Nona Milik Tuan Mafia!

Nona Milik Tuan Mafia!
Musuh di Balik Selimut


__ADS_3

"Maaf, permisi, aku ingin melihat keadaan Ibuku."


Semua pengawal di tempat itu saling bertatapan, satu di antara mereka memberikan kode kecil untuk tidak mengizinkan Disha masuk. Tentu saja dia adalah kepala pengawal.


"Maaf Nona, Anda tidak diizinkan untuk masuk." Ucap Kepala Pengawal membuka suara.


"Apa? Kenapa aku tidak boleh masuk? Apa hanya aku yang tidak boleh masuk?"


"Semua orang yang datang berkunjung tidak boleh masuk, Nona."


"Siapa yang memberimu perintah?!"


"Tentu saja Tuan Marco, Nona."


"Dimana Paman sekarang?" Tanya Disha. Dari rautnya, ia jelas sudah cukup menahan kesabaran.


"Saya tidak tahu, Nona." Jawab Kepala Pengawal dengan cepat.


Disha memperhatikan wajah kepala pengawal itu dengan seksama, sebenarnya ia tidak yakin dengan ucapannya itu. Bagaimana mungkin di saat seperti ini Kepala Pengawal yang Disha tahu sangat dekat dengan Marco, tidak memberitahukan keberadaannya sama sekali?


"Tidak, kau pasti tahu dia ada dimana. Biarkan saja aku masukk!"


"Maaf Nona, kami—"


"Paman?" Ucap Disha terkesiap. Arah pandangannya mengarah ke koridor yang dibelakangi oleh para pengawal. Jadi otomatis semua pengawal berbalik dan melihat ke arah pandang Disha.


'Gotcha! Aku tidak percaya Paman Marco mempekerjakan orang seperti kalian!' Benak Disha tersenyum miring lalu dengan cepat berlari dan menyambar pintu ruangan Elea.


Sebenarnya itu adalah tipuan yang sangat sederhana, dengan mudahnya para pria besar itu termakan tipuan mudah Disha.


BRAKK


Disha menutup pintunya cukup keras, lalu dengan cepat ia menguncinya dari dalam, sehingga para pengawal itu tak bisa membuka pintu dan menyeretnya keluar.


Disha masih menghadap pintu, dari lubang intip di pintu itu, bisa dilihatnya para pengawal sudah panik dan menyadari bahwa mereka sudah ditipu. Pria-pria bodoh itu kemudian berhamburan dan menyambar pintu ruangan Elea.


Kepala Pengawal berulang kali mengetuk dan mendobrak pintu, tetapi belum cukup kuat untuk membuatnya terbuka.


"Apa yang kau lakukan di sini?"


Tiba-tiba suatu suara yang tak asing terdengar dari ruangan tempat dimana Disha berada saat ini. Mata Disha terbelalak, ia cukup terkejut mendengar ada orang lain di kamar Ibunya. Itu jelas adalah suara pria yang ia tahu bernama Marco Mataya.


Untuk memastikan, Disha pun kemudian berbalik perlahan sambil menajamkan pandangannya.


Benar, itu adalah Marco—Paman kandungnya yang sangat ia sayangi. Ia bernapas lega, beruntung itu bukan orang lain, pikirnya.


Tapi ada yang aneh. Saat ini Marco terlihat sangat... aneh dan berantakan. Marco menatapnya dengan tatapan datar, kemeja hitamnya berantakan dengan kancing yang terbuka, rambutnya acak-acakan, dan tunggu... Apa itu di lehernya? Disha semakin menajamkan pandangannya.

__ADS_1


Itu seperti... Darah? Apa itu darah?


Disha perlahan bergeser ke kiri untuk melihat apa yang sedang dilakukan pria itu dengan tangannya, karena saat ini pandangan Disha tertutupi oleh dinding setinggi setengah badan pria dewasa. Sehingga ia hanya bisa melihat dari perut sampai kepala Marco saja.


"Paman? Apa yang—"


Disha tertegun. Ia syok saat melihat apa yang dilakukan pria itu.


"Ibu!!"


Disha spontan berteriak memanggil Elea saat dilihatnya banyak darah yang mengalir di lantai.


Bukan hanya itu, lengan Marco... Lengan kanan Marco yang kokoh terlihat sedang menancapkan pisau pada tubuh Elea. Marco tidak terlihat takut sama sekali setelah tertangkap basah oleh Disha. Ia malahan berani menatap datar pada Disha, seolah tidak melakukan hal yang salah.


"APA YANG KAU LAKUKAN, BAJINGAN?!" Teriak Disha. Ia tak memperhatikan tutur bahasanya lagi. Amarah sudah menguasai Disha.


DEGG


Suara Disha memang terdengar keras saat berteriak, tetapi tidak dengan tubuhnya. Kaki dan tangannya gemetaran hebat, sehingga membuatnya kesulitan menggapai pria itu. Air mata Disha mengalir membasahi pipinya, marah, bingung dan bertanya-tanya, kenapa Marco ada di sini, kenapa Marco tega melakukan ini padanya.


Air mata Disha semakin mengalir deras bercampur amarah yang semakin membesar ketika ia melihat tangan kanan Marco yang tetap setia memegang pisau yang manancap di jantung Elea.


Jangan tanyakan bagaimana ekspresi Marco saat ini, karena pria itu hanya berekspresi datar, diam dan hanya melihat dengan tatapan kosong pada Disha.


