Om Ku Suamiku

Om Ku Suamiku
Kedatangan Marcel


__ADS_3

Gabriel keluar dari mobil dengan senyum yang tak pernah luntur dari bibirnya. Malam ini adalah malam terbahagia untuk Gabriel,dia merasa dunia hanya miliknya. Begitu pun dengan Zihan yang Gabriel klaim hanya miliknya seorang.


Berbeda dengan Gabriel,Zihan sedari tadi cemberut menahan rasa kesal yang hinggap di hatinya. Dia amat sangat kesal dengan keluarga Smith,sampai berimbas pada Gabriel sendiri.


Sementara Koko tersenyum penuh arti di saat penglihatannya menangkap ada guratan frustasi di dalam diri Gabriel. Meskipun senyuman Gabriel tidak pernah luntur.


Sepertinya Tuhan lagi berbaik hati padaku. Hingga malam ini mataku bersih tidak ternoda. Aku menikmati semuanya.. Hahaha.


batin Koko bergumam.


" Baby,don't be angry ( Sayang,jangan marah )" ucap Gabriel frustasi..


Namun Zihan tetap berjalan masuki mansion tanpa menghiraukan permohonan Gabriel.


" Stop. I am tired,Gabriel( Berhenti. Aku capek,Gabriel) " balas Zihan di saat pergelangan tangan Zihan di cekal Gabriel.


" Okey.. I'm sorry. " Ucap Gabriel memeluk tubuh Zihan dari belakang " Aku sungguh tidak tahu,jika dia akan menawarkan anak gadisnya. Tapi sungguh,aku tidak tertarik dengannya. Hanya kamu sayang... " bisik Gabriel tepat di telinga Zihan.


" Sudah?. Bukankah dia wanita cantik yang punya segalanya. Sementara aku? " ucap Zihan.


Nah kan,sesuai pikiran Gabriel. Pasti Zihan-nya akan merasa kesal dan berujung susah untuk di dekati. Apalagi saat ini kondisi dan emosi Zihan pun lagi tidak stabil. Namun Gabriel mencoba menahan amarahnya,dia akan bersabar hanya untuk Zihan seorang.


" Hanya kamu. Sekali kamu,maka hanya kamu seorang,Sayang " ucap Gabriel.


Baru aja mataku terbebas dari kemesraan mereka. Kenapa tuhan tidak pernah adil padaku Batin Koko menangis.


Dengan senyum merekah,Koko melangkahkan kakinya dan masuk ke dalam mansion Gabriel. Namun betapa terkejutnya dia saat melihat pemandangan yang sedari tadi Koko hindari.


^


Setelah Zihan dan Gabriel masuk ke dalam kamar mereka. Mereka silih berganti membersihkan tubuhnya. Setelah itu keduanya tidur dengan posisi saling berpelukan. Dimana kepala Zihan telah berpindah di dada bidang Gabriel.


" Kenapa belum tidur,hm ? " tanya Gabriel.

__ADS_1


" Gak papa. Tadi kekenyangan tidur di kantor " jawab Zihan asal.


" Maafin,Om ya... Demi keselamatan kamu,Om jadi buat kamu kelelahan dan harus ikut Om bolak balik kantor " kata Gabriel membuat Zihan mendongakkan kepalanya.


Zihan tersenyum,setelah itu dia bangun dan duduk sambil menatap lekat muka ayah dari bayi dalam rahimnya itu.


" Zihan yang seharusnya minta maaf. Lelaki itu datang karena ulah Zihan " kata Zihan yang kembali merasa bersalah.


Sekarang giliran Gabriel yang mengikuti Zihan. Dia menggeleng lalu bangun dan dengan segera menangkup ke dua pipi Zihan.


" Om mencintaimu,Zihan. Sangat " kata Gabriel membuat Zihan selalu merona.


Mereka hanyut dengan kegelapan malam. Hanya sinar rembulan yang menerangi saksi ke duanya menuntaskan segala beban dan hasratnya.


" Om gak akan melepaskanmu. Karena kamu hanya milik Om. Begitupun dengan janin ini " kata Gabriel setelah melakukan ritual malam mereka. " Om akan melakukan apapun untuk melindungi kalian " lanjutnya.


