Nuansa 5 Dara

Nuansa 5 Dara
Bertemu Seseorang


__ADS_3

Riana dan Mira sudah sampai di coffee shop. Mereka pun masuk kedalam dan duduk sebentar,


"Ri, Kasihan kulihat Selvi dengan permasalahannya ini. Seharusnya dia dapat tunangan yang baik, ini malah dia diselingkuhi oleh cowoknya. Malah dengan sahabatnya sendiri pula. Pas ketahuan, malah dia diculik dan hampir diapa-apain lelaki jahat itu," kata Mira membuka pembicaraan.


"Jangan lupakan juga perasaan Tiara. Dia juga korban dan dia juga sangat terpukul dengan kejadian ini," balas Riana.


"Yup, aku kesal setengah mati dengan lelaki jahat itu. Untung dia sudah mati. Tapi Rachel juga ikut jadi korban disini," ucap Mira dengan sedih.


Sambil mengambil tas nya, Riana pun berkata, "Oh ya Mir, rasanya stok gelas dan stok bahan buat coffee shop kita hanya sampai seminggu ini. Kamu bisa kan membelikan stok barang? Nanti aku kasih uangnya. Sekalian nanti bayarin gaji karyawan yang lain. Kan bentar lagi mereka gajian."


"Lah, emang kamu mau kemana Ri?" tanya Mira.


"Aku mau ke rumah mertua dengan suami ku. Mamah nya suami lagi sakit di kampungnya," jawab Riana.


"Trus anak-anak gimana?"


"Kan ada pembantu dan sopir di rumah. Jadi mereka tinggal. Soalnya kan mereka masih harus masuk sekolah," sahut Riana.


"Oke lah kalau begitu Ri. Emang kapan rencananya kamu berangkat?" tanya Mira.


"Sore ini. Makanya ini kukasih dulu duitnya sekitar 15 juta," jawab Riana sambil menyerahkan amplop berisi uang kepada Mira.


"Oke deh Ri. Berarti nanti hati-hati ya di jalan. Oh ya, kira-kira berapa lama kamu disana?" tanya Mira.


"Mungkin sekitar seminggu sampai sepuluh hari. Menunggu kesehatan mertua ku pulih dulu," jawab Riana.


"Oke sip. Aku akan urus disini sampai kamu balik."


"Makasih banyak Mir. Kalau begitu aku cabut dulu. Mau ke rumah buat persiapan berangkat," pamit Riana.


Riana pun pergi meninggalkan coffee shop menuju rumahnya untuk bersiap-siap. Mira pun menuju meja bartender untuk kembali bekerja.


Tak berapa lama kemudian datanglah Tiara dan Selvi ke coffee shop.


"Hai Mir, kami pesan kopi biasa yang waktu itu," kata Tiara sambil menscan barcode pembayaran.


"Sip Ra, Kamu sama juga kan Sel?" tanya Mira kepada Selvi.


Selvi hanya mengangguk dan mereka pun menuju ke meja menunggu pesanan diantar.


Tak lama kemudian Mira membawakan pesanan mereka dan ikut nimbrung bersama Selvi dan Tiara.


"Oh ya Mir, Riana mana?" tanya Selvi.


"Riana barusan pulang kerumah. Katanya sore ini mau ke kampung halaman suaminya, Ibu mertuanya sakit," jawab Mira.


"Sakit apa mertuanya Riana?" tanya Selvi lagi.

__ADS_1


"Kurang tahu sih Sel. Yang pasti Riana disana antara seminggu sampai sepuluh harian sampai kondisi ibu mertuanya pulih," sahut Mira.


"Coba mertuanya Riana dibawa kesini aja ya. Jadi bisa Riana menjaga dan bersama mertuanya," kata Tiara.


"Mungkin mertuanya masih betah di kampung halamannya. Kayak bapak ibu ku yang nggak mau meninggalkan kampungnya dan ikut aku kesini. Katanya banyak kenangan di kampung," jawab Mira lagi.


"Iya juga sih. Kan kenangan mereka disana dan kalau disini mungkin masih terasa asing bagi mereka," ujar Selvi.


"Oh ya Sel, boleh nggak dengar kronologis dirimu sampai diculik tempo hari?" tanya Mira.


Selvi pun menghela nafas panjang dan mulai bercerita, "Ceritanya aku pulang dari kantor malam itu. Trus Rachel menelepon mau tahu cerita waktu kita membongkar kebusukan Yudi disini waktu itu. Nah, tiba-tiba ditengah jalan dekat kompleks perumahan, ada mobil yang menghalangi jalan mobil ku dan berhenti tepat di depan mobilku. Awalnya sih Rachel melarangku untuk keluar mobil, tapi karena aku bisa jaga diri, aku keluar dari mobil. Dan tiba-tiba ada seseorang yang mukul dari belakang sampe aku pingsan."


"Trus?" tanya Mira.


