
"Apa aku salah jika bertanya dimana tempat peristirahatan terakhir Ibuku sendiri? Apa aku salah jika ingin menemuinya?!" Tanya Disha dengan penuh penekanan.
Disha mengepalkan tinjunya, meremasnya kuat hingga tangannya tampak sedikit bergetar, menahan emosi.
"Tidak, pertanyaanmu tidak salah. Hanya waktunya yang salah."
"Memangnya kapan waktu yang pas? Apa ada waktu yang bisa kugunakan untuk bertanya padamu selain saat ini? Bahkan untuk bertemu pun harus mengatur janji padamu, padahal aku ini adalah puterimu sendiri!!"
Hening, suara pekikan Disha membuat pria itu terdiam. Ia hanya melayangkan tatapan datarnya pada gadis yang terlihat tertunduk sambil mengepalkan tangannya itu.
"Besok temui Kakekmu. Tanyakan langsung padanya." Ucap Xander dengan wajah acuhnya.
"Sudah? Jika sudah selesai, pergilah dari ruanganku. Aku mau melanjutkan pekerjaanku."
Disha menegakkan kepalanya, melihat dengan tatapan kecewa pada pria yang tidak tahu malu itu. Tidak ada kata maaf yang terucap dari mulutnya setelah Disha terang-terangan mengucapkan kesalahan pria itu. Satu hal yan akhirnya diketahui Disha adalah, pria itu punya gengsi yang begitu besar.
Sekarang Disha jadi bertanya-tanya, apa benar mereka punya hubungan darah? Apa benar dirinya adalah anak kandung dari pria jahat yang bernama Xander itu? Apa mungkin ia adalah anak haram, sehingga Xander tak mempedulikannya? Pikiran negatif mulai menyeruak dari kepalanya.
Disha hanya tersenyum kecut, lalu ia pergi dari ruangan itu dengan langkah kecewa.
...🥀🥀🥀...
Hari berikutnya, Disha menemui Gerald untuk bertanya mengenai tempat pemakaman Elea—Ibunya.
Tak ingin membuat cucunya marah, terpaksa Gerald menunjukkannya dan memberitahukan apa yang ditutupi Xander darinya.
Bukan, sekali lagi itu dilakukan Gerald bukan karena ia menyayangi cucunya itu, tetapi karena ia takut Disha tiba-tiba mengundurkan diri dari ahli waris dan mengacaukan segala rencananya. Ia tidak ingin menumbalkan cucunya yang lain—yang jauh lebih disayanginya. Hanya Disha yang cocok sebagai tumbalnya untuk membersihkan nama baiknya kelak.
Dan di sinilah Disha dan Gerald sekarang, berada di tengah pemakaman Elea Anevay Mataya yang sederhana. Gerald memberikan waktu pada Disha untuk berduaan dengan nisan Ibunya, jadi ia serta pengawalnya memilih menjauh untuk beberapa saat.
Sebenarnya Gerald bimbang antara harus memberitahukan Disha kebenaran tentang makam Elea lebih dulu, atau membiarkan Disha meluapkan emosinya dulu baru memberitahukan kebenaran itu.
Karena melihat Disha yang tidak dapat menahan air mata kerinduannya pada sang Ibu, terpaksa Gerald memilih pilihan kedua. Ia tidak ingin merusak momen gadis itu. Yah walaupun pada akhirnya harus dirusaknya juga.
Tapi biarlah Disha meluapkan emosinya dulu agar bebannya sedikit berkurang.
"Kau sudah selesai?" Tanya Gerald yang datang diikuti Leon—tangan kanannya.
__ADS_1
Disha yang masih berjongkok mengangguk pelan, mengusap pipinya, lalu bangkit berdiri menghadap Gerald.
"Disha, ada sesuatu yang ingin kakek beritahu padamu."
"Apa itu Kek?" Tanya Disha dengan suara parau karena habis menangis.
"Sebenarnya... ini bukan pemakaman Ibumu."
Disha mengernyit, merasa salah dengan apa yang didengarnya barusan.
"Apa? Apa maksudnya?"
"Ini bukan kuburan Elea Anevay. Ini bukan kuburan menantuku. Maksudku... ini memang kuburan yang kami buat untuk mengenangnya. Tapi jasadnya tidak pernah dimakamkan di sini." Jelas Gerald. Ia menggenggam kuat tongkat yang dipegangnya—takut bila gadis itu meledak memarahinya.
Dan benar saja, wajah Elea tampak menggelap, mulutnya menganga tak percaya dengan apa yang didengarnya. Sesaat kemudian, bibirnya tampak bergerak ingin mengatakan sesuatu.
"Apa menyenangkan mempermainkan cucu Anda sendiri? Aku sudah dewasa, Anda seharusnya tidak terlalu menganggap enteng saya. Saya tahu Anda sangat membenci Ibu dan juga saya, tapi ini sangat kejam. Sudah mati pun Anda tetap tak membiarkan Ibuku tenang? Apa maksud Anda?!" Protes Disha dengan suara yang bergetar namun berusaha tetap tenang.
"Nona, ini bukanlah salahnya Tuan Gerald! Seharusnya Anda—"
Gerald mengangkat tangan kirinya, memberhentikan kalimat Leon. Kemudian pria tua itu menghela napasnya panjang.
