
Dua minggu berlalu,...
Zihan di bawa ke apartemen Rafael,tepat di saat Zihan keluar dari Rumah Sakit minggu lalu. Rafael menawarkan diri di saat melihat Zihan yang mulai kebingungan mencari tempat tinggal.
" Tinggallah di apartemen bersamaku. Aku janji tidak akan ngapa ngapain kamu " ucap Rafael di saat melihat Zihan melamun. Zihan tidak sedikit pun merespon ucapan Rafael.
Entah apa yang ada dalam fikiran Zihan,namun Rafael yakin ini ada hubungan dengan kehamilannya. Sebab seringkali Rafael melihat Zihan termenung dengan tatapan kosong. Kadang air matanya ikut meleleh.
Pernah suatu hari Rafael melihat Zihan meremas perutnya sendiri sambil berteriak. Pernah juga suatu malam,Rafael mendengar Zihan berkata " Aku benci kamu,Om " dalam tidur lelapnya.
Sebenarnya apa yang telah terjadi denganmu?. Melihatmu seperti ini,membuat hatiku serasa sesak. Ingin rasanya ku peluk dan menjadi sandaran di saat kamu merasakan kesedihan. Tapi kamu seolah telah menutup hatimu. Bahkan di saat pertama kali kita bertemu.
Ada rasa ingin tahu yang muncul dalam pikiran Rafael. Namun dia takut dengan satu kebenaran yang mungkin akan menyakitinya lebih dalam lagi. Harus Rafael akui,dirinya jatuh cinta pada Zihan dari pertama melihatnya di jalan.
" Makanlah " pinta Rafael memberikan sepiring nasi,lauk dan sayuran.
Zihan hanya menoleh,namun kembali melamun. Fikiran Zihan benar benar terguncang. Dia tak menginginkan janin ini,namun dia juga tak bisa kalau harus menggugurkannya.
" Seenggaknya untuk janin yang ada di dalam rahim mu " Rafael mengingatkan.
Lagi lagi Zihan tak merespon ucapan Rafael,membuat Rafael menghela napas panjang.
" Baiklah. Aku akan pergi. Kalau kamu lapar,makanlah " ucapnya meninggalkan Zihan yang menoleh melihat kepergian Rafael.
Aku minta maaf tuan. Aku sungguh tak pantas di perlakukan seperti seorang Ratu. Aku terlalu hina untuk mendapat perhatian dari Tuan. Semoga Tuan berbahagia selalu dan terimasih batin Zihan.
Dia bangkit dan mengambil piring yang berisi makanan tadi. Di lemparnya piring itu sampai makanan dan pecahan piring itu tercampur berserakan. Setelah itu Zihan berjongkok dan mengambil pecahan piring itu,lalu mengarahkan pecahan itu tepat di urat nadi tangannya.
Sreeet....
Darah mengalir deras,namun Zihan mencoba menahan kesadarannya agar tak cepat hilang. Tepat di saat Zihan ambruk,Rafael kembali dan menangkap tubuh Zihan. Dia terkejut melihat darah mengalir deras dari pergelangan tangan kirinya.
" Kamu ini... " geram Rafael sambil menggendong Zihan untuk di bawa ke Rumah sakit terdekat.
Kalau saja Rafael langsung berangkat ke kantor,dia takkan mendengar suara barang yang terpecah. Dan Rafael yakin itu berasal dari kamar yang Zihan tempati.
Sepuluh menit pun berlalu,Rafael tiba di salah satu rumah sakit sambil menggendong tubuh lemas Zihan.Bahkan wajah Zihan sudah sangat pucat,detak jantung nya pun melemah.
" Dokter...,Suster,,,," tariak Rafael. " Tolong dia " lanjutnya dengan nafas terengah engah.
__ADS_1
Suster pun berlari mendatangi Rafael sambil mendorong brankar.
