akan membawamu jatuh ke neraka!" Sambung Cedric lagi sambil menyeringai.


Erwin—tangan kanan Cedric, tampak mengernyit, sepertinya perkataan Cedric barusan cukup menganggunya.


"Tuan, tidakkah Anda terlalu bermurah hati? Enam tahun itu—" Tetapi belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Cedric mengangkat tangannya, meminta Erwin untuk berhenti bicara.


"Aku ingin menikmati permainan ini. Tiak ada yang perlu dikhawatirkan." Ucap Cedric tertawa pelan.


Setelah itu, kontrak kerja sama ditandatangani oleh kedua belah pihak. Di kontrak itu, Gerald diminta agar bersikap harmonis pada Cedric jika suatu saat mereka bertemu di depan umum. Pihak Gerald tidak boleh ada yang tahu mengenai kejadian hari ini.


Flashback Off


'Itu sebabnya aku memilih Disha yang sesungguhnya tak punya banyak pengalaman dalam dunia bisnis. Jika perusahaan dihancurkan oleh Cedric tiga tahun lagi, maka yang akan disalahkan adalah Disha. Dan aku masih bisa melindungi martabat dan nama baikku.' Ucap Gerald dalam hatinya, meghembuskan napas lega.


.......


.......


...🥀🥀🥀...


[Kota X, Indonesia]


19.00 WIB


Sesuai dengan janji Disha, ia hanya akan menemui Ibunya setiap akhir pekan. Dan ini adalah akhir pekan itu.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya di perusahaan, Disha datang mengunjungi Elea yang masih dirawat di rumah sakit.


"Jadilah anak yang hebat ya sayang." Ucap Elea tersenyum penuh haru pada putrinya itu.


Disha mengangguk, lalu memeluk Ibunya sambil berkata, "Aku akan buat Ibu bangga." Ucapnya penuh percaya diri.


"Oh ya Bu." Disha kemudian melepaskan pelukannya, lalu dengan semangat ia berkata lagi, "Disha sudah belikan baju bagus buat Ibu pakai di acara *debut Disha nanti. Disha mau Ibu terlihat menawan di depan pengusaha-pengusaha hebat lainnya."


*debut : pemunculan pertama dimuka umum (sebagai pewaris Mataya Corp.)


Mendengar itu, wajah Elea berubah murung. Ia tidak dapat menyembunyikan kesedihannya.

__ADS_1


"Kenapa Bu?" Tanya Disha ketika melihat ekspresi Elea.


"Maaf ya sayang, sepertinya Ibu tidak bisa hadir." Ucap Elea dengan tersenyum paksa.


"Apa? Kenapa?"


"Ibu hanya akan buat kamu malu, sayang. Ibu hanya akan membuat keluarga Mataya malu, tolong mengertilah." Ucap Elea tertunduk, menahan kesedihannya.


"Apa?! Siapa yang berani bilang begitu pada Ibu? Apa para Bibi, Paman, atau Kakek?!"


Elea menggeleng pelan, lalu mengelus lembut pundak putrinya itu untuk menenangkan amarahnya.


"Tidak ada dari mereka yang bilang begitu pada Ibu. Ini keputusanku sendiri. Ibu tidak mau datang atas keinginan Ibu sendiri." Akunya.


"Tidak, pasti Ibu diancam oleh mereka kan? Apa Ibu tidak mau melihat putri Ibu di acara debut ahli waris? Acara itu akan membuat Disha bahagia kalau Ibu datang." Ucap Disha berusaha membuat Elea jujur.


"Tidak sayang, Ibu tidak diancam oleh siapa pun. Ibu juga ingin melihatmu bahagia menikmati acara yang dibuat khusus untukmu. Tapi, Ibu malu Disha. Tolong hargailah perasaan Ibu, nak." Ucap Elea. Air matanya mulai mengalir karena tak sanggup ditahannya.


'Kumohon mengertilah, Disha.' Batin Elea penuh harap sambil terisak tangis.


Melihat Ibunya yang sudah menangis, hati Disha melunak. Ia tak sanggup melihat Ibunya itu menangis. Kesedihan Elea yang mendalam sangat bisa dirasakan oleh Disha. Oleh sebab itulah, Disha tidak mau melanjutkan pembicaraan ini. Ia lebih memilih menghibur dan menenangkan Ibunya. Ia berniat untuk mencaritahu sendiri alasan kenapa Elea tidak mau menghadiri acara debutnya.


.......


.......


...🥀🥀🥀...


Mansion Xander Mataya


Tok Tok Tok


Sorang maid wanita masuk ke ruang kerja Disha untuk mengantarkan tehnya.


"Nona, apa ada masalah?" Tanya Ara— salah satu pelayan mansion itu. Ia ikut khawatir saat melihat nona mudanya frustasi.


Disha menghela napasnya kasar, lalu berkata, "Bisakah kau meninggalkanku sendiri? Aku sedang sibuk, keluarlah."


Meski belakangan ini Ara terlihat sangat peduli padanya, tetapi Disha memilih tidak langsung mempercayainya. Orang berubah tidak semudah membalikkan telapak tangan, iya kan?


