
...Manusia diciptakan untuk berguna....
...Bukan untuk sempurna....
...-Ayudisha...
.......
.......
...🥀🥀🥀...
Pria tua itu menghela napasnya.
"Adakah yang menentang keputusanku ini selain Megan dan Jennifer?" Tanyanya.
"Aku juga tidak setuju." Jawab Ken, begitu pula dengan istrinya.
"Aku juga." Brian, suami Megan pun turut menjawab hal serupa.
"Bagaimana dengan kalian berdua?" Tanya pria tua itu pada Marco dan Anastasya.
"Aku tak masalah Yah. Menurutku Disha sangat layak di posisi itu" Jawab Marco.
"Ya, aku juga setuju." Sambung Anastasya.
"Lalu, sebagai Ayahnya, bagaimana pendapatmu Xander?" Tanya pria tua itu.
"Aku akan mengikuti perintah Ayah." Jawab Xander sambil tertunduk, walaupun sebenarnya hati kecilnya sangat tidak rela jika putrinya yang menjadi ahli waris Mataya Group.
"Bagi kalian yang tak setuju, kalian boleh keluar dari anggota keluarga Mataya. Aku dengan senang hati melepas kalian." Tegas Tuan Besar Mataya itu.
"Baiklah, Terakhir, aku akan bertanya padamu Disha. Apa kau setuju dengan keputusanku?" Sambung Tuan Besar Mataya bertanya.
Disha tidak langsung menjawab. Ia memandang ke arah Marco.
Saat mereka bertemu pandang, Marco mengangguk, menyuruh Disha agar tidak perlu ragu mengiyakan keputusan itu. Tetapi, kemudian pandangan Disha mengarah pada Ayahnya. Saat pandangan mereka bertemu, Xander malah membuang mukanya.
Melihat itu, hati Disha terasa teriris.
'Sebenarnya siapa yang Ayahku...?' Ucapnya sendu dalam hati membandingkan kedua sosok yang dilihatnya.
"Aku menolaknya Kakek. Maaf..." Tolak Disha dengan tegas dan penuh keyakinan.
Rasa puas jelas tergambar di wajah para Paman dan Bibi Disha yang lainnya, namun tidak dengan Ayahnya, Xander.
Xander memang senang atas penolakan itu, tetapi daripada perasaan senang, ia lebih takut jika kakek Disha sampai marah besar.
"Yah, sepertinya Disha masih butuh waktu untuk memikirkannya." Ucap Xander takut-takut.
__ADS_1
"Tidak masalah, aku bisa memberimu waktu, Disha." Jawab Tuan Besar Mataya itu.
"Tidak Kakek, aku sudah sangat yakin atas keputusanku."
"Kenapa kau menolaknya?" Tanya sang Kakek dengan suara tertahan berusaha mengendalikan amarahnya.
"Aku setuju dengan ucapan para Paman dan Bibi. Kurasa sepupuku yang lainnya lebih layak." Jawab Disha jujur.
Mendengar itu, Paman dan Bibi Disha yang lainnya sekali lagi tersenyum puas melihat keponakan yang sadar diri itu.
"Hahh, dengarkan aku. Hadiah itu hanya dalihku. Dari awal, makan bersama ini diadakan memang untuk membahas ahli waris. Dan dari awal, aku sudah menetapkanmu sebagai ahli warisku, Ayudisha Findy Mataya. Apa sekarang kalian semua paham?" Jelas Tuan Besar Mataya dengan tegas.
Tampak raut wajah penolakan dari para Paman dan Bibi Disha yang lainnya, mereka ingin protes, tetapi sang Ayah bersikeras tidak menerima penolakan apapun.
Lain halnya dengan Marco dan Anastasya. Marco justru menampakkan senyumannya, sementara Anastasya hanya berekspresi datar.
"Kalau begitu, kenapa Kakek malah memilihku? Tolong jelaskan agar aku bisa mengerti." Tanya Disha penuh selidik.
Ia tahu siapa keluarganya, ia hanya tak ingin dimanfaatkan apalagi dipermainkan oleh keluarganya yang super licik itu.
"Karena kau berbeda." Jawab sang Kakek.
'Sungguh penjelasan yang sangat jelas.' Sarkas Disha dalam hatinya.
"Tentu saja dia berbeda, dia yang paling tak berkompeten di antara para cucumu." Ucap Jennifer dengan volume suara yang sengaja dikuatkannya.
Disha menatap Xander. Ia ingin lihat, apa reaksi yang diberikan Ayahnya kali ini. Hati kecilnya sedikit berharap sang ayah akan memberi pembelaan untuknya di depan keluarganya yang lain.
