Nona Milik Tuan Mafia!

Nona Milik Tuan Mafia!
Tentang Misi


__ADS_3

(Dialog dan Monolog bercetak miring menggunakan bahasa italia)


.......


...FLASHBACK...


Beberapa hari yang lalu di Italia, Markas Lama Nera...


[3 Jam sebelum waktu penerbangan Ello]


"Tuan Ello, Anda tidak boleh membatalkan penerbangan ini. Anda sedang dibu—"


"Apa ada di dunia ini yang tidak boleh kulakukan?" Ello memotong ucapan Romano sambil menahan emosinya. "Jangan ganggu aku." Ucapnya lagi beralih menatap tajam pada kertas yang bertuliskan 'D'Layola' dan  'Wijaya' yang ditempel di papan investigasi.


Manik mata berwarna biru menyala miliknya menatap penuh kebencian dan amarah pada dua potong nama itu. Nama dari orang yang paling ingin dibunuhnya di dunia ini. Pria dan wanita yang paling ingin dibawanya masuk ke dalam neraka!


"El? Bolehkah aku masuk?" Ucap seorang pria yang tiba-tiba datang.


Ello kemudian berbalik dan menatap ke arah sumber suara,


Ternyata itu adalah Zabyer Vasto Kuro, pria paruh baya yang dipanggil Ello dengan sebutan Paman. Ia adalah salah satu orang terdekat bagi Ello selain Romano.


Selain itu, Zabyer juga adalah sahabat ayah kandungnya Ello. Jadi sudah pasti Ello sangat mengenal Zabyer sejak kecil.


"Paman? Ada apa?" Tanyanya.


"Aku punya informasi bagus untukmu nak." Ucap Zabyer dengan semangatnya sambil memberikan beberapa berkas pada Ello.


"Informasi apa itu Paman?"


Ello cukup penasaran dengan informasi yang didapat pamannya itu. Ia berjalan menghampiri pamannya.


"Kita selangkah lebih dekat dengan pembunuh itu. Lihat ini, aku menemukan catatan mengenai sahabat wanita itu. Namanya adalah Mikasa, mantan anggota Lama Nera berkebangsaan Jepang yang kabur setelah insiden pembunuhan Ibu dan adikmu terjadi." Jelas Zabyer sambil memperlihatkan berkas itu pada Ello.


Romano yang juga penasaran pun ikut mengambil salah satu kertas dan membacanya dengan seksama.


"Darimana Anda mendapatkan informasi ini, Tuan Zabyer?" Tanya Romano. Ia menatap pria bernama Zabyer itu dengan sedikit tatapan menaruh curiga.


Ia berpikir, bagaimana bisa Zabyer bisa menemukan informasi itu sementara mereka tidak bisa? Romano dan keenam rekannya adalah anggota elit Lama Nera, anggota ONE. Apakah mereka tidak ada apa-apanya dibanding Zabyer?


Zabyer kemudian tertawa pelan, lalu berkata, "Begini-begini aku juga adalah pensiunan Lama Nera. Sudah begitu, aku juga mantan anggota ONE."


ONE adalah anggota inti Lama Nera yang berisi orang-orang yang memiliki skill terbaik di bidangnya masing-masing. Mereka adalah orang-orang kepercayaan Sang Pemimpin.

__ADS_1


Tidak mudah untuk bisa masuk sebagai anggota inti, karena kau harus mendapat pengakuan dari sesama anggota Lama Nera, bahkan dari pemimpin Lama Nera sendiri.


Akan selalu ada duel antar anggota Lama Nera yang diadakan setiap tahunnya. Jika mereka berhasil melawan anggota ONE, maka mereka berhak menggantikan posisi anggota ONE yang sudah terbentuk.


Hal yang sama juga berlaku untuk posisi Pemimpin Lama Nera. Siapa pun yang menginginkan posisi itu, artinya mereka harus bisa menang melawan Pemimpin Lama Nera saat ini. Sudah ada beberapa orang yang mencoba menantang Ello, namun sayangnya kemampuan mereka belum cukup untuk mengalahkannya.


"Andai Paman tidak mengundurkan diri dari ONE dan Lama Nera." Ucap Ello menyayangkan keputusan pamannya bertahun-tahun lalu.


"Ahahaha... aku sudah tua. Dasar bocah ini."


Zabyer merangkul Ello dengan hangat, sambil tertawa ringan. Mereka terlihat sangat dekat satu sama lain, seperti punya hubungan darah.


Kemudian Romano sengaja berdehem untuk melanjutkan perbincangan mode serius dengan kedua orang itu,


"Ello, itu artinya mau tak mau kau memang harus melanjutkan penerbangan ke Indonesia."


"Kenapa?" Tanya Ello kembali dengan wajah seriusnya.


"Lihat ini, di laporan ini si Mikasa itu ada di negara dan kota yang sama." Jawab Romano.


"Benar, wanita itu ada di sana. Memangnya kau ada jadwal pergi ke Indonesia juga?" Tanya Zabyer.


"Ya Tuan Zabyer, dia ada urusan bisnis di negara dan kota yang sama. Tetapi dia ingin membatalkan penerbangan sekitar 6 jam yang lalu." Jelas Romano.


Zabyer kemudian terkejut, lalu berkata, "Lihat, bukankah ini kebetulan yang langka? Sepertinya Tuhan memberkatimu, Ello."


