Nuansa 5 Dara

Nuansa 5 Dara
Tuh Kan...


__ADS_3

🎤 Kau adalah darahku


Kau adalah jantungku


Kau adalah hidupku


Lengkapi diriku


Oh sayangku, kau begitu


Sempurna, Sempurna...


Mulai dari coffee shop buka sampai sejam berlalu, Mira melamun dan kadang bernyanyi sendiri sambil mengikuti lantunan musik yang diputar di komputer kasir yang terhubung dengan speaker agar suasana kafe lebih elegan karena ada musik yang didengar.


Riana yang melihat temannya yang sedari tadi tidak seperti biasanya, bertanya kepada Fajar, salah seorang karyawannya,


"Fajar... Itu kamu tahu apa yang buat Mira jadi nggak kayak biasanya?" tanya Riana.


"Nah bu, saya kurang tahu juga. Cuma dari gelagatnya sepertinya lagi jatuh cinta," jawab Fajar.


"Hah... masa sih? Tapi kayaknya beneran jatuh cinta nih orang. Coba saya tanyakan," kata Riana sambil mendekati Mira.


"Mir..."


Tidak ada sahutan dari Mira,


"Mira Kusuma Wardani...."


Mira langsung tersadar dan melihat kearah Riana seraya berkata, "Waduh, keluar nama lengkap ku..."


"Habisnya ada orang dipanggil nggak dengar sih. Makanya sekalian saja kupanggil nama lengkapnya. Untung dengar. Coba kalau nggak, bisa-bisa ada niatan ku buat siram dirimu pakai air mineral ini," sahut Riana sambil memegang botol berisi air mineral.


"Waw... istighfar bu bos yang terhormat dan tercantik. Menyakiti karyawan ada pasalnya lho. Tanya sana sama Rachel. Jadi bos besar jangan sadis lah," balas Mira sambil tertawa.


"Dirimu kenapa sih Mir?" tanya Riana.


"Eh... anu... anu... nggak ada apa-apa," sahut Mira salah tingkah.


"Kayaknya nih ada orang yang lagi jatuh cinta. Siapa nih lelaki yang bisa menaklukkan hati bestie ku yang cantik seperti dirimu?" tanya Riana.


"He-he-he... nggak ada," sahut Mira dengan cepat.


"Yah, nggak mau ngaku lagi. Kita itu bersahabat bukan dari kemarin lho Mir. Aku tahu, kalau dirimu seperti ini pasti karena lagi jatuh cinta..." ucap Riana.


"He-he-he... iya deh. Iya, Jujur aku lagi jatuh cinta," jawab Mira jujur.


"Nah, siapa nih orangnya? kenalkan lah!" celutuk Riana.

__ADS_1


"Yang pasti bukan lelaki nggak tahu diri yang pernah jadi mantan suami itu ya," sahut Mira.


"Cerita... cerita...," paksa Riana.


"Lah, kok bestie ku jadi se-kepo infotainment dengan berita-berita hebohnya?" tanya Mira.


"Nggak mau tahu. Pokoknya harus cerita. Kalau nggak mau bos Riana tambah kepo dan menyiarkan berita ini se Indonesia," ancam Riana.


"Waduh, kayak yang punya stasiun TV aja dirimu Ri. Iya deh. Nanti aku cerita sambil kita duduk ya Ri. Ini aku mau beresin hitungan dulu," kata Mira.


"Oke, ku tunggu di sana," kata Riana sambil menunjuk ke sebuah meja untuk pelanggan dan berjalan menuju ke sana.


"Iya Ri, iya..." sahut Mira.


***


10 menit berlalu, pekerjaan Mira sudah selesai. Ia pun menghampiri Riana yang sedari tadi menunggunya,


"Nah, sekarang ayo cerita Mir," kata Riana yang sudah tidak sabaran.


"Iya, nih aku mau cerita. Pada suatu hari, hiduplah kancil dan buaya di sebuah hutan ...."


"Bentar, Ini bukan tayangan kartun Pada Zaman Dahulu yang suka ditonton anak bungsuku. Serius Mir..." kata Riana agak sewot.


Iya iya. Aku cerita. Jadi tempo hari di coffee shop kita ini, aku kedatangan kawan lama waktu SD. Dulu nakalnya nauzubillah. Bahkan aku yang cewek saja pernah jadi korban kenakalan nya. Rok ku pernah kena permen karet yang dia letakkan. Eh sewaktu dia datang kesini, ternyata dia sudah jadi tentara. Perwira lagi," tutur Mira.


"Ciee... Sama orang Angkatan. Terus, bestie ku jatuh cinta?" tanya Riana.


"Kagum dan berharap lebih ya Mir. wkwkw... Oh iya, ngomong-ngomong, emang si perwira ini nggak punya istri?" tanya Riana lagi.


