
Suasana di coffee shop hari ini agak ramai karena ini adalah malam minggu. Dari tadi Mira dan yang lain disibukkan dengan membuat dan mengantar pesanan dari pelanggan. Hingga tak terasa suasana jadi agak sepi karena hari sudah menjelang larut malam.
Tak berapa lama, tiba-tiba datanglah rombongan laki-laki ke coffee shop Nuansa 5 Dara. Ada sekitar 10 orang. Salah satu dari rombongan itu menuju ke kasir untuk memesan.
"Mbak, pesan macchiato satu, latte empat, cappuccino tiga, sama espresso dua. Saya bayar pakai scan barcode," kata lelaki yang mendatangi kasir.
"Siap mas. Nanti kami antarkan pesanannya," jawab Mira sambil menghitung total pesanan dan menyiapkan gelas.
"Eh, ngomong-ngomong kamu Mira kan?" tanya lelaki itu.
Karena penasaran, Mira lalu menatap orang yang berdiri didepannya itu seraya berkata, "Iya, saya Mira. Mas siapa ya?"
"Hayo... coba tebak!" sahut si Lelaki.
"Kelu nya mas? Jujur belum bisa nebak..." balas Mira.
"Kawan SD mu Mir," sambung lelaki itu.
"Yang SMA aja banyak sudah lupa mas, apalagi ini SD," balas Mira lagi.
"Yang dulu pernah kasih permen karet di bangku mu. Trus rok kamu kena permen karet sampe nangis-nangis. Hasilnya aku kena jemur guru di tiang bendera. Ingat?" si Lelaki memberi kelu lagi.
Mira mencoba mengingat, "Ah... iya... kamu Noval kan? Perusuh kelas paling terkenal."
"Binggo... Ajim dah, ingatnya karena aku perusuh kelas aja ya Mir?" tanya si lelaki yang bernama Noval itu.
"Iya lah... Siapa sih yang nggak kenal dengan kamu. Hampir semua cewek dikelas kena jahil nya dirimu. Bahkan sampai guru cewek pun pernah," celutuk Mira.
"Lah, tadi dirimu gak kenal aku Mir?" tanya Noval.
"Ya iya lah. Kita lulus SD juga sudah berpuluh tahun, muka mu juga berubah," sahut Mira.
"Berubah jadi satria baja hitam atau power rangers?" tanya Noval lagi.
"Power puff girls," jawab Mira sekenanya.
"Wek... berarti aku cowok jadi-jadian dong," kelakar Noval.
"Mungkin... eh ya, silakan duduk lah Noval. Nanti pesanannya ku antar," pinta Mira.
"Oke...," kata Noval kembali bergabung dengan teman-temannya.
Tak lama kemudian Mira membawakan pesanan yang dipesan oleh Noval. Saat Mira mau ke meja bartender nya, Noval pun berucap, "Mir, boleh nggak ngomong-ngomong bentar sama kamu?"
"Lah terus gimana ntar kawan-kawan mu?" tanya Mira.
"Mereka paham kok. Kan sudah ditraktir kopi," kata Noval.
__ADS_1
"Iya mbak, kami aman kok," celutuk salah seorang dari rombongan Noval tadi.
"Ya udah, aku ngantar nampan ini dulu baru kita duduk disebelah sana," kata Mira sambil menunjuk meja kosong.
Mira pun mengantar nampan ke meja barista kemudian menuju ke meja yang ditunjuknya tadi ke Noval. Disana sudah ada Noval yang menunggu,
"Gimana kabar sekarang Val?" tanya Mira.
"Alhamdulillah baik Mir. Kamu sendiri gimana?" tanya balik Noval.
"Seperti yang kamu lihat. Alhamdulillah aku baik," jawab Mira.
"Ngomong-ngomong berapa anak mu sekarang Mir?" tanya Noval lagi.
"Anak ku satu. Cowok umur 11 tahun. Tapi aku sama suami sudah cerai. Kalau kamu Val?" tanya balik Mira.
"Anak ku juga cowok umur 8 tahun," sahut Noval.
"Wuiiihhh... Bisa juga kawan ku punya istri dan anak. Gimana lah nasib istri mu dengan kelakuan kamu yang nakal nya ampun dah," canda Mira.
Noval malah tertunduk dan berkata, "Istri ku meninggal sesaat setelah melahirkan anak kami."
Mira terkejut dan buru-buru minta maaf dengan Noval, "Eh... maaf Val, Aku nggak bermaksud buat kamu sedih."
"Nggak apa-apa Mir. Kan kamu nggak tahu," ucap Noval tersenyum.
"Nggak ada yang cocok. Siapa tahu cocok dengan wanita cantik didepan ku ini," canda Noval.
"Lah... malah merayu. Terus ini tadi dalam rangka apa kamu dan rombongan datang kesini?" tanya Mira.
