
(Dialog dan Monolog bercetak miring mengguanakan Bahasa Italia, dan yang bercetak tebal menggunakan Bahasa Inggris)
.......
...🥀🥀🥀...
'Dia menyinggungku dengan mulut manisnya itu.' Batin Cedric menyimpulkan. Kemudian ia tertawa pelan membalas ucapan Disha, lalu berkata, "Benar, saya bisa-bisa kerepotan— Kalau begitu akan saya pakai lagi."
Cedric pun memakai topengnya lagi. Saat topeng pria itu sudah bertengger di wajah tampannya, Disha mematung untuk beberapa saat. Entah kenapa ia merasa akrab dengan wajah bertopeng itu.
'Dia mirip—' Mata wanita itu terbelalak menyadari sesuatu. Karena kembali teringat dengan sosok berbahaya di club malam waktu itu, spontan Disha mundur perlahan sampai posisinya berada tepat di sebelah Belvina.
'Kenapa dia kelihatan terkejut?' Batin Cedric bingung melihat tingkah aneh Disha.
"Disha, kau kenapa?" Bisik Belvina bertanya pada sepupunya yang kelihatan syok itu.
"Di-Dia pria yang kutemui di club hari itu." Bisik Disha menjawab. Untuk menutupi rasa takutnya, Disha menampikkan senyuman manisnya sambil berbicara dengan Belvina.
"Pria? Pria yang mana—"
DEGG
Cepat-cepat, Belvina mengalihkan pandangannya dari Cedric. Yang tadinya ia menatap Cedric dengan tatapan kagum, kini ia bahkan tak sanggup menegakkan kepalanya di hadapan pria itu. Belvina ingat akan pembicaraannya dengan Disha beberapa hari yang lalu di club. Itu adalah pembicaraan mengenai anggota mafia paling berbahaya, yang bernama Lama Nera. Dan orang di hadapan mereka saat ini, tak lain adalah salah satu anggota Lama Nera yang diceritakan Disha.
"A,apa kau yakin dia orangnya Dis?" Tanya Belvina terbata-bata.
"Tidak mungkin aku salah. Bagaimana? Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Disha berbisik pada Belvina dengan senyuman pura-puranya.
"Belvina, apa yang sebenarnya kalian bicarakan? Kalian tidak sopan sudah mengabaikan Tuan Cedric." Koreksi Gerald sambil memperhatikan Cedric yang kelihatan bingung melihat tingkah Disha dan Belvina. Gerald takut perbuatan cucunya itu menyinggung perasaan Cedric, yang artinya akan mengundang masalah baru untuknya.
"Ah, bukan apa-apa, Kek. Aku hanya ingin bilang pada sepupuku ini bahwa ternyata Tuan Cedric tetap tampan dengan topeng yang dikenakannya." Disha tersenyum sambil merangkul Belvina yang tampak mulai ketakutan. Ia ingin tampil senatural mungkin di hadapan pria berbahaya itu.
"Benarkah itu yang sedang kalian bicarakan? Saya jadi tidak yakin setelah melihat ekspresi sepupu Anda." Cedric tersenyum miring menatap ke arah Belvina.
Mendengar itu, Disha jadi ikut melihat ke arah Belvina. Dan benar saja, daripada menunjukkan ekspresi orang yang sedang memuji, sepupunya itu lebih menunjukkan ekspresi orang yang sangat ketakutan. Belvina sudah mulai mengeluarkan keringat dingin, dan ia tidwk lagi berani menatap ke arah Cedric seperti sebelumnya.
"Bel, jangan terlalu kelihatan dong, ayo bersikap seperti biasanya..." Bisik Disha sambil sedikit menyikut lengan Belvina.
"Disha, aku serius, kita harus menjauh darinya. Aku takut kau kenapa-napa. A-aku sangat terkejut ternyata Cedric Voltage orangnya Lama Nera! Dia berbahaya!"