"A-apa karena Nyonya Elea yang tidak hadir ke acara debut Nona nanti?" Tanya Ara menebak-nebak.


Mendengar itu, Disha spontan mendelik ke arah maid muda yang sok ikut campur dengan urusannya itu.


"Darimana kau tau?" Tanya Disha curiga.


"Ma-maaf Nona, saat Nona berbicara dengan kepala pelayan tadi, saya mendengar percakapan mengenai hal itu, jadi..."


TAP TAP TAP


Disha berjalan mendekati Ara dengan langkah yang cepat seolah akan menyambarnya.


"Beraninya kau menguping pembicaraan orang!" Hardik Disha mengacungkan telunjuknya.


Melihat Nonanya yang marah besar, Ara spontan menunduk sambil memohon ampun.

__ADS_1


"No-nona... saya tidak sengaja. Tolong maafkan saya..." Mohonnya.


Disha membuang kasar napasnya untuk meredakan emosi. Ia memang emosi, tapi ia tak ingin menindas mereka yang lemah hanya karena ketidaksengajaan.


"Sudah, pergilah. Jangan bahas mengenai hal ini pada siapapun. Dan jangan campuri urusanku lagi!" Ucap Disha memperingatkan.


Setelah memperingatkannya, Disha kembali duduk dan melanjutkan kegiatannya.


"No-nona... sebenarnya saya—"


"Kau belum pergi juga?!" Bentak Disha.


"Nona jangan marah dulu, saya ingin mengatakan satu hal penting!"


Tanpa sadar Ara meninggikan suaranya pada nona mudanya itu. Ara terpaksa begitu karena dirasanya Disha harus tau mengenai hal penting yang diketahuinya.


"Baiklah, katakan. Dan awas saja kalau yang kau katakan tidak penting!" Ucap Disha mengancam dengan penuh penekanan.


Ara mengangguk dengan percaya diri. Ia yakin bahwa apa yang dikatakannya adalah hal penting bagi Disha.


"Sebenarnya selama masa kritis Nyonya Elea, beberapa kali para Paman dan Bibi Nona selalu ingin menjenguk Nyonya Elea di rumah sakit, begitu pula dengan Tuan Besar Mataya. Tetapi, mereka selalu dihalang-halangi oleh Tuan Marco Mataya. Tuan Marco melarang siapa pun untuk datang berkunjung menjenguk Nyonya Elea, mereka hanya mengikuti ucapan Tuan Marco. Jadi Nona seharusnya tidak perlu terlalu membenci keluarga Mataya yang lainnya." Jelas Ara.


Mendengar cerita pelayannya, awalnya Disha syok. Namun lama-kelamaan ia merasa geli dan tertawa karenanya.


"Astaga, kau pikir aku akan percaya begitu saja dengan ucapanmu?" Ucap Disha.


"Tapi saya tidak berbohong Nona." Kata maid yang bernama Ara itu membela dirinya.


"Kalau begitu apa buktinya? Dan apa alasannya Paman Marco sampai melakukan itu? Tidak masuk akal sama sekali!"


"Saya punya buktinya. Saya ambil dulu Nona." Ucap Ara, lalu ia pergi keluar ruangan itu dengan berlari kecil.


Tidak beberapa lama kemudian, Ara datang membawa sebuah flashdisk berwarna hitam. Ia meletakkan flashdisk itu di atas meja kerja Disha.


"Anda boleh mendengar rekaman suara yang sudah saya kumpulkan." Ucap Ara.


'lihat, maid bernama Ara ini sangat berbahaya' Batin Disha setelah melihat betapa beraninya Ara memata-matai tuannya sendiri.


"Apa motifmu memberitahukan ini semua padaku? Bukankah kau itu ada di pihaknya Kakek dan Ayah?" Tanya Disha menaruh curiga.


"Saya, tidak ingin Nona merasa sedih lagi. Saya merasa selama ini saya sudah salah haluan. Saya hanya ingin memperbaiki kesalahan saya. Anda boleh tidak mempercayai saya, tapi jangan terlalu mengabaikan hal ini. Karena saya rasa Tuan Marco adalah orang yang cukup misterius." Ucap Ara blak-blakan.


'Awalnya aku tidak ingin coba mempercayai ceritamu ini, tapi setelah kuingat lagi bahwa Paman punya ruangan rahasia, aku jadi sedikit mencurigainya. Apa ini adalah salah satu rahasia yang disembunyikan Paman Marco? Tapi...' Batin Disha berusaha memutuskan apakah ia harus mempercayai Ara atau Marco.


Tetapi kemudian Disha memilih untuk netral dan mempertimbangkan dari kedua sisi. Ya, ia tetap akan melihat bukti yang dikumpulkan maid itu.


"Baiklah, akan kubuka filenya. Kau boleh pergi."


'Tidak mungkin Paman melakukannya. Apa alasannya dia begitu?' Benak Disha lagi.


.


.


__ADS_1


__ADS_2