
Siang itu Selvi sedang kehilangan mood untuk mengerjakan tugas-tugas dalam pekerjaannya. Maklum, Ini adalah hari pertama Selvi kedatangan tamu bulanan.
"Kayaknya stabil nih makan bakso siang-siang gini. Tapi nanti malah nambah jerawat. Ah... bodo amat. Yang penting happy," gumam Selvi dalam hatinya.
Segera Selvi mengeluarkan ponselnya dan mencoba menelepon Stevan, sopir pribadinya,
📞"Halo mbak Selvi..."
📞"Kamu dimana Stevan?"
📞"Lagi di minimarket mbak... beli minum."
📞"Nah mumpung di minimarket, boleh sekalian nitip gak? Tolong belikan aku pembalut yang gambar hello kitty..."
📞"Waduh mbak, kan saya laki-laki, masa saya yang beli peralatan bulanan perempuan yang itu? Mana gak tau merk nya apa!"
📞"Masa sih kamu nggak pernah belikan pasangan atau pacar mu sih?)
📞"Maaf nih mbak Selvi, saya kebetulan masih single. Belum punya pacar."
📞"Masa sih? Orang seganteng kamu belum punya pacar? Terlalu milih kali..."
📞"Nggak mbak. Ada sih yang disuka, tapi dia nya belum tahu. Terus saya belum berani mengungkapkan perasaan kepada dia."
📞"Wkwkwk... ya udah. Pokoknya kamu belikan pesanan ku tadi. Anggaplah bos menyuruh anak buahnya. Kalau ditanya merk nya Hers. Terus kalau sudah beli, nanti kamu kesini. Temani aku makan."
📞"Oke mbak..."
📞"15 menit sudah harus sampai. Aku sudah lapar..."
📞"Iya mbak..."
Telepon pun dimatikan Selvi. Kemudian ia merapikan berkas-berkas di mejanya yang berantakan. Setelah itu Selvi keluar menemui Wati, sekretarisnya.
"Wati, kalau ada yang mencari saya, bilang aja saya lagi keluar. Saya pengen makan siang dulu," perintah Selvi.
"Baik bu," jawab Wati.
Selvi pun turun ke lantai bawah dengan lift dan menunggu kedatangan Stevan di lobby kantornya.
***
15 menit yang telah di janjikan, akhirnya Stevan muncul.
__ADS_1
"Mari mbak," ajak Stevan.
Selvi dan Stevan pun menuju ke mobil. Sesampai di dalam mobil, Selvi pun bertanya, "Sudah dibeli pesanan saya tadi?"
"Sudah mbak," kata Stevan sambil menyerahkan bungkusan pesanan Selvi.
"Terus nggak ada yang mengetawain kamu kan beli ini?" tanya Selvi.
"Yang pasti kasir ceweknya senyum tapi seperti mengejek aja mbak. Hampir sih saya malu," jawab Stevan.
"Wkwkw... itu nanti kamu akan merasakan kalau punya cewek," ucap Selvi.
"Oh ya mbak, kita mau makan dimana?" tanya Stevan.
"Cari yang jual bakso enak," jawab Selvi.
"Saya nggak tahu versi nya enak menurut mbak," kata Stevan.
"Pokoknya aku gak mau tahu. Kalau nggak enak, Ku potong gaji kamu. Dah cepat jalan. aku lapar," kata Selvi dengan sedikit marah.
"Iya mbak," jawab Stevan sambil menjalankan mobil.
"Emang kalau cewek lagi PMS ini selalu benar dan egois nya selangit. Hedeh..." Stevan menggerutu dalam hati sambil melihat wajah Selvi dari kaca di dalam mobil.
"Iya mbak," jawab Stevan sambil konsentrasi mengemudi mobilnya dan fokus melihat ke depan.
***
Setelah lama berkendara, akhirnya mobil yang dibawa Stevan mengarah ke sebuah warung yang menjual bakso. Warung bakso yang pernah direkomendasikan Wati sekretarisnya. Mereka pun masuk ke dalam dan memesan makanan,
"Pesan apa mbak dan mas nya?" tanya penjual baksonya.
"Saya makan bakso terus minum nya es teh. Kamu Stevan?" tanya Selvi kepada Stevan
"Saya makan bakso juga tapi gak pakai mie yang putih sama teh hangat," jawab Stevan.
Mereka pun mencari tempat duduk dan menunggu pesanan diantar.
"Oh ya Stevan, kata kamu tadi, kamu naksir cewek tapi ceweknya belum tahu. Kenapa jadi belum tahu?" tanya Selvi.
"Saya menyukai cewek ini tapi belum berani untuk mengungkapkan..."
"Kenapa?"
__ADS_1
"Karena takut cewek ini nggak suka sama saya," jawab Stevan.
"Lah kalau kamu nggak ngasih sinyal atau pdkt, mana tau ceweknya Stevan," sahut Selvi.
