
Sore itu di coffee shop, terlihat Mira sedang murung dan banyak melamun. Ia memikirkan sudah sebulan lebih bang Agus belum mengasih uang untuk membayar hutangnya bulan lalu yang dijanjikannya.
"Kenapa sudah lebih dua bulan bang Agus belum ada tanda-tanda untuk membayar hutangnya waktu itu. Apa yang harus ku katakan sama Selvi. Ah... kalau begini mending aku harus ketemu sama bang Agus," batin Mira.
Lalu Mira mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan WhatsApp kepada mantan suaminya itu,
📱"Bang, nanti habis Maghrib datang kerumah ya, ada yang penting mau ku omongin dengan abang."
Tak lama kemudian pesannya dibalas singkat,
📱"Oke..."
Setelah itu Mira kembali melamun, Riana yang melihat Mira lagi melamun, mencoba memanggil namanya,
"Mir...Mira..."
Tidak ada respon dari Mira. Riana pun mendekati Mira dan menepuk pundak nya sambil menyebut namanya,
"Mira...."
Mira yang terkejut langsung sadar dan menjawab panggilan Riana dengan terbata-bata,
"Eh, iya Riana... a... ada apa? ada pesanan ya?"
Riana pun berkata, "Nggak Mir, aman kok. Aku cuman manggil karena ku lihat dirimu tadi melamun. Ada masalah ya?"
"Ng... nggak ada Ri... santai aja," jawab Mira.
"Beneran nih? kalau ada masalah bilang aja Mir. Siapa tahu aku bisa bantu," kata Riana.
"Aman kok Ri. Oh ya, nanti habis Maghrib aku minta ijin balik ke rumah ya," pinta Mira.
"Boleh Mir, tapi kenapa ijin Mir? Kamu sakit?" tanya Riana dengan serius.
"Kayaknya aku perlu istirahat dulu. Kepala ku rasanya sakit banget. Tadi sudah sih minum obat sakit kepala," jawab Mira berbohong.
"Oh, kalau begitu istirahat aja Mir. Masih ada pegawai yang lain juga menghandle. Lagian aku juga sampai malam kok disini," kata Riana lagi.
Tak lama kemudian datanglah Rachel ke coffee shop. Rachel pun mendekati Riana dan Mira,
"Mir, kopi latte aku ya. Pada ngomongin apa sih kayaknya serius banget?" tanya Rachel.
Riana pun menjawab, "Kayaknya Mira kurang enak badan makanya tadi dia minta ijin aku habis maghrib ini langsung pulang."
"Oh kalau gitu kamu istirahat aja Mir. Kesehatan lebih penting. Riana aja sudah ngijinin kamu," sahut Rachel.
"Iya Hel," jawab Mira.
Rachel pun mencari tempat duduk dan diikuti Riana.
"Hel, Aku merasa ada yang aneh dari Mira hari ini," kata Riana setengah berbisik.
"Aneh nya gimana Ri?" tanya Rachel juga ikut setengah berbisik.
"Dari tadi dia melamun terus. Seperti ada yang dipikirkannya. Kayaknya dia ada masalah tapi gak mau cerita sama kita," ucap Riana.
"Hmm... kalau gitu gimana saat Mira pulang kita ikuti dia diam-diam," Rachel memberi ide.
"Tapi kamu sibuk gak?" tanya Riana
__ADS_1
"Nggak lah. Aku hari ini dinas pagi. Ini karena pengen ngopi aja makanya kesini," jawab Rachel.
Tak lama kemudian datanglah Mira dengan membawa pesanan dari Rachel,
"Ini Hel kopi mu," kata Mira sambil menyerahkan kopi yang dipesan Rachel kemudian duduk nimbrung bersama mereka.
"Tadi kalian habis bicara apa?" tanya Mira.
"Oh nggak kok, kami cuman membicarakan masalah Tiara yang sampai sekarang belum siuman," kata Riana berbohong.
"Iya Mir," Rachel pun ikut mengiyakan omongan Riana.
