
Disha membuka laptopnya lalu memasukkan flashdisk itu pada port laptopnya. Sebelum ia membuka file yang kebanyakan berjenis mp.3 itu, Disha berulangkali menarik napas dalam-dalam memperiapkan hatinya.
Satu per satu mulai dibukanya file itu, dan didengarnya baik-baik. Bahkan ia sampai menggunakan headset. Beberapa kali ia terlihat mengulang rekaman di menit dan detik tertentu. Mungkin karna suara rekamannya kurang jelas. Selama mendengar rekaman, Disha tak dapat menyembunyikan ekspresinya. Ia terlihat begitu terkejut saat mendengar setiap kata ancaman yang keluar dari mulut pamannya—Marco.
Marco terus mengancam dan terdengar sangat marah setiap kali keluarganya yang lain ingin menjenguk Ibunya—Elea Anevay. Tidak hanya itu, bahkan teman-teman Elea pun tidak diizinkan untuk menjenguk.
Kenapa Marco begitu? Disha tidak tahu alasannya.
Dari salah satu file video yang dibuka Disha, terlihat bahwa Marco sedang bertelepon di tempat yang sepi. Mungkin itu adalah koridor yang mengarah ke tempat kerja Marco. Disha tahu karna ia baru lewat dari situ.
Dari video itu, terlihat jelas bahwa Marco sedang berbicara dengan petugas medis rumah sakit. Dari seragam yang dikenakan petugas itu, jelas bahwa dia berasal dari tempat Elea dirawat. Terdengar samar suara Marco yang meminta agar Elea tidak diizinkan untuk pulang meski sudah sebaik apapun keadaannya. Siapapun diminta Marco untuk merahasiakan hal ini dari Disha.
Melihat dan mendengar isi video itu, Disha syok lagi, tanpa sadar ia berlinangan air mata. Ia tidak sanggup menerima kenyataan bahwa Pamannya—Marco—orang yang selama ini sangat baik padanya, mungkin akan berbalik menjadi orang yang tega menyakitinya. Apa Marco adalah musuh dibalik selimut?
Satu hal yang membuat Disha heran adalah, apa yang membuat Para Paman dan Bibinya yang ganas begitu takut dengan Marco, terutama Gerald—Kakek Disha. Kenapa mereka menurutinya secara cuma-cuma?
'Siapa sebenarnya Paman?' Tanya Disha dalam hatinya, mulai menaruh curiga.
Semakin ia ingin tahu mengenai pamannya itu, semakin misterius dia di mata Disha.
"Astaga..." Ucap Disha sambil menggusar rambutnya .
Tak
Disha langsung menutup laptopnya. Ia tidak sanggup membuka seluruh file itu, karena hanya akan membuat hatinya sakit dan kecewa. Ia ingin tetap berpikir positif, tetapi hatinya terlalu sakit untuk itu. Ya, semoga pemikirannya tentang Marco ini tidaklah benar.
.......
.......
...🥀🥀🥀...
(Dialog bercetak miring menggunakan Bahasa Inggris)
__ADS_1
Di Lain Hari, Kota X, Indonesia
Dari kejauhan, seorang wanita tampak sedang mengamati seorang pasien yang sedang bersantai di taman rumah sakit. Ia memperhatikan pasien itu dari dalam mobilnya. Ekspresinya tampak terkejut saat melihat keadaan orang yang sedang diawasinya sudah jauh lebih baik.
Tidak lama kemudian, ia mengambil handphonenya untuk menelepon seseorang.
"Halo." Sapanya pada seseorang di balik teleponnya.
"Ya, Ada apa Anastasya." Ucap orang itu yang ternyata adalah seorang pria.
"Aku sudah melihat wanita itu. Aku tidak tahu, entah bagaimana keadaannya semakin membaik akhir-akhir ini." Ucap Anastasya Verheoven, yang tak lain adalah istri Marco.
"Apa?! Bukankah sudah kukatakan tambah dosisnya setiap kau dapat kesempatan untuk masuk? Kapan terakhir kali kau memberinya racun itu?"
Anastasya menghela napasnya, lalu berkata, "Itu sekitar 2 bulan lalu."
"Apa?! Aku tidak memberimu waktu untuk berleha-leha dan menikmati hidupmu di sana! Segera akhiri hidupnya! Kita tidak punya banyak waktu! Bunuh Elea!!" Bentak pria itu dari balik handphone Anastasya.
"Maaf, akhir-akhir ini sepertinya Marco mencurigaiku dalam banyak hal, jadi aku tidak punya kesempatan yang seperti biasanya kulakukan." Ucap Anastasya gugup.
Anastasya terbelalak, ia terkejut akan kabar yang diberitahukan pria itu.
'Apa? Ba-bagaimana bisa dia ada di sini?' Benaknya.
