
(Dialog dan Monolog bercetak tebal menggunakan Bahasa Inggris, dan yang bercetak miring menggunakan Bahasa Italia)
...FLASHBACK...
~Kota X, Indonesia~
20.00 WIB
Dua pria tampan dengan stelan jas rapih sedang mengobrol di tengah perjalanan mereka menuju pesta debut sang ahli waris Mataya Group—Ayudisha Findy Mataya. Saat ini mereka tengah dalam penyamaran. Ello yang menyamar sebagai Cedric Voltage—Tuan pengusaha yang namanya ditakuti oleh pengusaha besar lainnya. Sedangkan Romano menyamar sebagai Erwin—Tangan kanan Cedric Voltage.
"Ello, apa kau yakin Mikasa akan datang ke tempat ini?" Tanya Romano yang masih sibuk memegang kendali mobil.
"Ya." Jawab Ello singkat.
"Kenapa kau seyakin itu?"
"Dari informasi yang didapat Paman, wanita itu sekarang sedang berusaha merintis perusahaannya, jadi kemungkinan besar dia akan hadir di acara ini untuk menggaet kolega atau sekedar menjalin hubungan baik dengan para pengusaha terkenal yang akan datang."
'Yah, semoga saja informasi itu benar.' Harap Romano dalam hatinya.
.......
.......
...🥀🥀🥀...
Mikasa—wanita berkebangsaan Jepang itu saat ini tengah dalam penyamaran, menyusup ke ballroom pesta debut Ayudisha Findy Mataya—ahli waris sah perusahaan Mataya. Tujuannya saat ini hanya satu, yaitu bertemu dengan teman lamanya yang sudah bertahun-tahun ia cari.
Hanya ada satu informasi yang ia tahu mengenai sahabatnya, yaitu bahwa ia sudah menikah dengan anak dari konglomerat pemilik perusahaan Mataya. Ia sudah memiliki anak, tapi sayangnya Mikasa tidak tahu siapa nama anaknya itu.
Informasi yang bisa didapatnya sangat sedikit, dan itu membuat Mikasa sedikit bertanya-tanya, siapa orang yang sudah melindungi sahabatnya itu? Hingga orang seperti dirinya sangat kesulitan menemukan info mengenai sahabatnya. Mikasa ingin bertemu dan berterimakasih padanya karena sudah menjaga sahabat baiknya untuk waktu yang lama.
Wanita dari negeri sakura itu berpikir bahwa ini adalah waktu yang pas baginya untuk bertemu dengan sahabatnya itu, sekalian ingin menyampaikan informasi penting untuknya.
Dengan tenang, Mikasa ikut berbaur di pesta itu. Ia minum anggur sambil mengamati sekelilingnya, mencoba mencari sosok yang sangat ingin ditemuinya.
Tetapi lama berkeliling di tempat itu, tidak ada satu figur pun yang menyerupai sahabatnya. Mikasa jadi sedikit frustasi. Tidak mungkin dia tidak datang ke perayaan besar keluarganya kan? Begitulah pikir Mikasa.
"Permisi, apakah semua keluarga inti Mataya menghadiri acara ini?" Tanya Mikasa pada salah satu tamu undangan.
"Ah maaf, saya juga tidak tahu."
"Ah, baiklah. Terimakasih."
Mikasa tidak menyerah sampai di situ, ia menanyakan hal yang sama pada tamu undangan lainnya.
"Tidak, kudengar tidak semua dari keluarga mereka yang hadir. Bahkan Puteranya saja, Tuan Marco Mataya pun tidak hadir." Jawab salah satu wanita yang ditanyai Mikasa.
"Ah begitu ya, kalau begitu terimakasih atas informasinya."
"Memangnya ada apa Nona?"
"Ah, tidak, aku hanya bertanya-tanya kenapa kelihatannya keluarga Mataya begitu sedikit, ternyata karena memang ada yang tidak hadir."
"Yah, begitulah. Aku tidak tahu dengan Puteranya, tapi dari yang kutahu menantu Mataya sekarang sedang sakit dan dirawat di rumah sakit milik Mataya."
__ADS_1
Mendengar itu, temannya menyikut tangan wanita itu. Mungkin temannya itu merasa terlalu banyak informasi yang diberitahukannya kepada Mikasa.
Mikasa tersenyum canggung, ia pun merasa bahwa informasi itu memang sedikit berlebihan untuk ukuran orang yang belum memperkenalkan dirinya pada pertemuan pertama. Tetapi yah, tentu itu sangat membantunya.
