Nona Milik Tuan Mafia!

Nona Milik Tuan Mafia!
Menerima Kenyataan


__ADS_3

(Dialog dan monolog bercetak miring menggunakan Bahasa Italia)


.......


.......


...🥀🥀🥀...


"Oh ya Ello, bagaimana dengan jasadnya Mikasa?" Tanya Romano sambil mengendarai mobil.


"Kita akan menguburkannya di tempat pemakaman khusus. Semua anggota inti dan beberapa anggota biasa harus ikut menguburkannya. Bagaimanapun aku menghargai kejujuran wanita itu."


"Itu berarti jasadnya akan dibawa ke Italia?" Romano memastikan.


"Ya."


"Bagaimana dengan keluarganya?"


"Keluarganya sudah tidak ada lagi."


"Ah, Baiklah."


"Oh ya, mengenai wanita yang bernama Belvina itu, panggil dia untuk datang juga. Kita akan sekalian menyelidiki alasan kenapa dia ketakutan saat di acara tadi."


"Baik."


'Sekarang hanya tinggal D'Layola sialan itu!! Bagaimana pun, aku takkan melepaskannya! Bila perlu, mayat wanita itu juga harus kucari dan kupotong-potong!' Tekad Ello dalam hatinya.


Genggamannya mengerat, dan rahangnya mengeras ketika memikirkan semua itu. Padahal sedikit lagi ia dapat membalaskan dendamnya, hanya sedikit lagi. Tetapi entah kenapa selalu saja berakhir dengan kesialan seperti ini.


.


.


.


Lima Hari Kemudian...


"Ibu!!"


Itu adalah suara teriakan Disha. Dengan berurai air mata dan isakan tangis ia tersadar dari tidur panjangnya. Lima hari adalah waktu yang panjang untuk memulihkan diri. Selama hari-hari itu, dia selalu mengalami mimpi buruk yang tiada akhirnya. Tentu saja itu adalah mimpi tentang kematian Elea—Ibunya tercinta.


Dalam mimpi Disha, Elea tak hentinya menjerit meminta pertolongan padanya. Namun dalam mimpi itu, sekeras apapun Disha berlari ke arah Elea untuk menyelamatkannya, ada Marco yang bagai menarik Elea menjauh darinya. Sehingga Disha tak pernah bisa menggapai tangan Elea yang meminta pertolongan.


Mimpinya itu seolah mengisyaratkan bahwa Elea memang ditakdirkan untuk mati.


Kenangan buruk hari itu terus terbayang di kepala Disha. Bahkan hatinya kini terasa sangat sakit. Air matanya mengalir dengan derasnya tanpa diminta. Tetapi air mata itu tak sepenuhnya mengisyaratkan kesedihan yang dirasakannya, tetapi juga rasa amarah, dendam, dan kekecewaan.


Disha sudah kehilangan kepercayaan. Ia tidak percaya pada siapapun lagi, bahkan pada dirinya sendiri.


"Disha, kau sudah sadarkan diri?!"


Dokter Kusuma—Dokter keluarga Xander Mataya, buru-buru meletakkan kopi yang dipegangnya ke atas nakas di ruangan itu. Tampaknya ia terkejut saat melihat Disha yang sudah terduduk di hospital bed sambil menangis menyentuh dadanya.


"Hei Disha, ada apa?" Tanya Dokter Kusuma dengan lembut.


"Ti, tidak... aku hanya merasa sedih." Jawab Disha dengan tangan yang terus menyeka air matanya yang mengalir.

__ADS_1


"Aku turut bersedih atas apa yang terjadi pada Nyonya Elea."


"Terimakasih Dokter..." Ucap Disha sambil menatap dengan benar sekeliling ruangan itu.


'Seperti yang kuduga, tidak ada siapapun di sini. Bahkan Ayah pun tidak ada.' Ucap Disha lirih dalam hatinya.


