
Pagi ini, Disha sudah berpakaian rapi dan tampak anggun. Sesuai apa yang sudah dibicarakan kemarin, hari ini adalah hari diadakannya konferensi pers untuk mengumumkan Disha sebagai pewaris sah Perusahaan Mataya.
Dalam waktu kurang dari 24 jam, Disha sudah sedikit berlatih dan mempersiapkan dirinya untuk konferensi pers ini. Ia harus bisa menunjukkan wibawa dan pengetahuannya mengenai perusahaan besar Mataya di depan media.
Namun perdebatan yang terjadi beberapa menit yang lalu di mansion Xander—tempat tinggalnya, lumayan mengganggu mood gadis itu.
Beberapa menit yang lalu...
Di Ruang makan yang mewah itu, para maid berbaris dan mempersiapkan hidangan untuk tuan mereka. Setelah semuanya sudah dipersiapkan dengan baik, mereka berbaris di sekeliling meja makan, bersiap untuk menerima perintah dan memenuhi keinginan tuannya.
Tidak lama kemudian, Disha yang sudah selesai berdandan datang bersama dengan kepala pelayan.
"Dimana Ayah?" Tanya Disha mencari Xander yang tak dilihatnya sejak bangun pagi.
"Tuan sudah berangkat lebih dulu, Nona." Jawab salah satu maid yang ada di sana.
Disha berjalan mengambil tempat duduknya, lalu ia berkata, "Ia melewatkan sarapan?" Tanyanya.
"Iya Nona, saya sudah meminta beliau untuk sarapan dulu. Tapi beliau menolak dan langsung pergi." Jelas maid itu.
Mendengar itu, Disha tersenyum kecut. Dalam hati ia berkata, 'Bilang saja dia membenciku. Dia selalu seperti itu.'
Disha mulai memakan makanan yang ada di piringnya. Meski makanan itu tampak manis, tapi lidah Disha hanya merasakan rasa hambar. Itu membuatnya tak berselera makan, jadi ia menyisakan sebagian besar isi piringnya. Lalu ia bangkit berdiri, menyelesaikan makannya dan berniat langsung pergi.
"Nona?" Ucap kepala pelayan yang heran kenapa Disha tak menghabiskan makanannya, padahal ia tidak pernah begitu.
"Aku tidak selera." Jawab Disha singkat.
"Anda akan kelaparan jika tidak mengisi perut Anda Nona. Lagi pula masih banyak waktu yang tersisa." Ucap sang kepala pelayan sambil menelisik jam di tangannya.
"Aku bisa makan di jalan jika itu terjadi—Aku berangkat." Ucapnya pamit lalu pergi meninggalkan ruangan itu.
Itulah yang terjadi. Dan sekarang, Disha sudah berada di dalam mobil bersama Pak Jay—sopirnya, dalam perjalanan ke Matayas Corp.
Drrt Drrtt
"Belvina?" Ucap Disha saat melihat nama sepupunya itu tertera di layar handphonenya.
Disha pun teringat bahwa ia harus mengabari Belvina tentang peristiwa di mansion kakeknya kemarin, ia lupa menceritakannya semalam karena buru-buru harus mempersiapkan segalanya.
"Halo Belvina." Sapanya.
__ADS_1
"Dishaa... kau lupa memberitahuku!" Ucap sepupunya dengan nada protes yang terkesan manja.
"Hehehe, iya maaf. Aku lupa."
"Yasudah gapapa. Jadi ada apa semalam?" Tanya Belvina.
"Eumm... begini, semalam mereka mengatur jadwal konferensi pers untuk mengumumkanku sebagai ahli waris perusahaan. Dan itu adalah hari ini. Jadi aku harus mempersiapkan diriku kurang dari 24 jam." Jelas Disha.
"APA?! Astaga... mereka keterlaluan. Kenapa harus terburu-buru begini? Bukankah itu aneh Disha?" Ucap Belvina meninggikan suaranya.
"Ya, dari awal semua ini memang aneh. Tapi aku juga tak bisa melakukan apa-apa. Padahal daripada aku, kupikir Paman Marco jauh lebih cocok jadi pewaris, dia kan juga anaknya, sudah banyak pengalaman pula." Ucap Disha sambil mengidikkan bahunya.
"Itu juga pertanyaanku, Disha, kenapa bukan anak-anaknya saja yang ditunjuk sebagai pewaris? Maksudku, kita cucu-cucunya ini belum banyak pengalaman dibanding anaknya kakek kan?" Kata Belvina dengan nada heran dan penuh penekanan.
"Entahlah Bel." Sahut Disha pasrah.
"Apa kau tidak mencoba bertanya pada Paman Xander? Paman Xander kan selalu ada di dekat Kakek?" Ucap Belvina memberi saran pada sepupunya itu.
Mendengar saran itu, Disha merasa tergelitik. Bagaimana mungkin ia bertanya pada anjing penjilat Gerald? Hanya buang-buang waktu dan tenaga!
