Nona Milik Tuan Mafia!

Nona Milik Tuan Mafia!
Berjanji


__ADS_3

...Di dunia ini hanya jika memiliki sebuah kekuasaan, baru kau akan bebas melakukan apapun, dipandang, dan diperhitungkan....


...-Ayudisha...


.......


.......


...🥀🥀🥀...


Setelah mengatakan itu, Belvina tiba-tiba memeluk erat Disha yang duduk di hadapannya, hingga membuat gelas di meja mereka tumpah.


"Belvy, apa yang kau lakukan?! Aish, kau ini random sekali!" Omel Disha berusaha melepaskan pelukan Belvina.


"Disha, syukurlah kau masih hidup! Aku takkan tau mau berbuat apa jika sesuatu terjadi padamu! Aku... aku..." Ucap Belvina berlinangan air mata berusaha menahan tangisnya. Ia begitu sedih memikirkan sepupunya yang bisa saja mati sewaktu-waktu di dalam lift waktu itu.


"Apa? Kenapa kau bilang begitu Belvina? Memangnya kenapa kalau dia Lama Nera?" Tanya Disha dengan polosnya.


"Shhtt.. kecilkan suaramu!"


"Asal kau tau saja, orang Lama Nera itu tidak pernah menunjukkan dirinya pada orang yang bukan sekutunya, apalagi musuhnya. Jika kehadiran mereka disadari oleh orang biasa, maka orang itu tak akan dibiarkan hidup. Tapi kau malah dibiarkan hidup, bahkan dia meninggalkan tanda yang menunjukkan identitasnya. Bukankah itu aneh?!" Jelas Belvina meyakinkan Disha tentang betapa berbahayanya kelompok mafia itu.


"Bisa jadi dia tak sengaja melakukannya." Celetuk Disha.


Belvina kemudian menggeleng lalu berkata, "Tidak, Lama Nera tak melakukan kesalahan kecil seperti itu. Jika mereka melakukannya, pasti mereka hanya tinggal nama sekarang."


"Kalau begitu apa yang dia inginkan dariku?" Tanya Disha mulai sedikit takut.


"Aku juga tidak tahu. Untuk berjaga-jaga, kau tidak boleh berkeliaran dulu Disha. Aku khawatir ada sesuatu yang diinginkannya darimu. Tetaplah di rumahmu sampai acara pengangkatan ahli waris digelar. Aku akan mencari tau melalui Miguel. Kau mengerti?" Jelas Belvina dengan raut wajah penuh kekhawatiran.


"Sebenarnya kau tak perlu setakut itu Belvina. Tenanglah, aku akan baik-baik saja. Daddymu adalah guru bela diriku, dan aku ahli menggunakan senjata. Aku bisa melindungi diriku, tak masalah jika hanya satu orang." Ucap Disha menenangkan sepupunya.


"Kau terlalu menganggap enteng mereka Disha. Mungkin karena kau tak banyak mendengar tentang mereka. Tapi, Miguel banyak bercerita kepadaku. Anggota Lama Nera itu ada dimana-mana." Jelas Belvina berbisik pada Disha.


"Miguel bercerita padamu? Lalu kenapa Miguel dan kau masih dibiarkan hidup? Apa Miguel juga anggota Lama Nera? Pernahkah kau menanyakan ini kepadanya?" Tanya Disha.


Belvina terdiam. Ia tampaknya tak tahu jawaban apa yang harus diberikannya pada sepupunya itu.


"Mengenai itu... aku... aku juga tidak yakin..." Ucap Belvina dengan suara yang perlahan mengecil.

__ADS_1


"Pacarmu itu juga mencurigakan Belvina. Sebaiknya kau putuskan dia, sebelum aku beritahu pada Paman Marco. Atau kau cari tau latar belakangnya dan beritahu padaku, baru aku akan membiarkan hubungan kalian." Ucap Disha tersirat ancaman.


Belvina menghela napasnya panjang, lalu berkata, "Baiklah, kita harus berhati-hati. Akan kulaporkan padamu segala informasi yang kudapat."


Setelah percakapan yang cukup menegangkan itu, mereka pun berpisah. Belvina harus kembali ke rumahnya karena ia sudah dicari oleh Anastasya. Sementara Disha, ia berniat mengunjungi Ibunya di rumah sakit sebelum kembali ke rumahnya.


Beberapa hari ini Ibunya menunjukkan perkembangan pesat. Ia sudah berangsur-angsur pulih, dan sudah bisa makan dengan baik. Tetapi sang Ibu belum bisa berjalan seperti sedia kala, dan sepertinya vonis yang mengatakan bahwa Ibunya telah lumpuh total itu benar.


Itu karena ini sudah tahun ke-6 Ibunya mengikuti program penyembuhan, tetapi hasilnya nihil. Selama ini Disha selalu menyangkalnya dan yakin bahwa Ibunya bisa berjalan seperti sedia kala. Tetapi tidak ada perkembangan apa pun.


Kelumpuhan total Ibunya terjadi sejak sepuluh tahun yang lalu. Itu adalah peristiwa dimana sang ibu ditabrak oleh seseorang ketika sedang mengadakan perjalanan bisnis bersama ayahnya yaitu Xander, Pamannya yaitu Marco, dan juga Bibinya yaitu Anastasya.


Disha mendengar cerita mengenai peristiwa itu dari Marco, satu-satunya orang yang selalu peduli pada dia dan juga ibunya.


