Nona Milik Tuan Mafia!

Nona Milik Tuan Mafia!
Gagal


__ADS_3

...Terkadang, jalan yang diberikan Tuhan bukan jalan yang mudah, namun yakinlah bahwa itu jalan yang terbaik....


.......


.......


...🥀🥀🥀...


(Dialog dan Monolog yang bercetak miring menggunakan Bahasa Italia.)


'Fvck, dia pura-pura mabuk ternyata!'. Umpat Ello yang merasa sial.


Ello terengah-engah, dia mencoba menahan sesuatu yang terasa membara dalam dirinya.


"Sepertinya Anda belum banyak pengalaman hingga bisa terjebak begitu mudahnya. Cobalah lebih waspada Tuan, dunia ini tidak se-transparan seperti yang Anda kira." Ucap wanita itu menasehati.


Ia tersenyum bangga karena bisa membodohi seorang Ello.


Tak bisa mengontrol dirinya, Ello pun ambruk. Ia terjatuh dengan posisi berlutut sambil terengah-engah.


Sementara wanita itu, ia berjalan mengelilingi Ello pelan-pelan sambil tersenyum penuh nafsu.


"Hmmm... enaknya aku bunuh dulu baru kucicipi, atau kucicipi dulu baru kubunuh?" Ucapnya.


Wanita itu kemudian mengeluarkan belati miliknya dan pistol yang dijatuhkan Ello tadi.


"Kau mau dibunuh dengan apa? Belati atau Pistol?" Tanya wanita itu sambil tersenyum bahagia.


"Mati saja kau ******!" Umpat Ello dengan suara yang sangat keras.


"Ahahaha... suaramu sangat seksi. Kalau begitu dengan pisau saja. Akan kucicipi kau sambil menyayat-nyayatmu. Bagaimana? Ahhh... pasti sangat menyenangkan." Ucap wanita itu penuh semangat. Matanya berbinar, dan bisa-bisanya pula wajahnya merah merona hanya dengan membayangkan hal keji itu.


Saat wanita itu hendak merobek pakaian Ello, tiba-tiba tembakan tanpa suara dilayangkan tepat ke kepala wanita itu.


Dalam sekejap wanita itu kemudian ambruk. Darahnya teciprat ke wajah dan pakaian Ello.


"Headshot." Gumam si penembak itu.


Tembakan itu tak lain berasal dari anak buah Ello yang bernama Cayena. Cayena kemudian berlari menghampiri Ello yang tampak masih terengah-engah.


Ello menyadari kedatangan Cayena. Ia semakin mengeratkan rahangnya, entah kenapa tubuhnya jadi semakin terasa panas.


"Tuan, untung saja saya sempat membunuhnya. Apa yang terjadi pada Tuan?!" Tanya Cayena khawatir.


"Tuan, maaf..." Ucap Cayena meminta izin menyentuh dahi Ello untuk membersihkan cipratan darah wanita tadi.


"Hah, hentikan Cayena... singkirkan tanganmu!" Tolak Ello.


Lalu Ello melanjutkan perkataannya, "Sepertinya wanita itu memberiku afrodisiak atau semacamnya."

__ADS_1


"Ah, pantas saja. Tapi tak masalah Tuan, aku membawa ini..." Cayena mengeluarkan suntikan kecil berisi cairan dari anting-anting yang dikenakannya. Lalu ditancapkannya suntikan itu pada nadi Ello.


Setelah itu, tak berapa lama kemudian, keadaan Ello perlahan kembali seperti semula. Napasnya sudah kembali normal.


"Cayena, harusnya jangan langsung kau bunuh ****** itu. Dia harus dibiarkan mati perlahan. Setelah ini, berikan mayatnya pada Leon." Perintah Ello.


Leon tak lain adalah singa putih peliharaan Ello.


"Baik Tuan." Jawab Cayena.


"Kerja bagus. Sekarang ayo kita pergi."


Cayena yang mendengar pujian dari tuannya itu, membuat darahnya berdesir. Ia tersipu malu. Lalu diikutinya Ello berjalan dari belakang.


"Apa yang lainnya sudah sampai? Kenapa tak ada kabar sama sekali dari mereka?" Tanya Ello pada Cayena di dalam lift.


"Itu dia masalahnya Tuan, mungkin ada yang menyadap alat kita dan memutuskannya. Aku pun tak dapat berkomunikasi dengan mereka, Tuan." Jawab Cayena.