Selvi pun melanjutkan ceritanya, "Setelah aku sadar, ternyata aku sudah berada di sebuah gudang dengan tubuh terikat dan mulutku di tutup lakban. Ada beberapa orang yang kulihat. Nah setelah itu datang si lelaki jahat itu dan mendekati aku dan memaksa untuk memperkosaku. Untungnya Rachel dan polisi yang lain datang disaat yang tepat dan menyelamatkan ku walaupun imbasnya Rachel terkena peluru waktu si Yudi mau menembak ke arahku."


"Emang kurang ajar laki-laki itu. Untung dia sudah mati karena perbuatannya sendiri," kata Tiara dengan kemarahan yang berapi-api.


Tak lama kemudian datanglah dua orang laki-laki yang hendak minum kopi. Ketika salah seorangnya melihat Tiara, langsung mendekati dan menyapa Tiara.


"Bu Tiara disini juga ya?"


"Iya Dani," jawab Tiara kepada seseorang yang menyapanya yang ternyata adalah mahasiswanya.


"Kamu ingat siapa aku ya, Tiara?" tanya seorang lagi.


"Wah masih ingat juga dirimu. Hehehe..." kata seseorang yang bernama Heru.


"Iya dong. Ngomong-ngomong, kenapa dirimu bersama Dani?" tanya Tiara.


"Dani ini adikku. Kebetulan aku baru datang dari luar kota dan dia ngajak aku nongkrong. Eh ternyata ketemu kamu disini," jawab Heru.


Selvi dan Mira saling berpandangan melihat kejadian ini. Ketika Tiara melihat ke arah mereka, Tiara pun memperkenalkan Heru dan Dani kepada mereka berdua.


"Kenalin ini Heru teman SMP ku dulu dan ini Dani adiknya, mahasiswa di kampus tempat aku ngajar," kata Tiara memperkenalkan mereka.


Merekapun saling berkenalan dan berjabat tangan.


"Oh ya, silakan duduk disini. Kalian berdua mau pesan apa?" tanya Mira.


"Abang mau pesan apa? aku mau Latte," kata Dani.


"Aku ngikut pesananmu aja de," jawab Heru.


"Oke, saya buatkan pesanannya ya," kata Mira sambil pamit untuk membuatkan pesanan mereka berdua.


Setelah duduk, Heru pun berkata, "Kok cuman diperkenalkan sebagai teman sih?"

__ADS_1


"Lha terus mau dikenalin sebagai apa?" tanya Tiara sewot.


"Kan dulu aku pernah menembakmu walaupun jawabannya ditolak," kata Heru sambil tersenyum.


"Nah kan ditolak. Berarti kan masih tetap jadi teman," balas Tiara dengan muka yang memerah.


"Iya ditolak dengan alasan masih kecil belum boleh pacaran. Padahal aku naksir berat waktu itu," kata Heru lagi.


Selvi pun sedikit tertawa mendengar jawaban Heru sambil melirik kearah Tiara.


"Apaan sih Sel..." gerutu Tiara sambil mencubit tangan Selvi.


"Idih... sakit tahu Ra," kata Selvi.


"Habisnya elo kayak ngejek aku," balas Tiara kesal.


"Lah, aku nggak ngejek dirimu Ra," kata Selvi membela diri.


"Oh ya Tiara. Sekarang berapa anakmu?" tanya Heru.


"Masih lajang dia mas," celutuk Selvi.


"Wah sama dong. Aku juga masih lajang. Boleh nih kembali menyukaimu," kata Heru.


"Apaan sih," balas Tiara sewot.


Tak lama kemudian, datanglah Mira sambil membawakan pesanan Heru dan Dani. Melihat rona wajah Selvi yang memerah, Mira pun bertanya, "Ada apa sih. Kayaknya boleh kan diriku sedikit tahu?"


"Gini Mir, ternyata mas Heru ini cinta pertamanya Tiara," canda Selvi.


"Mana ada. Jadian aja nggak," bantah Tiara disambut tertawa kecil dari Mira.


"Nggak kok mbak, kami dulu teman sebangku waktu SMP aja. Memang sih saya pernah menembak dia, tapi kena tolak," Heru menjelaskan.


"Oh... Tapi kalau sekarang, masih ada rasa nggak?" tanya Mira.


Heru pun menjawab, "Ya kalau rasa sih masih ada. Namanya juga cinta pertama. Tapi kan harus mengenal dulu lebih lama dan dalam. Soalnya lama nggak ketemu lagi. Oh ya Tiara, boleh nggak aku minta nomor WhatsApp mu?"


"Buat apa? Mau diguna-gunai ya?" tanya Tiara dengan ketus.


"Nggak lah. Namanya kan ketemu teman lama. Urusan yang lain lihat kedepannya aja," jawab Heru.


Tiara pun mengeluarkan ponselnya dan menyuruh Heru scan barcode pertemanan WhatsApp nya.


Dengan cepat Heru pun mengambil ponselnya dan menscan barcode whatsapp milik Tiara. Setelah itu berkata, "Terimakasih Tiara."


Merekapun melanjutkan mengobrol hingga tidak terasa siang telah berganti sore dan mereka berpisah satu sama lain.

__ADS_1


***


__ADS_2