Nona Milik Tuan Mafia!

Nona Milik Tuan Mafia!
Kebodohan


__ADS_3

...Seperti pisau yang bagus tetapi dapat melukaimu dan obat yang pahit tetapi bisa juga menyembuhkanmu....


...🥀🥀🥀...


(Dialog dan Monolog yang bercetak miring menggunakan Bahasa Italia.)


...FLASHBACK ON...


...***...


...—Venice, Italia—...


...***...


Di tengah pesta ulang tahun yang megah itu, Ello dan para anggota inti berpencar mencari sosok buronan yang mereka cari selama ini.


Karena pesta ini merupakan pesta seorang pebisnis ternama, maka tak heran banyak kalangan atas dari berbagai negara yang menghadirinya.


Beruntung pesta itu memakai konsep pesta topeng. Topeng yang mereka kenakan membuat Ello dan para bawahannya dengan bebas berkeliaran kesana-kemari tanpa takut identitasnya terbongkar.


Maklumlah, karena wajah Ello cukup dikenal oleh beberapa pebisnis yang hadir.


Dia bisa kerepotan bila orang-orang memanggil namanya dengan sebutan yang berbeda-beda, karena selama ini Ello selalu menggonta-ganti identitasnya di setiap negara yang pernah dikunjunginya, untuk keperluan bisnis gelapnya.


"Apa kau melihatnya?"


Suara Ello terdengar dari alat komunikasi berukuran kecil yang terpasang di telinga Romano, tangan kanan Ello.


"Tidak Tuan, tak ada orang yang mencurigakan di sini." Jawab Romano memperhatikan sekelilingnya.


"Luca, dimana sebenarnya titik pria itu? Bisakah kau memastikannya?" Pinta Ello dari jauh.


"Baik Tuan."


Dengan sigap, Luca menekan tombol pada sisi topeng yang digunakannya untuk mendeteksi posisi orang yang mereka cari.


Seketika, Luca dapat melihat titik orang itu. Ia dapat mendeteksinya karena terdapat microchip yang tertanam di tubuh orang yang mereka cari itu.


"Titiknya sudah berubah, dia ada di ruangan eksklusif di lantai sepuluh, Tuan Ello." Ucap Luca dengan suara yang tetap tenang.


"Apa?! Secepat itu titiknya berubah?" Ucap Cayena, salah satu anggota inti.


"Kalau begitu kalian susul aku ke sana." Perintah Ello.


Kemudian, Ello segera menuju ruang yang dimaksud oleh Luca. Meski sedang berpencar, Ello dan para bawahannya bergerak dengan lihai, sehingga tidak menimbulkan kecurigaan sedikit pun.


"Hei, tunggu, Layola brengsek!!" Teriak Ello di koridor yang mengarah ke ruangan yang berlawanan dengan ruang Eksklusif.


Akhirnya ia melihat orang yang selama ini ia cari. Entah kenapa, ia sangat yakin saat melihat postur yang sangat dibencinya itu.

__ADS_1


Mereka kejar-kejaran sepanjang koridor yang cukup panjang itu. Hingga kemudian pria di hadapan Ello itu, berhenti berlari, lalu tersenyum menghadap Ello.


Ello pun berhenti mengejarnya. Mata tajamnya menatap penuh kebencian pada wajah di hadapannya itu.


'Tidak salah lagi, senyuman ituu!!!' Pikir Ello.


"Halo nak Ello..." Sapa pria itu dengan santainya.


Suara yang sama persis dengan ingatannya bertahun-tahun yang lalu semakin membuat darah Ello mendidih.


Tanpa pikir lagi, Ello berlari cepat ke arah pria itu. Namun, sebelum Ello berhasil menjangkaunya, pria itu malah menjatuhkan dirinya ke arah jendela besar di belakangnya.


"KEMBALI KAU, DASAR SAMPAH PENGECUTT!!!" Umpat Ello berteriak kencang sambil melihat tubuh pria itu terjun.


Tak lama kemudian, para bawahan Ello akhirnya sampai di lokasi yang sama.


"TUANN!! Apa yang terjadi?" Tanya ketujuh bawahan yang datang bersama Ello ke pesta itu.


"Dia melarikan diri. Cepat, cari pewaris Dimian Group! Tangkap dia!" Perintah Ello.


Ello berpikir, jika tak bisa menangkap pria itu. Setidaknya mereka bisa menangkap sahabatnya untuk diinterogasi.


Mereka pun berpencar kembali untuk mencari Sang Pewaris Dimian Group.


...🥀🥀🥀...


"Sial, Prince Dimian tak terlihat dimanapun." Umpat Romano yang kesal karena tiba-tiba pewaris Dimian Group itu tak terlihat lagi di ball room pesta.


Luca tampak mengotak-atik peralatan canggih yang dipakainya."Tuan Ello, dia ada di ruangan nomor 650!" Ucap Luca antusias sambil setengah berlari menuju ruangan itu.


Ia mengetahui keberadaan Prince dari cctv yang disadapnya melalui topeng canggih yang dikenakannya.


