
Di perjalanan menuju mansion Gerald, Disha masih terus memikirkan tentang ruangan kerja yang pasti menyimpan banyak rahasia itu. Habisnya siapapun dilarang menginjakkan kakinya di tempat itu, bahkan keluarga Marco sendiri yang tak lain adalah istri dan anak sematawayangnya.
'Rahasia besar apa yang sedang Paman sembunyikan? Kenapa istri dan putrinya bahkan tak boleh masuk? Dan kenapa pula aku baru tahu sekarang?' Benaknya sambil menatap ramainya lalu lintas di kota itu dari jendela mobil.
Melihat Nona mudanya melamun tengah memikirkan sesuatu, Pak Jay inisiatif untuk sedikit menenangkan perasaan gadis itu. Katanya, "Nona, tak usah terlalu dipikirkan. Bapak yakin Tuan besar memanggil Nona karena ingin membahas mengenai Nona yang akan menjadi pewaris utama."
Meski bukan itu yang sebenarnya dipikirkan oleh Disha, ia tetap tersenyum lalu mengangguk pelan. Disha tetap senang dan menghargai pak Jay yang begitu mengkhawatirkannya.
Setelah cukup lama berkendara karena macetnya jalanan kota itu di malam hari, akhirnya Disha sampai di mansion sang kakek—Gerald Vin Mataya.
Siapa yang tidak mengenal pria tua itu? Ia adalah salah satu konglomerat yang namanya terpampang di majalah-majalah bisnis ternama di dunia.
Kekayaan dan reputasinya sangat dikagumi oleh banyak kalangan pebisnis. Bahkan namanya sudah melambung ke kancah Internasional. Maka dari itu, beberapa pihak yang mengetahui bahwa salah satu perusahaan milik Gerald akan diambil alih oleh Ayudisha Findy Mataya, tidak terima.
Itu karena cucu perempuan Gerald yang masih berumur kepala dua itu belum cukup pengalaman untuk bertempur di dunia bisnis, apalagi dengan latar pendidikan yang tidak lebih baik dibanding sepupunya yang lain, bukankah Disha akan semakin diremehkan oleh para bawahannya kelak? Dan jangan lupa, ada begitu banyak musuh dari bisnis mereka. Disha pasti akan ditertawakan oleh musuh dan membuat malu keluarga Mataya. Begitulah pikir para Paman dan Bibinya.
'Entah apa yang dipikirkan Ayah sampai menunjuk Disha.' Batin Brian, putra tertua Jenifer yang sedang duduk bersama Gerald di ruang keluarga.
'Usahaku sia-sia dengan sungguh-sungguh meningkatkan nama baik perusahaan!' Sesal Brian dalam hati.
"Tuan, ini sudah hampir 2 jam, Nona Disha belum juga datang. Bukankah lebih baik kita lanjut besok saja pembicaraannya?" Ucap Leon memberi saran.
"Tidak, lebih cepat lebih baik. Aku sudah merancang semua tanggalnya. Aku tidak ingin menundanya lebih lama." Jawab Gerald menatap tajam pada pintu masuk ruang keluarga itu. Ia terus menunggu dan berharap Disha akan segera datang.
"Hah, anak itu memang tidak beres!" Kesal Jenifer yang mulai kehilangan kesabaran.
"Ayah, pikirkanlah lagi soal pewaris. Lihatlah, bahkan Disha sudah membuat kita menunggunya terlalu lama, dia tidak sopan! Putraku dan Ken yaitu Andre, lebih bertanggung jawab darinya, Ayah sendiri tahu bagaimana dedikasinya selama ini untuk perusahaan kan?" Ucap Ariana, istri Ken Mataya.
Jenifer menaikkan sebelah alisnya, menatap tidak suka pada kakak iparnya itu. Ia ingin protes karena wanita itu malah memuji-muji putranya sendiri yang nyatanya jauh lebih buruk dari putranya, Brian.
"Apa maksudmu sering bermain-main di club dan sering bergonta-ganti wanita adalah sikap terpuji dan bertanggung jawab, Kakak ipar?" Ucap Jenifer sambil menyeringai penuh kemenangan.
Ariana yang mendengar itu pun terkejut sehingga ia jadi gelagapan. Sungguh serangan yang tak terduga. Ariana tidak tahu harus membantah ucapan itu dengan apa. Bagaimana Jenifer tahu tentang skandal putranya? Padahal ia dan Ken sudah berusaha menutupi tentang skandal putera mereka.
__ADS_1
"Yang jelas Brian jauh lebih baik dibandingkan putramu Kakak ipar." Sambung Jenifer lagi dengan senyuman puas setelah melihat Ariana kehilangan kata-kata.
"Kau—" Ucapan Ariana tertahan karena dihentikan oleh suaminya—Ken.
Ken mengangkat tangannya, menyuruh istrinya itu untuk diam. Itu adalah isyarat yang menyuruh istrinya untuk tidak tersulut emosi. Ariana mengerti, jadi ia berusaha menenangkan dirinya.
"Hah ya ampun, berhentilah memamerkan anak kalian. Telingaku sakit mendengarnya—Ayah, dimana Marco. Kenapa dia juga tidak datang?" Tanya Megan Mataya.
"Dia sedang ada urusan mendesak, jadi apapun keputusan hari ini ia akan terima asal demi kebaikan Disha." Jawab Gerald yang sedang memijit pangkal hidungnya. Tampaknya ia mulai mengantuk.