Pemikiran itu tanpa sadar membuat hatinya merasa sakit dan air matanya mengalir lagi.


'Jika itu dulu, pasti Ibu, Paman Marco, dan Belvina ada di sini menjagaku. Tapi... Tapi mereka semua sudah pergi meninggalkanku. Paman yang kusayangi justru adalah orang yang mengkhianatiku.' Di tengah tangisannya, Disha tersenyum kecut.


"Tenanglah Disha—Aku juga ingin minta maaf padamu. Karena aku sibuk hari itu, seorang pencuri jadi berkesempatan masuk ke kamar Nyonya Elea, lalu membunuhnya dengan pisau. Aku tidak mengerti bagaimana cara pencuri itu melewati para pengawal yang menjaga pintu ruangan itu... Lalu sekitar tiga hari yang lalu, pencurinya sudah ditangkap. Tetapi kemudian dia meninggal dunia sebelum diperiksa polisi. Setelah mayatnya diperiksa, ternyata dia meninggal karena meminum racun."


Mendengar penjelasan sang dokter, spontan mata Disha terbelalak, menatap sang dokter dengan tatapan tak percaya.


"Tunggu, apa maksud Dokter? Pen... pencuri?? Dokter bilang yang membunuh Ibuku adalah seorang pencuri?!"


"Ya, tentu saja Nona Disha. Anda juga terluka karena tembakan dari pencuri itu, apa Anda lupa? Mungkin penyebab lupanya Anda adalah karena benturan keras waktu itu, jadi wajar saja bila Anda lupa."


Mendengar itu, Disha semakin menunjukkan ekspresi tak percayanya. Tanpa sadar ia sedang menatap Dokter Kusuma dengan tatapan tajamnya.


"Apa?! Tidak, itu tidak benar! Apa Anda sudah periksa CCTV?" Ucap Disha sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.


"Itu dia masalahnya Nona, CCTV juga hilang dari ruangan itu."


"Ini konyol." Disha membuang muka.


"Jika Anda tidak percaya, cobalah lihat surat kabar, media sosial, dan Tv. Berita itu pasti masih ada di sana. Saya tidak mungkin membodohi Anda." Ucap Dokter Kusuma dengan ekspresi serius.


Tapi Disha hanya menanggapinya dengan menghela napasnya panjang. Sungguh, ia lelah dengan semua ini. Keluarga yang tidak mempedulikannya sama sekali, Ibunya yang meninggal dunia, Marco yang berkhianat, dan sekarang adalah manipulasi terhadap kejadian pembunuhan Elea.


Semua rekayasa ini hanya membuat perasaan benci Disha pada Marco tumbuh kian subur.


"Lalu sekarang, dimana jasad Ibuku? Apa sudah dimakamkan?" Tanya Disha dengan raut wajah dingin.


"Jasad Nyonya Elea sudah diserahkan pada keluarga Anda kemarin, dan dari apa yang saya dengar, seharusnya beliau sudah dimakankan. Tetapi saya tidak tahu beliau dimakamkan dimana."


'Benar-benar keluarga sampahh!!' Cerca Disha dalam hatinya. Tentu saja itu adalah cercaan untuk keluarganya sendiri.


...


"Lalu bagaimana dengan Paman Marco? Dimana dia sekarang?" Tanya Disha dengan tatapan mata dingin dan tajam.


"Tuan Marco katanya sedang ada dalam perjalanan bisnis, Nona. Hanya itu yang saya tahu."


'Aku tidak percaya dia masih bisa melakukan dedikasi untuk perusahaan. Jika itu memang benar, pria itu sungguh menjijikkan!!' Geram Disha dalam hati.


Selama dua minggu Disha dirawat di rumah sakit itu, benar-benar tidak ada satupun keluarganya yang berkunjung. Hanya ada Dokter Kusuma dan beberapa perawat saja yang datang bergantian menjaganya.


