
Gabriel tiba di kantor dengan terburu buru. Sepuluh menit yang lalu Peter mengabarinya bahwa hari ini akan di adakan meeting dadakan.
Sontak membuat Gabriel marah. Dan menyalahkan Peter. Peter yang tidak terima mencoba menjelaskan pada Gabriel bahwa dia sudah menghubungi Gabriel dari sejam yang lalu.
" Kenapa baru kasih kabar sekarang,huh? " bentak Gabriel pada Peter di seberang sana.
" Bos,aku udah hubungi bos dari satu jam yang lalu " elak Peter.
Gabriel diam sesaat,di lihatnya layar ponsel. Dan benar saja ada lima panggilan tak terjawab tertera di sana. Serta satu pesan yang belum terbaca.
Bos,nanti ada meeting dengan client dari kota F pukul 08.00.
Sadar dengan kesalahan,akhirnya Gabriel meminta maaf. Lagian siapa yang akan peduli ketika dia nananina dan membiarkan orang mengganggunya.
" Baiklah. Maaf "
Sesudah itu seperti biasa mematikan ponselnya secara sepihak.
Untuk sesaat Peter terdiam. Ada yang aneh rasanya ketika seseorang meminta maaf untuk yang pertama kali,padahal orang itu paling anti untuk mengucapkan kata maaf.
Tunggu,Apa hari ini matahari terbit dari Selatan? batin Peter bertanya tanya.
Akh sudahlah,mungkin aku salah denger " lanjutnya.
▪︎▪︎▪︎▪︎
Sedangkan di sebuah kamar,seorang wanita melenguh merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Dia baru bangun dari tidur,terganggu oleh sinar matahari yang menerpa wajahnya.
Dengan sekuat tenaga,dia mencoba bangun dari tidur. Dia terkejut saat menemukan tubuh polos tanpa sehelai benang pun.
Ya Tuhan...ternyata bukan mimpi. Akh shit. Om Gabriel keterlaluan. Makinya di dalam hati.
Untuk sesaat terdiam,dia masih bingung bagaimana ia akan berjalan. Sedangkan area sensitivenya terasa sakit.
" Huh...bagaimana aku berjalan, aku juga harus melihat Universitas nanti siang. Akh dasar Gabriel sialan " gumam Zihan.
Lamunan Zihan terhenti di saat ponselnya berdering. Lagu Senorita menggema di telinganya. Tanpa melihat siapa yang memanggil dia geser tombol hijau itu.
" Hallo " jawabnya ketus.
" Kakak..." panggil nya,
Serasa kenal dengan suara di seberang sana,Zihan menatap balik layar ponselnya. Akh,adikku tercinta pikir Zihan.
" Bram? " tanya Zihan memastikan.
" Kakak, Bram kangen " keluh Bram.
" Nanti kakak pulang. Baru juga sepuluh hari. Manja banget " ucapnya.
" Sepuluh hari,tapi Bram rasa sepuluh bulan "
" Lebay... "
__ADS_1
Bram terkekeh di balik ponsel,inilah yang ia rindukan dari kakak judes nya itu. Walupun begitu,Bram sangat menyayangi Zihan. Begitupun sebaliknya.
" Benar kak. Itu fakta,tak terbantahkan "
" Ya deh iya... Gimana kabar? "
" Aku di sini gak baik kak "
" Kenapa kamu? Sakit? "
" Aku gak baik,gara gara muka ku tambah ganteng,aku jadi rebutan para gadis di sekolahku "
" Aish.. ternyata selain lebay kamu bertambah,narsis juga sudah naik level rupanya "
" Hahaha... " Tawa Bram lepas,dia berhasil lagi membuat kakaknya tambah jengkel.
Namun inilah yang di rindukan Zihan selama ini. Dia hanya tersenyum mendengar adik konyolnya itu. Rasa sakitnya pun seakan hilang untuk sesaat di saat mereka bergurau satu sama lain.
" Apa kabar Mom and Dad? "
" Baik, mereka selalu merindukan kakak "
Akh...mulai lagi. Hati Zihan serasa sesak kalau mengingat ke dua orang tuanya. Meskipun setiap hari mereka berkomunikasi tetapi Zihan tak pernah puas untuk mengetahui kabar kedua orang tuanya.
" Bagaimana kuliah kakak? Udah nemu Universitas yang cocok? "
" Rencananya,kakak siang ini baru akan melihat suasana di salah satu Universitas rekomendasi dari Om Gabriel "
" Makasih,Bram "
Entah berapa lama mereka menghabiskan waktu untuk melepas rasa rindu. Bahkan Zihan sampai melupakan kalau dirinya belum mandi dan masih dalam keadaan full tanpa sehelai benang.
