
Rasa sakit di tubuh Disha tidak sebanding dengan rasa sakit yang dirasakan di hatinya. Rasa sakit akibat pengkhianatan dari orang yang sangat disayangi dan dipercayainya.
Dengan tubuh yang masih bergetar, Disha sekuat tenaga bangkit berdiri untuk melayangkan serangannya lagi. Namun saat mulai berlari ke arah pria itu,
DORR
Sebuah peluru ditembakkan ke arah Disha. Tembakan tunggal itu tepat mengenai bahu sebelah kanannya. Hingga membuat Disha tersentak dan sedikit terdorong ke belakang. Tembakan itu membuat langkah Disha terhenti. Ia syok. Dilihatnya bahu kanannya yang sudah banyak mengeluarkan darah segar. Dengan tangan gemetar, ia menyentuh luka itu, memastikan bahwa bahunya mengeluarkan darah.
'Benar, inilah sosokmu yang sebenarnya, Marco!' Batin Disha.
Disha menggigit bibirnya lagi, lalu melihat ke arah Marco yang masih menodongkan senjatanya ke arahnya. Mirisnya, tidak ada raut apapun yang tergambar di wajah pria itu. Sekarang ia terlihat seperti seorang psikopat.
Wajah dingin yang ditunjukkan Marco itu semakin membuat Disha memanas. Ia semakin membenci pria itu. Kalau begini, lebih baik dari awal pria itu langsung mengatakan benci jika memang benci, atau bersikap kasar padanya—sama seperti yang dilakukan Paman dan Bibinya yang lain. Itu akan jauh lebih baik. Disha pasti takkan merasa sesakit ini.
Bagaimana tidak sakit? Bila ada seseorang yang selalu ada untukmu, bahkan ketika semua orang dikeluargamu membencimu—termasuk ayah kandungmu sendiri—seseorang itu selalu membelamu ketika ditindas. Dia menjadi guru yang mendidikmu, mengasihimu seperti anak kandungnya sendiri. Melakukan segalanya untukmu yang bahkan bukan darah dagingnya sendiri. Dan orang yang melakukan itu semua adalah orang yang kemudian ... mengkhianatimu. Apa lagi yang paling menyakitkan daripada itu? Bahkan Disha tidak akan merasa sedih jika ayah kandungnya sendiri yang mengkhianatinya. Karena memang sepenting itulah Marco bagi Disha.
Yang paling menjengkelkannya lagi adalah sikap diam Marco yang sama sekali tidak berniat menjelaskan apapun pada Disha. Setidaknya Disha akan memaksakan dirinya untuk mendengarkan sekonyol apapun alasan pria itu membunuh Ibunya. Disha akan mencoba memikirkannya. Bukan malah menyisakan ribuan tanda tanya seperti ini!
Sekarang, meski bahunya sudah terluka, Disha tidak berniat untuk menyerah begitu saja. Ia tidak ingin berputus asa atau menyerahkan nyawanya begitu saja pada pengkhianat di hadapannya.
Disha terlihat menggigit bibirnya lagi dengan keras untuk menetralisir rasa sakit di bahu kanannya. Ia tidak peduli lagi, yang dipikirkannya hanya bagaimana menggapai dan menyakiti pria itu, meski tubuhnya hancur dipenuhi peluru pistol milik Marco. Dengan sekuat tenaga Disha berlari lagi ke arah pria itu untuk melanjutkan serangannya. Tetapi belum benar-benar berhasil menyentuhnya,
DORR DORR
Dua tembakan lainnya dilayangkan Marco tepat pada kedua kaki Disha, hingga membuat gadis itu terjatuh dan tidak sanggup untuk berdiri lagi.
"AAARRRGHHHH!!!" Teriak Disha. Ia berteriak sambil mengepalkan tangannya, memukul-mukul lantai yang sudah bersimbahan darah miliknya.
Teriakan itu bukan sepenuhnya karena rasa sakit akibat tembakan itu, tetapi karena gadis itu tidak terima akan kegagalannya. Ia luar biasa geram pada Marco.
__ADS_1
"Sial..." Gumamnya sambil mengerang kesakitan. Ia berderai air mata menatap tajam pada pria berwajah datar itu.
