Nuansa 5 Dara

Nuansa 5 Dara
(POV Selvi) Sopir Untuk Selvi


__ADS_3

Pagi itu Selvi sudah terlihat rapi. Ini hari pertama nya masuk kerja kembali setelah kejadian penculikannya. Selvi pun turun dari kamarnya dilantai atas menuju ke ruang makan. Tampak sang mamahnya tercinta sedang menyiapkan makanan di meja makan.


"Kamu jadi hari ini ngantor, nak?" tanya mamah.


"Iya mah. Selvi harus ngantor karena banyak pekerjaan yang terbengkalai karena kejadian tempo hari itu," jawab Selvi.


"Tapi kan harusnya kamu cari sopir dulu baru memikirkan masuk kerja. Mamah takut kejadian waktu itu menimpamu lagi," kata mamah dengan rasa kuatir.


"Aduh mamah, tenang saja. Anak mamah ini sudah gede kok. Bisa jaga diri. Lagian si Yudi yang nyulik Selvi kan sudah tewas, terus anak buahnya semua sudah ditahan," ucap Selvi meyakinkan.


"Iya sih kamu udah gede nak. Tapi kenapa waktu itu kamu bisa diculik?"


"Itu lagi belum beruntung saja mah," jawab Selvi sekenanya.


"Emang sih si laki-laki itu sudah mati dan komplotannya sudah diringkus polisi. Tapi kita kan nggak tau apakah ada yang masih dendam sama kamu atas kematian laki-laki jahat itu? Kamu enak aja bilang belum beruntung. Mamah disini kuatir lho nak. Mamah nggak mau kejadian serupa menimpamu lagi," curhat Mamah.


"Mamah kok jadi anxiety begitu?"


"Apa lagi itu anxiety Sel? Nama makanan?"


"Bukan mah, anxiety itu sebuah gangguan kejiwaan dimana seseorang memiliki perasaan gelisah dan kuatir yang berlebihan," Selvi menjelaskan.


Mamah yang mendengar penjelasan Selvi mulai sewot dan berkata, "Enak aja mamah dibilang punya gangguan kejiwaan. Mamah masih sehat nak. Mamah cuma kuatir aja karena kamu satu-satunya kesayangan mamah, cintanya mamah setelah papahmu duluan meninggalkan mamah selamanya, darah daging mamah."


"Iya...iya... nanti Selvi mencari sopir supaya mamah tenang," kata Selvi.


"Pokoknya mamah minta, sore ini sudah harus ada sopir buatmu," pinta mamah.


"Lah, tega amat mah. Nyari sopir itu bukan perkara yang mudah," protes Selvi.


"Ya kalau sore ini kamu nggak berhasil mendapatkan sopir, mamah yang carikan buatmu. Pilih mana, kamu atau mamah yang mencarikan," ancam mamah.


"Iya... iya... Nanti Selvi usahakan supaya sore ini dapat mah. Kalau gitu Selvi pamit ke kantor dulu ya mah," kata Selvi sambil mencium telapak tangan kanan mamahnya.


"Hati-hati di jalan ya nak," pesan mamah.


Selvi pun memasuki mobilnya dan mulai meninggalkan rumah menuju tempat kerjanya.


***


Tiba di kantor, Selvi pun disambut oleh Wati, sekretarisnya.


"Akhirnya bu Selvi kembali bekerja. Kami semua takut bu kalau terjadi apa-apa dengan ibu," kata Wati.


"Buktinya kan saya tidak kenapa-kenapa. Oh ya Wati, gimana file presentasi yang kita buat waktu itu?" tanya Selvi.


"Tenang bu. Perusahaan pak Yamato menyetujui bekerjasama dengan kita. Terlebih saat mereka melihat paparan presentasi kita," jawab Wati bahagia.


"Syukurlah Wati. Aku berterimakasih banget sama kamu. Selama saya tidak ada, kamu bisa menghandle kerjasama dengan perusahaan lain. Nanti saya pertimbangkan untuk menaikkan gajimu dan memberi bonus," kata Selvi dengan berbinar-binar.


"Aduh bu Selvi terlalu memuji. Ini kan memang tugas saya sebagai sekretaris ibu," sahut Wati.

__ADS_1


Terjadi keheningan beberapa saat, kemudian Wati ijin hendak melanjutkan pekerjaannya, namun Selvi memintanya tetap berada diruangan.


"Ada apa ya bu?" tanya Wati.


"Begini Wati, apakah kamu ada kenalan seorang supir atau perusahaan penyalur jasa sopir?" Selvi balik bertanya.


"Hmm... Kalau boleh tahu untuk apa ya bu?" tanya Wati lagi.


"Mamah saya menyuruh supaya saya punya sopir pribadi. Takut kejadian waktu itu terulang lagi. Padahal kan saya bisa nyetir. Dan saya juga bisa jaga diri," jawab Selvi.


"Itu artinya orang tua ibu sayang sama anaknya. Takut terjadi apa-apa lagi," Wati menjelaskan.


"Tapi mamah saya mengultimatum, kalau sampai sore ini saya tidak dapat sopirnya, Mamah saya yang akan mencari dan merekomendasikan buat saya," protes Selvi.


