Nuansa 5 Dara

Nuansa 5 Dara
Identitas Stevan


__ADS_3

Stevan sedang duduk di sebuah tempat persinggahan di sebuah minimarket. Ia sedang bersama dengan adik perempuannya yang bernama Gabriel yang entah angin apa mendatanginya hingga menemui abang tersayangnya. Mereka pun bersantai sambil minum minuman dingin.


"Bang, Sampai kapan abang bermain sandiwara ini?" tanya Gabriel.


"Sampai aku benar-benar yakin kalau Selvi memang yang terbaik buat ku" jawab Stevan.


"Tapi bang, banyak loh diluar sana cewek-cewek cantik yang bisa kamu jadikan pacar," sahut Gabriel.


"Tapi Selvi ini kan pilihan mamah. Katanya kan mamahnya Selvi dan mamah sudah menjodohkan kami mulai lahir. Ya supaya menyenangkan hati mamah, Abang pasti mengikuti kemauan mamah," balas Stevan.


"Sekarang Abang senang nggak dengan kak Selvi?" tanya Gabriel lagi.


"Yang pasti abang kagum dengan dia. kagum dengan kepribadian nya, kecantikan nya, dan persahabatan nya. Walaupun sih dia sama bawelnya kayak adikku satu ini, tapi aku suka," kata Stevan.


"Emang bucin dah abang ku. Trus bagaimana dengan nasib perusahaan mu bang?" tanya Gabriel.


"Kan ada kamu. Jauh-jauh ku sekolahkan kamu di Amrik sana masa kamu gak bisa menghandle perusahaan?" balas Stevan.


"Iya... iya... aku bisa handle kok. Tapi kan wajar aku nanya sampai kapan," ucap Gabriel.


"Sampai aku bisa mendapatkan hatinya Selvi tanpa dia melihat apa yang ku punya,"Β kata Stevan dengan mantap.


Tak lama kemudian, ponsel Stevan berdering. Ia pun mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelepon. Ternyata mamahnya Selvi,


πŸ“ž"Halo tante..."


πŸ“ž"Stevan lagi dimana?"


πŸ“ž"Lagi nongkrong di minimarket bersama adik saya, tante..."


πŸ“ž"Boleh nggak Stevan dengan adiknya datang kerumah tante. Kebetulan mamahmu juga disini."


πŸ“ž"Oke tante, 15 menit lagi Stevan sama Gabriel ke rumah tante."


πŸ“ž"Oke Stevan. Tante tunggu ya..."


Telepon pun dimatikan.


"Dari siapa bang?" tanya Gabriel.


"Dari mamahnya Selvi. menyuruh kita kerumahnya. Katanya juga mamah ada disana," jawab Stevan.


"Kalau begitu ayo kita kesana sekarang," ucap Gabriel.


Mereka pun akhirnya bersama-sama pergi ke rumah Selvi.


***


Sesampai di rumah Selvi, Stevan dan Gabriel pun bertemu dengan mamahnya Selvi dan juga mamah mereka sendiri. Mereka pun menyalami kedua orang tua itu dan duduk bersama mereka.


"Ada apa tante jadi menyuruh kami datang kesini? Sampai ada mamah lagi?" tanya Stevan.


"Begini Stevan, kan minggu depan Selvi ulang tahun. Kan rencana tante, ulang tahun Selvi dirayakan. Gimana kalau sandiwara ini berakhir pada saat itu, dan kamu tampil sebagai seorang bos seperti biasanya," kata mamah Selvi.


"Terus, kalau Stevan sudah membuka penyamaran, selanjutnya apa lagi tante?" lagi-lagi Stevan bertanya.

__ADS_1


Mamahnya Selvi pun melanjutkan mengatakan rencananya, "Setelah itu tante memperkenalkan kamu menjadi calon suami Selvi."


"Waduh tante, apakah nggak terlalu cepat?" tanya Stevan.


Mamahnya Selvi pun menjawab, "Tenang... tante sudah menyiapkan skenario nya. Tapi tante boleh tahu nggak. Apakah nak Stevan memang benar-benar suka dengan Selvi anak tante?"


Mendengar pertanyaan itu wajah Stevan yang berkulit putih tiba-tiba memerah. Sambil menjawab, "Sebenarnya Stevan sangat suka dengan Selvi. Bahkan boleh dikatakan jatuh cinta. Tapi Stevan takut kalau-kalau cinta nya Stevan cuman bertepuk sebelah tangan."


"Kalau melihat dari sikap dan tatapan Selvi, tante rasa dia suka juga dengan kamu," ucap Mamah Selvi.


"Dari mana tante tahu?" tanya Stevan lagi.


Dengan tersenyum, mamahnya Selvi pun menjawab pertanyaan Stevan, "Selvi itu kan anak tante. Ya sudah pasti lah mamahnya tahu apa yang ada dalam benaknya Selvi."


"Jadi perjodohan anak kita ini didukung sepenuhnya sama anak-anak ya jeng," kata mamahnya Stevan.


"Iya jeng. Nggak salah kalau kita dulu menjodohkan anak-anak kita. Untung aja gak seperti Siti Nurbaya ya... He-he-he..." balas mamahnya Selvi.


