
Selvi tersadar dari pingsan nya. Punggung nya masih terasa sakit habis dipukul dengan kayu. Tapi yang membuatnya tidak berdaya adalah tangannya diikat di sebuah tiang san mulutnya ditutup dengan lakban. Dilihatnya sekeliling, sepertinya dia berada di sebuah gudang dan jauh di hadapannya ada beberapa orang laki-laki yang duduk sambil bermain kartu di sebuah meja besar.
"Ya Tuhan dimana aku ini? Andai waktu tadi malam aku mendengarkan kata Rachel untuk tidak keluar mobil, mungkin nasibku tidak seperti ini. Siapa sih dalang yang menculik aku ini? Tuhan... tolong aku agar ada yang membantuku untuk bebas dari sini," batin Selvi dalam hatinya.
Sementara tak jauh dari hadapan Selvi, beberapa orang lelaki yang menculik nya terlihat sedang asyik bermain kartu sambil minum,
"Kira-kira nanti berapa kita dapat dari bos atas usaha kita menangkap gadis ini?" kata salah seorang lelaki.
"Nanti kita tunggu bos aja. Kita minta bayaran yang besar. Lumayan buat jajan malam ini," balas lelaki yang lain.
"Tapi kalau dilihat-lihat, gadis yang kita culik ini manis juga. Pengen deh mencicipi nya," celutuk lelaki ketiga.
"Huss... sandera gak boleh di apa-apain dulu. Nanti malah berkurang jatah uang kita. Itu pikiran kotor cuci dulu dengan rinso, Togap!" kata lelaki kedua.
Sambil menyalakan rokoknya, lelaki ketiga yang disebut bernama Togap itu berkata, "Wan, kapan bos datang kesini?"
Lelaki pertama yang bernama Wawan itu berkata, "Tadi katanya bos dalam perjalanan kemari. Sekalian bawa minuman buat kita. Ayo sekarang siapa lagi yang jalan kartunya?"
Tak lama berselang, datanglah seseorang yang disebut mereka bos. Ternyata dia adalah YUDI.
"Mana buruan kalian?" tanya Yudi.
"Itu bos," kata si Wawan sambil menunjuk ke arah Selvi.
Plak...plak...plak...
Yudi memukul wajah mereka bertiga sambil berkata, "Kalian ini ngerti gak jadi penculik? Seharusnya kalian tutup juga matanya supaya dia tidak melihat kita!"
Sambil bertatapan, mereka bertiga saling menyalahkan,
"Wawan tadi bos yang lupa," kata Seno.
"Kenapa gue yang disalahkan? Tuh tanya Togap yang ikat tuh cewek dan lakban mulutnya, tapi matanya dibiarkan terbuka," jawab Wawan membela diri.
"Lah aku tadi sudah mengerjakan semua. Kalian malah yang asyik duduk aja mulu!" bela Togap dengan logat batak nya.
Pusing dengan pembelaan masing-masing, Yudi pun berkata dengan keras, "Sudah-sudah! Nggak becus semua kalian. Saling menyalahkan pula."
Yudi pun mendekati Selvi dan berkata dengan sinis, "Hai sayang... kaget ya melihat aku disini?"
Selvi yang mulutnya dibekap dengan isolasi mencoba untuk berbicara namun semua usahanya sia-sia. Melihat itu, Yudi pun membukakan penutup mulut Selvi.
"Kurang ajar kamu mas, Buat apa kamu menculik aku?" kata Selvi sambil meronta-ronta.
__ADS_1
"Buat apa? Yang pasti aku masih mencintaimu dan nggak mau melepaskanmu?" balas Yudi sambil tertawa terkekeh-kekeh.
"Aku nggak sudi mencintai orang yang sudah menyelingkuhi ku. Lepaskan aku mas, kumohon!" pinta Selvi.
"Aku akan melepaskanmu kalau kamu mau menerimaku kembali dan kita menikah secepatnya," kata Yudi dengan tertawa jahat.
CUIIIH...
Selvi pun meludahi wajah Yudi sambil berkata dengan intonasi nada yang tinggi, "Jangan harap aku mau menikahi denganmu mas, Cepat lepaskan aku!"
"Hahaha... karena kamu bilang seperti itu, aku tidak akan melepaskanmu" jawab Yudi sambil memegang tubuh Selvi.
"Mau apa kamu mas?" tanya Selvi sambil meronta-ronta.
"Aku akan memberikan kenikmatan agar kamu menjadi milikku seutuhnya," jawab Yudi sambil melanjutkan apa yang dilakukannya.
Selvi terus mencoba melawan dengan kondisi masih terikat tiba-tiba,
PRAK...
Tiba-tiba polisi berdatangan dan mulai mengepung tempat itu,
"Jangan bergerak! Tempat ini sudah dikepung!" perintah Rachel.
