Nona Milik Tuan Mafia!

Nona Milik Tuan Mafia!
Pertemuan Keluarga


__ADS_3

...Pada akhirnya, kita bukan butuh seseorang yang bisa menarik kita dari hujan, karena hujan akan selalu mengikuti. Yang kita butuhkan hanyalah seseorang yang mampu menemani kita di bawah hujan. Sampai semuanya kembali reda....


...-Marco...


.......


.......


...πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€...


Di Perjalanan Menuju Mansion Xander Mataya...


"Ana, Belvina begitu bukan karenamu kan?" Tanya Marco memastikan.


Tangannya sibuk memegang kendali mobil dan pandangannya fokus melihat jalan di depannya.


"Kenapa jadi aku? Berhentilah menuduhku yang tidak-tidak." Bantah Anastasya sambil memutar bola matanya. Ia kesal pada pria tampan di sampingnya itu.


"Jangan coba berbohong padaku, Anastasya!" Bentak Marco.


Sekarang rahang pria itu tampak mengeras menahan amarah.


Suara bentakan pria itu membuat Anastasya kaget, ia jadi takut saat melihat pria yang adalah suaminya itu membentaknya dengan keras.


"Aku punya alasan melarangnya ikut pertemuan keluarga, Marco." Akunya.


Marco tersenyum menyeringai setelah mendengar perkataan istrinya itu, lalu berkata, "Kalau begitu mari kita dengar alasannya."


Tidak ada pilihan lain, Anastasya terpaksa harus jujur. Ia tak mau hanya karena masalah kecil seperti ini, rencana besar yang sudah lama disusunnya harus gagal di tengah jalan. Marco adalah salah satu alat terpentingnya, jadi ia tak ingin kehilangan kepercayaan pria itu.


"Itu bukanlah pertemuan keluarga. Itu adalah ajang tempat memamerkan prestasi dan menjatuhkan yang lain. Itu adalah medan perang, Marco! Aku tidak tahan mendengar saudara-saudaramu menghina putriku!" Jelas Anastasya.


"Jangan jadi pengecut Ana, itu adalah risiko menyandang nama Mataya. Memang benar, dari dulu pertemuan keluargaku sudah seperti itu. Aku juga tidak suka putriku dihina, Ana. Tapi kita harus menghadapinya. Belvina harus belajar menghadapi setiap kesulitan dalam hidupnya. Aku tidak ingin suatu saat dia terkejut melihat pahitnya dunia ini." Jelas Marco.


Anastasya tertawa remeh. "Pengecut kau bilang? Aku hanya ingin bertindak sebagai Ibu yang baik untuknya!" Anastasya meninggikan suaranya, tanpa sadar ia membanting dashboard mobil itu dengan tangan kirinya.


Ciitttβ€”


"Aakhh!!" Teriak Anastasya.


"Apa yang kau lakukan Marco?!" Tanyanya berteriak karena sangkin syoknya.


Wanita itu benar-benar terkejut. Jantungnya hampir melompat keluar karena rem dadakan yang dilakukan Marco.


Berbeda dengan Anastasya yang masih terlihat syok, Marco malah terlihat sangat marah. Rahangnya mengeras, dan matanya kini menatap tajam pada Anastasya.


"Ingin bertindak sebagai Ibu yang baik untuknya? Pfftt... jangan bercanda Anastasya." Ledek pria bernama Marco itu dengan senyuman seringainya yang menyeramkan.

__ADS_1


Melihat ekspresi suaminya, Anastasya menelan paksa salivanya, tenggorokannya terasa tercekat. Ada perasaan ingin keluar dan kabur dari mobil itu, namun ia ingat bahwa pria itu selalu mengunci pintu mobil saat sedang berkendara. Jadi tidak ada gunanya.


'Kenapa aku dulu mau menikahi pria seperti ini?' Tanya Anastasya dalam hatinya.


Bagaimanapun penyesalan selalu datang terlambat.


Sambil tertawa pelan, Marco berkata, "Kau bertindak seolah jadi pahlawan untuknya. Apa kau tahu,..." Marco menghentikan ucapannya sejenak. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Anastasya dan menatap wajah yang sudah keringat dingin itu dengan tatapan tajam.


"Perbuatanmu itu membuatnya jadi sama PENGECUTNYA seperti dirimu. Kau mendidiknya menjadi seorang PENGECUT sejati, Anastasya Verheoven." Sambung Marco lagi dengan suara yang tertahan.


Setelah mengatakan itu, Marco kembali ke posisinya semula. Sedangkan Anastasya, ia hanya bisa diam. Tubuhnya terasa membeku. Ia tak mampu berkata-kata lagi karena sangkin takutnya.


"Coba saja kau ulangi perbuatanmu ini, dan aku takkan segan melakukan hal yang tak pernah kau duga sebelumnya!" Tambah pria itu lagi penuh ancaman setelah menstabilkan emosinya.


Dalam kesunyian dan suasana yang mencekam itu, Marco kemudian melesatkan mobil yang dikendarainya.


.......


.......


...πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€...


.......


.......