"Dalam rangka menemui bidadari seperti kamu. Wkwkwk... canda. Dalam rangka merayakan ultah ku. Ini kawan-kawan sekantor aku di Angkatan Laut," jawab Noval.
"Eh, dirimu Angkatan Laut ya?" tanya Mira.
"He-he-he... iya. Kebetulan aku Kepala Seksi Perbekalan di Lanal sini." jawab Noval.
"Wuiiihhh.... tinggi dong berarti. Pangkat mu apa Val?"
"Nggak tinggi setinggi langit lah. Pangkat ku baru Mayor," jawab Noval.
"Eh itu mah tinggi. Bentar aku... eh saya hormat dulu dengan bapak mayor," canda Mira seraya mengasih hormat ke Noval.
Noval hanya tertawa dan kembali nyelutuk, "Kan itu kalau di kantor? Kalau di luar kan aku tetap warga biasa. Jangan bawa-bawa hirarki pangkat militer lah."
"He-he-he... kalau begitu selamat ulang tahun ya buat bapak mayor yang terhormat yang dulunya nakalnya ampun dah," kata Mira.
"He-he-he makasih Mir. Tahu nggak alasan aku dulu jahil sama kamu?" ucap Noval.
__ADS_1
"Nggak tahu... kan belum dikasih tahu," canda Mira.
"Karena dulu aku tertarik ma kamu. Kagum plus suka sama kamu. Tapi kan namanya anak-anak nggak tahu cinta, terus kita berpisah setelah lulus SD ya terpaksa memendam lah. Mungkin kalau anak sekarang bilangnya first love," ucap Noval.
"Bentar... bentar... masa sih aku bisa ditaksir oleh seorang mayor?" tanya Mira.
"Lah... itu kan dulu waktu masih bocah. Sekarang...." tiba-tiba Noval berhenti berbicara.
"Sekarang apa bapak Mayor yang terhormat," Mira sedikit penasaran.
"Aduh... nggak usah panggil bapak mayor dong Mir. Santai aja lah. Seperti kawan biasa," sahut Noval.
"Oke deh. Aku mau tanya sekarang apa yang tadi kamu bilang?" tanya Mira lagi.
"Sekarang sewaktu ketemu kamu lagi. Entah kenapa bibit rasa suka ku waktu SD kembali lagi malam ini. Sewaktu aku ulang tahun lagi," jawab Noval.
"Waduh... jangan gitu Val. Masa seorang Mayor Angkatan Laut menyukai seorang barista coffee shop," sahut Mira yang sudah sedikit merah pipinya.
"Emang cinta memandang jabatan, pekerjaan dan lainnya? Terlebih kan dirimu cinta pertama ku dulu," balas Noval.
"Iya sih. cuman aneh aja. Seorang Mayor kayak kamu ini kan harusnya bisa mencari yang lebih baik, lebih muda, lebih cantik, lebih kaya dari aku yang sudah tua, hanya seorang barista, trus pernah gagal dalam pernikahan dan punya anak," kata Mira lagi.
"Di luar sana memang banyak yang lebih muda, lebih cantik, lebih kaya. Tapi cinta nggak bisa dipaksakan. Dan jujur entah kenapa dalam minggu-minggu ini aku bermimpi tentang masa kecil kita waktu SD. Dan ternyata hari ini aku dapat arti mimpi ku. Ketemu kamu disini," ucap Noval.
"Ini bercanda kan bapak mayor Noval yang terhormat," kata Mira.
"Sejak kapan seorang tentara bisa bercanda dengan perkataannya?" tanya Noval.
"Jujur aku shock lho. Seperti sebuah mimpi," ucap Mira.
"Ini bukan mimpi Mir. Ini kenyataan dan jawaban dari mimpi ku. Oh ya, boleh aku minta nomor telepon dan WhatsApp mu?" tanya Noval sambil mengeluarkan ponselnya.
"Bentar," kata Mira sambil juga mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan barcode whatsapp yang kemudian di scan Noval.
"Terimakasih Mir. Nanti aku boleh kan menghubungi mu," ucap Noval.
"Ya pasti boleh lah. Malah aku yang rasanya sungkan karena dihubungi oleh perwira," balas Mira.
"Hayah... aku bukan seseorang yang se menyeramkan itu lah. Oh ya Mir, aku gabung lagi dengan teman-teman ya. Nggak apa-apa kan kami disini agak lama?" tanya Noval.
"Buat bapak Mayor sih apa yang nggak boleh. Asal jangan juga lah sampai subuh. Aku dan yang lain kan besok kerja lagi," jawab Mira.
"Iya lah. Paling sejam lagi kami balik," kata Noval.
Noval pun beranjak menuju ke tempat teman-teman kantornya. Sesuai dengan perkataan Noval, sejam kemudian mereka membubarkan diri dari coffee shop.
***
__ADS_1