
Pembicaraan antara Disha dan Belvina berakhir dalam kesunyian, mereka berdua sibuk dengan pikirannya masing-masing ; Disha yang semakin mencurigai Belvina, dan belvina yang hanya bisa bungkam, tidak bisa terbuka sepenuhnya kepada Disha.
Drrtt Drrrttt Drrrtt—
Yah, terimakasih pada handphone Disha yang berbunyi tepat pada waktunya. Bunyi getaran yang cukup keras itu memecah keheningan di antara dua nona muda itu.
"Ara?" Gumam Disha membaca nama si penelepon.
Sebelum mengangkat panggilan itu, Disha inisiatif menjauh dari Belvina karena ia berpikir mungkin pembicaraan mereka takkan jauh dari kabar mengenai Marco—Ayah Belvina. Disha cukup yakin, mengingat tempo hari ia dan Ara sedang membahas keanehan sikap pria itu.
"Halo, ada apa?"
"Nona, maaf mengganggu Anda. Saya tahu ini tidak sopan, tapi ada sesuatu yang harus Anda ketahui." Suara Ara terdengar bergetar seperti orang ketakutan.
"Kenapa suaramu bergetar begitu? Memangnya apa yang harus kuketahui?" Disha tak dapat menyembunyikan rasa cemasnya.
"Ini mengenai Nyonya Elea."
"Ya? Terus? Ayolah, jangan bertele-tele. Katakan padaku, ada apa dengan Ibu, jangan membuatku takut!"
"Keadaan Nyonya Elea kembali drop, beliau tidak sadarkan diri sekarang. Dan saya baru mendengar kabarnya dari Tuan Xander sendiri."
"APA?! Tidak, itu tidak mungkin! Ibu baik-baik saja kemarin!" Bentak Disha berusaha menyangkal apa yang didengarnya.
"Maaf Nona, saya juga tidak mengerti situasinya, tapi itulah yang saya ketahui. Saya yakin tidak ada yang akan memberitahukan ini pada Anda sampai Anda menyadarinya sendiri, makanya saya berinisiatif menelepon Anda."
Disha mengeleng berulang kali, ia berharap apa yang didengarnya ini hanyalah lelucon untuk mengerjainya. Tanpa sadar, perlahan air mata mulai menetes dari pelupuk matanya, ia berusaha menahan segala kesedihan dan kecemasan yang dirasakannya, namun percuma. Dia tidak bisa berpura-pura tenang sekarang.
"Apa Ayah yang memberitahumu?"
"Bukan Nona. Saya minta maaf, sebenarnya saya tidak sengaja mendengar percakapan Tuan dengan seseorang dari telepon waktu itu."
Disha menghela napasnya yang terasa memberat.
'Ya Tuhan, cobaan macam apa lagi ini? Kenapa Ibu yang sudah kembali sehat harus drop lagi?' Benaknya.
"Baiklah, terimakasih sudah mengabariku. Aku akan langsung ke rumah sakit." Ucap Disha yang suaranya sudah terdengar lemas.
__ADS_1
"Apa? Tidak Nona, jika Anda pergi sebelum acara Anda selesai, Tuan Gerald pasti akan marah besar."
"Apa maksudmu? Bagaimana bisa aku menikmati acara ini lagi setelah mendengar kabar buruk ini? Kau pikir aku robot yang tidak punya hati?!" Bentak Disha. Dia sedang sangat sensitif sekarang.
"Ma-maaf Nona, saya tidak bermaksud—"
"Ya, aku tahu. Aku akhiri panggilannya."
Tuutt—
Setelah panggilan itu berakhir, Disha buru-buru melangkah ke ruangan pribadinya untuk mengambil barang-barang penting yang dibawanya, setelah itu ia akan langsung pergi ke rumah sakit dimana Ibunya dirawat.
Belvina yang melihat sepupunya itu berjalan terburu-buru setelah mengangkat telepon, jadi ikut merasa cemas. Ia berlari kecil mengekori Disha. Niat Belvina hanya ingin menanyakan alasan Disha yang kelihatan grasak-grusuk itu.
"Disha, ada apa? Kenapa kau terburu-buru begitu?" Tanya Belvina.
"Aku akan pergi dari sini."
"Apa? Kenapa?"
"Aku harus ke rumah sakit, Bel."
Disha berbalik, lalu dengan tatapan nanar menatap ke arah Belvina. Saat itu, air matanya tumpah membanjiri topeng yang masih ia kenakan.
"Tiba-tiba Ibu drop, Bel. Dia tidak sadarkan diri, hiks... Padahal, hiks... padahal kemarin kami baru saja bertemu, dan Ibu masih sangat sehat! Hiks hiks..."
Hati Belvina terenyuh, ia berempati pada sepupunya itu lalu menariknya ke dalam pelukannya. Ia juga turut merasakan sedih sekaligus terkejut mendengar kabar itu. Ia ingin menanyakan detail mengenai kabar itu pada Disha, tetapi Belvina pikir lebih baik untuk menenangkan sepupunya itu terlebih dahulu.
"Tenang Disha, tenanglah... Bibi Elea pasti baik-baik saja. Dia akan sembuh, yakinlah. Mungkin ada alasan medis kenapa Ia begitu. Tenangkan dulu dirimu, jangan terlalu bersedih. Jika kau hanyut dalam perasaan sedihmu, kau takkan bisa berpikir jernih."
"Hiks... aku tau, tapi... Tapi aku tidak bisa menghentikan rasa takut ini Belvy. Hiks, aku... aku takut Ibu meninggal! Aku tidak punya siapa-siapa lagi jika Ibu sampai meninggal!"