"Sebenarnya seberapa banyak yang kau sembunyikan dariku? Kenapa kau tahu banyak mengenai kelompok mereka?—Baiklah, kita akan pergi darinya. Dan kau harus menjawab banyak pertanyaan dariku." Bisik Disha penuh penekanan.
Belvina hanya membalasnya dengan anggukan pelan.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong, sepertinya saya harus menyambut tamu yang lainnya. Saya mohon izin Tuan Cedric."
Tidak, bukan Disha yang mohon izin dari pria bernama Cedric itu, melainkan Gerald. Ia tiba-tiba Gerald pamit memecah suasana canggung di antara mereka.
Cedric hanya tersenyum tipis kemudian mengangguk mempersilahkan Gerald untuk pergi. Tentu saja, setelah pergi dari Cedric, Gerald menghembuskan napas lega karena akhirnya ia bisa terlepas dari aura mencekam yang dirasakannya saat berada di dekat Cedric.
"Siapa dia?" Tanya Cedric pada Erwin yang berdiri tepat di sampingnya.
Dengan teknologi canggih pada topeng yang dipakai Erwin, ia melacak identitas orang yang dimaksud oleh Cedric. Beberapa saat kemudian ia berhasil memperoleh informasi wanita yang tak lain adalah Belvina.
"Ini mengejutkan." Gumam Erwin menampakkan wajah seriusnya.
"Ada apa?"
"Nona itu Belvina, yang dikenal sebagai Bell, petarung jarak dekat Lama Nera. Anda tidak mengenalnya karna dia bukan anggota inti. Pantas saja saya merasa agak tidak asing saat melihatnya." Jawab Erwin menjelaskan.
"Kalau begitu, apa alasannya takut saat melihatku? Apa dia tau siapa kita?"
Yah, wajar jika Cedric—alias Ello—merasa bingung ketika mengetahui fakta bahwa Belvina—anggota Lama Nera yang bahkan bukan anggota inti—terlihat begitu ketakutan saat melihatnya, seperti ia tahu saja bahwa Cedric adalah orang paling berbahaya di Lama Nera.
"Soal itu, saya juga tidak tahu. Seharusnya dia tidak tau siapa Anda dan Saya. Mereka yang bukan anggota inti Lama Nera takkan mungkin mengenali Anda, apalagi saat ini Anda sedang dalam penyamaran. Selain itu, tidak semua anggota Lama Nera juga mengenal anggota inti." Jelas Erwin.
"Lalu apa alasannya tiba-tiba seperti ketakutan melihatku? Pewaris Mataya ini juga seperti terkejut saat melihatku mengenakan topeng tadi."
"Kita akan menyelidikinya setelah misi utama kita di tempat ini selesai."
"Baik, Tuan Cedric."
"Sebenarnya apa yang mereka bicarakan dari tadi?" Bisik Disha sambil menyikut tangan Belvina lagi. Yang ia tahu bahwa kedua pria itu sedang berbicara dalam bahasa Italia. Entah membahas apa.
"Kumohon Disha, ayo kita segera pergi dari sini!" Belvina memaksa dengan berbisik sambil sedikit menarik tangan Disha.
Karena desakan sepupunya itu, mau tidak mau Disha mengikuti permintaannya. Disha melangkah maju kembali ke hadapan Cedric, lalu berkata sambil tersenyum, "Tuan Cedric, silahkan Anda menikmati pestanya. Sekali lagi, saya berterimakasih atas kedatangan Anda." Ucapnya penuh kesopanan.
"Tentu saja." Balas Cedric juga membalas Disha dengan senyumannya.
"Kalau begitu, saya pamit dulu Tuan Cedric."
"Ya, silahkan."
Setelah itu, Disha dan Belvina melangkah menjauh meninggalkan Cedric dan Erwin yang masih menatap ke arah mereka dari kejauhan.
