
Setelah puas menggagahi tubuh Zihan. Gabriel membersihkan badan Zihan. Zihan hanya terdiam dengan tangisan yang tak berhenti. Sungguh Zihan merasa jijik dengan kelakuan Om nya. Tak di sangka di balik kebaikan Gabriel selama ini ada maksud tertentu.
Namun Zihan lebih tak menyangka kalau Gabriel melakukan semua ini kepadanya, anak dari kakak kandungnya sendiri. Yang seharusnya dia lindungi dan jaga. Namun Gabriel mengartikan itu dengan kata lain. Melindungi dan menjaga dengan kata Gabriel adalah memiliki seutuhnya.
Di rasa sudah bersih memandikan tubuhnya dan tubuh Zihan. Gabriel mengambil handuk dan melilitkan satu handuk di pinggangnya. Satu lagi ia pakai untuk menutupi tubuh polos Zihan. Kembali menggendong dan meletakkan tubuh Zihan di atas ranjang lalu menyelimutinya.
" Istirahatlah. Sebentar lagi makanan datang. Kamu harus makan yang banyak agar punya tenaga untuk permainan panas kita di musim dingin ini " Ucap Gabriel sambil tersenyum mesum.
Cih...
Zihan meludah tepat di muka Gabriel. Gabriel yang tak terima dengan perlakuan Zihan rasanya ingin sekali Gabriel mencekik leher Zihan. Namun di urungkannya. Karena untuk saat ini tujuannya membuat Zihan bertekuk lutut padanya.
Daripada ia semakin kesal dengan tingkah Zihan,Gabriel memilih mendekati lemari,memakai pakaian yang ia pilih dan segera keluar dari kamar. Tak memperdulikan keadaan Zihan yang belum memakai sehelai benang pun selain selimut yang menutupi bagian tubuhnya.
Tok...tok...tok...
" Nona,makanannya sudah siap " Ucap Koko sambil membawa nampan berisikan makanan dan segelas susu untuk Zihan makan siang. Karena hari sudah menunjukkan jam 13.30. Di letakkan nya nampan itu di meja depan sofa yang ada di kamar Gabriel. " Jika anda membutuhkan sesuatu,anda bisa katakan pada saya,Nona "
" Tidak,Keluarlah!!!! " Koko pun keluar dengan sejuta pertanyaan di kepalanya.
Sungguh Zihan tak merasa lapar,walau hampir seharian ini dia belum makan. Dia benar benar merasa jijik pada tubuhnya. Bahkan Koko yang melihat keadaan Zihan tak ingin bertanya walau dalam hati kecilnya Koko sangat kasihan menatap wajah Zihan yang di banjiri air mata.
Apa yang sudah tuan muda Zito lakukan?
__ADS_1
pertanyaan itu jelas terlintas di fikiran Koko.
" Koko " panggil Gabriel. " Iya, Tuan muda?,ada yang bisa saya bantu ? " Ketika koko melintasi kamar tamu samping kamar Gabriel.
" Apa Zihan masih nangis?, " Koko hanya mengangguk sebagai jawaban.
" Pergilah" koko pun berlalu pergi meninggalkan Gabriel" Pasti dia gak akan makan,aku harus memaksanya " gumam Gabriel mendekati pintu lalu membukanya.
Benar saja,Zihan masih menangis memunggungi pintu. Rasa sakit di tubuh Zihan tak sebanding dengan rasa sakit di hati Zihan saat ini. Dengan perlahan Gabriel mendekati Zihan.
" Hentikan tangisanmu,Zihan !!!, Dan makanlah " kata Gabriel sambil mengangkat tubuh Zihan yang di bungkus selimut.
" Turunkan aku,Brengsek!! ".teriak Zihan dan dengan segera Gabriel mendudukkan Zihan di sofa. " Biarkan aku mati saja daripada harus menanggung semua penderitaan ini. Biarkan aku.... Aku mohon..., Aku gak mau Mom and Dad malu dan kecewa punya anak yang tak suci lagi. Apalagi adiknya lah yang mengambil itu dariku. Ku mohon tinggalkan aku " lanjutnya,dengan suara lemah terucap di bibir Zihan.