Tidak lupa Mikasa berterimakasih pada kedua wanita itu sebelum kemudian ia segera mencari cara untuk keluar dari gedung itu. Ia harus cepat menemui sahabatnya—Elea Anevay Wijaya.
Mikasa berhasil keluar dari tempat itu, namun ia merasa ada satu hal aneh. Sepertinya seseorang sedang mengikutinya.
Mikasa cukup peka karena latar belakang dirinya yang adalah mantan anggota mafia Lama Nera, sekaligus mantan anggota inti—ONE.
Mikasa mempercepat langkahnya, ia sengaja berbelok ke kiri, dimana itu merupakan koridor yang cukup panjang. Namun ternyata itu adalah keputusan yang salah. Mikasa pikir orang yang mengikutinya hanya satu orang, jadi akan mudah membunuhnya di koridor itu. Tetapi nyatanya, mereka terdiri dari tempat orang, lengkap dengan senjata api dan pedang yang mereka gunakan. Mikasa dikepung dari kedua sisi.
Dua pistol yang dikeluarkan Mikasa bahkan takkan cukup untuk membunuh keempat pria bertopeng itu.
'Tampaknya mereka juga habis dari pesta Mataya, siapa mereka? Kenapa mengejarku?' Tanya Mikasa dalam hatinya
"Apa kabarmu Nona?"
'Huh? Dia berbahasa Italia?' Benak Mikasa merasa bingung.
Meski sudah dikepung, dengan tetap tenang Mikasa mengangkat kedua pistolnya ke sisi yang berlawanan.
"Tampaknya sudah lama keluar dari Lama Nera membuat kemampuanmu menurun drastis."
'Darimana dia tahu kalau aku mantan anggota Lama Nera? Siapa mereka?!' Keringat dingin mulai mengucur di pelipis Mikasa. Ia tahu bahwa pria-pria ini bukanlah orang sembarangan.
"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan. Katakan padaku apa yang kau inginkan! Aku tidak punya waktu!" Jawab Mikasa menggunakan Bahasa Italia.
Tangan pria yang berbicara tadi kemudian bergerak perlahan membuka topeng yang ia kenakan. Saat topeng pria itu dibuka,
DEGG
"Romano?"
"Hahahaha... rupanya Anda tidak lupa dengan saya, kakak senior." Ucap Romano sambil menunjukkan senyuman manisnya.
"Cukup basa-basinya, sekarang katakan dimana temanmu si Wijaya itu?!" Tiba-tiba seorang pria yang tak lain adalah Ello, datang dan mengatakan hal itu.
Mikasa sontak melihat kearahnya, entah kenapa ia merasa tak asing dengan suara pria itu.
"Ah, dia adalah Tuan Donzello Barnard Laiv, pemimpin baru dari Lama Nera." Ucap Romano memperkenalkan Ello saat dilihatnya Mikasa seperti kebingungan ketika melihat Ello.
"Jadi kau adalah Putera Valentino Vitto Laiv?"
"Jangan coba coba sebut nama itu di hadapanku, Bangsat!!"
DORR DORR
Seketika dua tembakan dilayangkan Ello ke arah Mikasa. Satu tembakan berhasil dihindari Mikasa, tetapi tembakan lainnya berhasil mengenai bahunya.
"Ternyata, kalian sama-sama tempramental." Gumam Mikasa tersenyum mengejek menahan rasa sakit di bahu kanannya.
TAKK
Kemudian Ello membuka dan membuang topengnya ke sembarang tempat.
__ADS_1
"Ello, kenapa kau buka topengmu?" Tanya Romano. Ia takut jika wajah Ello sampai terekspos.
"Tak masalah, karena dia takkan keluar hidup-hidup dari sini." Jawab Ello dengan penuh penekanan.
Itu benar, Mikasa pun yakin dengan hal itu. Tidak mungkin dirinya akan dibiarkan keluar hidup-hidup dari tempat ini. Mikasa pun yakin bahwa ia takkan mungkin bisa menang melawan pemimpin Lama Nera, dan keempat anggota inti yang dibawanya.
Namun sebelum mati, Mikasa ingin melakukan sedikit hal untuk sahabatnya. Ia tahu bahwa Ello datang menemuinya pasti ada kaitannya dengan peristiwa pembunuhan istri dan puteri Valentino. Ia hanya tak ingin mati sia-sia.
"Ikat dan bawa dia ke rooftop." Perintah Ello.
