Nona Milik Tuan Mafia!

Nona Milik Tuan Mafia!
Hari Debut Ayudisha


__ADS_3

(Dialog dan Monolog bercetak tebal menggunakan Bahasa Inggris, dan yang bercetak miring menggunakan Bahasa Italia)


.......


...***...


[Kota X, Indonesia]


20.00 WIB


Hari ini adalah hari perayaan yang telah direncanakan untuk memperkenalkan pewaris Mataya Corp,  yang tidak lain adalah Ayudisha Findy Mataya. Gerald Mataya—Kakek Disha, telah mempersiapkan segalanya untuk acara ini.


Acara debut Ayudisha diselenggarakan di sebuah ballroom mewah di salah satu hotel milik keluarga Mataya. Sesuai dengan permintaan Disha, acara ini akan menggunakan konsep pesta topeng. Meski melalui banyak perdebatan dengan sang kakek, akhirnya permintaannya itu dipenuhi juga. Yah, wlaupun sebenarnya mau tidak mau harus dipenuhi oleh Gerald, alasannya karena ia tak ingin cucunya itu merasa tidak puas.


Tidak, bukan karena ia menyayangi cucunya itu. Tetapi karena ia takut 'rencananya' selama tahun-tahun terakhir ini gagal.


Banyak tamu undangan yang datang mewakili berbagai perusahaan ternama, beberapa juga adalah keluarga dan teman-teman Disha. Semua orang menikmati acara mewah itu dengan gelak tawa dan senyuman. Semuanya berjalan tertib sejauh ini.


Hingga di pertengahan acara, kehadiran salah seorang pengusaha ternama di acara itu sungguh menggegerkan banyak pihak. Tak ada yang menyangka, seorang Cedric Voltage yang kabarnya selalu menjauhi acara sosial dan media, tiba-tiba mau menunjukkan dirinya.


Karena kehadirannya, banyak orang mulai memuji Gerald karena ia mampu membujuk seorang Cedric untuk mendatangi acara perusahaannya. Selain itu, tak sedikit juga yang iri dengan perusahaan Mataya yang mampu menjalin hubungan kerja sama yang erat dengan Perusahaan Voltage.


Kesempatan ini membuat sebagian besar pebisnis yang hadir mulai mengatur strategi untuk mendekati Cedric. Mereka pikir ini adalah kesempatan langka yang diberikan pada mereka untuk menggaetnya.


"Ya ampun Tuan Voltage, senang melihat Anda mau datang ke acara ini." Ucap Gerald menyambut Cedric dengan tersenyum lebar. Ia membuka kedua tangannya untuk memberi salam pelukan pada Cedric yang berjalan ke arahnya. Sementara itu, di belakang Cedric ada Erwin yang selalu setia mengikuti Tuannya itu.


Cedric yang melihat sikap ramah Gerald spontan tersenyum miring. Ia tak menyangka Gerald sangat jago dalam berakting. Karena terakhir kali mereka bertemu, Gerald sungguh gemetar ketakutan, bahkan ia tak berani melihat matanya Cedric secara langsung.


'Kemampuan bertahan hidup yang bagus.' Benak Cedric.


Cedric turut menyambut salam pelukan Cedric, lalu berkata "Tentu saja aku mau datang ke acaramu, Tuan Gerald. Aku punya alasan yang kuat untuk datang dan merayakan hari bersejarah ini."


Tentu saja, alasan yang dimaksud Cedric pastilah berkaitan dengan kesepakatan yang mereka buat sekitar tiga tahun yang lalu. Namun pria tua itu lebih memilih diam dan hanya tersenyum. Ia mengeratkan genggamannya untuk menahan ketakutan yang menjalar di hatinya.


"Tuan Cedric, bukankah Anda belum bertemu cucuku? Aku akan mengenalkannya lagi pada Anda." Ucap Gerald mengalihkan pembicaraan.


"Baiklah." Jawab Cedric.