Sebenarnya sesekali Gerald dan Xander mengirimkan pesan dari handphone. Seminggu yang lalu juga Gerald melakukan video call dengan cucunya itu. Alasan mereka tak bisa datang untuk menjenguk sudah jelas karena mereka sangat sibuk dengan urusan perusahaan.


Mereka minta maaf untuk itu, namun permintaan maaf itu entah kenapa tidak terasa berarti bagi Disha.


.......


.......


...🥀🥀🥀...

__ADS_1


Setelah berhari-hari menjalani perawatan, hari ini adalah hari dimana Disha sudah diizinkan untuk kembali ke rumah. Ia sudah boleh kembali beraktivitas seperti biasanya.


Sesampainya di mansion, seperti biasa Disha hanya disambut oleh kepala pelayan beserta pelayan lainnya.


Ara membantu Disha kembali ke kamarnya, lalu membantu Disha juga untuk merapikan seluruh barang-barangnya.


"Nona, apa Anda sudah merasa lebih baik?" Tanya Ara sambil membawakan beberapa obat Disha.


Disha tersenyum, lalu menjawabnya, "Sudah. Terimakasih."


"Ara, apa kau tahu kemana Paman Marco pergi?"


"Beliau..." Ara terlihat menunduk, sepertinya ia ragu menjawab pertanyaan Disha barusan.


"Tidak apa, katakan saja."


"Dari apa yang saya dengar, beliau menghilang tanpa kabar, Nona. Tidak ada yang tahu kemana Tuan Marco pergi. Istrinya—Nyonya Aastasya juga menghilang, begitu pula dengan Belvina, sepupu Anda."


Mendengar itu Disha tersenyum kecut, 'Apa Belvina juga terlibat? Mereka sekeluarga sangat menjijikkan!' Hinanya dalam hati.


"Apa acara pemakaman Ibu sudah dilaksanakan? Dimana Ibu dimakamkan? Aku ingin mengunjunginya." Disha berucap dengan suara yang terdengar lirih.


"Maaf, maafkan saya Nona. Saya juga tidak tahu soal itu. Di hari Nyonya Elea akan dimakamkan, para pelayan rendahan seperti kami tidak boleh ikut. Bahkan kepala pelayan pun tidak diizinkan untuk ikut. Cobalah Anda bertanya pada Tuan Xander atau Tuan Gerald. Mereka pasti akan memberitahu Nona."


"Baiklah. Terimakasih..."


Setelah itu, Ara keluar dari kamar Disha untuk membiarkannya beristirahat.


Malam harinya, Disha sengaja tidur lebih lama untuk menunggu Xander pulang kerja. Ia bermaksud ingin menanyakan perihal Ibunya. Ia harus menanyakannya malam ini, karena Disha yakin, akan sangat sulit untuk menemui pria itu esok hari.


Tak lama setelah Xander Mataya pulang dari kantor...


Tok Tok Tok


"Masuklah."


Terdengar samar suara Xander yang menyuruh si pengetuk pintu untuk masuk ke ruang kerjanya.


Xander menatap datar putrinya, lalu setelah itu beralih menatap komputernya lagi.


"Ada apa menemuiku jam segini?"


"Yah, aku mau bertanya sesuatu." Ucap Disha dengan ekspresi dinginnya.


"Apa itu?"


"Dimana Ibu dimakamkan?"


Mendngar pertanyaan itu, Xander mengernyit. Ia tampak tidak suka dengan pertanyaan itu.


"Apa yang kau pikirkan? Aku baru pulang kerja, dan kau malah menyuguhkan pertanyaan itu padaku?"


"Apa aku salah jika bertanya dimana tempat peristirahatan terakhir Ibuku sendiri? Apa aku salah jika ingin menemuinya?!" Tanya Disha dengan penuh penekanan.


Disha mengepalkan tinjunya, meremasnya kuat hingga tangannya tampak sedikit bergetar, menahan emosi.


__ADS_1


__ADS_2