
Saat Selvi duduk di kursi di lorong rumah sakit menunggu kabar Rachel sahabatnya dari pihak UGD, datanglah seorang lelaki mendekati nya,
"Kamu Selvi ya?" tanya si Lelaki.
"Iya. Mas siapa?" Selvi balik nanya.
"Perkenalkan saya Roy, suami dari Rachel. Bagaimana keadaan istri saya?" kata lelaki yang ternyata suami Rachel.
"Rachel lagi ditangani oleh petugas UGD. Dia terkena peluru waktu menolong saya. Mas, saya mohon maaf karena saya Rachel jadi seperti ini," kata Selvi dengan ekspresi sedih.
Roy pun dengan lembut berkata, "Semua bukan salah kamu. Ini sudah jadi resiko seorang polisi seperti Rachel bilamana dalam melaksakan tugas bisa terluka atau bahkan kehilangan nyawa dan saya pun sudah memahami keadaan seperti ini akan terjadi dengan istri saya jauh sebelum kami menikah."
Setelah Roy berkata, keluarlah seorang perawat yang bertanya, "Diantara bapak atau ibu, siapa yang merupakan keluarga dari pasien?"
Roy pun menjawab, "Saya suaminya, suster."
"Kalau begitu bapak silakan ikut saya untuk mengurus administrasinya agar pasien bisa cepat dioperasi. Dan kalau bisa ada salah satu yang bersedia mendatangi PMI untuk mencari donor darah AB buat pasien. Kebetulan stok di rumah sakit kehabisan untuk golongan darah AB," kata suster tersebut.
Selvi pun berkata kepada suami Rachel, "Mas biar mengurus administrasi rumah sakit, biar saya yang mendatangi PMI buat nanya stok golongan darah AB."
"Baiklah," jawab singkat Roy yang kemudian mengikuti langkah suster tadi menuju ruang administrasi rumah sakit.
Saat Selvi mau melangkah, tiba-tiba ia mendengar ada yang memanggil namanya. Segera Selvi menoleh, ternyata Riana, Mira dan Tiara yang memanggil dan menuju ke arahnya.
"Bagaimana keadaan Rachel Sel?" tanya Riana.
Dengan tertunduk menahan sedih, Selvi pun berkata, "Dia kena tembak waktu menyelamatkanku. Ditembak oleh Yudi. Sekarang Rachel lagi dirawat di UGD. Nih gue mau ke PMI supaya mendapatkan donor darah buat Rachel."
"Trus mana si lelaki kurang ajar itu?" tanya Tiara.
"Dia sudah mati ditembak oleh polisi yang lain. Gara-gara dia, Rachel jadi seperti ini," jawab Selvi dengan nada geram.
"Trus untuk urusan administrasi rumah sakit?" tanya Mira.
"Tadi ada suaminya Rachel yang sudah ke ruang administrasi bersama perawat," jawab Selvi.
"Kalau begitu ayo kita bergegas ke PMI supaya cepat mendapatkan darah buat Rachel. Pakai mobilku aja," kata Riana.
Merekapun bergegas ke parkiran menuju mobil Riana untuk pergi ke PMI mencari beberapa kantong darah untuk Rachel.
__ADS_1
***
Setelah kurang lebih 15 menit diperjalanan, merekapun berada di kantor PMI.
"Ada yang bisa saya bantu?" kata petugas PMI yang berjaga.
"Kami mau mencari darah bergolongan AB beberapa kantong untuk teman saya yang mau operasi," kata Selvi.
"Mohon maaf bu, kebetulan stok darah bergolongan AB kami lagi kehabisan. Kecuali ada keluarga atau kenalan dari ibu semua yang bergolongan darah AB. Biar transfusi nya kami yang tangani," jawab petugas PMI.
Semua pun terdiam dan bingung.
"Bagaimana ini Ri? Saat Rachel memerlukan darah, stok di PMI kosong," kata Selvi yang mulai panik.
"Bentar, rasanya suamiku golongan darah nya AB. Coba ku tanya suami dulu," kata Riana yang kemudian mengambil handphone nya untuk menelepon suaminya.
"Aku juga mencoba nih nanya ke mahasiswa yang ku ajar, siapa tau ada yang memiliki golongan darah AB dan siap mendonor sekarang," balas Tiara yang kemudian juga mengambil handphone nya dan mulai mengirim whatsapp ke grup mahasiswa nya.
Setelah selesai menelepon, Riana pun berkata, "Suami saya siap mendonorkan darahnya. Sekarang dia segera meluncur kesini."