Dan alasan lainnya kenapa Disha mau menerima tawaran sebagai ahli waris perusahaan besar seperti Mataya Corp adalah, karena ia ingin mencari orang yang sudah membuat Ibunya lumpuh. Ia ingin membuat perhitungan.


Karena di dunia ini, hanya dengan memiliki sebuah kekuasaanlah orang bebas melakukan apapun, dipandang, dan diperhitungkan.


Kekuasaan akan membuat orang yang tadinya tak berpihak padamu, akan melakukan hal yang sebaliknya, terlepas dari niat baik atau buruk mereka.


Dan itu akan sangat membantu. Begitulah pikir Disha.


.......


.......


...🥀🥀🥀...


"Masuklah." Ucap wanita paruh baya yang tengah duduk di kursi roda itu.


Setelah samar mendengar suara yang menyuruhnya masuk, Disha pun masuk dengan senyumannya yang manis.


" Ibu sudah lebih baik?" Tanya Disha seraya memeluk sang Ibu.


"Tentu saja, Ibu selalu semakin membaik kalau ketemu sama Disha." Ucap Elea, Ibunya Disha.


Cukup lama berbincang berdua, Disha tiba-tiba murung memikirkan dirinya yang telah dipilih menjadi ahli waris perusahaan Mataya. Itu artinya, ia akan sangat jarang mengunjungi Ibunya mulai saat dirinya diperkenalkan di media nanti.


Memikirkan Elea akan selalu sendirian di kamar inapnya membuat hati Disha semakin sedih. Tak pernah ada yang berkunjung untuk melihat keadaannya, kecuali Pamannya, Marco.

__ADS_1


Tetapi setelah peristiwa di meja makan kapan lalu, Disha menemukan jawaban atas keheranannya. Memang tidak ada dari keluarganya yang mempedulikan keadaan Elea, selain Marco dan Belvina. Mereka bahkan berharap Elea segera mati karena tidak berguna lagi.


Ingin marah, tetapi memang begitulah keluarganya.


"Ada apa Disha?" Tanya Elea sambil membelai kepala putrinya.


"Bu, Setelah aku sah menjadi ahli waris nanti, apa Ibu tidak akan kesepian disini? Aku pasti sibuk dan takkan sempat melihat Inu." Ucap Disha berlinang air mata.


Melihat kekhawatiran putri sematawayangnya itu, Elea tersenyum lembut sambil mengelus pipi putrinya.


"Ibu baik-baik saja Disha. Ibu justru akan sangat senang kalau kamu fokus dengan perusahaan. Kamu kan selalu mengeluh karena kita selalu direndahkan oleh para paman dan bibimu, jadi ini adalah kesempatanmu untuk menunjukkan pada mereka. Pikirkanlah itu, sayang." Ucap Elea.


Disha mengangguk kecil. Ia tampak berpikir sejenak, lalu berkata, "Bu, bukankah aneh karena kakek tiba-tiba menunjukku sebagai ahli waris? Padahal selama ini sikapnya acuh tak acuh pada kita. Aku curiga kakek menyembunyikan sesuatu." Katanya dengan mata penuh kecurigaan.


Elea kemudian tersenyum lembut, katanya, "Mungkin ini adalah cara kakekmu memperbaiki kesalahannya. Dia ingin lebih dekat dengan cucu yang tak pernah dipedulikannya."


"Tapi.."


"Sudahlah Disha, jangan berpikir negatif. Lihatlah juga sisi positifnya. Ketika kau memikirkan sesuatu yang membuatmu bingung, jangan pernah melihat dari sisi negatif, pertimbangkan juga sisi positifnya. Dengan begitu, maka kau bisa membuat keputusan yang bijak." Nasehat Elea pada putrinya.


Disha mengangguk lalu tersenyum. Betapa senangnya ia ketika mendengar nasihat dari Ibunya.


"Ya, akan kuingat." Katanya.


"Berjanjilah pada Ibu kau hanya akan fokus pada pekerjaan dan tanggung jawabmu. Kau hanya boleh mengunjungiku setiap akhir pekan, apa kau mengerti?" Ucap Elea.


Meski tersenyum dan menyepakati perjanjian itu, Disha sebenarnya merasa sangat berat hati. Ia setuju karena ia pikir ini untuk kebaikan dirinya dan juga Ibunya.


Jika ia berhasil membawa perusahaan besar Mataya menuju kejayaan, itu artinya ia juga berhasil mengangkat derajat sang Ibu. Ibunya tak harus menderita lagi mendengar hinaan, dan tak harus merasa kesepian lagi.


"Dan satu hal lagi, berjanjilah kau tidak akan membangkang pada paman dan bibimu hanya karna kau ahli waris..." Mendengar kalimat Elea, wajah Disha berubah masam."... Bersabarlah seperti yang sudah kita lakukan selama ini." Ucap Elea menyelesaikan kalimatnya.


Disha tentu tidak terima, ia protes, "Apa yang sebenar—"


"Berjanjilah demi Ibu! Ibu tidak mau jalanmu semakin dihambat oleh mereka. Kau punya cara lain untuk membalas mereka nanti." Ucap Elea memotong kalimat putrinya.


Dan dengan kalimat itu, Disha tidak bisa membantah lagi. Meski sangat tidak terima, namun demi Elea, ia rela melakukan apapun.


.

__ADS_1


.



__ADS_2