Nona Milik Tuan Mafia!

Nona Milik Tuan Mafia!
Club Milik Mafia!


__ADS_3


...Asal kau tahu,...


...Tuhan itu tidak pernah salah. Buktinya, Ia mempertemukanmu denganku saat sedang patah....


...-Ayudisha...


.......


.......


...🥀🥀🥀...


(Dialog dan monolog bercetak miring menggunakan bahasa inggris)


Setelah sampai di tempat yang tenang, Disha mulai bercerita mengenai masalah ahli waris perusahaan Mataya. Ia menuangkan segala keluh kesahnya pada Belvina. Dan Belvina mendengarkannya dengan baik. Ia juga memberikan support dan semangat pada sahabatnya itu.


"Oh ya Belvy, kenapa kau bisa punya akses ke tempat seperti ini? Apa ini salah satu bisnis Paman Marco?" Tanya Disha pada Belvina.


"Yang benar saja, Daddyku itu mana mungkin punya club. Kurasa dia lebih baik membuka tempat pelatihan bela diri daripada membuka club atau bar."


"Lalu?" Tanya Disha lagi.


"Club ini di-handle pacarku. Tentu saja aku punya akses bebas." Jawab Belvina bangga.


Mendengar itu, Disha terkejut dan sedikit bertingkah waspada, "Pacar? Kau punya pacar? Kenapa aku baru tahu? Dan apa Paman Marco tahu?"


"Hehehe, ya ampun Disha, pertanyaanmu banyak sekali. Sebenarnya aku baru pacaran 2 bulan ini. Aku baru memberitahumu karena kau kan baru pulang, mana mungkin aku langsung memamerkan pacarku padamu? Dan mengenai Daddy, tentu saja Daddy belum tau. Kalau dia tau, pacarku dan aku bisa-bisa dicincang olehnya."


"Ah ya ampun Belvy, kau ini... Jadi, siapa dia? Dia dari keluarga konglomerat ya makanya bisa punya club elit ini?"


"Bukan, pacarku bukan pemilik club ini. Bisa dibilang dia orang kepercayaan dari pemilik club ini. Dan apa kau tahu-"


"Apa, tahu apa?" Tanya Disha menuntut jawaban dari Belvina.


"Kudengar darinya bahwa pemilik club ini adalah orangnya Lama Nera." Bisik Belvina pada Disha.


"Lama Nera? Apa itu? Kenapa namanya aneh?"


"Shhhhtt... pelankan suaramu Disha!"


"Kenapa? Memangnya ada apa dengan Lama Nera?"

__ADS_1


Belvina menghela napasnya sebelum menjawab pertanyaan sepupunya itu.


"Lama Nera itu adalah kelompok mafia paling berbahaya di dunia. Lama Nera diambil dari bahasa Italia, yang artinya pedang hitam. Apa kau tahu kenapa dinamakan pedang hitam?" Tanya Belvina berbisik.


Disha menggeleng menanggapi pertanyaan sepupunya itu.


Lalu, Belvina menjawab pertanyaannya sendiri, "Itu karena mereka selalu membunuh musuh mereka menggunakan pedang pendek yang berwarna hitam."


"Jadi, itu artinya pemilik club ini adalah orang berbahaya? Pfftt... astaga Belvy, berapa lama kau mengarang cerita seperti ini? Jangan menipuku dengan cerita seperti ini." Ucap Disha tak percaya.


"Ya ampun Disha, aku tak sedang bercanda! Pemilik club ini memang anggota mafia yang bernama Lama Nera. Itu bukan karanganku. Kalau kau tak percaya, searching aja sana!"


"Iya-iya deh, percaya. Aku ke toilet sebentar ya Belvy. Tunggu di sini." Ucap Disha meninggalkan Belvina yang sedang menatapnya kesal.


'Lama Nera, kelompok mafia berbahaya, pemilik club anonymus. Ck, konyol.' Ucap Disha dalam hati.


Setelah menyelesaikan urusannya di toilet, karena penasaran Disha mencoba mencari tahu tentang kelompok mafia yang bernama Lama Nera yang dibicarakannya tadi dengan sepupunya.


"Hmm... memang ada beberapa berita mengenai kelompok mereka. Tapi sepertinya ini hanya berita simpang siur, tak ada kejelasan sama sekali. Bahkan tak ada potret wajah anggotanya sama sekali. Kalau begitu, berita-berita tentang mereka jelas hanya berita yang dilebih-lebihkan kan? Ah sudahlah, lagian apa peduliku pada kelompok mafia seperti mereka? Mana mungkin pula seorang mafia Italia seperti mereka membuka club di Indonesia? Dasar Belvy." Ucap Disha setelah membaca beberapa artikel yang di searchingnya di situs lepas.


Selesai dengan urusannya, Disha memakai kembali wignya, lalu merapihkan pakaiannya untuk kembali melanjutkan penyamarannya sebagai remaja laki-laki.