Mendengat itu, rahang Disha mengeras, ia mengepalkan tinjunya menahan amarah.
"Darimana Kakek tahu kalau pria itu yang membawa jasad Ibu?"
"Sebenarnya, malam ketika jasad Elea sudah siap untuk dimakamkan, Marco meminta aku dan Xander untuk bertemu di suatu tempat. Dia sendiri yang bilang akan membawa jasad Elea dan mengurus pemakamannya. Dia meminta kami untuk memikirkan sendiri cara agar kau jangan sampai tahu mengenai hal ini. Saat itu, Xander memberontak, begitu juga denganku. Malam itu berakhir dengan kericuhan. Pengawalnya dan pengawal kakek saling bertarung di tempat itu. Saat kami lengah, Marco meninggalkan kami begitu saja. Jejaknya menghilang." Jelas Gerald dengan wajah serius.
"Kemana Paman Marco membawa jasad Ibu?"
"Kalau aku tahu kemana dia membawanya, aku dan Xander pasti akan melakukan sesuatu."
Mendengar itu, Disha mendecih, membuang mukanya sambil tertawa mengejek pada pria tua di hadapannya.
'Yang benar saja, kalian mau melakukan itu untuk kami?' Benaknya tak yakin.
"Aku tidak tahu yang mana yang harus kupercaya. Aku tidak tahu lagi. Semuanya seperti tipuan. Hanya dalam waktu yang singkat hidupku dipenuhi banyak masalah." Ucap Disha yang masih membuang mukanya dari Gerald.
__ADS_1
"Tidak apa kalau kau tidak mempercayai Kakek. Kakek hanya mengatakan apa yang sebenarnya. Dan kakek akan terus mencari dimana keberadaan Marco, lalu menghukumnya."
"Kakek ingin aku mempercayai itu?" Disha berbalik, tersenyum miring pada kakeknya itu.
"Kenapa tidak?" Gerald balas menatap bingung pada cucunya.
Dengan ekspresi dingin, Disha tertawa pelan lalu berkata, "Putra Anda bahkan bisa melakukan hal rendah seperti itu. Darah daging Anda bahkan begitu hebatnya melakukan pengkhianatan, seperti orang yang sudah terbiasa melakukannya. Aku penasaran, apakah itu didikan Anda, atau dia hanya cerminan dari orang tuanya." Sarkas Disha.
"Nona! Anda sudah keterlaluan! Asal Anda tahu, Tuan Marco itu bukan—"
BUGH
"Ahg!" Leon meringis kesakitan saat tinju pria tua itu mendarat di pipinya, sehingga membuat kalimat yang akan diucapkannya terputus begitu saja.
"Apa ini sudah cukup untuk membuatmu diam?!" Tanya Gerald dengan suaranya yang rendah namun tersirat amarah yang besar.
Leon hanya diam. Ia mengelus pipinya yang sekarang terlihat merah akibat tinjuan Gerald.
Jujur saja, Disha cukup senang dengan tindakan Gerald itu. Pria bernama Leon itu terkadang memang suka melewati batasnya, dan dia harus diberi pelajaran. Tetapi sayangnya, kalimat yang sedikit membuat Disha penasaran jadi terpotong karenanya. Apa yang ingin dikatakan Leon? Apa sesuatu yang tidak boleh diketahuinya? Entahlah, pelan-pelan Disha akan mencaritahunya.
Gerald merapikan pakaiannya sebelum lanjut berbicara dengan Disha.
"Kakek akan menunjukkan sendiri padamu. Kau tidak mudah percaya hanya dengan kata-kata kan? Baiklah, kakek akan membuktikannya dengan tindakan."
"Lakukanlah sesuka hati Kakek. Mau bagaimana pun, aku tidak mempercayai apa pun dan siapapun lagi. Orang yang satu-satunya kupercayai di dunia ini sudah meninggal dunia. Jadi jangan berharap mendapatkan kepercayaanku kelak. Dan ya, karena sekarang aku ahli waris Mataya Group, aku ingin sekali menghancurkan perusahaan itu dan membuat kalian semua menderita." Ucap Disha dengan ekspresi dingin. Dia bukan gadis manis lagi sekarang.
'Tidak, jangan sekarang! Habis aku!' Ucap Gerald dalam hatinya. Ia panik karena ini bukan waktu yang direncanakannya untuk menghancurkan Mataya Corp.
Tetapi belum sempat mengatakan sesuatu, Disha sudah lebih dulu bersuara.
"Tapi kau sangat beruntung punya menantu baik hati seperti Ibuku. Dia membuatku berjanji untuk melindungi perusahaan sebaik mungkin. Ia membuatku berjanji untuk tidak melawan manusia jahat seperti kalian semua. Sungguh ironis." Disha tersenyum pasrah.
Mendengar itu, Gerald tersenyum tipis. Diam-diam dia merasa lega atas ucapan cucunya itu.
"Ya, Elea memang orang yang baik." Ucap Gerald.
Setelah mengatakan itu, Disha memilih untuk langsung pulang tanpa ditemani siapapun. Dengan perasaan kosong ia pulang dengan taksi menuju tempat tinggalnya.
__ADS_1