
Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Pengunjung di coffee shop pun sudah tidak terlihat lagi. Mira dan dua orang pegawai yang lain terlihat merapikan dan closing coffee shop.
"Fajar, kamu coba cek bahan-bahan apa yang hampir habis. Septi, kamu hitung jumlah uang di kasir. Biar saya yang menutup rolling door dan membereskan meja kursi. Baru nanti saya menulis pembukuan," perintah Mira.
"Baik bu," jawab keduanya sambil melaksanakan apa yang diperintahkan Mira.
Setengah jam berlalu, mereka pun telah selesai closing. Setelah itu mereka pun keluar dari coffee shop dan bersiap pulang ke rumah masing-masing.
"Hati-hati ya kalian dijalan. Kalau besok saya lambat, buka aja seperti jam biasa ya. Soalnya saya mau membeli bahan-bahan yang sudah mau habis," pesan Mira.
"Baik bu. Kalau begitu kami permisi duluan," kata Septi.
Mira pun mengambil sepeda motornya dan kemudian meninggalkan parkiran coffee shop.
***
Tiba di rumah, Mira melihat Agus, mantan suaminya berada di pelataran rumahnya sambil menghisap rokoknya,
"Lah abang kok disini? Kenapa nggak ngasih kabar? istri abang mana?" tanya Mira.
"Abang cuman sendiri kesini. Karena ada perlu sama kamu dik," jawab Agus.
"Kalau begitu kita bicarakan didalam saja bang," Mira mengajak masuk mantan suaminya.
Setelah didalam rumah tepatnya di ruang tamu, Mira pun membuka pembicaraan, "Jadi apa yang mau abang bicarakan?"
Dengan menghela nafas yang dalam, Agus pun mulai bercerita, "Begini dik, si Ribka habis kena tipu orang dalam arisan online. Ternyata uang buat bayar kredit rumah dia pakai selama dua bulan. Dan besok pihak bank akan datang kerumah. Kedatangan abang kesini bermaksud mau pinjam duitmu dik. Abang cicil selama tiga bulan kok."
"Berapa banyak bang?" tanya Mira.
"Sekitar 5 juta dik," jawab Agus.
"Hmm, kalau segitu aku nggak punya bang. Gajiku saja cuman 2 juta di cofee shop," kata Mira.
"Tolonglah dik," pinta Agus.
"Benar-benar minta maaf bang. Memang kalau sekarang aku megang duit, tapi itu duit kas dari coffee shop untuk bayar gaji pegawai disana juga untuk beli bahan yang sudah mau habis. Kecuali besok aku minta tolong sama temanku," kata Mira.
Tiba-tiba Agus memaksa mengambil tas Mira dan menemukan amplop tebal yang berisi uang. Dia pun mengambil uang didalam amplop itu sebanyak 6 juta.
"Tolong bang kembalikan duit itu. Nanti aku susah membeli keperluan coffee shop," pinta Mira sambil terisak-isak.
"Kamu kan bisa minjam sama temanmu besok. Kuganti kok dalam tiga bulan ini. Masa kamu nggak mau bantu abang yang merupakan ayah dari anakmu. Ya udah aku pulang dulu," kata Agus sambil mengeloyor pergi meninggalkan Mira.
Tangis Mira makin menjadi-jadi setelah kepergian Agus sampai anak kandung Mira terbangun dan melihat ibunya menangis. Dengan segera ia mendekati Mira dan berkata, "Ibu kenapa? Bertengkar dengan ayah ya. Mana ayah tadi bu?"
Mira pun memeluk lelaki kecil darah dagingnya itu dan berkata, "Ibu nggak bertengkar dengan ayah kok."
"Tapi kenapa ibu sampai nangis?" tanya sang anak penasaran.
"Saat ini kamu masih belum mengerti nak. Yang pasti ibu nggak kenapa-kenapa kok," jawab Mira.
"Ayah jahat bu, membuat ibu menangis seperti ini. Aku benci sama ayah," kata sang anak.
"Kamu nggak boleh membenci ayahmu. Biar bagaimanapun dia adalah ayah kandungmu," nasehat Mira.
"Harusnya dia sayang sama ibu. Nggak ninggalkan kita dan pergi sama tante itu. Bahkan sekarang membuat ibu menangis," jawab anak Mira semakin berang.
__ADS_1
Mira pun memeluk tubuh anaknya dan berkata pelan, "Sudahlah. Yang penting ibu minta sama kamu, jika besar nanti jangan seperti ayahmu. Ayo sekarang lanjut tidurnya. Ibu mau mandi dulu."
Sang anak pun melepaskan pelukan Mira dan mencium keningnya, kemudian pergi menuju ke kamarnya. Mira pun bangkit berdiri menuju ke kamar mandi.
Setelah selesai mandi dan berpakaian, Mira pun mengambil ponselnya,
"Apakah aku harus mengatakan ini kepada Riana? Sebaiknya jangan. Riana lagi fokus menjaga mertuanya. Mungkin aku harus minta tolong Selvi atau Tiara," gumam Mira dalam hatinya sambil membuka WhatsApp nya untuk melihat siapa yang masih online. Ternyata Tiara masih online. Dengan segera Mira mencoba menelepon Tiara. Dan ternyata Tiara mengangkat telepon Mira,
📞"Assalamualaikum Mir, Tumben jam segini telepon kemari?"