Keempat bawahan Ello pun segera mendekat ke arah Mikasa yang sudah terlihat menurunkan senjatanya. Tampaknya ia benar-benar sudah pasrah dengan apa yang terjadi. Mereka mengamankan senjata Mikasa, lalu memborgol kedua tangannya, dan menggiringnya berjalan ke rooftop.
'Dia wanita yang cerdas, kalau aku jadi dia pun, aku akan menyerah. Tak ada gunanya melakukan perlawanan yang sia-sia.' Ucap Romano dalam hatinya sambil tersenyum miring menatap Mikasa.
sesampainya di rooftop, mereka berdiri mengelilingi Mikasa. Tentu saja dengan senjata yang siap ditembakkan kapan saja jika Mikasa berbuat hal yang tidak-tidak.
"Katakan padaku, dimana Wijaya temanmu itu!" Bentak Ello menuntut jawaban Mikasa.
"Namanya Elea Anevay Wijaya, Tuan Ello. Terserah Anda percaya atau tidak, saya pun sudah lama tidak bertemu dengannya. Itu makanya kedatangan saya ke acara itu adalah berharap untuk bertemu dengannya, tetapi sayangnya dia tidak ada di sini."
"Bertemu dengannya? Kenapa kau mencarinya di tempat itu? Apa dia juga pengusaha miskin yang sedang mengharapkan belas kasihan sepertimu?" Ejek Ello sambil tersenyum remeh.
'Huh? Apa Lama Nera tidak tahu apa hubungan Elea dengan keluarga Mataya? Ternyata orang yang melindungi Elea bukanlah orang yang sembarangan.' Ucap Mikasa dalam hatinya.
"Jangan berani-berani berbohong pada kami, kau tahu apa akibatnya!" Bentak Romano.
"Saya tahu, itu sebabnya saya bilang, percaya atau tidak. Karena memang itu yang sebenarnya."
"Lalu kau buru-buru mau pergi kemana tadi?!"
"Saya buru-buru pergi ke rumah sakit milik keluarga Mataya. Saya dengar, Elea sedang sakit dan dirawat di sana." — "Ini, Anda ambil foto Elea yang saya simpan di tas saya. Ini mungkin akan membantu Anda dalam mencarinya."
Ello kemudian menyuruh anak buahnya untuk mengambil foto yang dimaksud.
'Ini terlalu mudah, kenapa dia memberitahukan semuanya? Dia sangat mencurigakan.' Batin Ello.
"Pasti Anda berpikir bahwa ini terlalu mudah bukan? Kenapa saya membantu Anda untuk menemukan Elea, iya kan? Yah, saya memang berharap Anda segera menemukan dia. Temui dia untuk tau apa yang sebenarnya terjadi hari itu. Bukti terkuatnya ada pada Elea. Yang bisa kukatakan bahwa, Elea Anevay Wijaya tidak bersalah sama sekali! Kau sudah dipermainkan oleh seseorang."
"Jika kau berbohong padaku, akan kurobek-robek kau menjadi potongan daging!" Ancam Ello sambil menodongkan pedang berukuran sedang yang dipegangya.
Tiba-Tiba,
Srett
Tanpa aba-aba Mikasa berlari kencang ke arah pedang itu, hingga pedang itu menembus ulu hatinya. Banyak darah Mikasa mulai berceceran di lantai.
"Apa yang kau lakukan?! Mau melarikan diri setelah mengatakan kebohongan, huh?!" Teriak Romano. Mereka semua yang menyaksikan itu terlihat sangat terkejut.
"Anda... A, Anda boleh... membuang mayat saya di jalanan sampai membusuk... jika memang yang saya katakan adalah kebohongan. Tapi percayalah, saya tidak berbohong pada Anda. Saya tau... saya tau Anda adalah, orang yang baik." Ucap Mikasa yang mulai tersengal-sengal.
"Lalu kenapa kau melakukan ini?" Tanya Ello dengan ekspresi dingin.
"Aku... aku yakin jika bertemu dengan Elea, dia... dia pasti takkan pernah memaafkanku karena melanggar janjiku... aku pernah berjanji untuk merahasia...kan ini dari,mu sampai... sampai aku mati."
Setelah Mikasa mengatakan itu, Ello mendorong pedang yang masih tertancap di tubuh Mikasa hingga tusukan itu semakin dalam, dan membuat Mikasa memuntahkan darah dari mulutnya. Tidak lama setelah itu, Mikasa pun meninggal dunia.
__ADS_1
...FLASHBACK OFF...