
Tiga jam berlalu setelah operasi Rachel belum ada tanda-tanda dia siuman. Keempat sahabatnya serta suami Rachel masih menunggu dengan sabar di luar ruangan.
"Sel, bagaimana sih kejadiannya sampai Rachel bisa kena tembak?" tanya Mira.
Selvi pun sambil menghela nafasnya mulai menceritakan kronologis nya, "Awalnya sih sebelum Rachel dan anak buahnya polisi datang ke TKP, hampir saja aku diperkosa sama si lelaki jahat bernama Yudi itu. Namun belum sempat si Yudi berbuat tidak senonoh, Rachel dan polisi yang lain langsung masuk dan mengepung mereka semua."
"Hah, dirimu mau diperkosa Sel?" tanya Tiara.
Selvi hanya mengangguk.
"Terus?" Riana meminta Selvi melanjutkan ceritanya.
"Akhirnya mereka semua diringkus oleh Rachel dan polisi yang lain. Setelah itu Rachel mendekati dan melepaskan semua ikatan ku. Nah setelah Rachel melepas semua ikatan yang mengikatku, entah kenapa si lelaki jahat itu berhasil merebut pistol salah seorang polisi. Tujuannya sih mau nembakku, tapi Rachel yang melihat langsung melindungi badanku dengan dia yang pasang badan dan akhirnya dia yang terkena tembakan itu. Setelahnya baru polisi yang lain melumpuhkan Yudi dengan menembaknya hingga si lelaki jahat itu tewas ditempat. Betapa pedih hati ini melihat Rachel yang terkulai dan penuh darah," tutur Selvi sambil matanya berkaca-kaca menahan tangisnya.
"Nggak usah merasa bersalah. Pekerjaan istri saya memang beresiko. Dan yang sekarang ini resiko yang dia hadapi," hibur Roy, suami Rachel.
"Tapi gara-gara menolong saya akhirnya Rachel seperti ini," kata Selvi dan akhirnya tangisnya tumpah.
"Yang penting istri saya sudah ditangani pihak rumah sakit dengan baik. Kita hanya bisa berdoa supaya dia bisa melewati masa kritisnya," Roy melanjutkan kata-katanya.
"Amin," jawab semua yang lain mengaminkan perkataan Roy sambil melihat kearah Rachel dari kaca pembatas ruangan.
Tiba-tiba mereka semua menyaksikan jari Rachel mulai bergerak.
"Lihat jari Rachel mulai bergerak. Berarti Rachel sudah mulai siuman," pekik Mira kepada yang lainnya.
"Kalau begitu saya panggil dokter atau suster yang jaga supaya memeriksa keadaan Rachel," kata Roy sambil bergegas menuju ke kantor ruangan.
Wajah tersenyum lega menghias muka keempat sahabat Rachel begitu melihat Rachel yang mulai menggerakkan jemarinya.
"Akhirnya doa kita dikabulkan Tuhan," kata Riana dengan tangis bahagia.
Tak lama kemudian, Roy bersama dengan dokter dan suster mendatangi tempat mereka.
"Baik, saya dan suster memeriksa keadaan pasien dulu. Sementara saudara-saudara berkenan menunggu disini sampai saya selesai memeriksa dan memastikan pasien boleh dijenguk atau tidak," sang dokter meminta ijin kepada mereka untuk memeriksa keadaan Rachel.
__ADS_1
Mereka semua mengangguk setuju dan mempersilakan dokter dan suster memeriksa keadaan Rachel.
Sepuluh menit kemudian, dokter dan suster itupun keluar dari dalam ruangan tempat Rachel terbaring. Sang dokter pun mendekati suami dan sahabat Rachel.
"Bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya suami Rachel.
"Pasien sudah siuman dan operasi berhasil. Namun kalau saudara-saudara sekalian mau menjenguk ke dalam, dimohon agar jangan semua sekaligus masuk kedalam ruangan. Boleh dibagi dua dan juga jangan sampai membuat pasien berpikir keras atau membuatnya drop lagi," pinta sang dokter sambil pamit berlalu dari hadapan mereka.
"Kalau begitu biar mas sebagai suaminya, Selvi, dan Tiara yang masuk duluan. Kami disini dulu," kata Riana diikuti anggukan kepala Mira tanda setuju.
Roy, Selvi dan Tiara masuk kedalam ruangan Rachel.
"Hai sayang, hai semua," ucap lemah Rachel begitu suaminya, Selvi dan Tiara mendekatinya.
Selvi yang sudah tidak kuasa menahan kesedihannya, langsung mendekati dan memeluk tubuh Rachel yang masih tidak berdaya.
"Maafkan aku Hel. Gara-gara menolongku, dirimu jadi seperti ini," tangis Selvi meledak.
