Om Ku Suamiku

Om Ku Suamiku
Kejutan


__ADS_3

Diam - diam Zihan bangun dari tidurnya. Dia juga mengangkat pelan tangan Gabriel yang masih melingkar di pinggangnya. Lalu menaruh tangan Gabriel dengan hati-hati.


Rasa bersalah dalam diri Zihan kini semakin menjadi di saat melihat kembali wajah pucat Gabriel yang sedang tertidur akibat menahan mual akibat morning sickness yang dia alami.


Setelah puas memandang wajah sang suami,Zihan ke luar dari kamarnya menemui Sri yang kini sedang memasak untuk sarapan majikannya.


" Nona mau ngapain? " tanya Sri mencoba mengambil gelas yang sedang di pegang Zihan.


" Gak usah, Biar Zihan aja " jawabnya sambil tersenyum.


" Baiklah,kalau ada keperluan yang lain biar saya yang kerjakan,Nona. " pintanya.


" Baiklah "


Zihan menyalakan kompor yang ada di depannya. Dia akan membuat teh manis untuk meredakan mual yang Gabriel alami. Mau bagaimana pun juga,hati Zihan merasa sakit juga ketika melihat Gabriel yang sedang mengalami ngidam bukan dirinya.


" Kamu sedang ngapain,Sayang? " tanya Gabriel saat menuruni tangga.


Dia tadi terbangun karena tidak merasakan kehadiran Zihan. Rasa takut akan di tinggalkan Zihan membuat Gabriel dengan cepat turun dari ranjang dan mencari Zihan. Dia tersemyum hangat ketika melihat istrinya ada di dapur.


" Aku lagi buat teh anget buat,Om " jawab Zihan.


Gabriel mendekat lalu memeluk Zihan dari belakang. Dia bahkan membiarkan tatapan tidak percaya Sri pada majikannya. Dengan cepat Sri menunduk dan segera meninggalkan pasangan yang sedang bermesraan tersebut.


" Mas,malu lah.. Ada orang selain kita di sini " ucap Zihan dengan wajah yang sudah merah merona.


Namun bukannya Gabriel melepaskan pelukannya,dia malah semakin mengeratkan pelukannya juga sesekali mencium ceruk leher Zihan. Membuat Zihan menggeliat menahan geli akibat perbuatan Gabriel.


" Om.. " Ucap Zihan.


Gabriel semakin gencar menggoda Zihan. Hingga Zihan meloloskan desahannya dari mulut mungil Zihan. Dan itu membuat Gabriel semakin lebih semangat lagi menggoda Zihan.


Air yang sudah mendidih menandakan telah matang. Namun Zihan seakan terlena dengan sentuhan Gabriel hingga dia membiarkan air itu mendidih begitu saja.


Tangan kekar Gabriel terulur mematikan kompor yang sedang menyala. Setelah itu dia mengangkat tubuh Zihan,membalikan badan Zihan, lalu mencium bibir Zihan yang semakin lama semakin dalam.


Gabriel berjalan menuju kamarnya kembali sambil mengendong tubuh Zihan tanpa melepas pungutan mereka. Dan ketika sampai di kamar,Gabriel menutup pintu dan menguncinya.

__ADS_1


" Om,nanti Om kesiangan ke kantor " ujar Zihan di saat pugutannya terlepas serta tubuh yang sudah di baringkan di tempat tidur king size mereka.


" Om gak akan ke kantor,biar Peter yang mengantarkan berkas pekerjaan Om ke rumah " jawab Gabriel.


Setelah itu,Gabriel kembali melakukan kegiatannya. Kegiatan yang selama ini selalu dengan paksaan. Namun kali ini mereka melakukan kegiatan itu atas dasar suka sama suka. Sehingga membuat Zihan pun ikut menikmatinya.


Gabriel menidurkan badannya di samping Zihan,sambil mengatur napas yang kini masih ngos- ngosan akibat kegiatan panas mereka. Zihan tersenyum teduh sambil melirik wajah Gabriel.


Ketika keromantisan di antara mereka terbangun. Di depan rumah Gabriel terdapat sepasang suami istri yang sedang mengamuk meminta Gabriel keluar dan menemuinya.


Dengan langkah cepat,Koko berlari menaiki tangga lalu mengetuk pintu kamar utama Gabriel dan Zihan.


tok..tok...tok..


