
Saat Dani dan sahabat-sahabat Tiara lagi berkumpul di depan ruang ICU, tiba-tiba datanglah Annisa pacar Dani beserta teman-teman Tiara sesama dosen di kampus dan juga pengurus BEM kampus ke rumah sakit. Mereka disambut oleh Dani,
"Bagaimana Dan, kabar ibu Tiara?" tanya Annisa.
"Beliau masih belum sadar sayang. Kita banyak berdoa aja supaya beliau cepat sadar," jawab Dani.
"Oh ya Dan, nanti untuk biaya pengobatan ibu Tiara, kampus akan membantu seluruhnya. Beliau adalah salah satu dosen terbaik kita," kata pak Wisnu, dekan di fakultas tempat Tiara mengajar.
"Siap pak," kata Dani lagi.
Tiba-tiba ponsel Dani berdering. Langsung ia angkat yang ternyata dari abang nya, Heru.
📞"Assalamualaikum bang..."
📞"Waalaikumsalam Dan. Ini abang sudah di bandara Sepinggan. Sebentar lagi pesawat yang abang tumpangi berangkat ke Jakarta. Nanti 45 menit setelah ini Dani sudah harus ada di bandara Soekarno-Hatta ya."
📞"Siap bang. Semoga abang sehat walafiat dalam perjalanan ya."
📞"Iya Dan, Gimana kabar mbak Tiaramu?"
📞"Masih belum sadar bang. Abang jangan banyak pikiran dulu ya. Ada kami kok disini."
📞"Iya Dan. Abang tutup dulu teleponnya ya. Sudah mau masuk boarding pass."
📞"Iya bang."
📞"Assalamualaikum..."
📞"Waalaikumsalam bang..."
Panggilan pun ditutup.
"Mas Heru ya Dan yang nelpon?" tanya Mira.
"Iya mbak," jawab Heru.
"Apa kata mas Heru, Dan?" tanya Selvi.
"Katanya dia sudah berada di bandara Sepinggan, bentar lagi mau berangkat ke Jakarta. Saya disuruh ntar menjemputnya," jawab Heru lagi.
"Oh kalau begitu siap-siap aja jemput mas Heru nya Dan. Tenang aja disini ada kami kok yang menjaga Tiara," kata Rachel.
__ADS_1
"Iya sayang. Benar kata teman-teman ibu Tiara. Aku juga masih disini kok," sahut Annisa.
"Oke deh. Semuanya, Dani pamit dulu ya. Mau kerumah mengganti sepeda motor dulu. Mau jemput mas Heru pakai mobil sekalian mengabari mamah," ucap Dani pamit pada semua yang ada disana.
"Hati-hati dijalan ya Dan," kata Selvi.
Dani pun meninggalkan mereka menuju ke rumah untuk menjemput abangnya nanti di bandara.
***
Di Terminal kedatangan Bandara Soekarno-Hatta, Dani celingak-celinguk mencari keberadaan abangnya. Tak lama kemudian, muncullah Heru. Dani mendekati Heru sambil membantu membawakan koper bawaannya.
"Habis ini langsung ke rumah sakit ya Dan. Ntar kamu balik kerumah titip bawaan abang," kata Heru.
"Tapi mamah katanya mau ikut ke rumah sakit. Kita ke rumah dulu bang," protes Dani.
"Oke deh. Ngikut apa kata kamu dah," sambung Heru sambil menuju ke mobil mereka yang berada di parkiran.
Mereka pun meninggalkan bandara Soekarno-Hatta menuju rumah.
***
Sesampai di rumah, mereka di sambut oleh sang mamah. Heru pun memeluk mamahnya sambil bertanya, "Mamah sehat kan?"
"Iya mah. Makanya Heru datang kesini supaya Heru bisa melihat keadaan Tiara," balas Heru.
"Kamu nggak makan dulu nak?" tanya mamah.
"Heru tadi sudah makan mah sebelum berangkat ke bandara," jawab Heru berbohong.
"Ya udah, ayo kita sama-sama ke rumah sakit," ajak mamah.
Mereka bertiga pun berangkat menuju rumah sakit tempat Tiara dirawat.
***
Sesampainya di rumah sakit, Heru pun bergegas menuju ruang ICU, disana telah berkumpul sahabat Tiara beserta teman-teman sejawat Tiara dikampus dan beberapa mahasiswa pengurus BEM. Heru pun melihat dari kaca pemisah mereka dengan ruangan tempat Tiara berbaring tak sadarkan diri. Tanpa sadar ia pun mengeluarkan air matanya dan berucap lirih, "Sayang, aku sudah datang. Cepatlah sadar... Aku disini bersamamu..."