"Istri nya meninggal sewaktu melahirkan anaknya. Sampai sekarang kata dia belum mau mencari pengganti istrinya. Tapi katanya seminggu belakangan ini, dia bermimpi kembali ke masa kecil waktu SD, dan teringat kenangan bersamaku. Katanya lagi, ternyata waktu dia kesini merayakan ulang tahunnya, malah ketemu ku disini," cerita Mira.


"Ciee... dipertemukan kembali dengan diawali dari mimpi. Seperti cerita-cerita di novel sama di FTV," canda Riana.


"Ya kan kita nggak tahu apakah yang dibilangnya benar atau nggak. Cuman kalau dia belum punya istri lagi kayaknya benar sih," ucap Mira.


"Nanya lagi dah supaya lengkap pertanyaan nya. Ini perwira tampan nggak?" tanya Riana kepo.


"He-he-he... kalau menurut ku sih nggak kalah tampan dari oppa-oppa Korea. Ketampanannya meningkat 200% sekarang daripada waktu SD. Emang kenapa Ri?" Mira balik bertanya.


"Siapa tahu aku naksir juga," kata Riana asal ceplas-ceplos.


"Eh... eh... ingat Ri, suami tercinta mu ada dirumah lho," balas Mira.


"Siapa tahu kan bisa punya pacar lagi. Apalagi ini seorang tentara," celutuk Riana.


"Astaghfirullah Ri. Sadar woy, sudah punya suami ganteng dan perhatian, malah niat nya buruk seperti itu," ujar Mira dengan nada kesal.

__ADS_1


"He-he-he... ya nggak lah. Suami ku itu anugerah terindah dalam hidupku. Nggak akan tergantikan," jawab Riana.


"Ya iyalah Mir. Makanya jangan sampai kamu bicara seperti itu lagi," sahut Mira dengan nada sedikit kesal di balas dengan tawa dari Riana.


"Canda bos. Nggak mungkin juga kan aku bisa seperti itu," sambung Riana.


***


Tak lama berselang, Noval si perwira berkunjung kembali ke coffee shop. Mira langsung gelagapan melihat kedatangan Noval.


"Eh, bapak komandan datang. Nggak dinas pak?" tanya Mira sedikit bercanda untuk menutupi dag dig dug jantung nya yang berdegup kencang.


"Lah, kalau di luar jangan panggil komandan lah. Kalau diluar aku ya seorang warga negara kok," sahut Noval agak sedikit risih.


"Canda Val. Jangan diambil hati. Ngomong-ngomong, kenapa jam segini sudah nongkrong di coffee shop? Pake baju dinas pula. Entar ketahuan komandan beneran, Langsung keluar surat perintah pensiun dini karena suka bolos Val," sahut Mira.


"Nggak lah. Aku kesini karena ini waktunya jam makan siang. Sekalian mau menemui dirimu," tembak Noval.


"Ciee... sohib ku jadi merah mukanya," celutuk Riana sambil mengarahkan pandangannya ke arah Mira.


"Oh ya Noval, kenalkan ini sahabat sekaligus bos ku disini," kata Mira memperkenalkan Riana.


"Riana..."


"Noval..."


"Oh ini ya lelaki yang buat sohib ku jadi bertingkah aneh hari ini," kata Riana.


"Aneh nya bagaimana mbak?" tanya Noval.


"Dari buka tadi pagi. Si Mira senyum-senyum sendiri. Terus kalau lagu yang diputar lagu cinta, dia ikutan nyanyi. Bahkan sempat melamun sambil ketawa," kata Riana.


"Ya elah, ini sohib kok mulutnya ember banget lah," gerutu Mira.


"Emang benar seperti itu Mir?" tanya Novan.


"Eh... nggak kok... nggak seperti itu..." jawab Mira salah tingkah.


"Nggak masalah kok Mir. Soalnya aku juga dari tadi di kantor nggak bisa konsentrasi. Makanya datang kesini untuk melihatmu. Siapa tahu konsentrasi ku kembali," sahut Noval dengan tersenyum.


"Nah gayung bersambut ini namanya. Getaran dua hati yang saling merindu," Riana dengan puas mencandai Mira.


"Puas sudah? puas mencandai sohib ya Ri?" tanya Mira dengan sewot.


"Jangan marah... oh ya mas Noval, mau pesan apa? Hari ini biar bos dulu yang melayani," kata Riana.


"Pesan macchiato yang panas ya mbak," kata Noval.

__ADS_1


Riana pun meninggalkan dua sejoli itu berbincang intim dan menyuruh anak buahnya menyiapkan kopi yang di pesan oleh Noval. Kemudian Riana mengantarkan pesanan Noval dan setelah itu permisi kepada Mira untuk balik ke rumah.


***


__ADS_2