Ketukan pintu kamar,membuat Gabriel dan Zihan dengan cepat memungut pakaian mereka yang berserakan. Gabriel sendiri memakai pakaiannya kembali,sedangkan Zihan,dia berlari menuju kamar mandi untuk mrmbersihkan tubuhnya.


" Ada apa? " tanya Gabriel di saat pintu kamarnya di buka.


" Maaf,Tuan. Di depan ada orang yang sedang berbuat kekacauan " adunya.


Tiga puluh menit,pasangan itu menunggu Gabriel. Membuat mereka bertambah marah dengan ketidak hadiran Gabriel.


" Suruh dia keluar,bilang ini kakak Erina dan Kak Hito ingin menemui Zihan,anaknya " teriak Erina.


Erina dan Hito sangat khawatir ketika mereka tidak dapat mengetahui kabar anak sulungnya . Karena sejak dua minggu terakhir ini,Zihan maupun Gabriel sangat susah untuk sekedar di hubungi. Karena itu,Erina dan Hito memutuskan untuk menjenguk putri sulungnya di rumah Gabriel.


Dengan cepat Koko kembali berlari mengetuk pintu kamar Gabriel.


" Dia bilang mereka itu kakak anda,dan orang tua Nona Zihan,Tuan " ucapan Koko membuat Gabriel diam mematung.


Mereka datang di waktu yang tidak tepat. Aku harus bagaimana ini ?


Sungguh,sekarang dada Gabriel berdetak layaknya orang yang sedang lomba lari. Di satu sisi dia merasa takut oleh kakaknya itu,tapi di sisi lain dia juga tidak mau menyerahkan Zihan pada orang tuanya..


" Baiklah "


Gabriel menuruni anak tangga, dan segera menyambut kedatangan Erina dan Hito.

__ADS_1


" Maaf menunggu lama " ucap Gabriel


" Mana Zihan? " tanya Erina tanpa menjawab pertanyaan Gabriel.


Pandangan mata Erina maupun Hito sangat tajam membuat Gabriel sedikit gugup karena tatapan mereka berdua. Namun sebisa mungkin Gabriel menetralkan detak jantung serta mimik mukanya.


" Mungkin masih di kamarnya,Kak " ucap Gabriel pelan.


Dia tidak mungkin membicarakan tentang semuanya sekarang. Karena dia juga tidak mau membuat suatu hal buruk terjadi pada Zihan serta kandungannya.


" Kemana kalian selama beberapa minggu sudah kami hubungi? " selidik Hito,membuat Gabriel kelabakan.


" Kami ada kok,Kak. Mungkin Zihan masih sibuk dengan kuliahnya " bohong Gabriel.


Wajah Erina dan Hito pun kini berangsur santai. Dan itu sangat terlihat oleh mata Gabriel. Untuk sesaat Gabriel menghela napas legah dan dengan cepat Gabriel mengirim pesan pada Zihan. Dia menyuruh Zihan untuk tidak memakai pakaian pendek,dan mencoba memberi tahu perihal kedatangan Hito dan Erina.


Jangan pakai pakaian dengan lengan pendek. Mom and Dad kamu lagi berkunjung ke sini.


Isi pesan Gabriel.


Zihan ternganga dengan mulut terbuka lebar. Ketika keluar dari kamar mandi,dia mendengar bunyi ponselnya yang ia taruh di atas nakas. Betapa terkejutnya dia di saat membaca isi pesan dari Gabriel.


Bagaimana kalau orang tuanya tahu apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya?


Takut,


Itulah yang kini Zihan rasakan. Dia tidak tahu harus bagaimana menghadapi setiap pertanyaan dari kedua orang tuanya. Apalagi kini di tambah tubuh Zihan yang semakin hari kian berisi. Pasti akan menimbulkan banyak pertanyaan di benak Hito dan Erina.


Untuk sesaat Zihan termenung sebelum memberi obat pada luka yang sudah mengering dan sedikit lagi sembuh. Setelah itu dia memakan blazer panjang untuk menutupi luka di tangannya.


Sebelum keluar dari kamar,Zihan menghela nafas berat sambil memejamkan kedua matanya. Zihan berjalan pelan sambil menuruni tangga. Namun matanya berpusat hanya pada satu objek di depannya.


" Mom, Dad "


◇◇◇


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2