Tiba-tiba, alat komunikasi yang ada pada Erwin bergetar, menandakan bahwa ada pesan yang masuk pada alat itu. Dibukanya dan dibacanya isi pesan itu. Dengan wajah serius, ia sedikit terkejut saat membaca pesan yang berasal dari anggota inti Lama Nera yang lainnya. Mungkin karena itu adalah pesan yang dirasanya penting
__ADS_1
"Tuan! Wanita itu ada di sini!" Ucapnya dengan antusias memberitahukan isi pesan yang diterimanya pada Cedric.
"Kalau begitu kita pergi." Perintah Cedric.
Mereka berdua pun pergi meninggalkan tempat itu secara diam-diam, dan segera pergi menuju titik, tempat dimana orang yang mereka cari berada.
Orang yang mereka cari tak lain adalah Mikasa, sahabat dari wanita yang merupakan komplotan "D'Layola"—pria yang membunuh Ibu dan Adiknya.
Sementara mereka dalam pengejaran menangkap wanita yang bernama Mikasa itu, Disha tengah berbincang dengan Belvina di tempat tertutup, menuntut banyak jawaban darinya.
"Disha, sebenarnya aku juga tidak tahu kalau Tuan Cedric itu anggota Lama Nera. Aku juga terkejut saat kau bilang bahwa Tuan Cedriclah orang yang menjatuhkan kancing itu. Pacarku tidak pernah cerita soal ini padaku." Aku Belvina pada sepupunya itu.
Disha kemudian menghela napasnya panjang sebelum melanjutkan perkataannya.
"Pantas saja selama ini tidak ada potret apapun mengenainya di media sosial. Ini masuk akal kalau dia memang anggota Lama Nera yang sangat "dilindungi", bukankah begitu?"
Belvina mengangguk.
"Kalau begitu siapa pacarmu?" Tanya Disha.
Belvina mendelik ke arah Disha, ia sedikit salah tingkah mendengar pertanyaan barusan.
"A Apa maksudmu?"
"Siapa pacarmu? Kenapa dia tahu banyak tentang anggota Lama Nera yang sangat "dilindungi" seperti Tuan Cedric? Tuan Cedric bahkan bukan ketua Lama Nera, dan perlakuan atas keamanannya saja sudah sangat ketat. Lalu bagaimana bisa pacarmu mengetahuinya?" Tanya Disha. Ia mulai merasa ada yang disembunyikan Belvina darinya.
"Itu karena mereka sahabatan, Disha." Belvina membuang pandangannya dari Disha.
"Benarkah?—Hmm... tapi itu tidam masuk akal. Dari ceritamu dan berita-berita yang beredar, orang-orang Lama Nera adalah orang-orang yang berbahaya, keji, dan tidak mengenal belas kasihan, apa menurutmu orang seperti itu akan percaya begitu saja pada hubungan pesahabatan? Maksudku, seperti yang kau bilang, terkadang sesama anggotanya saja tidak saling mengenal, kan? Lalu bagaimana mungkin dia lebih percaya pada orang luar, daripada sesamanya?"
"Kau ingin bilang kalau Miguel adalah anggota Lama Nera juga kan?" Tanya Belvina yang mengerti maksud dari perkataan Disha.
"Ya, itu yang kupikirkan."
"Tidak Disha, ucapanmu tak berdasar. Itu karena mereka sahabatan." Ucap Belvina bersikukuh pada ucapannya.
Disha menghela napasnya panjang, lalu berkata, "Astaga Belvina, kau sungguh naif. Tidak mungkin mafia pembunuh seperti mereka menaruh kepercayaan sembarangan seperti itu."
Belvina hanya terdiam. Ia meremas roknya dengan kuat.
'Maaf Disha, aku tidak bisa memberitahumu semuanya. Mungkin Lama Nera memang pembunuh, kejam, dan sangat mengerikan. Tapi, kami adalah orang-orang yang solid. Mereka bahkan lebih hangat daripada sesuatu yang kau sebut "keluarga".'
__ADS_1