Tiara pun ikut berbicara, "Mahasiswa ku ada dua orang yang bersedia mendonor juga. Mereka juga secepatnya kesini."
Merekapun menunggu kedatangan suami Riana dan dua orang mahasiswa Tiara yang mau mendonorkan darahnya.
***
"Nah, yang mau mendonorkan darahnya sudah sampai. Oh ya sayang, nggak takut kan mendonor?" kata Riana sambil mengejek suaminya.
"Sesakit-sakitnya jarum donor darah, masih sakit lagi mendengar istriku ngomel-ngomel." kelakar suami Riana disambut dengan tatapan mata marah Riana diikut tertawa kecil Mira dan Selvi.
"Halah, Sudah sana sayang ke dalam dan bawa adek-adek mahasiswa ini menuju ruangan donor. Ditunggu tuh," kata Riana dengan nada sewot.
Suami Riana dan mahasiswa tadi pun menuju ke ruangan donor darah. Tak sampai lama, mereka pun sudah keluar dari ruangan.
"Gimana rasanya sayang?" tanya Riana kepada suaminya.
"Aman sih. Cuman agak sedikit lemas," jawab suami Riana.
"Tadi sayang diantar atau naik mobil sendiri kesini?" tanya Riana lagi.
__ADS_1
"Aku tadi dengan sopir. Nggak mungkin lah mau mendonor darah tapi nyetir mobil sendiri," kata suami Riana.
"Trus kalian sendiri naik apa tadi kesini?" tanya Tiara kepada anak didiknya.
"Kami tadi naik ojek online bu!" jawab salah satu mahasiswa Tiara.
"Oke kalau begitu, ibu kasih kalian uang buat ongkos pulang naik taksi online juga uang buat kalian beli makan," kata Tiara sambil mengambil sejumlah uang dan diberikan kepada kedua mahasiswanya.
"Mohon maaf bu, kami menolong dengan ikhlas," kata salah seorang mahasiswa agak kurang enakan mengambil uang pemberian Tiara, dosennya.
"Saya juga ikhlas kok. Ini cuman ucapan terimakasih saya dan bentuk tanggung jawab saya karena telah meminta tolong kepada kalian. Mohon diterima ya," ucap Tiara
Dengan sedikit keraguan, merekapun mengambil uang yang diberikan oleh Tiara.
"Kalau begitu kami mohon ijin pamit ya bu. Sekali lagi terimakasih banyak," kata kedua mahasiswa itu sambil pamit meninggalkan mereka dan keluar dari markas PMI.
"Kita juga bergegas ke rumah sakit mengantarkan darah ini buat Rachel," ajak Riana kepada Tiara, Selvi dan Mira.
"Aku juga mau pulang ya sayang. Mau istirahat," kata suami Riana sambil mencium kening istrinya.
"Iya sayang. Langsung istirahat ya," balas Riana.
Merekapun berpisah di parkiran menuju mobil mereka masing-masing dengan tujuan yang berbeda. Riana, Selvi, Tiara dan Mira bergegas ke rumah sakit, sedangkan suami Riana pulang ke rumah.
***
Akhirnya Riana, Selvi, Tiara dan Mira telah sampai ke rumah sakit. Kedatangan mereka disambut oleh suami Rachel dan salah seorang perawat.
"Ini kami sudah mendapatkan donor darah dari PMI," kata Selvi sambil menyerahkan kantong plastik berisi darah yang mereka dapat tadi dari PMI ke perawat.
"Kalau begitu saya pamit dulu ya pak, bu. mau mengasih darah ini supaya operasi pasien atas nama Rachel bisa cepat dilakukan," kata perawat itu pamit ke dalam ruangan.
***
Hampir sejam berlalu setelah operasi mengambil peluru yang bersarang di tubuh Rachel. Terlihat seorang dokter keluar dari ruangan dan menemui Tiara, Riana, Selvi dan suami Rachel.
"Bagaimana operasi istri saya, dok?" tanya suami Riana.
"Pasien atas nama Rachel sudah kami keluarkan peluru yang bersarang di punggung belakangnya. Bersyukur karena peluru itu tidak bersarang di daerah paling vital seperti jantung dan paru-parunya. Sekarang kita tunggu pasien siuman baru kita pindah ke ruangan," penjelasan si dokter.
__ADS_1
Mereka semua lega dengan info yang disampaikan dokter tadi. Merekapun disana menunggu Rachel sampai Rachel bisa siuman lagi.
***