
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Tiara baru pulang dari mengajar. Kebetulan hari ini jadwal mengajar dikampus full sampai jam 6 sore. Segera ia mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya yang lelah dan gerah.
Lima belas menit berlalu, dia keluar dari kamar mandi. Saat ia sedang memakai pakaiannya tiba-tiba,
RRR...RRR...RRR...
Handphone nya bergetar, ternyata sebuah panggilan masuk dari Heru. Tiara mengangkat teleponnya,
π"Assalamualaikum... Halo..."
π"Waalaikumsalam... Halo Tiara, mengganggu gak nih?"
π"Nggak kok. Tumben nih nelpon. Ada apa Heru?"
π"Nggak sih. Rencananya aku mau ngajak kamu jalan aja. Itu pun kalau kamu nggak capek."
"Waduh... Heru ngajak jalan? Ada angin apa nih? Tapi kenapa hatiku senang saat dia ngajak jalan?" batin Tiara.
π"Tiara... halo... Masih ada orangnya gak nih?"
Tiara langsung tersadar dan kembali melanjutkan percakapan di telepon,
π"Masih lah..."
π"Kirain orangnya langsung tertidur mendengar suara merduku..."
π"Preett... Merdu apanya? Dulu aja waktu pelajaran seni musik, praktek nyanyi aja suaramu fals nya lebih dari kaleng pecah.."
π"Wkwkwk... itu kan dulu. Sekarang sudah berubah. Kamu tahu nggak siapa yang ngajarin Tulus dan Fiersa Besari menyanyi?"
π"Siapa..."
π"Guru vokalnya lah. Masa aku... wkwkwk..."
Tiara mulai emosi,
π"Ru, Pernah dilempar cermin nggak itu muka mu?"
π"Lah... jangan dilempar lah cerminnya Tiara. Mending cerminnya dipakai untuk memandang wajah cantikmu..."
Tiara tambah geregetan
π"Bodo amat... Heru... Kamu ini kalau masih ngelantur ngomongnya, ku matikan teleponnya..."
πLah... kok marah. Bercanda kok bercanda... Ntar kalau marah-marah cepat tua lho."
π"Biarin... Mau cepat tua kek..."
π"Lah kalau kamu tua, nanti malah kupanggil nenek Tiara..."
Tiara semakin kesal, lalu mengancam Heru,
π"Bodo amat... Ya udah, kalau gak ada yang penting lagi, aku tutup teleponnya.."
π"Jangan... Iya sorry deh. Jadi gimana?"
π"Lah gimana apanya?"
π"Jadi nggak jalan bareng aku. Biar ku samperin rumahmu Tiara."
π"Emang mau jalan kemana Ru?"
π"Kemana aja hati senang, sekalian ngajak kamu nongkrong dan makan.."
π"Hmm... Ya udah, tapi kamu kan yang traktir?"
π"Mau sama yang jual nya kuborong demi kamu..."
π"Halah... Gaya mu Heru. Banyak omong."
π"Wkwkwk... Nanti kirim ya share lock rumahmu..."
π"Iya..."
__ADS_1
π"5 Menit lagi aku siap-siap meluncur..."
π"Oke. Aku ganti pakaian dulu."
π"Yang cantik ya Tiara..."
π"Bodo amat... Assalamualaikum."
π" Waalaikumsalam..."
Telepon pun ditutup, Tiara pun langsung menuju lemari pakaiannya. Mencoba baju yang akan dia pakai untuk jalan sama Heru. Dalam hati ia kegirangan karena Heru mengajaknya jalan malam ini. Sambil berpikir mimpi apa dia semalam, Tiara pun mencoba baju kesukaannya satu persatu.
***
Tiara sudah siap dan rapi dengan gaun warna merah kalem yang dipakainya menjadikannya seperti layaknya seorang bidadari. Tiba-tiba ponselnya kembali bergetar,
π"Assalamualaikum... Hallo Ru..."
π"Waalaikumsalam. Rumahmu yang mana?"
π"Rumah nomor empat dari depan komplek di sebelah kiri. Warna cat rumahnya biru muda terus pagar besi warna merah."
π"Oke... Aku udah dekat. Kamu tunggu aja depan rumah."
π"Oke Ru. Aku ke depan rumah..."