"Meski begitu, setidaknya Anastasya bisa mewakilinya kan?" Ucap Megan protes.
Jenifer terkekeh pelan, lalu menjawab ucapan kakaknya, "Dia mana mengerti urusan perusahaan begini, ada tidak adanya dia, takkan berpengaruh apapun. Sama seperti... istri Kak Xander." Singgung Jenifer dengan senyuman tak berdosa.
Seperti biasa, Xander yang mendengar itu tidak berbuat apapun. Ia hanya bisa mengepalkan tinjunya kuat untuk menyalurkan amarahnya karena merasa sudah dipermalukan.
"Sepertinya Bibi tidak bisa hidup jika tidak menyinggung Ibuku sekali saja, ya?"
Itu adalah suara Disha yang terdengar dari arah pintu masuk ruang keluarga. Semua yang mendengar suara Disha mengarahkan pandangan mereka ke sumber suara. Raut wajah Disha berubah dingin, lagi-lagi menyimpan rasa kecewa terhadap Xander, yang hanya bisa diam ketika keluarganya dihina.
"Kakek duduk saja, biar Disha yang kesana." Ucap Disha menghentikan Gerald mendekatinya. Lalu ia berjalan ke arah sofa tempat para paman dan bibinya duduk.
Karena perkataan cucunya itu, Gerald pun kemudian menghentikan langkahnya dan kembali duduk.
"Darimana saja kau? Kenapa kau tidak mengangkat panggilan dari Ayahmu?" Tanya Megan dengan sikap menginterogasi.
"Aku habis dari mansion Paman Marco. Aku tidak melihat panggilan dari Ayah karena—"
"Karena kau berlatih bela diri lagi?! Sudah berapa kali dikatakan kalau itu hanya untuk anak laki-laki! Kau punya banyak pengawal handal, apa yang kau takutkan? Harusnya kau fokus mempersiapkan dirimu sebagai pewaris, bukan malah sibuk bermain-main!" Bentak Megan memarahi Disha.
Disha mengeratkan rahangnya. Ia ingin ikut marah dan mengamuk membalas omong kosong bibinya itu. Apa dia punya hak membentak Disha di depan semua orang seperti ini? Tetapi diurungkan Disha niatnya itu karena ia teringat akan janjinya pada Elea, jadi ia berusaha berlapang dada.
"Bibi aku tidak bermain-main." Bela Disha. Hanya itu yang sanggup diucapkannya dengan emosi yang ditahannya saat ini.
__ADS_1
Megan membuang napasnya kasar, ia memijit pelipisnya, lalu kembali membentak Disha, katanya, "Marco itu terlalu lembek padamu! Dia sudah mengajarkan orang untuk membangkang, padahal dia hanya—"
"Sudahlah Megan!! Jangan lewati batasmu!" Bentak Gerald sambil mengacungkan jari telunjuknya memperingati Megan. Ia tampaknya mulai habis kesabaran mendengarkan ocehan anak-anaknya.
"Bukan kau yang berhak menegurnya, tapi Xander." Lanjut Gerald menambahkan.
Semua mata, termasuk Disha, melihat ke arah Xander. Mereka menunggu ucapan yang keluar dari mulut pria itu.
"... Bibimu memang benar Disha. Ayah sudah berapa kali bilang kau tak boleh bertingkah seperti laki-laki. Kita punya aturan untuk dipatuhi di rumah kita, kau harusnya menuruti itu." Ucap Xander menatap ke arah Disha.
Xander tidak melihat wajah putrinya yang matanya sudah muli berkaca-kaca itu, ia sengaja tak melihatnya.
'Tsk, aku membencimu!' Pekik Disha dalam hatinya menahan amarah dan kesedihannya.
"Sudah, sudah, kita hentikan perdebatan tentang itu. Disha tak akan mengulangi kesalahan yang sama, benar kan?" Tanya Gerald lembut, namun tersirat maksud yang memberi peringatan di wajahnya.
Disha menyadari itu, dia tidak terlalu marah. Dia justru merasa lega karena tidak harus membuatnya lelah berpikir atas perubahan sikap kakeknya yang tiba-tiba peduli dan baik padanya. Semua perbuatan Gerald saat ini pasti punya maksud tersembunyi, begitulah pikir Disha.
Disha kemudian diajak untuk duduk ikut bersama dengan mereka di ruangan yang sesak itu. Sesak, meskipun ruangan itu begitu luas.
"Ada apa Kakek memanggilku?" Tanya Disha dengan sopan.
"Kakek memanggilmu serta para paman, bibi, dan sepupumu untuk membicarakan tentang pengumuman pewaris utama Mataya Corporation yang akan dilakukan besok. Kakek akan mengadakan konferensi pers besok, jadi kau harus bersiap-siap. Hanya itu yang ingin kakek beritahu. Sebenarnya kami sudah berdiskusi lebih dulu sebelum kau datang. Jadi ini keputusan akhir dariku." Jelas Gerald.
"Ah, aku mengerti." Jawab Disha singkat sambil tersenyum kecut.
'Mereka bahkan tidak peduli dengan pendapatku.' Ucapnya dalam hati.
Malam itu pun berakhir dengan perasaan sesak yang dirasakan Disha. Ia pulang membawa beban dan sakit hati. Malam itu terasa panjang karena tekanan yang dirasakan olehnya. Namun ia sadar bahwa ia tidak boleh menyerah sampai di sini.
.
.
__ADS_1