BRAK BRAK BRAK


Suara dobrakan pintu yang keras membuat Disha tersadar dari keadaan syoknya. Dengan cepat, ia mengambil kesempatan saat matanya melihat pistol Marco yang berada di saku jasnya yang sedang tergantung. Dia merebut pistol itu, lalu mengarahkannya pada Marco—Meski tangannya masih gemetaran. Dan pria itu, dia membiarkan Disha mengambil pistolnya begitu saja.


Disha tidak tahu harus mengatakan apa, rasa kecewa, amarah, dendam, sedih, semuanya bercampur dalam hatinya. Kenapa harus Marco orangnya? Kenapa bukan Ayahnya saja yang mengkhianatinya? Dengan begitu Disha takkan merasa sesakit ini.


Air matanya terus mengalir, namun ia menahan suara tangisnya karena ia tidak ingin terlihat lemah.


"Apa yang kau lakukan di sini? Acaramu bahkan belum selesai." Ucap Marco dengan ekspresi datarnya. Ia mengelap tangannya yang penuh darah dengan kain putih di dekatnya.


Disha tidak menjawabnya. Ia menggigit bibir bawahnya hingga mengeluarkan darah segar. Ia geram, bagaimana bisa kalimat itu keluar dari mulut Marco? Seolah-olah dia tidak tahu apa yang sudah dilakukannya. Apa dia berharap Disha memberikan senyuman manisnya setelah apa yang sudah dilakukannya?


"Apa yang kau katakan?!! Apa kau psikopat?!! Bisa-bisanya kau membahas hal itu di saat seperti ini?!" Teriak Disha yang akhirnya membuka suara.


BRAKK


Sebelum Marco sempat menjawabnya, tiba-tiba pintu ruangan itu berhasil didobrak oleh para pengawal yang ada di luar. Rupanya tenaga mereka semakin terpacu ketika melihat Disha menodongkan senjatanya kepada Marco. Mereka juga langsung menodongkan senjata begitu mereka masuk, tepat ke arah Disha.


Disha tidak memedulikan para pengawal yang menodongkan senjata ke arahnya. Ia dengan setia masih mengarahkan pistolnya ke arah Marco, dan terus menyalangkan tatapan tajam kepada pria itu.


"Apa yang kau lakukan pada Ibuku!!!" Teriak Disha menuntut jawaban.


Tangannya yang memegang pistol itu bergetar cukup hebat. Ia ingin menembaki pria itu saat ini juga, tapi entah kenapa hati nuraninya menghalanginya untuk melakukan itu.

__ADS_1


"Nona, sebaiknya jatuhkan senjata Anda!" Perintah kepala pengawal.


Kemudian Marco mengangkat tangan kirinya, memberi isyarat agar semua bawahannya keluar dari ruangan itu.


"Tapi Tuan—"


"Dengarkan perintahku! Jangan coba-coba masuk sebelum kuperintahkan!"


Setelah itu, mereka semua pun meninggalkan ruangan itu, dan menutup pintunya.


"Disha, apa kau tidak mau duduk dulu?"


"APA KAU SUDAH GILA?! JANGAN BERCANDA DENGANKU, KAU BAJINGAN, FVCK YOU MARCO!!"


Marco tertawa mengejek "Aku tidak menyangka muridku punya bakat merutuk orang."— "Apa kau ingin jawaban? Baiklah. Biar kujawab pertanyaanmu. Apa yang kulakukan di sini? Yah, yang kulakukan—" Marco memutus kalimatnya saat tangannya semakin menekan pisau yang masih tertancap di dada Elea hingga memuncratkan darah segar.


"BAJINGAN!!" Disha berteriak sambil menekan pelatuk pistolnya.


Tapi sial,


Berulang kali ditekannya pelatuk itu, namun tidak ada peluru yang keluar.


'SIALAN!!' Batinnya.


"Yah, pistol itu tidak ada isinya. Aku takkan seceroboh itu, Disha." Ucap Marco tersenyum mengejek.


"DIAM KAU!!!"


Disha melemparkan pistolnya sembarang, lalu dengan cepat ia mengedarkan pandangan, mencari benda tajam di sekelilingnya yang bisa ia gunakan untuk membunuh pria di hadapanya itu. Dan akhirnya perhatiannya tertuju pada garpu yang terletak di atas nakas.


Disha dengan cepat mengambilnya, lalu menyergap Marco dengan garpu itu. Serangan demi serangan dilancarkannya pada Marco. Tetapi Marco masih dapat menghindari gerakan yang menurutnya masih belum seberapa itu.


Bagaimanapun Marco adalah guru bela dirinya, wajar saja bila Disha belum dapat menandingi kemampuan Marco dalam hal bertarung.


Banyak barang di ruangan itu berserakan dan hancur berkeping-keping karena pertarungan antara guru dan murid itu. Hingga satu serangan dari Marco membuat Disha terpental lumayan jauh dan membentur dinding dengan keras.


"Kemampuanmu masih sangat lemah." Ucap Marco.


Disha tidak memperdulikannya. Tidak, sekarang ia tidak peduli lagi pada pria itu. Hanya ada tatapan kebencian di mata Disha ketika melihat pria di hadapannya itu.


'Akan kubunuh kau saat ini juga!' Teriak Disha dalam hatinya.


.


.


__ADS_1


__ADS_2