Nona Milik Tuan Mafia!

Nona Milik Tuan Mafia!
Misi Khusus


__ADS_3

Sylvia berdehem dan berbalik menatap jendela besar di belakangnya untuk menyembunyikan kegugupannya.


"Jangan bercanda Erwin! Pasti ada hal penting kenapa Tuan Cedric sampai berkunjung lagi kan?" Tanya wanita itu.


"Aduh Anda ini bagaimana sih Nona Sylvia? Tadi Anda sudah mendapat jawabannya di ruang rapat kan? Kenapa Anda tidak percaya? Memangnya jawaban apa yang Anda inginkan?" Ucap Erwin sambil melangkah menuju sofa yang ada di ruangan itu.


"Entahlah, hanya saja..." Gumam Sylvia pelan.


'Dari perkataannya waktu itu, bahkan dia tidak peduli jika perusahaan ini hancur. Lalu kenapa dia tiba-tiba Tuan Ello memutuskan untuk datang?' Ucap Sylvia dalam hati.


Drrrtt Drrrtt (Handphone Erwin bergetar)


Erwin mengambil handphonenya dari saku jasnya. Wajahnya berubah serius ketika melihat ke layar handphonenya itu.


"Nona Sylvia, sepertinya aku harus meninggalkanmu karena ada urusan mendesak." Ucap Erwin sambil mengangkat handphonenya, ingin menunjukkan pada Sylvia bahwa ia tidak sedang mencari-cari alasan untuk kabur.


Mendengar Erwin, Sylvia berbalik dan melihat ke arah Erwin, lalu berkata, "Baiklah."


'Maaf Sylvia, aku tidak mungkin memberitahumu tentang "misi" kami. Lebih baik kau buang jauh perasaan itu. Karena sebenarnya dunia kita itu sangat berbeda. Kau menyukai orang yang salah.' Batin Erwin menatap wanita yang tengah membelakanginya itu.


Setelah itu, Erwin keluar dari ruangan Sylvia dengan langkah terburu-buru. Meski ada urusan mendesak, Erwin tetap tersenyum membalas sapaan para pegawai yang ia lewati. Itulah yang membuat Erwin tak kalah populer dari Cedric.


Sementara itu, di pantry kantor lantai 3 Voltage Corp, seorang office girl tampak tengah menikmati kopinya sambil menatap bahagia pada layar handphone miliknya.


"Sedang bersantai-santai ya Nona?" Ucap seorang pria yang tak lain adalah Erwin.


Mendengar suara orang lain, sontak wanita itu terkejut dan spontan berdiri dari kursinya. Ia terkejut bukan main karena seharusnya tidak ada siapa pun di jam ini yang ada di pantry selain dirinya. Kalau begini kan dia jadi ketahuan sedang santai-santai.


"Tu-tuan?" Ucapnya gugup sambil menunduk. Ia juga tampak buru-buru menyembunyikan handphone miliknya ke balik badannya.


"Santai saja. Siapa nama Anda?" Tanya Erwin yang ikut duduk di depan wanita itu.


"Mi-mira Tuan."


"Oohh Mira. Kamu sedang melihat Potret Tuan Cedric yang baru kau ambil, ya kan?" Ucap Erwin tanpa basa-basi. Ya, dia adalah pria yang tidak suka berbasa-basi di saat seperti ini.


DEG...


Jantung Mira seakan dipukul keras karena tertangkap basah oleh pria di hadapannya itu. Untuk sepersekian detik ia menahan napasnya karna syok.


'Bagaimana bisa dia tau aku orangnya? Dan bagaimana bisa dia tau lokasiku?' Ucap Mira dalam hati. Ia sangat takut memikirkan hal-hal yang dirasanya sangat mustahil untuk ketahuan, malah bisa diketahui oleh Erwin.


"Ti-tidak... a-aku... anu..." Ucap Mira gelagapan sambil menunduk menyembunyikan rasa takutnya.

__ADS_1


"Sepertinya benar ya? Tidak apa, mungkin karena kau masih pegawai baru, jadi kau belum banyak pengalaman. Bukan begitu? Selain itu, 20 tahun adalah umur yang masih terbilang muda." Ucap Erwin menunjukkan senyuman manisnya.


Dia memang tersenyum, tetapi ekspresi itu tidak menunjukkan pertanda baik, melainkan pertanda buruk.


Sekali lagi, Mira terkejut karena Erwin, orang yang juga baru menginjakkan kakinya beberapa puluh menit yang lalu di perusahaan ini bahkan bisa tahu kalau dirinya adalah pegawai baru. Bagaimana bisa? Dia mendapat informasi secepat itu dari mana? Ada banyak pegawai baru dalam minggu ini yang dipekerjakan di perusanaan ini, bagaimana ia bisa tahu tentang dirinya secepat itu? Begitulah pikir Mira.


'Bagaimana mungkin... Apa ada sesuatu di kepalanya?' Batin Mira.


Kemudian Erwin berdiri dan berjalan mendekati Mira, Mira yang merasa terintimidasi perlahan mundur hingga punggungnya menyentuh dinding. Setelah terpojok, Erwin sedikit membungkuk, katanya, "Segera bereskan perlengkapanmu, dan tinggalkan tempat ini. Perusahaan ini tak membutuhkan orang sepertimu!" Ucapnya tegas penuh penekanan. Wajah Erwin berubah dingin dan sangat menakutkan.


Tanpa meminta maaf, Mira pergi begitu saja meninggalkan Erwin di ruang pantry itu.