"Wah wah wah, semakin hari hubungan kalian semakin harmonis saja ya?" Sindir Jennifer Mataya, Putri kedua keluarga Mataya.


Sindiran itu jelas ditujukannya pada kakak laki-lakinya, Marco Mataya beserta istrinya, Anastasya Verheoven. Hubungan keduanya yang sedang tidak baik itu begitu jelas tergambar pada wajah dan suasana di antara mereka.


"Ya begitulah." Jawab Anastasya tersenyum ramah. Ia tidak ingin diam saja menelan sindiran wanita itu.


"Adik ipar, apa sidang perceraianmu berjalan lancar?" Serang Anastasya tak mau kalah.


Ia ingin membalas wanita itu karena sudah berani ikut campur urusan rumah tangganya.


Takk


Jennifer meletakkan sendoknya.


Ya, wanita itu tentu tidak senang mendengar ucapan kakak iparnya. Jennifer menghela napasnya menahan emosi, lalu kembali menjawab Anastasya dengan tersenyum lembut.


"Tentu saja berjalan lancar. Aku bukanlah wanita lemah yang hanya bisa tertidur lemah, pasrah menunggu kematiannya." Sindir Jennifer lagi sambil beralih menatap Disha yang duduk makan di hadapannya.


Benar, kali ini Disha yang jadi sasarannya.

__ADS_1


'Hah, lihatlah orang gila ini... padahal aku hanya diam saja dari tadi.' Batin Disha mencoba tak menghiraukan ucapan Bibinya itu.


"Jaga ucapanmu, Jennifer. Tak bisakah kau makan saja dengan tenang?" Tegur Marco. Ia rasa ucapan adiknya itu sudah keterlaluan.


Mendengar ucapan kakaknya, Jennifer memutar malas bola matanya, lalu lanjut menyantap makanannya.


"Ehekmm..., Disha, kudengar kau sudah menyelesaikan pendidikanmu. Lalu apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" Tanya Tuan besar Mataya, kakek Ayudisha.


"Ya kakek, aku baru menyelesaikannya dengan baik. Mungkin kedepannya untuk sementara aku akan membantu Ayah." Jawab Disha sambil menatap makanannya dan mengobrak-abrik isi piringnya.


"Kudengar kau lulus dengan predikat terbaik di sana. Apa itu benar?" Tanya Megan Mataya, bibi Disha yang lainnya.


"Tentu saja itu benar Kakak, Putriku memiliki prestasi yang luar biasa di sana." Jawab Xander dengan bangganya. Xander adalah Ayah Disha.


"Lalu kenapa dia tak memiliki sopan santun sedikit pun? Kakeknya sedang berbicara, tapi dia malah menatap makanannya dan sibuk mengobrak-abrik isi piringnya. Aku jadi meragukan putrimu, Xander." Ucap Megan tersenyum sinis memberikan penilaiannya secara frontal.


Mendengar itu, Jennifer kelepasan mengeluarkan suara tawanya. Sementara yang lain hanya terdiam.


Disha segera menghentikan aktivitas makannya, ia tahu bahwa ia memang salah. Jadi Disha berdiri dari tempat duduknya dan dengan inisiatif, ia langsung menunduk dan meminta maaf pada kakeknya karena bersikap tidak sopan.


"Sudah-sudah... lanjutkan makanmu." Respon sang kakek.


"Bahkan putraku yang lebih muda 2 tahun darimu, mengerti dengan aturan sederhana itu." Sindir Ken, Putra tertua Mataya.


"Sudahlah Kak, yang penting dia sudah meminta maaf." Bela Marco untuk Disha.


"Ngomong-ngomong itu hebat Disha, kau sudah membanggakan nama keluarga Mataya." Puji sang Kakek tanpa menanggapi percakapan Ken dan Marco.


"Terimakasih Kakek." Jawab Disha tersenyum lembut.


"Sebagai hadiah, kau akan kujadikan ahli waris Mataya Group." Ucap sang Kakek secara gamblang.


Mendengar kalimat dari pria tua itu, spontan mereka yang ada di ruangan itu menghentikan aktivitasnya. Mereka amat terkejut, bahkan Jennifer sampai terbatuk-batuk karenanya.


"Maaf? Ayah, Disha hanya lulusan dari Universitas asia yang bahkan tidak menduduki 10 besar universitas terbaik di dunia. Dia bahkan tidak lulus di Universitas ternama di Eropa. Putraku saja bisa lulus di Oxford dalam percobaan pertamanya, bahkan pretasinya jauh lebih membanggakan daripada Disha. Bukankah Anda terlalu berlebihan?" Protes Megan.


"Beraninya kau menyebutku berlebihan Megan!" Sergah pria tua itu.


Seketika suasana kembali hening.


"A,Ayah, Aku sependapat dengan Kak Megan. Bagaimana bisa Ayah menutup mata terhadap cucu Ayah yang lainnya yang bahkan jauh lebih baik dari Disha?" Ucap Jennifer takut-takut.


Pria tua itu menghela napasnya kasar.


.


.

__ADS_1



__ADS_2