"Terimakasih Hel sudah datang dan menyelamatkanku. Telat sedikit saja aku nggak tahu lagi apa yang terjadi. Mungkin aku sudah tidak suci lagi karena lelaki kurang ajar itu," kata Selvi sambil menangis memeluk Rachel yang telah melepaskan ikatannya.
"Sudah merupakan kewajiban ku sebagai seorang polisi menolong orang yang diculik, dan juga karena dirimu sahabat sejatiku, sudah kewajiban ku untuk menolong sahabatΒ yang dalam kesusahan," jawab Rachel sambil berusaha menenangkan Selvi yang begitu ketakutan.
Mereka pun mulai berdiri dan bersiap meninggalkan tempat tersebut, namun tiba-tiba Yudi yang dipegang oleh salah seorang polisi mulai melawan dan secara cepat mengambil pistol polisi tersebut dan mengarahkan pistol itu ke arah Selvi seraya berkata, "Aku tak bisa mendapatkanmu, kamu pun tak berhak lagi untuk hidup." Melihat kejadian itu, secara cepat Rachel pun melindungi tubuh Selvi dengan berdiri didepan Selvi,
DOR...
Suara tembakan pun terdengar, Rachel pun jatuh tersungkur karena peluru pistol itu tepat mengenai pundak kanannya. Dengan sigap para polisi yang lain menembak Yudi,
DOR...DOR...DOR...
Tubuh Yudi pun jatuh terkulai terkena tembakan dari para polisi yang menembaknya.
"Rachel...Rachel...Please tetap bertahan," teriak Selvi sambil menangis sambil mendekap tubuh Rachel yang terkulai lemah.
"Jangan menangis sahabat ku. Asalkan kamu selamat, aku sudah senang," kata Rachel sambil merintih menahan sakit.
Para polisi yang lain bergegas mendekati Rachel.
__ADS_1
"Pak, tolong telepon ambulans secepatnya," pinta Selvi kepada salah seorang Polisi.
"Siap bu," kata polisi tersebut sambil mengeluarkan ponselnya dan menelepon ambulans.
"Hel, kamu harus kuat ya. Please demi diriku," isak Selvi.
Lima belas menit berselang, datanglahΒ 2 ambulans dan beberapa petugas medis yang membantu menyelamatkan Rachel dan membawanya dengan tandu untuk dibawa ke mobil ambulans agar mendapatkan penanganan cepat sebelum sampai ke rumah sakit. Petugas yang lain mengangkat tubuh Yudi yang sudah terbujur karena terjangan timah panas para polisi yang menembaknya. Selvi mengikuti petugas medis yang membawa Rachel. Sedangkan polisi yang lain ada membawa tersangka yang merupakan anak buah Yudi ke mobil polisi untuk dibawa ke kantor polisi dan sisanya memeriksa TKP dan memasang garis kepolisian.
Selvi yang sudah berada dimobil ambulans yang membawa Rachel terus memegangi tangan Rachel sambil menangis dan berkata, "Maafkan aku Hel. Gara-gara menyelamatkan ku, peluru itu malah buatmu celaka."
Rachel hanya tersenyum kecil dan berkata, "Ini resiko pekerjaanku sebagai polisi Sel."
Ambulans memasuki halaman rumah sakit. Petugas UGD rumah sakit langsung membawa tempat tidur dorong untuk membawa Rachel menuju ke ruang UGD. Beberapa orang polisi juga sudah datang ke rumah sakit. Selvi pun mendekati salah seorang polisi,
"Pak, boleh nggak saya pinjam ponselnya untuk menelepon kawan saya," pinta Selvi kepada seorang polisi.
Polisi tersebut meminjamkan ponselnya. Selvi pun bergegas menelepon Riana,
π"Halo..."
π"Halo Riana, ini Selvi..."
π"Astaga Sel, kamu dimana? Nggak kenapa-kenapa kan?"
π"Aku sih nggak kenapa-kenapa. Tapi Rachel..."
π"Rachel kenapa Sel?"
π"Rachel kena tembak waktu menyelamatkanku."
π"Astaga, sekarang gimana keadaan Rachel?"
π"Rachel sekarang berada di UGD Rumah Sakit lagi mendapatkan penanganan."
π"Oke, Ini aku menelepon teman-teman supaya mendatangi rumah sakit buat melihat kondisi Rachel."
π"Sekalian kabarin suami Rachel ya Ri..."
π"Oke Sel. Ya udah aku mau nelpon yang lain dulu supaya cepat ke rumah sakit."
π"Makasih ya Ri."
Telepon pun ditutup. Selvi lalu menyerahkan ponsel tadi kepada polisi yang meminjamkannya. Kemudian dia duduk sambil menunggu kabar dari Rachel dan kedatangan teman-temannya.
__ADS_1
***