"Hah, tak apa. Masih banyak tempat lain yang mau menerimaku. Setidaknya aku medapat foto Tuan Cedric di handphoneku." Ucap Mira yang masih bisa tersenyum menyemangati dirinya.


Saat di cek nya kembali galeri handphonenya, betapa terkejutnya ia karena tak melihat foto Cedric. Tiba-tiba foto Cedric menghilang dan tak bisa ditemukan .


"Apa yang terjadi?!" Ucapnya panik.


Ia sampai keringat dingin karena hal-hal aneh dalam sekejap terjadi padanya.


.......


.......


Di Perjalanan ke Mansion Cedric


(Dialog bercetak miring adalah percakapan dalam Bahasa Italia.)


"Bagaimana?" Tanya Cedric memulai pembicaraan.


"Beres. Wanita itu dan 50 pegawai lainnya sudah dipecat. Dapat dipastikan mereka takkan diterima bekerja dimanapun setelah ini." Jawab Erwin sambil tersenyum kecil.


Cedric membalasnya tersenyum sambil perlahan menutup matanya dan menyenderkan kepalanya pada sandaran jok mobil. Ia berkata, "Kerja bagus."


Begitulah, bagi Cedric tak ada ruginya memecat pegawai yang tidak patuh seperti mereka. Orang-orang yang tidak patuh adalah cikal bakal pengkhianat baru. Cedric sudah sering bertemu pengkhianat dalam hidupnya, jadi ia mengetahui sedikit banyaknya faktor mengapa seseorang bisa berkhianat.


Setelah sampai di mansion, Cedric segera membersihkan dirinya. Lalu dibantu beberapa pelayan, ia makan malam bersama Erwin. Setelah itu, mereka berdua berbincang-bincang sejenak di ruang kerja Cedric.


"Apa ada lagi yang Anda butuhkan, Tuan Cedric?" Tanya kepala pelayan paruh baya yang bernama Adam.


"Tidak, kau boleh pergi." Jawab Cedric.


Pak Adam kemudian membungkuk memberi hormat, lalu meninggalkan ruangan itu. Tidak lupa ia juga menutup rapat pintu ruang kerja Cedric.

__ADS_1


"Ello, sebenarnya tadi Sylvia bertanya kenapa kau tiba-tiba berkunjung ke Indonesia." Ucap Erwin, alias Romano. Ia mulai menggunakan bahasa Italia setelah pria bernama Adam itu pergi. Bukan apa, hanya saja lebih baik berjaga-jaga agar tidak ada yang tahu tentang pembicaraan mereka berdua.


"Lalu kau jawab apa?" Tanya Ello sambil membaca berkas di tangannya.


"Ya aku jawab saja karena kau merindukannya." Romano mengatakannya sambil tersenyum jahil.


Mendengar kalimat yang dirasa mengesalkan itu, spontan Ello menatap tajam pada Romano yang tengah terkekeh. Tatapan peringatan dari Ello seketika dapat menghentikan tawa Romano.


"Becanda~ Aku bilang murni hanya karena ada urusan perusahaan. Kau hanya ingin melihat perkembangan perusahaanmu." Jelas Romano tidak lupa dengan cengirannya.


Ello kemudian kembali menatap dan memeriksa berkas di tangannya, lalu berkata, "Dia tidak akan percaya semudah itu. Dia pasti akan mencari tahunya sendiri."


"Hah? Kau serius? Kan tidak mungkin aku memberitahu alasan kita yang sesungguhnya datang ke negara ini kan? Hah, kepribadian wanita itu benar-benar..." Ucap Romano tak habis pikir. Ia mengusap kepalanya karena sedikit frustasi memikirkan Sylvia.


"Coba saja kau beritahu, akan kubunuh kau saat itu juga." Ancam Ello dengan wajah dinginnya.


'Ya itu sebabnya kubilang tidak mungkin kann??' Batin Romano sambil mengepalkan tangannya menahan emosi.


Romano kembali menatap Ello, lalu berkata, "Ello, memangnya apa yang pernah kau katakan padanya? Kenapa dia sampai tidak percaya kalau kau datang ke negara ini untuk urusan perusahaan?" Tanya Romano penasaran.


"Bukan urusanmu."


"Astaga, lihatlah pria ini." Gumam Romano pelan sambil geleng-geleng menatap pria dingin di hadapannya.


"Mengenai misi itu, kita harus menyelesaikannya dengan cepat." Celetuk Ello.


Romano menghela napasnya, kemudian berkata, "Ya, kau benar El."


"Apa kau sudah mendapatkan lokasinya?" Tanya Ello pada Romano.


"Tidak, belum. Belum ada informasi apa pun dari ONE" Jawab Romano.


Mendengar itu, Ello menghela panjang napasnya, lalu mengusap kasar wajahnya.


"Seharusnya ini bukan hal yang sulit. Dia bahkan bukan anggota inti!" Ucapnya dengan suara yang tertahan.


Misi yang mereka bicarakan adalah misi menangkap seorang wanita mantan anggota Lama Nera yang bernama Mikasa. Ya, Mikasa bukanlah anggota inti (bukan anggota ONE), jadi seharusnya akan lebih mudah menangkap wanita itu.


Mikasa adalah salah satu kunci Ello untuk mendapatkan kebenaran mengenai keberadaan orang yang telah membunuh Ibu dan adiknya. Jadi mereka harus menangkapnya!


.


.

__ADS_1



__ADS_2