📞"Waalaikumsalam...Gini Ra, Aku boleh nggak minta bantuan?"
📞"Bantuan apa Mir?"
📞"Tadi waktu aku pulang dari coffee shop, Mantan suami ku datang ke rumah."
📞"Hah... terus?"
📞"Dia katanya perlu uang. Istri barunya habis ditipu arisan online dan kebetulan uang bayar kredit rumah yang dipakai."
📞"Lah terus apa urusannya sama kamu? Kan dia suaminya. Dia yang memilih perempuan itu dan bercerai denganmu."
📞"Iya sih. Tapi tadi dia merebut tas ku dan mengambil uang didalamnya untuk bayar gaji karyawan dan beli bahan yang sudah hampir habis."
📞"Dia ngambil semua Mir?"
📞"Nggak Ra, Dia ngambil 6 juta."
📞"Kriminal sudah itu Mir. Laporkan saja ke polisi. Riana tahu?"
📞'Riana nggak tahu. Karena aku nggak mau Riana tahu. Kasihan dia sudah punya beban, Nggak mungkin aku tambah bebannya. Trus nggak mungkin lah ku laporkan bang Agus ke polisi. Biar bagaimanapun, dia ayahnya anakku."
📞"Begini, aku boleh nggak pinjam duitmu 500 ribu buat besok ganti uang yang dipakai bang Agus."
📞"Nah kebetulan kalau duit segitu aku lagi nggak punya. Coba kita tanya Selvi."
📞"Nggak enak ah Ra. Kan Selvi baru saja kena musibah."
📞"Tapi apa salahnya kan dicoba dulu. Atau aku dulu yang bicara sama Selvi. Kalau Selvi bisa menolong, nanti kita teleponan bertiga."
📞"Oke deh Ra. Berarti nih kututup dulu teleponnya?"
📞"Iya Mir."
📞"Oke."
Telepon pun ditutup. Sambil menunggu kabar dari Tiara, Mira pun berdoa dalam hatinya,
"Ya Tuhan, bantu hambaMU ini agar bisa mendapatkan uang untuk mengganti yang diambil bang Agus tadi. Amin..."
Tak berapa lama, ponsel Mira berbunyi. Ternyata itu panggilan dari Tiara. Dan kontak Selvi pun ada dipanggilan itu. Segera Mira mengangkat teleponnya,
📞"Halo..."
📞"Halo Mir. Tadi Tiara sudah bilang masalahmu ke aku."
📞"Maafkan aku ya Sel, jadi merepotkan kalian berdua."
__ADS_1
📞"Lha kita kan sahabat. Kita adalah 5 Dara. Seperti motto kita, saat susah kita bersama menghadapi, saat senang kita bersama merasakan."
📞"Bener tuh yang dikatakan Selvi, Mir. Selama kami bisa, kami akan bantu."
Sambil menangis haru, Mira pun melanjutkan percakapan teleponnya,
📞"Terimakasih ya buat kalian sohib-sohib terbaikku."
📞"Oh ya Mir, Kata Tiara, kamu perlunya 6 juta ya? Kebetulan di tabunganku ada dananya. Kalau mau kutransfer sekarang, aku minta nomor rekening mu."
📞"Sebentar Sel, Aku cari dulu buku tabunganku buat melihat nomor rekeningnya."
Mira pun bergegas mencari buku tabungannya di laci mejanya. Setelah dapat, Mira langsung mengetikkan nomor rekeningnya.
📞"Itu Sel nomor rekeningnya sudah ku kirim di pesan WhatsApp."
📞"Oke Mir, habis ini ku kirim ya. Aku matikan dulu ya teleponnya."
📞"Oke Sel. Makasih banyak ya..."
📞"Sama-sama Mir."
Selvi pun menutup panggilan. Tersisa Mira dan Tiara di telepon,
📞"Tiara..."
"Iya Mir..?"
📞"Aku berterimakasih banget ya sama kamu karena dah bantu ku."
📞"Lha, berterimakasihnya ke Selvi lah Mir. Aku kan cuman mengasih tahu dan menghubungkan aja."
📞"Ya tetap juga aku harus berterimakasih kepada dirimu juga."
📞"Namanya sahabat pasti akan saling bantu. Aku lanjut tidur ya Mir, besok ada jam ngajar mata kuliahku."
📞"Oke Ra, Met istirahat ya. Sekali lagi terimakasih. Assalamualaikum..."
📞"Masama Mir. Waalaikumsalam..."
Telepon pun ditutup. Tak lama kemudian masuklah pesan dari Selvi yang menunjukkan kalau transferan nya berhasil. Mira pun segera menelepon Selvi,
📞"Halo Mir, Itu udah ku kirim ya."
📞"Iya Sel. Nanti aku janji mengembalikan secepatnya."
📞"Halah, kayak dengan orang lain aja. Yang penting kalau dirimu mau ngembalikan, cukupkan dulu kebutuhan dirumahmu. Aku santai aja kok."
📞"Makasih banyak ya Sel."
📞"Sama-sama Mir. Oh iya, Aku lanjut mau istirahat dulu ya. Besok kan mau ke kantor."
📞"Iya Sel. Met istirahat ya..."
📞"Met istirahat juga Mir..."
Panggilan telepon pun terputus. Wajah Mira kembali tersenyum dan bersyukur. Tuhan telah mengabulkan doanya. Mira pun merebahkan tubuhnya ke kasur dan tidur.
__ADS_1
***