Saat melangkah keluar dari toilet dan hendak kembali, tanpa sengaja Disha menabrak tubuh seorang pria tegap.


Tingginya kira-kira 190 cm. Dari tinggi badannya, mungkin pria itu adalah orang asing. Maksudnya, sangat jarang ditemukan orang Indonesia yang memiliki tinggi seperti itu.


Pria itu hanya mengangguk, menerima permintaan maaf Disha.


'Topeng? Untuk apa dia pakai topeng di tempat ini?' Batin Disha merasa bingung melihat pria yang ditabraknya tampak begitu misterius.


'ah, bukan urusanku.' Batinnya lagi.


"Kalau begitu saya permisi dulu." Ucap Disha pamit. Pria itu lagi-lagi hanya mengangguk, lalu ia juga pergi berlawanan arah dengan Disha.


.......


.......


...🥀🥀🥀...


Dari kejauhan, terdengar kericuhan dari tempat dimana ia meninggalkan Belvy tadi. Cepat-cepat Disha melangkah kesana, lalu betapa terkejutnya dia saat melihat Belvina berontak karena tangannya ditarik oleh dua orang pria tak dikenal.


Dari tampangnya, sepertinya pria itu adalah seorang gangster.

__ADS_1


"Hei, apa-apaan kalian?!" Pekik Disha.


Disha berlari ke arah Belvina, lalu berusaha melepaskan tangannya dari genggaman pria itu. Setelah tangan sepupunya itu berhasil terlepas, Disha mundur beberapa langkah, berdiri di depan Belvina untuk melindungi sepupunya itu.


"Siapa kalian?!"


"Ayudisha, mereka mencoba menyentuhkuu, pukul merwekaa~~" Racau Belvina yang ternyata sudah dalam keadaan mabuk.


"Ayudisha? Pfftt... namamu cantik sekali, bocahh." Ejek pria gangster itu, tetapi tak digubris oleh Disha.


"Belvina, aku baru meninggalkanmu sebentar dan kau sudah jadi seperti ini?" Tanya Disha sambil mengguncang-guncang tubuh Belvina yang sudah lunglai itu.


"Hehehe..." Tawa Belvina tak merasa bersalah sambil menunjukkan gigi putihnya itu.


"Heh, kupikir kita sudah menemukan mangsa yang lezat, tak kusangka yang lebih lezat akan muncul di hadapan kita." Ucap salah seorang pria itu sambil tersenyum penuh nafsu.


"Bukankah dia termasuk cantik untuk ukuran seorang pria? Aku jadi bernafsu melihat wajahnya itu." Sahut pria yang satunya sambil menyeringai.


'Cih, aku bertanya-tanya kenapa orang-orang tak bermoral seperti ini bisa masuk ke club VVIP. Apa mereka dari keluarga ternama juga?... Dari pakaian yang mereka pakai, sepertinya begitu.' Pikir Disha.


"Sebaiknya kalian pergi jika tidak ingin terluka." Ancam Disha dengan wajah seriusnya.


"Pfftt... hahaha, pria cantik dan kecil sepertimu, apa bisa melukai kami?" Ledek pria hidung belang itu.


"Kita lihat saja." Jawab Disha sambil tersenyum menyeringai.


"Belvy, pergilah menjauh, kau jangan mendekat dulu. Apa kau mengerti?" Tanya Disha setengah berbisik pada Belvina yang tengah berdiri di belakangnya. Belvina mengangguk sambil tersenyum, lalu berdiri menjauhi Disha dan kedua pria itu.


Setelah itu Disha menggulung lengan bajunya, bersiap untuk menyerang kedua pria di hadapannya yang sudah melepas jas mereka.


Kedua pria itu tanpa aba-aba menyerang Disha bersamaan. Mereka menyerang sambil memegang botol wine, dan mengayunkannya dengan kecepatan tinggi ke arah Disha. Untunglah dengan kemampuannya, Disha berasil mengelak dengan mudah.


'Ck, melawan pria yang sedang mabuk memang keputusan yang buruk.' Ucap Disha dalam hati.


Serangan demi serangan diarahkan pada Disha, dan Disha lagi-lagi berhasil menghindar. Saat dilihatnya celah, dengan sigap Disha membenturkan kepala salah seorang pria itu ke meja kaca hingga meja itu retak, dan pria itu pingsan.


Dan pria yang satunya lagi, Disha berhasil membuat pria itu memukul wajahnya sendiri dengan botol wine yang dipegangnya, hingga membuat wajahnya berdarah dan dia kesulitan untuk melihat.


"Argh! Bocah sialan!!" Teriaknya. Saat pria itu hendak meraih Disha untuk membalasnya, ia tiba-tiba tumbang dan pingsan.


Dalam sekejap kedua pria tegap itu tumbang dalam keadaan yang berantakan. Sementara dari kejauhan, Belvina loncat kegirangan saat melihat sepupunya berhasil menghajar kedua pria itu.


.

__ADS_1


.



__ADS_2