"Tidak ada gunanya, Belvy—bagaimanapun aku akan ikuti alur permainan ini dulu—Ah, sepertinya aku akan tiba. Sudah dulu ya. Jangan lupa lihat aku di TV~ Byee~~" Ucap Disha memutus panggilan itu sambil tersenyum lembut.
Mobil yang ditumpangi Disha sudah tiba di pintu masuk utama perusahaan. Ada banyak wartawan dari berbagai media yang datang untuk meliput.
"Anda sudah siap Nona Disha?" Tanya Pak Jay sambil tersenyum melihat ke arah Disha.
Disha membalas Pak Jay dengan senyuman canggung, lalu berkata, "Entahlah Pak Jay, entah kenapa aku gugup sekali." Akunya.
"Semangat Nona, Anda pasti bisa!" Kata Pak Jay memberi semangat sambil mengepal tinjunya ke udara.
Disha tersenyum, kemudian dihirupnya udara sedalam mungkin untuk memasok oksigen ke paru-parunya. Itu adalah cara yang cukup efektif untuk menghilangkan rasa gugup.
Setelah itu, ia menagngguk kepada Pak Jay, memberikan tanda bahwa ia sudah siap.
Pak Jay kemudian turun untuk membukakan pintu Disha. Sementara Pak Jay turun, para wartawan sudah merapat, berlomba-lomba merebut posisi terbaik untuk mengambil foto Disha dan sekedar menyapanya. Untung saja para bodyguard Disha begitu cekatan menghalau para wartawan itu agar tidak melukai Disha.
Berbagai pertanyaan dilontarkan padanya, ada pula yang sekedar menyapa dan memuji kecantikan cucu pengusaha konglomerat itu. Dengan ramah dan sabar, Disha tersenyum dan meladeni mereka sebisanya.
Tidak beberapa lama kemudian, sampailah Disha di ruang yang dipilih sebagai tempat konferensi pers. Kakek, para paman dan bibi, beberapa sepupunya, dan juga para petinggi perusahaan lainnya tampak sudah duduk dan berkumpul di tempat itu.
Saat Disha berjalan menuju tempat duduk, flash kamera secara beruntun seolah menyerang dirinya. Meski matanya sangat sakit, ia tetap tersenyum dengan kepala tegak dan berwibawa.
__ADS_1
Dan konferensi pers pun berlangsung kira-kira menghabiskan waktu 30 menit. Berbagai pertanyaan diajukan kepada Gerald, selaku pemilik perusahaan Mataya. Selain itu peertanyaan-pertanyaan juga diberikan kepada Disha.
Dengan kemampuan Disha, ia selangkah berhasil membuktikan dirinya di depan keluarganya dan di depan orang banyak. Disha dinilai sangat cerdas dan pandai berbicara, selain itu ia juga dipuji karena kecantikannya.
.......
.......
...🥀🥀🥀...
Perusahaan Voltage
"Tuan Cedric, apa Anda sudah melihat berita?" Tanya Erwin pada Cedric yang sedang sibuk membaca berkasnya setelah selesai rapat beberapa saat yang lalu.
"Apa ada yang menarik?" Tanya Cedric tanpa melihat lawan bicaranya.
Sebelum Erwin menjawab pertanyaan Cedric, tiba-tiba Ariana berdiri dari tempat duduknya, menghampiri Cedric, kemudian berkata, "Perusahaan Mataya sudah menunjuk ahli waris, Tuan." Ucapnya sambil memberikan berkas yang sudah disusunnya rapi.
'Dia mau caper rupanya~'Benak Erwin. Ia tersenyum melihat tingkah Ariana barusan.
"Perusahaan Mataya? Milik Gerald itu kan?" Tanya Cedric memastikan. Kelihatannya berita itu cukup menarik bagi Cedric.
"Benar Tuan. Gerald Vin Mataya sudah menunjuk cucu perempuannya sebagai ahli waris." Jelas Erwin sambil tersenyum.
Mendengar apa yang dikatakan Erwin barusan, Cedric tiba-tiba saja tersenyum lalu tertawa kekeh. Tingkahnya itu membuat Ariana bingung sekaligus takut. Tak ada yang lucu, tapi tuannya itu malah tertawa puas.
Dan lebih anehnya lagi, saat Ariana melihat Erwin, ia juga menunjukkan sikap yang sama. Meski tidak sampai tertawa puas, tapi Erwin kelihatan tersenyum lalu tertawa pelan. Ariana jadi semakin takut melihat mereka berdua.
'Apa hanya aku yang merasa tak ada yang lucu?' Tanya Ariana pada dirinya sendiri.
Setelah Cedric kembali tenang, ia geleng-geleng pelan, lalu berkata, "Kakek tua itu cepat juga bertindak. Dia benar-benar licik. Hahaha..."
"Anda benar sekali Tuan. Kurasa ia melakukannya karena dihantui rasa takut." Sahut Erwin tertawa pelan.
'Aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.' Batin Ariana berusaha mencerna arah pembicaraan Cedric dan Erwin.
.
.
__ADS_1