Zabyer kemudian menghela napasnya, lalu berkata dalam hatinya, 'Kau akan mengerti suatu saat nanti, Ello.'


"Kita akan pergi Ano. Uruslah segalanya. Aku juga sekalian akan menyelesaikan urusan perusahaan."


"Baik Ello—Oh ya, Tuan Zabyer, kapan Anda mendapatkan informasi ini?" Tanya Romano berusaha memastikan agar usaha mereka mengejar orang yang bernama Mikasa ini tidak sia-sia seperti pengejaran Prince Dimian terakhir kali.


Jika informasi ini didapat sejak 2 hari yang lalu, itu artinya ada kemungkinan Mikasa sudah pergi meninggalkan Indonesia.


"Tenang saja nak Romano, aku mendapatnya beberapa jam yang lalu, dari informanku yang terpercaya." Ucap Zabyer meyakinkan Romano.


"Baiklah Tuan, terimakasih atas informasi berharga Anda."


Setelah itu, Zabyer pergi meninggalkan Ello dan Romano di ruangan itu untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Ello, kau yakin informasi itu—"


"Paman Zabyer sudah kuanggap ayahku sendiri. Jangan coba-coba mencurigainya!" Bentak Ello sambil mengeluarkan telunjuknya memperingati Romano.

__ADS_1


"Tapi kejadian Dimian terakhir kali—" Lagi-lagi kalimat Romano terputus. Kali ini karena Ello langsung mengeluarkan senjata api miliknya dari tas pinggangnya. Ia mengarahkan mulut pistol itu ke kepala Romano.


"Kesalahan itu terjadi bukan karena kesalahan Paman Zabyer, tapi karena kalian sendiri yang tidak berkompeten!" Bentak Ello berusaha menahan diri untuk tidak menembak kepala Romano.


Romano juga sangat emosi, harga dirinya seperti dicabik-cabik karena perkataan Ello barusan. Namun ia sadar siapa yang tengah dihadapinya saat ini. Jadi ia berpikir lebih baik pergi meninggalkan Ello, daripada terus berada di ruangan yang sama dan membuatnya kehabisan kesabaran.


.......


...FLASHBACK OFF...


...***...


Keesokan harinya, setelah menyelesaikan pekerjaannya di perusahaan, hari ini adalah jadwalnya Disha dan Belvina untuk berlatih mengasah skill bertarung mereka bersama Marco. Tentu saja mereka dilatih Marco di Mansion pribadinya.


Jika minggu lalu adalah latihan menembak, maka hari ini adalah latihan bela diri dengan tangan kosong, atau dengan kata lain mereka akan melakukan "sparring".


Marco memberikan pelatihan bela diri ini kepada putri dan keponakannya sejak kecil dengan alasan, dia pikir bahwa wanita harus tahu bagaimana caranya menjaga diri. Apalagi mereka berasal dari keluarga penting, yang pastinya memiliki kehidupan yang lebih rumit di masa depan.


"HYA!" Pekik Disha melayangkan pukulannya pada Belvina, lawan sparringnya hari ini.


Pukulan demi pukulan kemudian dilayangkan Disha lagi secara beruntun kepada Belvina. Tiga pukulan pertama berhasil dihindarinya, namun tidak dengan pukulan umpan yang diberikan Disha. Pukulan yang lumayan keras itu membuat Belvina terjatuh dan terpental sedikit jauh.


"AH, Tunggu-tunggu... aku, aku menyerah..." Ucap Belvina yang tersengal-sengal, berusaha mengumpulkan oksigen sebanyak mungkin ke paru-parunya. Ia seperti ingin mati karena lelahnya.


Disha yang tadinya masih memasang kuda-kuda, kini mulai mengendurkan sudut kakinya dan berdiri seperti biasa. Ia mengulurkan tangannya untuk membantu sepupunya itu bangkit.


Mereka berdua sama-sama menyeka keringat yang sudah sangat membasahi tubuh mereka. Sekarang keadaan kedua wanita itu seperti sedang mandi keringat saja.


"Tunggu, dimana Daddy?" Ucap Belvina sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling mencari keberadaan Marco.


Disha pun juga ikut melihat ke sekeliling karena ucapan Belvina barusan, dan ia tidak melihat Marco dimanapun. Padahal Marco ada bersama mereka ketika sparring dimulai, dan pertarungan mereka bahkan tidak sampai satu jam, apa dia bosan? Begitulah pikir Disha.


"John, dimana Paman Marco?" Tanya Disha setengah berteriak pada salah seorang pengawal mansion yang mengawasi mereka.


Karena tidak sopan bila menjawab dari jauh, John pun berlari kecil mendekat ke arah Disha dan Belvina yang sekarang sedang duduk beristirahat.


"Tuan Marco sedang mandi, Nona. Katanya beliau ada meeting mendadak sebentar lagi." Jawab John dengan sopan.


Mendengar itu, Belvina menghentikan minumnya, lalu berkata, "Tsk, Daddy sudah hampir malam begini pun ada rapat. Sayang sekali dia tidak melihat gerakan bagus Disha tadi." Ucapnya menyayangkan kesempatan sepupunya untuk dipuji.


Disha tersenyum, lalu menyahut perkataan sepupunya, "Akan kutunjukkan di latihan kita selanjutnya."


.......

__ADS_1


.......



__ADS_2