Tubuh Anastasya gemetar, ia sangat takut membayangkan bila semua yang dilakukannya sia-sia dan perbuatannya ketahuan.
"A-aku akan segera menyelesaikannya." Ucap Anastasya.
Setelah itu, panggilan diputus oleh pria itu. Anastasya tidak dapat menutupi rasa takutnya. Ia berulang kali menghirup udara dan membuangnya untuk meredakan rasa takutnya.
Setelah itu, ia mengambil sebuah botol kecil berisi racun yang dalam beberapa tahun ini ia gunakan untuk meracuni Elea, agar tubuh Elea semakin hari mengalami kelumpuhan, malfungsi organ, dan kemudian mati. Ia ingin membunuhnya dengan cara perlahan, sesuai dengan "misi" yang diberikan padanya.
Sebenarnya lebih mudah bagi Anastasya untuk memberikan racun pada Elea beberapa bulan yang lalu, sebelum Marco melarang siapa pun untuk melakukan kunjungan.
__ADS_1
Dokter yang menangani Elea mengatakan bahwa kondisi Elea disebabkan oleh beberapa hal, dan kemungkinan yang paling kuat adalah, bahwa ada orang yang memberikan racun pada makanan Elea selama dirawat di rumah sakit.
Namun jejak si pemberi racun benar-benar bersih. Untuk itulah, sebelum pelaku berhasil ditangkap, Marco mencurigai siapa pun, tak terkecuali para perawat dan dokter yang menangani Elea. Hanya beberapa orang yang dipilih saja yang diizinkan menangani Elea.
Maka sejak saat itulah kebijakan Marco berlaku. Karena tempat Elea dirawat adalah rumah sakit miliknya, jadi Marco bebas memerintahkan apa pun.
Kemudian seiring berjalannya waktu keadaan Elea berangsur membaik. Marco tidak terlalu berambisi untuk menangkap pelakunya. Ia hanya ingin fokus untuk penyembuhan Elea dulu. Sampai sekarang ia masih melakukan upaya untuk penangkapan pelaku, hanya saja tidak seketat dulu.
"Aku akan membunuhnya hari ini juga!" Ucap Anastasya.
Setelah itu, ketika dilihatnya Elea sudah masuk ke dalam gedung rumah sakit, ia turun dari mobil untuk memulai aksinya.
Sesampainya di meja resepsionis, Anastasya disambut dengan senyuman ramah kedua wanita yang berjaga di sana.
"Nyonya Anastasya? Selamat pagi Nyonya, Anda sudah lama tidak kemari." Ucap resepsionis itu tersenyum ramah. Ia tentu saja mengenal Anastasya, istri pemilik rumah sakit tempatnya bekerja.
"Ya, selamat pagi. Aku ingin menjenguk Nyonya Elea Mataya." Ucap Anastasya setengah berbisik.
Resepsionis itu kemudian melihat ke sekelilingnya, ketika dirasanya aman, ia berkata, "Baik Nyonya. Saya akan menuliskan nama Tuan Marco, seperti biasanya." Ucap resepsionis itu mengedipkan sebelah matanya. Anastasya tersenyum, lalu resepsionis itu menuliskan nama Marco pada daftar kunjungan untuk Elea.
"Akan kuberikan imbalanmu setelah ini." Ucap Anastasya tersenyum sambil memukul pelan pundak resepsionis itu. Lalu ia bergegas menuju ruangan tempat Elea dirawat.
Seperti yang sudah diduganya, ada cukup banyak pengawal yang berjaga di luar ruangan Elea. Tetapi Anastasya sudah mempersiapkannya dari awal. Ini akan mudah, karena tidak ada orang yang tidak menyukai uang kan? Ada banyak orang yang rela membelot hanya karena uang. Jadi, Anastasya akan menggunakan cara kotor dengan mengandalkan uangnya. Ia sudah mengatur kesepakatan dengan kepala pengawal yang berjaga di sana, tentunya dengan bayaran yang sangat tinggi.
Anastasya menelepon kepala pengawal itu untuk memberitahunya bahwa misi mereka dimulai. Sementara Anastasya bersembunyi menunggu seluruh pengawal pergi, kepala pengawal tampak berbicara kepada para bawahannya yang sedang berjaga di sana.
Entah bagaimana caranya, tetapi kepala pengawal itu berhasil meyakinkan rekan-rekannya. Tidak ada satu pun dari mereka yang tinggal di depan pintu kamar Elea. Sudah dibilang kan, semuanya akan mudah jika kau punya uang! Begitulah pikir Elea sehingga ia menampakkan senyuman penuh kemenangan sekarang.
Setelah semua pengawal itu benar-benar menjauh dari ruangan Elea, Anastasya pun segera keluar dari persembunyiannya.
Behubung ini adalah waktu untuk makan siang, jadi ini adalah waktu yang tepat untuk menaruh racun di makanan yang akan diberikan pada Elea.
.
__ADS_1
.