"Iya jeng. Ternyata anaknya juga mau," jawab mamahnya Stevan.


Tiba-tiba ponsel nya Stevan kembali berdering. Stevan pun mengambil ponselnya dan melihat kalau Selvi yang menelepon,


πŸ“ž"Halo mbak...


πŸ“ž"Kamu dimana Stevan?"


πŸ“ž"Ee... lagi di minimarket beli minum," Stevan sedikit berbohong.


πŸ“ž"Hobi banget sih ke minimarket."


πŸ“ž"Iya mbak, Untuk menghemat gaji saya."


πŸ“ž"Oke mbak. Saya meluncur. 15 menit lagi sampai."


πŸ“ž"Iya. Jangan lama-lama ya. Aku udah lapar."


πŸ“ž"Siap mbak."


Telepon pun ditutup. Stevan pun permisi dengan mamah nya Selvi juga mamahnya untuk menjemput Selvi di kantor,


"Mah, Tante, Stevan jemput Selvi dulu ya. Mau bawa dia makan siang," kata Stevan permisi dengan mamah dan mamahnya Selvi.


"Cie abang mau kencan dengan kak Selvi," canda Gabriel.


"Kencan apanya. Ini karena bos lagi minta ajak sopirnya makan," sahut Stevan dengan nada kesal namun membuat Gabriel dan yang lain tertawa.


"Ngakak aja sih mamah waktu dengar buat menghemat duit gaji. Emang anak mamah sekarang peduli ya ma uang? Hobinya dulu hambur-hamburkan uang," kata mamah Stevan.


"Namanya juga berubah Mah. Ya udah Stevan pergi dulu," kata Stevan sambil mencium tangan mamahnya dan mamah Selvi.


"Hati-hati di jalan ya nak," kata mamah nya Stevan.


Stevan pun menuju ke mobil dan mengendarainya menuju ke kantornya Selvi.


***

__ADS_1


Stevan pun sudah didepan kantor Selvi. Ia pun langsung menelpon Selvi,


πŸ“ž"Halo Stevan, sudah dimana?"


πŸ“ž"Saya sudah di parkiran mbak."


πŸ“ž"Oke aku turun..."


Telepon pun dimatikan.


Tak lama kemudian, Selvi sudah berada di luar kantor. Ia pun langsung masuk ke dalam mobil,


"Kita ke bakso waktu itu ya Stevan," kata Selvi.


"Baik mbak," jawab Stevan sambil menjalankan mobil menuju tempat jualan bakso.


***


Sesampai di warung bakso langganan mereka, Selvi dan Stevan pun turun dan memesan makanan dan minuman.


"Eh Stevan, aku kali ini boleh nggak minum es teh?" tanya Selvi.


"Lah, selama mbak nggak haid ya boleh-boleh aja," jawab Stevan.


"Oke deh. Mas, saya pesan bakso semangkuk dengan es teh. Kamu pesan apa Stevan?"


"Saya bakso juga, tapi nggak pake mie putih sama es teh juga."


Mereka pun mencari tempat duduk didalam. Kemudian Selvi pun membuka pembicaraan,


"Boleh tanya nggak Stevan?" tanya Selvi.


"Silakan mbak," jawab Stevan.


"Gini, kalau misalnya di hari ulang tahun mu, tiba-tiba mamah mu ngasih kejutan dengan memperkenalkan seorang perempuan yang diklaim akan jadi calon pendamping hidupmu, apa yang harus kamu lakukan? Apakah kamu menolak atau menerima tindakan nyokap mu? Aku kesal sih karena ini kan bukan jamannya Siti Nurbaya lagi," cerita Selvi.


"Heem... kalau menurut saya, coba mbak tanyakan dulu dengan mamahnya mbak, seperti apa kriteria tuh cowok. Terus bilang aja sama mamahnya mbak supaya jangan mengenalkan sebagai calon suami, tapi teman nya mbak Selvi dulu," jawab Stevan.


"Emang bisa kayak gitu?" tanya Selvi.


"Ya nggak salahnya kan mencoba mbak. Lagian mungkin siapapun yang dikenalkan mamahnya mbak Selvi, pasti itu yang terbaik. Karena mana ada orang tua yang mau ngasih yang terburuk buat anaknya," kata Stevan.


"Iya sih. Tapi kan selera mamah belum tentu sama dengan selera anaknya," protes Selvi.


"Makanya mbak lihat dulu seperti apa pilihan mamahnya mbak. Kan kalau gak sesuai, bisa di cancel," sahut Stevan.


"Iya juga sih," ucap Selvi.


"Sorry nih mbak, saya nanya ya. Emang tipe cowok nya mbak seperti apa?" tanya Stevan.


"Kayak kamu... eh... gak... gak... yang pasti cowoknya perhatian dan sayang ma aku. Kalau bisa sih ganteng," Selvi hampir keceplosan.


"Ya, semoga lah mbak bisa dapat yang mbak impikan," kata Stevan.


"Amin..." balas Selvi.

__ADS_1


Tak lama kemudian pesanan mereka pun datang. Selvi dan Stevan menikmati makanan dan minuman yang ada didepan mereka. Hingga saat selesai, mereka pun membayar dan pergi dari tempat itu dan kembali ke kantor.


***


__ADS_2