
Di dalam ruangan ICU, terlihat Heru yang ikut masuk bersama dokter dan perawat yang mengecek keadaan Tiara yang masih belum sadar. Setelah dokter selesai memeriksa keadaan Tiara, Heru pun minta ijin untuk bertahan sebentar di dalam ruang ICU,
"Sayang, sampai saat ini aku masih sedih karena kamu belum bangun dari tidurmu. Setiap hari aku berdoa pada Tuhan untuk mengembalikan mu pada diriku. Entah sampai kapan doaku bisa terjawab, tapi aku percaya harapan itu tidak akan pernah hilang dan Tuhan pasti mengabulkan permohonan ku. Mungkin aku terlalu memaksa Tuhan dengan berpuasa layaknya ramadhan sampai kamu sadar, tapi aku melakukannya karena aku nggak rela orang yang kusayang diambil olehNYA. I love you Tiara," kata Heru sambil menggenggam tangan Tiara dan tanpa sadar air matanya menetes di pipinya.
Tiba-tiba Heru merasakan jemari Tiara bergerak. Heru pun menoleh ke arah Tiara. Ternyata Tiara pun meneteskan air matanya dan perlahan-lahan matanya terbuka sambil mengucapkan nama Heru dengan lemah,
"Mas... mas He...ru.." suara sayup Tiara yang tertahan karena mulutnya dipasang masker oksigen.
Heru pun terkejut senang dan mendekat ke telinga Tiara sambil berkata, "Iya sayang. Kamu sudah bangun? Aku ada disini. Alhamdulillah doa ku dijawab Tuhan."
"ma... mas... jang... an... men.. ang... is... la... gi...," ucap lemah Tiara.
"Nggak apa-apa sayang. Ini tangis bahagiaku melihat kamu sudah sadar," balas Heru dengan bahagia.
Heru pun mulai menekan bel untuk memanggil dokter dan perawat jaga. Setelah itu ia kembali menggenggam tangan Tiara,
"Aku akan selalu disini menjagamu sampai sembuh. Kamu harus kuat ya sayang," kata Heru.
Tak lama kemudian dokter dan perawat datang ke ruang ICU.
"Dok, Tiara sudah membuka matanya. Tadi dia sempat ngomong dengan saya," kata Heru dengan kegirangan.
"Baiklah mas, saya mau periksa keadaan pasien dulu," jawab dokter sambil mengeluarkan stetoskop dan peralatan medisnya.
Setelah dokter memeriksa keadaan Tiara, dokter itu pun berkata kepada Heru, "Pasien sudah melewati masa kritisnya. Mas nanti boleh datang ke ruangan saya untuk mendiskusikan tahap penyembuhan selanjutnya dan ada yang mau saya omongkan dengan mas."
"Siap dok. Saya sebentar disini dulu dok mau bicara dengan Tiara, setelah itu saya akan ke ruangan dokter," jawab Heru.
"Baiklah. Kalau begitu kami permisi dulu," kata dokter pamit beserta perawatnya.
Heru pun kembali mendekati Tiara dan duduk dekatnya seraya berkata, "Aku senang, sayang sudah melewati masa kritis. Sesuatu yang sangat menggembirakan buatku."
"Ma... af... mas... a... ku... bu... at... mas... su... sah..." kata Tiara.
"Nggak sayang. Saat ini dirimu lah yang terpenting dalam hidupku. Aku sangat senang bisa melihat kamu sadar kembali dan aku tidak merasa sayang susahkan," jawab Heru.
"I... love... you... sa... yang..." ucap Tiara.
"I love you too sayang. Oh iya, aku sebentar mau ke ruangan dokter dulu ya sayang. Kamu istirahat lah dulu. Secepatnya aku balik dan menjagamu lagi," kata Heru dengan tersenyum.
__ADS_1
Heru pun bergegas meninggalkan ruang ICU dan menuju ke kantor ruangan menjumpai dokter yang tadi menyuruhnya,
"Siang dok..."
"Oh ya mas... silakan duduk," kata dokter mempersilakan Heru duduk.
"Begini mas, berdasarkan hasil rontgen dan CT scan, pasien atas nama Tiara mengalami cedera syaraf tulang belakang. Kemungkinan pasien akan mengalami kelumpuhan pada kedua kakinya. Istilahnya Paraplegia," penjelasan sang Dokter.
Heru tanpa sadar mengeluarkan air matanya mendengar penjelasan dari dokter. Ia nggak menyangka bahwa Tiara akan mengalami kelumpuhan.
"Dok, apakah tidak ada cara untuk menyembuhkan Tiara?" tanya Heru.
"Yang pasti pasien nanti akan kita fisioterapi. Kita berharap supaya Tuhan memberikan mujizatnya kepada pasien," jawab sang dokter.
