
Hari ini Gerald dan Leon—sekretarisnya, datang berkunjung ke perusahaan cabang Mataya yang dikelola oleh Marco.
"Yah, ada sesuatu yang ingin kutanyakan. Sesuatu yang penting." Ucap Marco serius.
Pertanyaan yang terdengar serius itu, membuat Gerald mengurungkan niatnya untuk langsung pulang. Ia berhenti untuk mendengar pertanyaan Puteranya itu.
"Apa yang ingin kau tanyakan?" Tanya Gerald.
Sebelum lanjut bertanya, Marco meminta agar diberi privasi. Ia tidak ingin ada siapapun di ruangan itu, kecuali dia dan Gerald.
Untunglah Leon langsung mengerti, jadi ia langsung pergi meninggalkan mereka berdua.
"Apa yang ingin kau tanyakan Marco?" Tanya Gerald kemudian.
"Sebenarnya aku masih tidak mengerti, kenapa Ayah memilih Disha sebagai pewaris?" Tanya Marco dengan wajah serius.
Gerald tertawa kecil, lalu menjawab puteranya itu, "Bukankah sudah kuberitahu di makan bersama kita terakhir kali?" Ucapnya.
"Baiklah, Disha memang memiliki kualifikasi yang mumpuni menjadi pewaris. Tetapi kenapa Ayah buru-buru seperti ini? Menetapkan semuanya secara mendadak, itu akan mempengaruhi mental dan pikiran Disha, dia belum punya banyak pengalaman." Jelas Marco penuh kekhawatiran pada keponakan tersayangnya itu.
"Bukankah kau terlalu meremehkannya Marco? Dia sudah kutunjuk sebagai pewarisku, maka mau tidak mau, dia harus ikut rencanaku. Aku memilih orang yang kurasa tepat duduk di singgasana itu, Marco. Katakan padaku, meski cucuku yang lain memiliki prestasi yang jauh lebih baik, tapi tidak dengan moral dan nilai-nilai yang ada pada mereka. Disha jauh lebih baik dari mereka. Karena itu aku memilihnya." Jelas Gerald.
'Jika keponakanku yang lain memiliki skandal, bukan mustahil bagi Ayah untuk membungkam siapa saja, lalu kenapa kesannya seperti Ayah memaksakan keputusan ini untuk Disha? Alasannya hanya omong kosong.' Batin Marco mulai menaruh kecurigaannya.
"Lalu kenapa harus cucu Ayah? Ayah masih punya anak-anak yang bisa diandalkan. Masih ada Xander, dia jauh dari skandal, cerdas, juga penurut. Kenapa Ayah?" Tanya Marco. Mungkin ia bisa mengulik sesuatu mengenai niat pria tua di hadapannya itu.
"Jika seandainya aku harus memilih pewaris dari anak-anakku, daripada Xander lebih baik aku menunjukmu, Marco. Tapi mana mungkin aku melakukannya? Kau jelas tahu sendiri kan alasannya?" Ucap Gerald sambil tersenyum kecil.
Mendengar itu, Marco merapatkan bibirnya. Marco kehabisan kata-katanya. Ia memang tak pernah berharap jadi pewaris Mataya, karna itu memang mustahil untuk orang sepertinya. Statusnya tidak akan pernah setara dengan Xander dan yang lainnya. Ya, begitulah pikirnya.
'Ck, tetap saja... tiba-tiba menunjuk Disha sebagai ahli waris, dan semua rencana mendadak ini sangatlah aneh.' Marco membatin.
Gerald memperhatikan putranya yang masih terdiam memikirkan sesuatu.
'Apa sekarang kau berhasrat untuk menguasai propertiku? Mulai sekarang kau juga harus diwaspadai, kau bisa jadi pengkhianat kapan saja, Marco.' Ucap Gerald dalam hatinya sambil terus memperhatikan sikap diam puteranya itu.
"Baiklah, jika tidak ada yang ingin kau katakan lagi, aku pamit. Masih banyak pekerjaan yang harus kuurus." Ucap Gerald sambil bangkit berdiri.
Di perjalanan kembali ke kantor pusat, Gerald kembali teringat percakapannya dengan Marco. Ingatan itu membuat kepala Gerald pusing. Bahkan matanya sampai berkedut menahan rasa sakitnya.
"Anda baik-baik saja Tuan?" Tanya Leon yang duduk di kursi kemudi. Ia memperhatikan ekspresi tuannya yang tidak biasa dari spion depan.
__ADS_1
"Bukan apa-apa, hanya sakit kepala biasa." Ucap Gerald. Suaranya terdengar melemah, tidak sebaik biasanya.
Gerald menghela napas. Lalu melamun mengingat peristiwa yang menjadi penyebab Disha terpaksa ia tunjuk sebagai ahli warisnya. Peristiwa itu adalah penyesalan terbesarnya hingga saat ini.
.
.
Flashback On
[Tiga tahun lalu, New York City]
(Dialog dan monolog bercetak miring menggunakan Bahasa Inggris, sedangkan bercetak tebal menggunakan Bahasa Italia)
"JALAN!! CEPATT!!" Bentak seorang pria yang menarik paksa pria tua yang dibawanya. Mata pria tua itu ditutup dengan kantung hitam, dan kedua tangannya diborgol ke belakang.
"Siapa kalian?!! Berani-beraninya meculikku!!" Teriak pria tua itu dengan tubuh bergetar. Ia berjalan tertatih-tatih dituntun oleh beberapa orang pria, entah siapa.