Gabriel yang mendengar semua ucapan Zihan yang pilu membuat dada Gabriel merasakan sesak dan susah bernapas. Dia tak mengira bahwa yang di lakukannya akan membuat Zihan sefrustasi ini. Dia hanya tak ingin Zihan di miliki orang lain selain dirinya. Muncul penyesalan walau tak sebesar egonya.
" Dengan cara apa,Om ?. Mom and Dad gak mungkin menyetujui apa yang ada di fikiran Om... "
" Mari menikah? " ucap Gabriel. Zihan makin terkejut dengan ide gila Gabriel. Bagaimana mungkin ia akan menikahi Om nya sendiri. Hal yang sangat mustahil Zihan lakukan. Tatapan Zihan menajam menatap Gabriel " Mari menikah, bagaimana kalau nanti kamu mengandung anakku dan kita belum menikah ?. Pikirkan itu Zihan. Dan sekarang makanlah dulu... " kali ini bahkan Zihan bembelalakkan matanya. Meraba perut lolosnya di balik selimut.
Mengandung?
Kata itu yang kini ada di fikiran Zihan. Benar, bagaimana kalau dirinya mengandung anak Gabriel. Hati dan fikirannya semakin kacau. Makanan yang di sodorkan gabriel tepat di depan mulutnya pun Zihan tak sadar.
__ADS_1
" Zihan " panggil Gabriel berkali kali.
Gabriel sungguh menjadi lelaki paling sabar di depan Zihan. Berbeda pada saat Gabriel berhadapan dengan orang lain bahkan orang tuanya. Dia akan tetap memasang wajah angkuhnya dan selalu mengutamakan kecepatan serta kekerasan. Bahasa yang tajam serta tatapan membunuh.
Di rasa sudah jengah,Gabriel memasukkan sesendok nasi itu masuk dalam mulutnya. Mendekatkan diri pada Zihan yang masih berperang dengan fikirannya. Tanpa menunggu lagi,Gabriel mencium bibir Zihan dan menggigitnya. Zihan sekali lagi terkejut dengan kelakuan Gabriel. Karena rasa sakit dari gigitan Gabriel membuat Zihan membuka mulutnya. Di saat bersamaan Gabriel memasukkan nasi dari mulutnya di pindahkan ke dalam mulut Zihan.
" Makan " perintah Gabriel sambil tersenyum. " Apa mau seterusnya memakai cara ini,Sayang " Gabriel memberanikan diri menggoda Zihan.
" Berhenti menggodaku. Aku benci sama om. Keluarlah, Om " pinta Zihan dengan nada tegas.
Bukan Gabriel namanya kalau harus menuruti kemauan orang lain. Apalagi menuruti keinginan Zihan untuk meninggalkan ia sendiri. Perasaan takut yang kini Gabriel rasakan membuat ia tak ingin meninggalkan Zihan walau hanya selangkah dari dalam kamarnya.
Zihan benar benar di buat murka oleh Gabriel. Dia ingin sekali menampar dan mengumpat Gabriel dengan kata kata yang menyakitkan. Namun itu tak di lakukannya. Nyali Zihan menciut kala melihat tatapan Gabriel yang menakutkan.
" Zihan,jangan menatapku seperti itu. Kamu gak akan kenyang kalau hanya menatapku " Ucap Gabriel menyadarkan Zihan. " Aaaa...makanlah. " pinta Gabriel yang kembali menyuapi Zihan. " Setelah ini pakailah baju mu yang sudah Koko siapkan di lemari itu " lanjutnya sambil menunjuk lemari di samping lemari pakaian Gabriel.
Usut punya usut,Gabriel selama ini sudah menyiapkan segala keperluan Zihan di kamarnya. Awalnya ia akan menemui kakaknya dan meminta Zihan secara baik baik pada Mr.Hito setelah Zihan lulus sekolah menengah atas untuk di jadikan istrinya. Namun takdir baik berpihak lebih cepat pada Gabriel. Zihan sendiri yang menemui Gabriel. Walau alasannya akan melanjutkan pendidikan. Namun itu adalah kesempatan baik bagi Gabriel yang ingin segera memiliki Zihan seutuhnya.
🖤🖤🖤
Man teman,terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel ini. Saya berharap man teman memberikan kritik dan saran kalian.
Maaf bila pemilihan katanya yang kurang memuaskan. Apalagi banyaknya typo bertebaran.
__ADS_1
Salam kenal dari Author...
Happy Reading...