"Kumohon tenanglah Disha. Aku tahu bagaimana perasaanmu, tapi kau harus berpikir positif dan berharap penuhlah pada Tuhan. Bibi Elea pasti akan selamat, percayalah. Okay? Tenangkan dirimu, hmm?"
Mendengar kalimat dari Belvina serta elusan lembut yang terasa hangat di punggungnya, perasaan Disha sedikit melega. Ia berpikir, memang tidak ada salahnya untuk terus berharap dan berpikir positif. Kata-kata Belvina memberinya secerca harapan dalam menghadapi kenyataan ini.
Setelah merasa lebih tenang, Disha kemudian mengganti pakaiannya, lalu segera pergi meninggalkan acaranya itu. Ia segera pergi ke rumah sakit tempat Elea dirawat dengan menaiki taksi. Sedangkan Belvina masih berada di acara itu untuk mengawasi situasi.
__ADS_1
Di perjalanan, setelah dipikir-pikir, Disha mendapati sebuah kejanggalan yang berkaitan dengan keadaan Elea yang tiba-tiba tidak sadarkan diri. Ada satu nama di kepalanya yang ia curigai menjadi salah satu penyebab keadaan Elea yang memburuk. Nama orang itu tak lain adalah Marco Mataya.
'Ya, ketidakhadiran Paman hari ini mungkin ada kaitannya dengan memburuknya keadaan Ibu. Aku tidak ingin menuduhnya, tapi, entah kenapa firasatku mengatakan bahwa Paman adalah penyebab Ibu kembali koma.' Ucap Disha dalam hati sambil menatap derasnya hujan dari kaca mobil.
Tangannya mengepal, tinjunya semakin keras karena menahan emosi dalam hatinya. Itu adalah emosi marah bercampur rasa kecewa yang besar. Memang belum ada yang membuktikan pemikiran Disha itu, tapi hanya dengan memikirkannya saja sudah membuat Disha semarah dan sekecewa ini, apalagi jika memang firasat Disha benar? Ia mungkin akan membunuh Marco saat itu juga.
Sesampainya Disha di rumah sakit tempat dimana Elea dirawat, ia bergegas masuk dan menemui resepsionis.
"Selamat malam, Nona Disha."
"Ah, selamat malam. Saya mau minta tolong."
"Ada apa Nona?"
"Bisakah aku melihat daftar kunjungan terakhir ke ruangan Elea Mataya?"
"Ah, maafkan saya Nona, saya tidak bisa—"
"Anda tahu kan siapa saya? Saya tidak punya waktu, tolong mengertilah."
"Saya tidak mungkin tidak tahu siapa Anda, Nona. Tapi—"
Perkataan resepsionis wanita itu terhenti ketika matanya menangkap ekspresi tak biasa dari Disha. Tatapan Disha sangat tajam dan mengerikan sehingga membuat ekspresi wajahnya terlihat dingin. Maka mau tidak mau resepsionis wanita itu jadi terdiam kaku dibuatnya.
"Ma, maaf... saya minta maaf. Ini daftar kunjungannya, Nona." Ucap resepsionis itu terbata sambil menunjukkan daftar itu pada Disha. Wanita itu mau tidak mau melakukannya karena ia tahu kalau Disha adalah orang yang sangat dipedulikan Marco— pemilik rumah sakit tempatnya bekerja.
Saat lembaran demi lembaran mulai dibuka, jantung Disha tak berhenti berdentum kencang. Jantungnya terus terpacu hingga lembaran itu berhenti ia balikkan. Resepsionis itu kemudian menunjukkan nama orang yang melakukan kunjungan terakhir ke kamar inap Elea, dan betapa terkejutnya Disha melihat nama yang tertera di sana.
Meski sudah menduganya, Disha tetap saja masih tidak menyangka jika Pamannya—Marco, adalah orang yang melakukan kunjungan terakhir. Apa yang membuat Marco lebih mementingkan kunjungannya menjenguk Elea daripada acara pengangkatan ahli waris perusahaan? Itu adalah pertanyaan terbesar Disha ketika melihat nama Marco bertengger di sana.
Diam,
Disha tidak mengatakan apapun. Lebih tepatnya, ia tak sanggup mengatakan apapun. Bibirnya terlalu kelu untuk berucap, bahkan hanya untuk berterimakasih kepada resepsionis yang sudah mau membantunya. Ia hanya berjalan meninggalkan meja resepsionis dengan sejuta tanda tanya di kepalanya.
'Tidak, tenanglah Disha, ingat apa yang dikatakan Belvina. Pikiran buruk hanya akan membuat pikiranku kacau. Ya, benar... bisa jadi Paman berkunjung karena benar-benar ingin melihat keadaan Ibu. Wajar jika dia lebih memilih melihat keadaan Ibu daripada mendatangi acara, karena selama ini hanya Paman Marco yang benar-benar peduli padaku dan juga Ibu. Bahkan dia lebih peduli daripada Ayah sendiri.' Benak Disha berusaha tetap berpikir positif sambil terus berjalan menuju ruangan Elea.
Sampai di ujung koridor, Disha bisa melihat beberapa penjaga yang sedang berjaga ketat di area sekitaran kamar Elea. Lalu ada 2 orang yang berjaga tepat di depan pintunya. Jumlah mereka lebih banyak dari biasanya, dan itu membuat Disha bertanya-tanya, ada apa sebenarnya?
__ADS_1
Disha pun kemudian mempercepat langkahnya. Perasaannya semakin tidak enak.