"Kasihan mas Heru pacarnya Tiara ya. Karena Tiara masih belum sadar, sampai dia harus merelakan pekerjaan nya di Kalimantan," kata Mira.
"Kan Selvi dan Stevan sudah membantunya. Sampai Stevan memasukkan dia di perusahaan nya," balas Rachel.
"Iya. Untung lah ada Selvi dan Stevan," sambung Mira.
"Oh ya Mir, kalau kamu dah nggak kuat, mending istirahat aja. Mau kami antar kamu pulang Mir?" tanya Rachel.
"Nggak usah Hel, Aku bisa kok bawa sepeda motor." jawab Mira.
"Takut aja sih nanti kamu kenapa-kenapa dijalan. Kan bisa motor mu tinggal disini," sahut Riana.
"Makasih Ri, tenang aja aku kuat kok. Nanti aku bawa motornya pelan-pelan," balas Mira.
"Kalau gitu mending kamu siap-siap dah. Dah mau Maghrib juga. Urusan di coffee shop biar aku sama anak buah yang lain tanganin ntar," ucap Riana.
"Oke deh Ri. Nih aku mau ngambil tas dulu," kata Mira sambil permisi mengambil tas dan bersiap menuju ke sepeda motornya untuk pulang.
"Hel, kita buntuti yuk si Mira," ucap Riana.
Rachel dan Riana pun bergegas menuju ke mobil Rachel untuk membuntuti Mira.
***
Sesampai di depan rumah, Mira melihat Agus mantan suaminya sudah duduk sambil merokok dikursi di pelataran rumahnya. Segera ia memarkirkan sepeda motornya dan menyapa Agus,
"Assalamualaikum bang. Udah lama?" sapa Mira.
"Waalaikumsalam... Baru lima belas menitan aku disini," balas Agus.
"Kalau gitu masuk kedalam yo mas. Enak didalam ngomong nya," ajak Mira.
Mereka pun masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu.
"Kangen ya sayang dengan abang sampai menyuruh datang kesini," kata Agus genit.
"Bukan masalah kangen mas, cuman mau nanya aja. Nih sudah lebih sebulan tapi uang yang abang pinjam itu belum ada dibayar abang. Bahkan dicicil pun nggak ada," ucap Mira.
"Masa aku pinjam uang sama kamu harus dikembalikan? Perhitungan amat sih dirimu Mir," kata Agus dengan ketus.
"Masalahnya aku minjam duit itu dari teman ku bang. Nggak enak lah aku nggak membayarnya," sahut Mira.
"Aku lagi belum ada uang. Lagian kan harusnya kamu bisa bantu mantan suami mu. Kan biarpun kita sudah cerai, aku masih ayahnya Amir, anak kita," jawab Agus lagi.
"Masalahnya uang yang abang pakai itu bukan untuk aku atau anak kita, uang itu kan untuk menutupi hutang akibat istri baru abang itu berfoya-foya. Dia yang berbuat masa aku yang nanggung," kata Mira dengan marah.
Agus yang terbakar emosi langsung berdiri dan berkata keras, "Jaga mulut mu. Hormati istri ku."
__ADS_1
"Buat apa aku menghormati si jablay yang merusak rumah tangga ku. Lah dia yang menghamburkan uang, harusnya dia yang bertanggung jawab mengganti. Bukan aku. Untung aku kemarin masih mau membantu. Tapi begini balasan mu bang. Emang kamu dikasih apa sih sampai nggak bisa berpikir dengan akal sehat!" balas Mira terbawa emosi juga.
"Kurang ajar kamu..." jawab Agus sambil melayangkan tangannya untuk memukul wajah Mira, namun ditahan oleh Rachel yang bersama Riana datang tepat waktu.
"Eh, siapa kamu? Ngapain ikut campur urusan aku?" tanya Agus emosi.
Sambil membuka jaketnya dan memperlihatkan pakaian dinasnya, Rachel pun berkata, "Saya polisi dan kebetulan sahabat Mira. Saya bisa menjebloskan anda ke penjara karena kasus KDRT."
Agus pun langsung terdiam melihat ternyata yang dihadapannya adalah seorang polisi.