'Ahh, apa sih yang kuharapkan dari Ayah?' Pikir Disha setelah melihat Xander hanya bisa menunduk berpura-pura sibuk dengan makanannya.
Tak heran kenapa keluarganya sendiri begitu sepele padanya, bahkan tega mencaci maki, merendahkan, atau berbuat kasar padanya. Itu karena Disha tak pernah mendapat pembelaan apa pun dari orang tua kandungnya.
Ibunya sedang sakit, sementara Ayahnya seperti sekarang ini, hanya bisa diam menyaksikan penghinaan untuk Putrinya sendiri.
Satu-satunya orang yang peduli di keluarganya hanya Pamannya, Marco. Dan tentu saja juga ada sepupunya, Belvina.
Menyaksikan semua itu, sesuatu dalam hati Disha bangkit membara. Tiba-tiba ada niat kuat untuk membalas perbuatan keluarganya itu.
'Tidak, ini adalah kesempatanku untuk membuktikan pada mereka. Ya, aku akan membuktikan pada kalian, aku akan membungkam kalian!' Tekadnya dalam hati.
"Baiklah Kakek, aku menerimanya." Ucap Disha.
Mendengar itu, Tuan Besar Mataya tersenyum puas, begitu pula dengan Marco.
"Cih, dasar tak tau diri." Sarkas Jennifer.
Dengan penuh amarah, ia pergi meninggalkan ruangan itu tanpa berpamitan.
"Jennifer! Dimana sopan santunmu?!" Teriak Marco.
__ADS_1
"Sudahlah Marco, biarkan saja anak itu pergi." Ucap Tuan Besar Mataya.
Setelah kepergian Jennifer, Ken dan Megan serta sepupu Disha yang lainnya juga ikut pamit pergi meninggalkan tempat itu. Mereka enggan mengikuti acara makan bersama itu hingga benar-benar selesai.
Mood mereka langsung turun drastis ketika Disha ditunjuk sebagai ahli waris Mataya Group, salah satu perusahaan terkemuka di Asia, bahkan namanya sudah dikenal hingga benua Eropa.
Tuan Besar Mataya kemudian memberikan berkas ahli waris yang perlu ditandatangani oleh Disha. Kemudian Disha pun menandatanganinya.
"Meski tidak disaksikan oleh Paman dan Bibimu yang lain, keputusan ini tetap dihitung sah. Aku akan mengumumkannya sesegera mungkin. Paling lambat 6 bulan kemudian akan diadakan pesta untukmu, jadi bersiaplah." Ucap Tuan Besar Mataya itu dengan senangnya.
"Baiklah, acara makan bersama ini kita akhiri sampai di sini." Tambah pria tua itu lagi sebelum akhirnya meninggalkan tempat itu.
.......
.......
...***...
...—Milan, Italia—...
...***...
(Dialog dan Monolog yang bercetak miring menggunakan Bahasa Italia.)
Seorang pria tampan penuh pesona yang sering dipanggil Ello itu, sekarang tengah duduk di kursi santainya menyesap kopi.
Dia duduk dengan santai, sementara ia dikelilingi oleh para anggotanya yang berjaga di setiap sudut ruangan yang luas itu.
Ia merogoh saku jas yang dikenakannya, mencari sisa cerutu yang ia punya. Tampaknya kopi tak cukup untuk menenangkan pikirannya. Mungkin sebentar lagi ia akan segera menyusul Romano menjadi pecandu rokok.
Setelah merogoh sakunya, bukan cerutu atau pemantik yang didapatnya, melainkan secarik lipatan kertas. Setelah mengingat-ingat asal-usul kertas itu, hatinya kembali memanas.
Ello menggenggam kuat kertas itu hingga membentuk bola kecil, lalu membuangnya asal.
Benar, kertas itu adalah surat yang ditinggalkan oleh orang yang paling dibenci Ello, musuh bebuyutannya. Sepucuk surat yang berhasil mengelabui seorang Ello.
Ingatan tentang isi surat itu kembali terlintas di kepalanya :
Lama tak melihatmu Ello. Kau sudah bertumbuh dengan sangat baik. Aku akan datang ke perayaan ulang tahun sahabatku, ahli waris Dimian Group. Tidakkah kau merindukanku? Mari kita selesaikan urusan kita di sana. Sampai jumpa di kota Venice.
"Dasar D'Layola sialan!!" Umpat Ello menggusar wajahnya kasar.
Mungkin karena emosi dan dendam yang terlalu menguasainya saat itu, makanya ia tidak bisa berpikir jernih dan begitu saja mempercayai isi surat itu.
Sungguh sangat membuang waktunya.
.
.
__ADS_1