Telepon pun dimatikan dan bergegas menuju ke depan rumah. Terlihat sebuah mobil berhenti didepan rumahnya. Dengan segera Tiara mengunci pintu dan menuju keluar mendekati mobil itu,
"Waw... bidadari dari sorga nyasar satu didepanku," Heru memuji kecantikan dan keanggunan Tiara.
"Halah, malah menggombal," protes Tiara.
"He-he-he... Ya udah, kamu didepan ya," kata Heru sambil membuka pintu depan mobil.
"Kita mau kemana Ru?" tanya Tiara.
"Kita jalan-jalan dulu mengelilingi kota sambil melewati sekolah kita dulu, mengingat kenangan masa kecil kita. Baru cari makan. Gimana?" kata Heru sambil menunggu persetujuan Tiara.
"Oke deh. Kan kamu yang bawa mobilnya. Aku ngikut aja," jawab Tiara.
***
Mobil Heru mendekati SMP tempat mereka dulu sekolah, Heru pun menyetop bentar mobilnya didepan gerbang sekolah,
"Lho, kenapa kita stop disini Ru?" tanya Tiara.
"Nggak apa-apa, cuman mau mengingat kenangan masa lalu aja. Saat masih sekolah disini banyak kenangan indah yang kulalui. Salah satunya ketemu dengan seorang wanita cantik tapi cerewet yang akhirnya sekarang berada di sebelah ku," kata Heru.
"Iya... Eh... siapa yang kamu bilang cerewet?" kata Tiara sambil memasang muka marah.
"Canda non. Sekarang banyak berubah ya sekolah kita. Yang dulunya masih berupa bangunan kayu, sekarang sudah menjadi beton dan warnanya pun berubah dari hijau menjadi biru langit," kata Heru sambil mengagumi bangunan sekolah tempat dia dan Tiara belajar dulu.
"Namanya juga dapat dana BOS, makanya banyak yang berubah," sahut Tiara.
"Guru-guru di jaman kita masih ada gak ya?" tanya Heru.
"Sebulan yang lalu aku ada kesini. Guru-guru yang ada dijaman kita sudah banyak yang pensiun. Bahkan ada yang sudah meninggal. Sekarang banyak guru muda," jawab Tiara.
"Siapa yang sudah meninggal Ra?" tanya Heru.
"Ibu Rusimah guru Biologi, bapak Rattam guru Penjaskes, sama bapak Hamberan guru seni musik sama bapak Bustami wakasek yang kutahu," jawab Tiara.
"Hah... pak Rattam sudah meninggal? Itu dulu guru favoritku. Ingat nggak yang menyemangati ku waktu main basket sampai terpilih jadi kapten tim basket?" tanya Heru.
Tiara hanya mengangguk.
Kemudian Heru lanjut berkata, "Aku ingat juga dengan pak Bustami. Ingat nggak Ru, kalau mau masuk jam pertama sama masuk kelas habis istirahat harus berbaris rapi didepan kelas. Kalau nggak rapi, siap-siap kaki kita kena mistar kayu. Bahkan anaknya sendiri si kak Risna, kakak kelas kita kena rasa mistar beliau."
"Yup. Coba kalau jaman sekarang ada guru yang memukul pakai apapun atau menghukum. Langsung kena proses hukum," kata Tiara.
"Makanya anak-anak jaman sekarang banyak yang bebal. Nggak seperti jaman kita dulu. Begitu guru lewat depan kelas, kalau bisa kita kabur sembunyi didalam kelas, jangan sampai terlihat mereka," sambung Heru.
Tiara hanya mengangguk.
__ADS_1
"Oh ya Ra, kamu udah lapar?" tanya Heru.
"Tadi sore sih waktu pulang dari kampus, aku sempat makan bakso. Sekarang sih masih kenyang," jawab Tiara.
"Kalau begitu kita nyantai yok di taman kota yang dekat kantor walikota," ajak Heru.
Tiara mengangguk. Kemudian mereka meninggalkan sekolahan menuju ke taman kota yang letaknya tidak jauh dari kompleks sekolahan.
***
Sesampai di taman kota, Heru pun mengajak Tiara keluar dan mencari tempat duduk sambil menikmati air mancur yang menjadi berwarna karena diterpa lampu warna-warni yang disorot dari pinggir kolam.