▪︎▪︎▪︎▪︎
Hari semakin siang dan Zihan masih belum keluar dari kamar. Gabriel yang sudah menyelesaikan meeting dengan client nya pun segera pamit pulang pada Peter. Tidak lupa untuk menghandle semua pekerjaan yang Gabriel tugaskan.
" Aku pulang, kamu handle dulu semua kerjaan ku. Kalau tidak ada hal yang penting di larang menelponku " ucap Gabriel memerintah.
" Baiklah " jawab Peter pasrah.
Mau di tolak pun susah,tu kucing garong pasti ngeluarin cakarnya.
Sudah sifat Gabriel ketika dia membutuhkan waktu pribadi. Semua pekerjaan akan di serahkan kepada Peter. Terkecuali pekerjaan yang mengharuskan dirinya untuk menghandle sendiri.
▪︎▪︎▪︎¤
Tepat pukul satu sing waktu setempat,Gabriel tiba di rumahnya.
" Koko "
" Iya,Tuan "
" Dimana istriku "
__ADS_1
" Nona dari tadi pagi sampai sekarang belum keluar dari kamarnya "
" Apa? . Apa dia udah makan? " teriak Gabriel cemas.
" Sudah Tuan,tadi Minah yang mengantar makanannya ke kamar " jawab Koko menunduk.
" Baiklah "
Tumben,Tuan muda pulang kantor jam segini? Apa ada masalah serius lagi ? batin Koko menebak.
Sebelum masuk kamar,Gabriel menarik nafas dalam. Dia harus bersiap menghadapi sikap istrinya yang kini semakin membuat amarah Gabriel semakin bertambah.
" Sayang.. " panggil nya di saat pintu terbuka.
Di pandangnya sekeliling kamar itu. Tetapi istri cantiknya tidak terlihat di sana. Niat ingin kembali dan bertanya pada Koko,namun suara pintu kamar mandi yang terbuka menghentikan langkah Gabriel.
Keluarlah seorang wanita yang di rindukan Gabriel setengah hari ini. Dia berjalan memakai handuk yang melilit pada tubuhnya. Tak lupa rambut yang terurai basah menambah kesan sexy pada wanita tersebut.
Gabriel ternganga melihat pemandangan langka di depannya. Dia tak pernah bermimpi bahwa dia akan melihat orang yang di inginkan nya hanya memakai handuk yang menutupi tubuh polos wanita tersebut.
" Tutup mulutnya,Om " kata Zihan mengagetkan Gabriel.
" Akh,iya...emh...maaf... " jawab Gabriel gelagapan.
" Ada apa? "
" Jadi melihat Kampus yang kamu inginkan itu? "
" Jadi " jawab Zihan ketus.
" Zihan,bisa gak kalau ngomong sama suami itu lebih sopan ?. Aku ini sekarang suami kamu, Zihan. Terima gak terima itu kenyataannya. Aku tahu jika selama ini aku menyakiti hati bahkan mental kamu. Tapi itu semua ku lakukan karena aku gak mau kehilangan kamu " ucap Gabriel selembut mungkin. Sedangkan Zihan menunggu ucapan Gabriel yang selanjutnya.
" Sepuluh tahun aku memendam rasa ini. Dan itu sungguh sangat sulit Zihan. Aku harus merasakan rasa sakit karena status kita selama ini. Aku juga harus merasa sakit di saat perasaan ini hanya aku yang merasakan. Kamu boleh tidak percaya dengan segala ucapanku. Namun itulah yang ku rasakan selama ini. Apalagi ketika nenek dan kakekmu yang tak lain orang tuaku,mereka memaksaku untuk belajar di luar negeri dan memisahkan kita. Di saat itu hati aku hancur Zihan. Benar benar hancur "
Hati Gabriel sesak di saat mengingat perjuangan cintanya. Sedangkan Zihan dia bahkan berdiri tak bergerak, baju yang akan di pakainya pun hingga terjatuh tanpa sadar dari genggaman tangannya.
Terkejut!!!
Sangat terkejut,sepuluh tahun yang lalu,berarti dia masih berumur delapan atau sembilan tahun. Selama itukan Om- nya itu memendam rasa Cinta. Tapi kan waktu itu Zihan masih terlalu dini untuk memahami semua. Bahkan sampai sekarang pun Zihan masih belum memahami apa itu Cinta. Aissh... memanglah rumit kehidupan dewasa ini!!!.
▪︎▪︎▪︎¤
Author sengaja up nya lebih awal, semoga bisa mengobati rasa penasaran reader semua untuk kelanjutan novel ini.
Jangan lupa,kritik saran dan Like nya.
Macacih...
Ups...salah...
Makasih..
Happy Reading...
__ADS_1