"Wah kalau batasnya sampai sore ini agak berat bu. Soalnya kan mengiklankan dan mewawancara calon sopir nya kan butuh waktu," kata Wati.


"Nah itu juga yang kupikirkan. Makanya saya tanya kamu ada punya kenalan orang yang mencari kerjaan sopir atau penyalur jasa sopir?" tanya Wati.


"Nah kalau penyalur jasa sopir mohon maaf bu, saya tidak punya kontaknya. Nanti saya coba infokan ke grup WhatsApp saya. Siapa tahu ada yang berminat," jawab Wati.


"Oke, ditunggu sampai sore ya Wati," pesan Selvi


"Siap bu. Kalau begitu saya ijin mau mengerjakan tugas saya," jawab Wati sambil meninggalkan ruangan Selvi.


***


Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Selvi masih konsen mengerjakan file demi file yang sempat terlantar karena kejadian penculikan. Tiba-tiba...


Ponselnya bergetar. Selvi pun mengambil ponselnya. Ternyata dari sang mamah. Pikirnya pasti masalah sopir. Selvi pun mengangkat telepon dari mamahnya itu,


📞"Halo mah..."


📞"Sudah dapat nak sopir yang akan antar jemput kamu?"


📞"Belum mah. Kan masih dicarikan..."


📞"Nah, mamah sudah dapat lho. Kalau bisa kamu cepat pulang supaya melihat sopir rekomendasi mamah, atau kami yang mendatangi kantormu?"


📞"Jangan mah. Ya udah, bentar lagi Selvi pulang."


📞"Oke... mamah tunggu..."


Telepon pun ditutup.


Selvi membereskan berkas yang ada di mejanya, kemudian dia keluar dari ruangan menuju ke meja Wati,


"Wati, saya duluan pulang ya. Mamah saya mau memperkenalkan sopir baru yang direkomendasikannya," kata Selvi.


"Jadi saya nggak usah lagi mencari bu?" tanya Wati.


"Nggak usah lagi. Oke, saya pulang duluan ya."

__ADS_1


"Iya bu."


Selvi pun keluar dari kantor dan pulang ke rumahnya.


***


Sesampai di rumah, mamah dan seorang lelaki muda sudah menunggu kedatangan Selvi,


"Ini calon supir pilihan mamah," kata mamah memperkenalkan lelaki itu. Selvi agak terkesima karena calon supir yang direkomendasikan mamah setampan artis korea.


Selvi pun membaca berkas lamaran lelaki itu. Betapa terkejutnya ia sewaktu melihat berkas lamaran calon supirnya. Ternyata ia seorang sarjana ekonomi lulusan sebuah universitas terkenal di Indonesia.


"Boleh perkenalkan diri?" tanya Selvi.


"Saya bernama Stevanus. Boleh dipanggil Stevan. Usia baru 25 tahun," kata si calon sopir.


"Trus di berkas lamaranmu yang buat aku bingung adalah, kamu kan seorang sarjana. Kenapa kamu mau jadi sopir?" tanya Selvi.


"Saya sudah mencoba melamar disana sini, tapi belum berhasil diterima. Makanya waktu tante...eh ibunya ibu mencari sopir, saya langsung menerima," jawab Stevan.


"Nggak usah panggil saya ibu, panggil mbak Selvi aja."


"Oke ibu, eh mbak Selvi."


"Terus kamu bisa mengendarai mobil matic?"


"Bisa mbak. Semua jenis mobil bisa saya kendarain."


Mamah nya Selvi kemudian ikut berbicara, "Jadi gimana nak? Dia diterima?"


Selvi berpikir, baru kali ini dia ketemu dengan sopir yang tampan terus berpendidikan tinggi. Menurutnya sayang kalau tidak diterima. Selvi pun berkata, "Mulai esok kamu boleh langsung bekerja jadi sopir saya."


"Terimakasih mbak. Esok sebelum jam 7 pagi, saya sudah berada di sini."


"Jangan sampai telat. Karena saya harus ngantor jam 8 pagi."


"Siap mbak. Kalau begitu saya ijin pamit."


Stevan pun pergi meninggalkan rumah Selvi. Tinggallah Selvi dan mamahnya. Kemudian Selvi bertanya sama mamahnya, "Selvi boleh tanya nggak mah? Mamah dapat orang seperti Steven itu dari mana?"


"Dari teman arisan mamah. Tadi mamah coba hubungi mereka, dan salah satu dari mereka merekomendasikan si Stevan," jawab Mamah sambil tersenyum.


"Soalnya Stevan ini cakepnya gak ketulungan. Sudah itu sarjana lagi. Rasanya lebih jadi sopir pun Selvi mau," guyon Selvi.


"Lah anak mamah kenapa ya jadi genit gini?" tanya Mamah.


"Habisnya, mamah ngenalkan sopirnya bikin Selvi ke ge-er an. Kalau misalnya Selvi jatuh cinta nantinya sama Stevan, didukung ya mah," kata Selvi sambil ngakak.


"Hmm... dasar anak mamah sudah genit tingkat dewa. Kesambet kayaknya nih..." balas Mamah.


Selvi pun hanya bisa tertawa. Begitulah kelakuan ibu dan anak kesayangannya.

__ADS_1


__ADS_2