"Duduk!" perintah Rachel dengan tegas dan keras kepada Agus.
Agus pun duduk. Setelah itu Rachel minta penjelasan dari Mira, "Mir, coba jelaskan apa yang terjadi ini!"
Mira pun mulai menjelaskan, "Lebih dua bulan yang lalu waktu Riana pergi ke tempat mertuanya sebelum meninggal dunia, Riana kan ada mengasihkan aku uang untuk keperluan coffee shop dan gaji karyawan. Nah waktu itu, bang Agus datang kesini dan secara paksa mengambil uang itu untuk membayar cicilan rumah yang uangnya dipakai istri barunya untuk bayar arisan yang ternyata dia ditipu oleh bandar arisannya. Awalnya memang sudah ku bilang kalau aku nggak punya uang, tapi ternyata bang Agus mengambil paksa tas ku dan mengambil uang itu sekitar 6 juta. Terus dia berjanji untuk membayar bulan depannya. Aku sampai harus minjam ke Selvi untuk mengganti uang itu. Tapi sampai sekarang sudah lebih dua bulan belum ada tanda-tanda bang Agus membayar hutangnya. Makanya ku tagih sekarang, eh malah dia marah-marah."
"Lho kenapa kamu gak kasih tahu aku Mir?" tanya Riana.
"Aku nggak enak sama dirimu Ri. Elo waktu itu kan lagi sibuk mengurus almarhumah mertua mu," jawab Mira.
"Oke sekarang saya tanya ke anda mas Agus yang terhormat, kapan anda bisa membayar hutang itu?" tanya Rachel kepada Agus.
"Hmm... mungkin minggu depan," jawab Agus.
"Harus pasti. Jangan pakai kata mungkin," bentak Rachel.
"Iya minggu depan," sahut Agus.
"Sekarang tidak jaman hanya modal ucapan. Ri, aku boleh minta tolong ambilkan materai di laci mobil ku. Kita harus buat perjanjian hitam diatas putih," ucap Rachel.
"Oke Hel," sahut Riana sambil berjalan menuju ke mobil Rachel. Tak lama kemudian Riana datang dengan membawa materai.
"Mir, tolong bawakan kertas, pulpen sama lem," pinta Rachel.
Mira pun mengambil apa yang diminta dan menyerahkannya kepada Rachel.
"Untuk apa pakai beginian?" tanya Agus.
"Supaya anda nggak mangkir lagi. Kalau anda langgar perjanjian ini, saya nggak segan-segan memproses hukum anda," bentak Rachel sambil menulis surat pernyataan pembayaran hutang.
Setelah selesai menulis, Rachel pun berkata, "Sekarang kalian berdua tanda tangan disini. Kita juga Riana tanda tangan sebagai saksi."
Mereka pun semua menandatangi surat yang dibuat oleh Rachel.
"Oke surat pernyataan ini aku yang pegang. Berlaku mulai hari ini sampai minggu depan. Kalau anda mangkir mas, saya proses secara hukum," kata Rachel tegas.
"Terserah...." kata Agus kemudian meninggalkan tempat Mira.
Setelah kepergian Agus, Mira pun berkata kepada kedua sahabatnya, "Makasih ya kalian sudah bantu aku. Tapi kenapa kalian bisa datang kesini?"
Riana pun menjawab, "Ku perhatikan tadi sewaktu di coffee shop, dirimu banyak melamun seperti memikirkan sesuatu. Feeling ku nggak enak makanya mengajak Rachel membuntuti mu sampai kesini. Ternyata feeling ku benar."
"Tapi aku tetap berterimakasih dengan adanya kalian. Seandainya telat sedikit, kemungkinan aku sudah dipukul oleh bang Agus," kata Mira.
"Kita ini 5 dara. Sahabat yang tak terpisahkan. Masalah satu orang adalah masalah bersama," sahut Rachel.
Merekapun kembali berbincang-bincang hingga waktu menunjukkan pukul 10 malam, Riana dan Rachel pamit dari rumah Mira.
***
__ADS_1