"Terimakasih ya Tiara udah mau jalan sama aku," kata Heru.
"Iya..." balas Tiara singkat.
"Tiara..."
"Iya Ru?"
"Coba kamu lihat di langit cerah itu?"
Tiara memandang ke atas langit. Heru pun melanjutkan perkataannya sambil menunjuk satu bintang yang terang,
"Ada satu bintang yang terang di rasi bintang Orion bernama Rigel."
"Iya... terus..?"
"Semoga dirimu bisa seperti bintang itu yang selalu memberi keindahan dan terang dalam hatiku."
Deg...deg.. deg..
Jantung Tiara berdetak kencang sehabis Heru berkata seperti itu.
"Maksud mu, Aku mirip bintang gitu," kata Tiara sambil menutupi rasa bahagia nya dirayu Heru
"Nggak maksud apa-apa sih. Cuman.. aku... pengen jujur... sejujurnya... aku sayang dengan kamu... apakah kamubmau jadi kekasih ku, jadi seperti bintang Rigel yang terang dalam hati ku?" tanya Heru terbata-bata.
Deg...deg...deg... jantung Tiara berdetak lebih kencang dari tadi mendengar Heru menyatakan perasaannya.
"Maaf kalau aku lancang, tapi jujur aku tak bisa lagi menahan perasaan cinta ini Tiara. Terserah apapun yang akan kamu katakan, aku sudah siap konsekuensinya dengan semua jawaban yang kamu katakan," kata Heru dengan pasrah.
Tiara pun mulai memberanikan diri untuk berkata, "Sebenarnya aku masih trauma untuk membuka hati dengan laki-laki."
"Aku tahu dengan kejadian yang pernah menimpamu. Sahabat mu pernah menceritakan sama aku tentang kenangan pahit yang dirimu pernah rasakan. Aku nggak memaksa kamu untuk menjawab sekarang. Aku hanya minta ijin dulu untuk membuktikan aku bisa jadi yang terbaik buat kamu. Entah besok, seminggu, sebulan, setahun pun aku tunggu jawaban dirimu," kata Heru dengan serius.
"Aku sih sebenarnya suka dengan kamu. Sudah tampan, terus bisa menghibur walaupun kadang rese, tapi ini terlalu cepat buat aku untuk menjawabnya," jawab Tiara.
"Kamu boleh nggak menjawab sekarang, tapi ijinkan aku membuktikan ketulusan cintaku dan mendekatimu sampai suatu saat dirimu sudah siap menjawabnya," kata Heru.
Tiara pun berdiri sambil menarik nafas dalam-dalam sambil menatap langit kemudian berkata, "Aku... menampung dulu apa yang kamu katakan tadi, Aku akan jawab dengan satu syarat, aku harus melihat ketulusan kamu dulu dalam sebulan ini. Baru ku jawab iya. Tapi kalau dalam sebulan ini kamu mengecewakanku, jangan harap ketemu aku lagi."
Heru merasa kesenangan sehingga hampir memeluk tubuh Tiara, namun Tiara sudah mengepalkan tangan dan berkata, "Bukan Muhrim."
"Sorry... refleks."
"Nyari kesempatan mah itu..."
"He-he-he... Makasih ya Tiara udah memberi aku kesempatan untuk mencintaimu. Dan aku akan menuruti syaratmu dan membuktikan kalau cinta aku ini bukan hanya untuk sebulan, tapi selamanya seperti kamubbisa melihat bintang Rigel itu sepanjang malam."
Tiara hanya tersenyum mendengar kata-kata Heru barusan.
"Kita habis ini ke coffee shop kawan mu yuk," ajak Heru.
"Ngapain?" tanya Tiara.
"Mau minum kopi aja, sekalian ngemil disana. Sekalian memproklamirkan hari ini," jawab Heru.
"Apaan sih. Macam-macam malah gak jadi kujawab iya ni ntar," ancam Tiara.
"Iya...iya... Cuman mau minum kopi aja. Haus gara-gara menyatakan perasaan tadi, sama mau nongkrong aja," kata Heru.
Mereka pun meninggalkan taman menuju ke Coffee Shop Nuansa 5 Dara.
__ADS_1
***