Rachel, Riana, Selvi dan Mira yang tak tahan melihat kesedihan Heru mendekati dan memegang pundaknya,
"Kita berdoa aja supaya Tiara cepat sadar mas," kata Rachel.
__ADS_1
"Iya mas. Tiara pasti tahu kok kalau kamu bela-belain datang kesini melihat kondisinya," balas Selvi.
"Saya sedih mbak. Entah kenapa sepanjang pagi tadi perasaan saya nggak enak. Ternyata terjadi musibah terhadap orang yang saya sayangi," sahut Heru.
"Iya mas. Kami tahu kok. Tapi kan mas masih capek karena perjalanan naik pesawat dari Kalimantan ke Jakarta," ucap Riana.
"Capek nya saya nggak seberapa mbak. Sudah hilang kok setelah melihat Tiara. Saya mau coba ngomong ke dokter untuk minta ijin menemani Tiara di dalam," kata Heru sambil berjalan menuju ke ruang dokter untuk meminta ijin menemani Tiara. Sahabat-sahabat Tiara ikut menemani. Awalnya dokter tidak mengijinkan Heru masuk, namun atas pertimbangan dari sahabat-sahabat Tiara, Heru pun mendapat persetujuan memasuki ruangan.
"Mbak semua, saya masuk dulu menemani Tiara ya," kata Heru yang bersama dokter masuk ke ruangan ICU.
Tiba di dalam ruangan, Heru pun duduk sambil menggenggam tangan Tiara dan berkata pelan, "Sayang... aku sudah ada disampingmu. Kumohon sadarlah. Aku akan menjagamu sampai kamu sadar dan pulih."
Tiba-tiba Tiara mengeluarkan air mata yang terlihat oleh Heru. Ia pun berkata kepada dokter, "Dok, lihat... Tiara meneteskan air mata. Apakah berarti ia sudah mulai sadar?"
Dokter itu pun menjawab, "Pasien sudah menunjukkan respon karena tahu saudara ada disampingnya, namun respon yang lain belum terlihat. Tapi ini awal yang baik."
Heru pun kembali berkata kepada Tiara yang masih belum ada pergerakan, "Sayang, tenanglah. Aku akan selalu bersamamu sampai kamu pulih. Aku tidak akan meninggalkanmu sedetik pun. Aku yakin kamu bisa dengar suara ku. Berjuanglah supaya sayang bisa cepat sadar. Aku akan mendukungmu disini."
Sang dokter pun berkata kepada Heru, "Saya tinggal ya mas. Kalau ada apa-apa, langsung cepat kabari petugas ya. Tekan aja tombol di dinding itu. Nanti perawat akan langsung datang kesini."
"Iya dok. Terimakasih atas kerjasama dan pertolongan nya," jawab Heru.
"Itu sudah tugas saya mas. Oke kalau begitu saya mau ke ruangan dulu," kata sang dokter pamit.
Saat keluar ruangan, sang dokter langsung ditanyai oleh sahabat-sahabat Tiara di Lima Dara.
"Bagaimana keadaan sahabat kami dok?" tanya Riana.
Dokter itu menjawab, "Tadi sewaktu saudara Heru berada di dekat pasien, air mata pasien tadi mengalir tanda pasien sudah ada respon dengan sekitar. Tapi belum dapat dipastikan kalau itu adalah tanda-tanda pasien akan siuman. Kita sama-sama berdoa supaya Tuhan ikut campur tangan dalam kesembuhan pasien."
Semua nya dengan serempak berkata, "Amin..."
"Saya mohon ijin untuk kembali ke ruangan dulu ya mbak semua," jawab dokter pamit menuju ruangannya.
Rekan sejawat Tiara di kampus nya beserta dekan dan beberapa mahasiswa BEM pun mendekati Dani dan sahabat-sahabat Tiara,
"Kami juga mohon ijin pamit untuk kembali ke kampus. Kalau ada perkembangan tentang kondisi ibu Tiara, mohon laporkan juga ke kami ya," kata Dekan fakultas.
"Iya pak. Terimakasih telah menjenguk sahabat kami. Nanti kalau ada perkembangan tentang kondisi sahabat kami, akan kami suruh Dani mengabarkan ke kampus," jawab Riana.
"Terimakasih. Kami pamit dulu," kata dekan yang berlalu dari hadapan mereka, di ikuti oleh rombongan dari kampus tempat Tiara mengajar.
__ADS_1
***