"Kau carilah dan bawa Disha kemari." Perintah Gerald pada Leon—sekretarisnya.

__ADS_1


Setelah sekretarisnya Gerald pergi untuk mencari Disha, satu per satu pebisnis perlahan mendekat untuk sedikit menyapa Cedric. Mereka mulai berbincang ringan. Cedric tau bahwa mereka yang mendekatinya punya maksud untuk cari muka padanya, mengingat sekarang perusahaan Voltage termasuk perusahaan raksasa yang disegani. Wajar saja banyak pebisnis yang mau berteman dengannya kan?


Sementara di sisi lain, Disha tampak sedang berbincang dan menyambut teman-temannya yang datang. Sepertinya kabar kedatangan Cedric Voltage belum sampai ke telinganya dan teman-temannya itu. Yah, mungkin karena posisi mereka yang cukup jauh dari area utama, dan lagi tempat mereka saat ini tidak terlalu banyak orang.


Tidak lama kemudian, Belvina datang dengan setengah berlari menghampiri Disha. Ia tampak begitu bersemangat ingin membagikan informasi yang baru didapatnya.


"Disha... ada kabar penting!" Bisik Belvina sambil menarik jari kelingking Disha untuk menghentikan wanita itu dari perbincangannya.


Melihat Disha yang begitu terdesak untuk memberinya kabar penting itu, Disha jadi penasaran dan menghentikan perbincangannya. Ia penasaran sepenting apa kabar yang dipunya Belvina untuknya.


"Ada apa Bel?" Tanya Disha setelah mengajaknya untuk berbincang menjauh dari yang lain.


"Disha, kau tidak tau Tuan Voltage datang ke sini? Dia ada di sini sekarang." Jawab Belvina antusias.


"Apa? Kau serius?? Itu mustahil." Disha tidak percaya.


"Katanya dia sedang berbicara dengan Kakek, ayo kita temui. Mungkin Kakek mau mengenalkanmu padanya. Aku belum pernah melihatnya, katanya dia super tampann!!" Jelas Belvina lagi penuh semangat.


Disha hanya diam menatap tak percaya pada Belvina—sepupunya itu.


"Aishh, kau ini."


Tak lama kemudian, di sela-sela pembicaraan kedua gadis cantik itu, Leon datang dan menghampiri mereka.


Belvina menyikut lengan Disha sambil berbisik, "Tuh, pasti Kakek mau mengenalkanmu padanya..."


"Iya-iya..." Sahut Disha.


Setelah itu, Disha yang diikuti oleh Belvina pergi untuk menemui Gerald.


"Sepertinya Kakek tampak masih sibuk. Aku akan menunggunya di sini." Ucap Disha ketika melihat Gerald sedang sibuk berbicara pada beberapa orang. Ia berbalik membelakangi Kakeknya hingga posisinya sekarang berhadapan dengan Belvina.


"Astagaa..." Tiba-tiba Belvina berucap demikian dengan tubuh mematung. Ia sampai menutup mulut dan menatap kagum ke arah belakang Disha.


'Sekarang apa lagi?' Benaknya saat melihat ekspresi lebay sepupunya itu.


"Kau melihat apa?" Tanya Disha dengan menatap malas.


"Dia sungguh tampan Disha!!" Puji Belvina antusias. Ia tersenyum sumringah melihat Cedric Voltage yang ternyata masih setia berdiri berbincang dengan Gerald.

__ADS_1


"Apa yang—”


Kalimat Disha terputus saat ia menoleh dan melihat ke arah pandangan Belvina. Ia tertegun. Entah kenapa dia yakin bahwa orang yang dilihatnya itu adalah Tuan Voltage. Itu karena pria berkulit eksotis itu terlihat sangat mempesona. Sosoknya terlihat sangat berkarisma, auranya mendominasi, dan tentu saja wajahnya yang tidak mengenakan topeng itu terlihat sangat tampan. Tapi entah kenapa Disha merasa tak asing dengan mata biru menyala milik pria itu.