Kenapa harus gagal lagi?! Kenapa ia sangat lemah hingga tak bisa bahkan untuk menyentuh ujung kaki pria itu?! Kenapa ia hanya bisa menangis dan tidak bisa berbuat apa-apa untuk Ibunya? Begitulah yang dipikirkan Disha.
"Kenapa kau tidak melanjutkan tembakanmu?! Bunuh saja aku!! Seharusnya mudah bagimu untuk membunuhku, seperti kau yang dengan mudahnya membunuh Ibuku!!!" Teriaknya dengan keras. Ia tidak peduli dengan rasa sakit di tenggorokannya karena terlalu memaksakan untuk berteriak.
Diam
Marco tidak menanggapi teriakan keponakannya itu.
Untuk mengakhiri semua ini, Marco kemudian berjalan ke belakang Disha, ia berjongkok untuk menyamakan posisinya dengan Disha, lalu ia berbisik ke telinga Disha yang masih terus menangis,
"Hiduplah dalam kebencian. Saat waktunya tepat, kau pasti bisa membalaskan dendammu—Oh ya, terkadang manusia harus diberikan rasa sakit agar mau berusaha ... entah itu berusaha mencari kebenaran, ataupun berusaha untuk keluar dari zonanya sendiri. Saat kau sudah lebih kuat, temui aku, kita akan menyelesaikannya, dan aku akan menjawab semua pertanyaanmu, keponakanku tersayang..."
Setelah membisikkan itu, Marco kemudian memukul bagian tengkuk Disha, hingga membuat gadis itu pingsan.
.......
.......
(Dialog dan Monolog bercetak miring menggunakan Bahasa Italia)
"Sekarang apa yang akan kita lakukan, Ello?" Tanya Erwin—alias Romano.
Saat ini Romano dan Ello sedang berada di dalam mobil yang masih terparkir di dekat rumah sakit milik Marco Mataya. Mereka baru saja kembali dari luar. Lebih tepatnya, mereka baru saja mengintip kejadian yang membingungkan di salah satu kamar rumah sakit itu.
"Kita langsung kembali ke Italia, kita harus mengatur ulang strategi." Jawab Ello dengan suara tertahan menahan amarahnya.
"Baiklah Tuan."
__ADS_1
Setelah menerima perintah, Romano pun melajukan mobil yang ia kendarai. Mereka segera meninggalkan tempat itu.
"Aku tidak menyangka keterlambatan kita membuat wanita itu terbunuh di tangan pria itu. Padahal seharusnya aku yang berhak atas nyawanya!" Bentak Ello memukul keras pintu mobilnya.
"Anda benar Tuan. Sebenarnya... Saya juga bingung dengan situasi yang terjadi. Siapa pria itu, dan apa hubungannya dengan wanita bernama Elea yang adalah buronan Anda? Selain itu, siapa pula wanita yang ditembak tadi? Sepertinya mereka punya hubungan yang tidak biasa."
"Itulah yang harus kau cari tahu! Perintahkan tim inti untuk mencaritahu latar belakang mereka bertiga! Lalu kita akan mengatur ulang strategi sesampainya di Italia!"
"Baik Tuan, serahkan saja pada saya!" Ucap Romano menyanggupi.
'Mikasa tidak mungkin berbohong, dia bilang rahasia pembunuhan Ibu dan Serena ada pada wanita bernama Elea itu. Tapi sialnya, saat aku menemukan lokasi wanita itu, dia malah sudah terbunuh deluan!! Sialan!!' Batin Ello merutuki nasibnya.
Beberapa saat kemudian, Romano tersentak. Bukan tersentak kaget, ia hanya tiba-tiba sedang teringat sesuatu.
"Oh ya Tuan, bagaimana dengan Gerald Mataya? Apa kita akan membiarkannya begitu saja?"
"Ya, untuk saat ini biarkan saja dia menikmati kesuksesannya. Dia masih punya waktu 2 tahun lagi."
"Baik Tuan."
Haloo semuanyaa...
Makasih ya udah ikutin cerita ini sampai di bab ini. Gimana? Udah dapat kisi-kisi belum sama villainnya? Awas loo, jangan sampai kejebak.
Yah, secara g langsung perlahan takdir Male Lead dan Female Lead kita akan saling dipertemukan. Tunggu dan Ikuti kisahnya yaa... Gak lama lagi kok😉
Love ya, jangan lupa like dan vote yaa
__ADS_1