^


Sementara di tempat lain.


" Seandainya ada wanita yang seperti dia yang mampu membuatku tertarik " ucap lelaki satunya.


Dan dengan cepat lelaki di sampingnya menoleh dan menatap iba pria di sampingnya. Dengan kemeja serta rambut yang acak-acakan. Jangan lupakan,senyum yang semakin memudar terlihat jelas dari sudut mata lelaki satunya lagi.


" Kenapa kamu menyiksa dirimu sendiri,Kak? " ucap lelaki satunya.


" Tapi aku benar-benar bisa gila hanya karena dia seorang,Kyle " ucapnya.


" Tapi dia itu istri orang,Raf " ucap Kyle.


" Aku akan merebutnya,Kyle. Akan " ujar Rafael.


" Kamu GILA? " bentak Kyle. " Lebih baik kita pulang lagi ke Roma,biar kamu gak semakin Gila " kata Kyle emosi.

__ADS_1


Bagaimana pun Kyle tidak menginginkan sesuatu hal buruk terjadi pada Rafael. Bukan tanpa alasan,tetapi seorang Gabriel bukan lawan yang setara dengan Rafael.


" Aku gila karena Zihan,Kyle. Lelaki pengecut itu harus terima akibatnya " ucap Rafael sebelum kesadarannya menghilang.


" Dasar ngerepotin. Gue bawa balik ke Roma aja kalau tahu nyusahin begini. Katanya mau datengin Zihan lah,mau rebut juga nikahi Zihan. Bodoh " umpat Kyle kesal.


Kyle memapah tubuh Rafael setelah itu dia membawa Rafael menuju hotel tempat mereka menginap. Dia merebahkan tubuh Rafael di atas kasur king size di hotel tersebut.Setelah itu Kyle menelpon seseorang buat bantu dia bawa Rafael pulang langsung ke rumah kedua orang tuanya. Yang selama dua tahun belakangan ini tidak pernah Rafael kunjungi.


" Siapkan semuanya " ucap Kyle di balik ponselnya.


Setelah mendapat jawaban,Kyle memutus panggilannya.


Mau rebut istri orang? Kali ini aku gak bisa dukung Raf.. Bagaimana pun,kamu itu salah. Dan aku gak mau kamu berakhir lagi di Rumah sakit. Kamu harus segera sadar dan melepas Zihan. Batin Kyle.


" Maaf,Raf " Gumam Kyle.


Setelah semuanya beres,Kyle membawa Rafael dengan bantuan para bawahan suruhannya. Dia sengaja melakukan penerbangan tercepat untuk mengulur waktu Rafael sebelum lelaki yang kini mabuk berat itu terbangun.


^


Pagi harinya,Koko duduk di teras mansion Gabriel sambil menikmati secangkir kopi. Untuk sesaat dia terdiam di saat melihat mobil yang sangat dia kenal melintas di depan matanya.


Dengan cepat Koko berdiri dan berlari menghampiri pemilik mobil tersebut. Dan turunlah lelaki paruh baya dengan tongkat di tangannya. Dia tersenyum melihat Koko yang kini telah membungkuk kepadanya.


" Selamat Datang,Tuan besar " ucap Koko.


Dia tertunduk tak berani melihat netra lelaki di depannya. Namun berbeda dengan lelaki paruh baya tersebut dia tersenyum ramah sambil berjalan memasuki mansion Gabriel.


" Dimana anak dan menantuku? " tanya lelaki tersebut.


" Tuan Muda dan Nona Muda masih tidur,Tuan " jawab Koko hati-hati.


" Ya Sudah. Kalau gitu kamu antar aku ke kamar tamu " pinta Marcel.

__ADS_1


Dengan cepat Koko berjalan.Dia sangat takut dengan aura yang terpancar dari Tuan Besarnya. Meskipun Marcel sendiri tidak pernah membuat mereka merasa takut padanya.


Setelah sampai,Koko meninggalkan Marcel sendiri. Katanya dia membutuhkan waktu untuk istirahat. Dan dengan patuh Koko menurut berlalu menuruni tangga dan menikmati kembali kopi yang belum sempat ia habiskan.


__ADS_2