"Amin..."
"Yang pasti mas tetap beri semangat kepada pasien agar dia tidak stress. Karena kalau pasien stress, dapat memperlambat proses penyembuhannya," kata dokter memberi nasehat.
"Iya dok. Saya akan menyemangati terus Tiara," ucap Heru.
"Itu saja yang saya bisa katakan. Oh ya, nanti pasien kita pindahkan ke ruangan supaya pasien bisa dijenguk orang," kata sang dokter.
Sepanjang perjalanan menuju ruang ICU, Heru menangis dan membatin dalam hatinya. "Kenapa Tuhan... kenapa Engkau berikan cobaan yang begitu hebat buat Tiara? Kenapa bukan aku aja yang merasakan penderitaannya? Heru... Heru... kamu harus semangat, kalau kamu begini yang ada Tiara malah bersedih. Ingat yang dikatakan dokter tadi, kamu harus menyemangati Tiara agar proses penyembuhannya bisa cepat. Ayo Heru... kamu pasti bisa..."
Sesampai di ruang ICU, Heru melihat Tiara sudah membuka matanya,
"Sa... yang... kok... ma... ta... nya... me... rah?" tanya Tiara lemah.
Dengan sedikit berbohong, Heru pun menjelaskan, "Oh, ini tadi aku ngucek mata karena kemasukan debu. Oh ya sayang, habis ini sayang dipindahkan ke ruangan. Nanti kita tunggu perawat memindahkan sayang ke ruangan."
Tak lama kemudian, datanglah beberapa perawat yang bersiap untuk memindahkan Tiara ke ruangan. Heru pun ikut membantu para perawat tersebut.
Sementara itu di luar ternyata sudah ada Selvi dan Stevan yang baru aja datang. Melihat Tiara dibawa keluar, Selvi pun bertanya kepada Heru, "Mas, Tiara mau dibawa kemana?"
"Tiara mau dibawa ke ruangan. Supaya dia bisa dijenguk. Tiara sudah sadar dan melewati masa kritis nya," kata Heru.
"Puji Tuhan," ucap Selvi dan Stevan hampir bersamaan.
Selvi pun mendekati Tiara yang sedang dibawa dan menyapanya "Hai Ra."
__ADS_1
Tiara pun membalas dengan lemah, "Hai Sel..."
Selvi pun kembali berkata, "Syukurlah kamu sudah sadar. Aku mau kabarin ke teman-teman 5 dara yang lain supaya mereka kesini."
Selvi pun mengambil ponsel di tas nya dan menelepon teman-temannya 5 Dara. Sedangkan Stevan dan Heru membantu perawat yang lain membawa Tiara menuju ruangan.
Setelah Tiara sudah berada di dalam ruangan, Selvi, Stevan dan Heru pun keluar. Selvi dan Stevan pun mendekati Heru,
"Gimana keadaan Tiara mas Heru?" tanya Selvi.
Sambil menunduk, Heru pun berkata, "Ada kabar baik dan juga kabar buruk."
Selvi pun terkejut mendengar perkataan Heru barusan. Kemudian Selvi mencoba mencari tahu, "Kabar baik nya apa dan kabar buruknya apa mas?"
"Kabar baiknya, Seperti yang sudah kita lihat, Tiara sudah melewati masa kritis nya," ucap Heru.
"Trus kabar buruknya?" tanya Stevan.
Heru pun menunduk dan kembali menitikkan air mata.
"Kabar buruknya apa mas?" tanya Selvi penasaran.
"Kabar buruknya... Tiara terancam lumpuh di kedua kakinya," jawab Heru lemah.
"Astaga..." Selvi dan Stevan sama-sama terkejut mendengar penuturan Heru barusan.
"Tiara sudah tahu mas?" tanya Selvi.
"Aku nggak berani ngomong sekarang, karena Tiara baru saja melewati masa kritis nya. Nanti disaat yang tepat akan kuceritakan padanya," jawab Heru.
Tanpa sadar air mata Selvi pun menetes. Dengan suara yang lemah, Selvi pun berkata, "Kenapa ini harus terjadi kepada Tiara? Kasihan dia."
Heru pun berkata, "Kita harus bisa memberikan semangat buat Tiara sambil tetap berdoa kepada Tuhan supaya DIA memberikan mujizatNYA kepada Tiara."
"Iya. Betul yang dikatakan mas Heru. Kita jangan bersedih. Kita harus tetap bersemangat agar Tiara bisa semangat juga," sahut Stevan.
"Yok sekarang kita masuk dan menyemangati Tiara," ajak Heru.
Akhirnya Heru, Selvi dan Stevan masuk ke dalam ruangan dan menemui Tiara.
__ADS_1
***