Mereka yang mendengar informasi itu, termasuk Ello, segera menuju ke lokasi yang dimaksud Luca.


Saat Ello tengah berjalan sedikit terburu-buru menuju lift, seorang wanita berpakaian seksi datang menghampirinya. Wanita itu datang dengan segelas sampanye di tangannya.



"Tuan, Anda terburu-buru sekali. Temani saya minum ya Tuan..." Goda wanita itu dengan gaya sensualnya.


Ia bahkan mendekatkan tubuhnya ke dada bidang Ello, sehingga sangat menghalangi pergerakan Ello.


Agar tidak dicurigai, Ello berhenti dan membiarkan wanita itu sejenak. Ia menahan hasratnya untuk membunuh wanita itu saat ini juga.


Ia sadar bahwa dirinya tengah berada di situasi penyamaran, dan di sekitarnya banyak orang berlalu-lalang, maka mau tak mau ia harus menyingkirkan wanita pengganggu itu secara halus.


"Maaf, aku sudah minum tadi. Bisakah kau membiarkanku pergi?" Pinta Ello sambil memperhatikan sekitarnya.


Meski terdengar sopan, sebenarnya Ello mengumpati wanita itu dalam hatinya. Beberapa kali saat ada kesempatan, ingin sekali Ello memotong lengan wanita yang sudah berani menyentuhnya itu.

__ADS_1


"Ahh Tuan ini jahat sekalii... kenapa semua pria sangat jahat padaku? Tadinya aku menggaet seorang pria tampan, tapi saat aku kembali dengan gelas sampanye ini, dia sudah meninggalkanku... sangat kejamm..." Ucap wanita itu dengan manjanya pada Ello.


'Wanita ini sudah mabuk.' Pikir Ello.


Ketika mencoba untuk pergi, lagi-lagi wanita mabuk itu menghalang-halangi jalannya. Ia terus saja menempelkan dadanya pada Ello, sehingga membuat Ello sangat risih.


"Baiklah, tapi kita ke atas saja." Ucap Ello yang terpaksa membuat wanita itu jadi ikut dengannya.


Wanita itu tersenyum puas, lalu ia mengikuti Ello ke lantai 10. Sebenarnya Ello berencana membawa wanita itu ke tempat yang sepi, lalu menghabisinya di sana. Itulah rencana Ello.


'Lihat saja, akan kuiris-iris kau begitu sampai di lantai 10.' Ancam Ello dalam hati.


Tetapi sebelum sampai ke lantai 10, wanita itu merengek meminta berhenti di lantai 9. Entah ada apa di lantai 9, sampai-sampai wanita itu bersikap seperti anak kecil yang minta dibelikan mainan kesukaannya.


Lagi-lagi karena terpaksa, Ello mengikuti mau wanita itu agar bisa segera lepas darinya. Toh 1 lantai lagi ia akan sampai ke ruangan yang ditujunya.


Memang apa yang bisa dilakukan wanita yang sedang mabuk? Begitu pikirnya.


Ketika sudah sampai di lantai 9 dan pintu lift terbuka, Ello segera keluar mendahului wanita itu. 


Namun saat hendak berbalik melihat ke arah wanita itu, wanita itu tiba-tiba menyambarnya dengan kecepatan kilat, lalu ia menusukkan suntikan berisi suatu cairan ke leher Ello.


Reflek, dengan kekuatannya, Ello menghempaskan tubuh wanita itu hingga terpental jauh. Ditariknya jarum suntik yang masih tertancap di lehernya itu, lalu dipatahkannya.


Dengan emosi, Ello berkata pada wanita yang masih meringis kesakitan itu, "Apa yang kau suntikkan padaku?! Siapa yang menyuruhmu melakukannya?!"


Tetapi wanita itu tidak menjawabnya. Sambil meringis, ia tertawa pelan, sehingga membuat Ello semakin geram.


Merasa marah, Ello kemudian menarik kasar lengan wanita itu, memaksanya bangun, lalu mencekiknya hingga wanita itu tercekat dan mulai kesulitan bernapas.


Ello mengeluarkan senjata apinya yang ia simpan di saku jasnya, lalu mengarahkan mulut pistol itu ke kepala wanita itu.


"Kurang ajar sekali kau, dasar wanita murahan!!" Ucap Ello menggeram.


Saat akan menarik pelatuk senjatanya, tiba-tiba Ello merasakan pusing. Pandangannya berputar-putar, ia merasa sangat kepanasan.


Dilepaskannya cengkraman tangannya pada leher wanita itu. Sangkin pusingnya, ia juga sampai menjatuhkan senjata yang dipegangnya.


"Sialan, apa yang kau suntikkan padaku?!" Bentak Ello sambil berjalan lunglai mencoba meraih wanita itu.


Wanita itu kemudian tersenyum sambil sedikit tersengal-sengal.


Ia kemudian mengedipkan matanya pada Ello dan berkata, "Rahasia, Tuan tampann." Ucapnya manja.


.


.


__ADS_1


__ADS_2