'Mustahil, tak pernah ada yang mampu menembus pertahanan kami sejauh ini. Sebenarnya sehebat apa D'Layola brengsek itu!!' Ucap Ello dalam hati.


Saat Ello dan Cayena sampai di lantai 10, mereka berdua melihat anggota inti yang lainnya sudah berkumpul di dalam ruangan nomor 650 itu.


Pintunya terbuka, sehingga Ello dan Cayena dapat melihat langsung situasi di dalamnya.


"Apa yang terjadi?" Tanya Ello ketika melihat Prince Dimian sudah dalam keadaan tak bernyawa tergeletak di atas sofa di ruangan itu.


"Sepertinya dia sudah dibunuh lebih dulu, Tuan." Jawab ****.


"Apa mereka membawa kalian ke tempat sepi, lalu mencoba membunuh kalian?" Tanya Cayena memastikan.


"Tidak, mereka hanya sekedar menghalangi." Jawab Elios, bawahan Ello yang lainnya.


Rekan-rekan Cayena yang lainnya pun ikut mengangguk menyetujuinya.


"Berarti..." Cayena berusaha menyimpulkan kejadian ini.


'Aku adalah targetnya. Dia mencoba membunuhku!!' Simpul Ello dalam kepalanya.


"SIALL!!" Pekik Ello berteriak. Ia memukul pintu ruangan itu hingga membuat bentuk pintu itu tak lagi normal.


Para bawahan Ello hanya bisa diam menyaksikan kegagalan mereka.


Tiba-tiba, intercom di ruangan itu berbunyi.


"Nak Ello, mau kuberitahu sebuah rahasia? Sebenarnya aku tak ada hubungan apa pun dengan Prince Dimian. Tadaa... apa kau terkejut? Ahahaha... Dan ya, selamat menjadi tersangka atas pembunuhan Prince. Sampai jumpa di lain waktu~" Ucap seorang pria dari balik intercom itu dengan nada mengejek.


Itu adalah suara yang dikenal oleh Ello. Siapa lagi kalau bukan pria yang dipanggil Ello, D'Layola itu.


Mendengar itu, Romano yang emosi menarik paksa dan menghancurkan intercom itu menjadi berkeping-keping.

__ADS_1


"Hahaha... betapa bodohnya..." Ucap Ello menertawai kebodohannya sendiri.


Untungnya dengan kemampuan para bawahan Ello, mereka mengatur siasat sehingga tak menjadi tersangka atas pembunuhan Prince Dimian.


...FLASHBACK OFF...


.......


.......


...🥀🥀🥀...


"Hah, tak ada gunanya mengingat-ingat itu." Ucap Ello sambil menyesap kopinya lagi.


Tiba-tiba, Romano datang menghampiri Ello dengan beberapa berkas yang dipegangnya.


"Tuan, Anda harus melakukan kunjungan bisnis ke Indonesia. Perusahaan Anda sedang membutuhkan Anda." Lapor Romano.


"Baik, kau aturlah segera." Ucap Ello tanpa pikir panjang.


'Secepat itu? Apa dia tidak ada pertanyaan apapun?' Tanya Romano dalam hatinya sambil menatap bingung pada pria di hadapannya itu.


" Aku pergi dulu." Pamit Ello meninggalkan Romano.


"Anda mau kemana?"


"Menemui para kekasihku." Jawab Ello dengan setengah berteriak pula sambil melambaikan tangannya.


"Dasar pria gila!" Gumam Romano menatap pungung Ello yang perlahan menjauh.


.......


.......


...🥀🥀🥀...


Di sinilah Ello berada sekarang, di tempat dimana orang-orang terkasihnya berkumpul.


"Aku datang." Ucapnya lirih sambil menyenderkan Hyacinth Putih pada kedua nisan di hadapannya.


"Maafkan aku, karena aku sudah gagal lagi membalaskan dendam untuk kalian. Ibu, Serena, kalian tenanglah di sana. Aku... Aku tidak akan mati sebelum membunuh kedua orang itu!!" Pungkasnya.


Ia menggeram menahan emosi yang membara di hatinya.


Ingatan akan hari itu tidak pernah bisa dilupakan olehnya. Hari dimana Ia menemukan Ibu dan adik tersayangnya mati dalam kondisi yang mengenaskan.


.


.

__ADS_1



__ADS_2