Sekarang Disha jadi teringat dengan pria yang pernah dilihatnya di club malam waktu itu— pria yang disebut Belvina sebagai ketua mafia paling berbahaya di dunia. Pfftt... Konyol kan? Mengingatnya saja sudah membuat Disha merasa konyol.


"Ah tapi kenapa dia tidak memakai topengnya ya?" Tanya Belvina yang masih menatap lekat pria itu.


Disha kemudian menatap malas pada sepupunya itu, lalu berkata, "Kenapa tidak kau tanyakan langsung padanya?"


Tetapi Belvina yang sudah dimabuk Cedric tidak menghiraukan ucapan Disha itu. Ia masih sibuk dengan pikirannya sambil tersenyum lebar dengan pandangan yang terus terpaku pada Cedric. Bagaimana tidak, pria tampan adalah candunya, mungkin Belvina takkan bisa hidup jika tak melihat pria tampan sehari saja. Kasihan Miguelle—Pacar Belvina.


Tidak lama kemudian, dari kejauhan Gerald memanggil Disha untuk mendekat. Lalu, Disha yang diikuti Belvina pun datang menghampiri Kakeknya. Belvina sadar diri dan tidak ingin memancing amarah kakeknya yang ribet itu, jadi dia berdiri cukup jauh di belakang Disha.


'Apakah ini cucunya? Dia terlihat seperti gadis manja.' Benak Cedric menatap Disha dengan tatapan datar.


Ia berpikir bahwa Disha tidak ada bedanya dengan gadis-gadis konglomerat lainnya, yang hanya tau menghabiskan uang. Pantas saja Gerald memilihnya sebagai pewaris, ia ingin perusahaannya terlihat hancur natural di tangan pewaris yang tidak kompeten. Dan tentu Gerald tidak akan terlalu disalahkan atas kehancuran perusahaannya. Cukup cerdik, pikir Cedric.


"Ada apa Kakek mencariku?" Tanya Disha dengan senyuman manisnya berusaha tidak menghiraukan pria tampan yang sedari tadi menatapnya intens.


"Ah ini, Kakek ingin mengenalkanmu dengan Tuan Cedric Voltage. Kau pasti sudah sering mendengar namanya. Dia adalah salah satu teman baik kita." Ucap Gerald berbahasa asing, memperkenalkan Cedric.


Disha kemudian menatap ke arah Cedric. Hal pertama yang dikaguminya dari pria itu adalah, bola matanya yang sangat indah, namun entah kenapa manik matanya itu seperti menyimpan banyak rahasia di dalamnya. Ia tertegun untuk beberapa saat, sebelum kemudian deheman Erwin memecah keheningan di antara mereka.


"Ah, maaf, aku sudah tidak sopan. Senang bertemu Anda Tuan Voltage." Ucap Disha tersenyum canggung.


Cedric kemudian tersenyum miring, lalu berkata, "Tak perlu sungkan."


"Ngomong-ngomong Tuan Voltage, sepertinya saya salah menentukan tema perayaan hari ini." Ucap Disha sambil menunjukkan senyum manisnya.


"Kenapa begitu Nona?"


"Karena ternyata Anda sangat tampan, itu akan sia-sia jika ditutupi oleh topeng. Jadi, saya rasa begini jauh lebih baik. Tapi bagaimana bila ada yang diam-diam mengambil gambar Anda dan menyebarkannya ke media? Bukankah akan jadi masalah besar?" Ucap Disha yang kemudian tertawa pelan.


'Dia menyinggungku dengan mulut manisnya itu.' Batin Cedric menyimpulkan. Cedric tidak dapat menahan tawanya karena gadis pemberani itu. "Benar, saya bisa-bisa kerepotan—Kalau begitu akan saya pakai lagi." Ucap Cedric.


Dan begitu topeng itu kembali bertengger di wajah tampan Cedric, Disha begitu terkejut. Ia syok melihat wajah bertopeng Cedric.


.

__ADS_1


.



__ADS_2