Beberapa pria berpakaian serba hitam yang menggiring pak tua itu saling melihat dan tertawa satu sama lain. Lalu, pria yang ada di sebelah pak tua itu berkata, "Kau yang berani-beraninya menghina Tuan kami!" Hardiknya dengan penuh penekanan.
Setelah cukup lama menggiring pria tua itu, akhirnya mereka berhenti di suatu tempat. Sepertinya mereka telah sampai di tempat yang dituju.
Pria tua itu kemudian dipaksa duduk, lalu kakinya diikat ke kaki kursi. Kemudian semua pria berpakaian serba hitam tadi mengeluarkan senjata api mereka, dan berbaris mengelilingi pria itu.
Tap Tap Tap
Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki dari arah belakang pria tua itu.
"Kami sudah menangkapnya Tuan." Ucap salah seorang pria berpakaian hitam itu kepada orang yang baru datang.
"Halo Tuan Mataya." Sapa pria yang dipanggil "Tuan" itu. Ia berjalan dari belakang pria tua itu, lalu menyentuh pundaknya sambil menunjukkan senyuman ramahnya.
"Si-siapa Kau?!" Teriak pria tua itu yang tidak lain adalah Gerald sendiri. Ia tampak ketakutan, namun menutupinya dengan cara berteriak keras.
"Pfftt... Santai saja. Perkenalkan, aku adalah Cedric Voltage, orang yang sudah kau hina di depan umum beberapa hari yang lalu." Ucap Cedric menyeringai.
Melihat ekspresi Cedric yang sangat menakutkan, tanpa sadar tubuh Gerald bergetar.
Dengan tidak menghilangkan seringaiannya itu, Cedric melangkah memutar ke sebelah kanan Gerald, sambil mengeluarkan belati hitam dari balik sakunya. Tanpa ragu ia mendekatkan belati itu ke leher Gerald.
"Beraninya kau menghinaku di depan umum. Apa kau bilang? 'Perusahaan Voltage tak akan bisa menyaingi perusahaan Mataya. Dan Tuan Voltage yang akan minta sendiri untuk bekerja sama denganku.' Begitu kan kau bilang? Sadarkah kau siapa yang telah kau tantang? Hanya karena aku tidak pernah muncul di publik, bukan berarti kau bebas menghinaku!" Ucap Cedric dengan nada memperingatkan.
__ADS_1
Itu benar, Gerald tidak tahu saja siapa pria yang sudah berani ia tantang itu. Ia tidak tahu latar belakang Cedric. Nyatanya, aset pria itu bisa 10 kali lebih banyak dibanding Gerald.
Sebenarnya Gerald berani menantang pria bernama Cedric itu, karena beberapa bulan terakhir semenjak kemunculan nama Cedric yang cukup menghebohkan, Gerald khawatir kepopulerannya sebagai pebisnis hebat akan tergeser. Ya, hanya itu alasannya.
Gerald meronta-ronta ingin menjauhi belati di tangan Cedric itu, namun kelima pria yang mengelilinginya menahan tubuhnya agar tidak bergerak menjauh.
"Apa yang kau mau?!" Tanya Gerald sambil berteriak. Mukanya terlihat merah dengan keringat yang terus mengalir.
"Aku ingin menunjukkan padamu, siapa sebenarnya Cedric Voltage itu." Jawab Cedric tersenyum miring.
"Berikan itu padanya." Perintah Cedric kemudian kepada Erwin—tangan kanannya.
Erwin kemudian melemparkan beberapa artikel bisnis ke lantai, agar bisa dibaca Gerald isinya.
"Perusahaan terkenal UPA, Cinnamon, dan Gira, kau sudah tau berita kehancurannya kan? Itu yang terjadi ketika mereka mencoba bermain denganku!!" Hardik Cedric sedikit menekan belati itu ke leher Gerald, hingga mengeluarkan darah segar.
Kemudian, Erwin memutar rekaman saat mereka menginterogasi para pemilik perusahaan besar itu. Melihat itu, Gerald pun semakin takut.
"Maaf, maafkan aku Tuan Voltage. Aku sudah bertindak impulsif. Mohon maafkan aku..." Ucap Gerald bergetar ketakutan. Ia menunduk sambil meneteskan air mata.
Melihat itu, Cedric tertawa puas. Lalu ia melanjutkan aksinya. Ditariknya rambut Gerald hingga kepalanya mendongak ke atas, lalu berkata, "Tidak Tuan Mataya, jangan meminta maaf begitu padaku. Bagaimana kalau kuikuti saja rencanamu itu?"
"A,apa maksudmu?" Kata Gerald ketakutan, sambil meringis menahan sakit.
"Aku akan menyetujui kerja sama perusahaan kita." Jawab Cedric.
Mendengar itu, Gerald menggeleng kecil, ia panik, "Ti-tidak... lupakan itu. Aku takkan melakukannya."
"Aku memberimu pilihan. Jika kau menolak kerja sama ini, aku akan menghancurkan perusahaanmu dengan cara instan. Tetapi jika kau mau, aku akan memberimu waktu untuk menikmati kesuksesanmu, sebelum akhirnya kuhancurkan." Ucap Cedric tersenyum licik.
"Itu Bukan Pilihann!!" Spontan Gerald berteriak melayangkan protesnya.
Para pengawal Cedric tidak tinggal diam melihat sikap kurang ajar Gerald, salah satu dari mereka memukul pundak Gerald dengan senjatanya hingga kursi Gerald terseret sekitar dua kotak keramik.
BRAKK
.
.
__ADS_1