"Nanti lah mbak. Kalau saatnya tiba, aku akan mengungkapkan semuanya. Saat ini biarlah aku mencintainya dalam diam," jawab Stevan.
"Ntar kalau sampai diambil orang nyesal ntar kamu," Selvi mengingatkan.
"Saya masih percaya kalau Tuhan memang mengasih pasangan yang terbaik. Tulang rusuk tidak akan tertukar walaupun perlu waktu yang tepat untuk menemukan dan menjadikannya satu kesatuan dengan kita," kata Steven.
"Oke, tapi kalau kenyataannya banyak orang yang bercerai atau banyak yang pacaran tapi putus, gimana?" tanya Selvi.
"Kenapa banyak orang yang bercerai? Karena mereka tidak meminta pasangan yang terbaik dari Tuhan. Hanya mengandalkan kecantikan fisik dan harta duniawi. Makanya ada masa pacaran. Dimana saat pacaran itulah kita mengenal pribadi sosok yang kita yakini akan menjadi pendamping hidup kita sampai akhir hayat," ungkap Stevan.
Selvi merasa tersentak mendengar apa yang dikatakan Stevan barusan. Ternyata bukan hanya ganteng, tapi ternyata pemikiran Steven jauh lebih dewasa darinya dalam hal memilih pasangan. Jujur dalam hati nya, Selvi semakin mengidolakan lelaki yang jadi sopir pribadinya ini.
"Beruntung cewek yang kamu taksir Stevan. Semoga nantinya kamu mendapatkan yang terbaik jadi pasanganmu," kata Selvi.
Tak lama kemudian pesanan mereka telah diantar dan dihidangkan di meja mereka. Tiba-tiba Stevan mengambil es teh di depan Selvi dan menggantinya menjadi teh hangat kepunyaannya. Selvi pun menjadi marah,
"Kenapa kamu tukar minuman ku. Kalau kamu mau es teh, harusnya pesan tadi es teh," kata Selvi dengan marahnya.
"Maaf nih sebelumnya mbak, tadi kan mbak nyuruh saya beli pembalut karena mbak lagi datang bulan. Nah setahu saya, orang yang lagi datang bulan, gak direkomendasikan untuk minum es karena bisa membuat kram perutnya dan haid nya tidak lancar," kata Steven.
Selvi terdiam. Benar kata Stevan. Seorang cewek yang lagi datang bulan kalau bisa menghindari minum es supaya haid nya lancar.
"Kenapa kamu peduli dengan aku?" tanya Selvi.
Stevan yang sedang meminum es teh nya hampir tersedak mendengar perkataan Selvi barusan. Kemudian dia pun berkata, "Maaf nih mbak. Kan mbak datang kesini dalam keadaan sehat, masa pulangnya jadi sakit. Ya sebagai seorang anak buah, sudah jadi kewajiban saya untuk menjaga mbak walaupun saya hanya seorang sopir."
Selvi langsung terperangah mendengar penjelasan Stevan tadi. Dalam hati, Selvi berpikir kenapa bukan orang yang disayanginya yang melakukan hal itu. Malah seseorang yang merupakan sopir pribadinya. Bahkan saat ia menyuruh sopirnya itu membelikan pembalut di Minimarket, Stevan mau membelikan walaupun ia harus menahan malu. Selvi pun semakin kagum dengan kepribadian Stevan.
Mereka pun menyantap bakso yang sudah dipesan tadi. Setelah selesai makan, merekapun menuju kasir untuk membayar makanan mereka. Awalnya Stevan ingin membayar sendiri-sendiri, namun ditolak Selvi karena dia yang membawa makan, dia yang bertanggung jawab untuk membayar. Setelah selesai, merekapun masuk ke dalam mobil untuk kembali ke kantor Selvi.
Dalam perjalanan, Selvi memandangi wajah Stevan dari kaca spion dalam. Ia berkata dalam hati, "Seandainya Stevan ini menjadi pacar ku, mungkin aku adalah orang yang paling berbahagia di dunia. Tapi dia milik orang lain. Ya Tuhan, setidaknya berikanlah hamba-Mu ini pacar yang setidaknya sifatnya seperti Stevan ini. Amin..."
Stevan yang menyadari Selvi memandangnya lalu berkata, "Tadi mbak memarahi saya memandang wajah mbak. Tapi kenapa sekarang malah mbak yang memandang saya seperti itu?"
Selvi tersadar dan berkata, "Kalau bos kan terserah. Mau Aku memandang kamu, mandang ke luar, itu hak ku lah sebagai bos. Lagian kan kalau kamu mandangin aku, kamu jadi nggak fokus nyetirnya."
"Iya mbak. Maaf..." kata Stevan.
Akhirnya mereka sampai di kantor Selvi. Segera Selvi pun masuk kedalam dan melanjutkan pekerjaannya lagi.
__ADS_1