"Nggak kok Sel. Semua ini karena tugas ku sebagai penegak hukum. Lagian kan aku selamat kok," kata Rachel lemah.
"Yang penting semua sudah selesai dan semua baik-baik saja. Ayo Sel, jangan menyalahkan diri terus. Kasihan nanti Rachel sedih dan drop lagi," kata Tiara sambil memegang pundak Selvi dan meminta Selvi tidak merasa bersalah dan tegar.
Selvi pun kembali berdiri dan menyeka air matanya.
"Oh, ya... yang lain mana?" tanya Rachel.
Selvi pun menunjukkan kepada Rachel Riana dan Mira yang berdiri diluar sambil melihat kearah Rachel dengan kaca ruangan yang membatasi mereka. Riana dan Mira pun melambaikan tangannya kepada Rachel dan dibalas Rachel dengan senyuman.
"Dokter tadi menyuruh kami bergantian masuk kesini sayang. Makanya mereka menunggu diluar," kata Roy.
"Kalau begitu aku dan Selvi keluar dulu supaya Riana dan Mira bisa menjenguk mu" kata Tiara pamit sambil mengajak Selvi keluar.
Setelah sampai diluar ruangan, Tiara pun menyuruh Riana dan Mira kedalam menjenguk Rachel. Mereka pun masuk dan menjenguk Rachel.
"Hai, Hel. Emang kuat dah sahabat kita yang satu ini," sapa Riana di hadapan Rachel.
__ADS_1
"Kan dari dulu aku supergirl nya kalian," canda Rachel dengan lemah.
"Tapi tetap lho kami kuatir kalau dirimu kenapa-kenapa," Balas Mira.
"Untungnya Tuhan masih baik buatku Mir," jawab Rachel.
"Amin...," kata Mira sambil tersenyum setelah mendengar kata-kata Rachel barusan.
"Oh ya Ri, tolong ya kalian beritahu Selvi supaya jangan menyalahkan diri lagi. Ini bukan salah dia kok. Ini memang resiko dari tugasku," pinta Rachel kepada Riana.
"Iya Hel, Kami nanti akan kasih tahu Selvi supaya berhenti menyalahkan diri. Yang penting dirimu harus cepat pulih supaya kita bisa berkumpul lagi di coffee shop 5 dara. Ada varian dan menu baru lho. Hasil racikan kawan kita si Mira ini," kata Riana sambil menunjuk ke arah Mira. Sebagai orang yang ditunjuk Riana, Mira pun tersenyum malu.
"Halah, berlebihan banget bos kita satu ini," kata Mira disambut tertawa kecil dari Riana, Rachel dan Roy suami Rachel.
"Kalau begitu kami ijin pamit ya Hel. Mau melanjutkan aktivitas di coffee shop. Cepat pulih ya Hel. Kami akan sering-sering kok menjenguk kesini sampai dirimu sehat dan keluar dari rumah sakit," kata Riana sambil berpamitan denga Rachel dan suaminya untuk keluar ruangan.
"Makasih ya sohib-sohib terbaikku," kata Rachel.
"Santai Hel, kan sesuai motto kita Lima Dara, walaupun kita bukan berasal dari rahim yang sama, namun biarlah suka dan duka, susah, senang, sakit, bahagia salah satu dari kita, kita sama-sama merasakan. Oke Hel, kami pamit dulu ya," kata Mira.
"Iya mas, kami pamit ya. Titip sahabat kami. Kalau ada yang bisa kami bantu, jangan segan-segan mengabari ke kami ya," kata Riana kepada Roy, suami Rachel.
"Terimakasih ya sudah menjenguk istri saya dan banyak membantu tadi. Hati-hati dijalan," jawab Roy.
Riana dan Mira pun keluar ruangan menemui Selvi dan Tiara.
"Kalau begitu kita pisah disini ya. Kami mau pamit kembali ke Coffee Shop melanjutkan kegiatan. Oh ya Sel, kamu sama siapa?" tanya Riana.
"Aku nebeng sama Tiara naik motor," kata Selvi.
"Sip. Istirahat ya Sel. Dan pesan Rachel jangan lagi menyalahkan diri atas kejadian yang menimpa Rachel. Kalau dirimu selalu menyalahkan diri, nanti malah jadi pikiran Rachel," pesan Mira.
"Iya Mir. Aku akan berusaha meyakinkan diri untuk tidak terlarut dalam rasa bersalah," kata Selvi.
Mereka pun berpisah dan meninggalkan rumah sakit tempat Rachel dirawat demi melanjutkan aktivitas mereka hari ini. Sebuah perasaan lega karena sahabat mereka sudah melewati masa kritis dan sadar kembali. Bahkan mereka sudah dapat berbicara dengan Rachel.
__ADS_1
***