" Silahkan tidurkan di sini " Ucap suster tersebut
Dengan berat hati,Rafael pun menidurkan Zihan di brankar yang tersedia. Suster pun dengan cepat memasangkan berbagai macam alat pada tubuh Zihan. Setelah itu membawa Zihan ke UGD.
Sungguh Rafael merasa gagal menjaga wanita yang kini telah menempati hatinya.
▪︎▪︎▪︎▪︎¤
Sedangkan di Milan,
Gabriel merasakan sakit yang teramat sesak di dadanya.
Ada apa ini.Kenspa dadaku sesak sekali? Apa jangan..jangan... " pikirnya tertuju pada istrinya.
" Tuan kenapa? " tanya Koko di saat Gabriel memegang dadanya. Terlihat bahwa tuannya sedang menahan rasa sakit.
Gabriel hanya menggeleng kepala sebagai jawaban bahwa ia tidak apa apa. Namun arti tidak apa apa itu berbanding terbalik dengan hati dan fikirannya.
Dua minggu sudah Gabriel mencari keberadaan Zihan. Namun Gabriel sendiri membatasi pencariannya karena terhalang oleh kesehatannya sejak Zihan pergi.
Setiap pagi Gabriel bolak balik ke kamar mandi hanya sekedar memuntahkan cairan bening.Tak jarang Gabriel pun menginginkan hal yang tidak wajar menurutnya. Dan itu sangat menyiksa Gabriel. Bahkan Peter dan Sarla pun di buat heran oleh tingkah Gabriel.
" Entahlah,bahkan sudah pergi menemui beberapa dokter, tapi mereka semua mengatakan bahwa Gabriel sangat sehat " jelas Peter.
" Aneh "
Keduanya pun larut dengan pikiran mereka masing masing.
Balik lagi ke Gabriel.
Dia terlihat bersandar di sofa sambil menatap langit langit ruang tamunya.
Di mana kamu sayang? Apa kamu sehat?
Pertanyaan itu seakan terulang ulang di dalam hati dan pikiran Zihan.
dreeet...dreeet...dreeet...
__ADS_1
( panggilan ponsel Gabriel )
" Hm.. " jawab Gabriel di saat dirinya meletakkan ponsel itu di daun telinganya.
" Tuan,ada berita bagus " ucap salah satu kepercayaan Gabriel
" Katakan " jawab Gabriel gak sabar.
" Nona Zihan sedang di Roma. Tapi kami masih belum mengetahui dirinya tinggal di mana " ucap kepercayaan Gabriel membuat Gabriel duduk tegak saking bahagia.
" Terus cari informasinya " pinta Gabriel dengan tegas.
Setelah sambungan berakhir,Gabriel tak pernah lepas dari senyum sumringahnya. Dia akan benar benar bertemu dengan Zihan-nya,dengan wanitanya.
Semoga kamu cepat di temukan,sayang...
▪︎▪︎▪︎▪︎¤
Sedangkan Rafael sedang cemas memikirkan keadaan Zihan.
" Bagaimana keadaannya,Dok? " tanya Rafael di saat seorang lelaki memakai jas putih keluar dari UGD.
" Dia masih belum sadarkan diri. Jika sampai esok pagi dia masih belum sadarkan diri maka akan di nyatakan koma " jelas Dokter itu membuat Rafael melemas seketika.
Dia meremas rambutnya frustasi. Entah bagaimana kalau sampai Zihan pergi meninggalkan Rafael saat ini. Bagaimana pula nanti dia akan jelaskan semua kepada ayah dari janin yang Zihan kandung.
" Bagaimana dengan janin yang dia kandung,Dok? " tanya Rafael lagi
" Janinnya sangat kuat,Pak. Semua baik baik saja " ucapnya sambil berlalu meninggalkan Rafael yang terduduk di kursi tunggu.
Seakan teringat sesuatu,Rafael menghubungi Kyle.
" Ada apa bos? Kenapa jam segini belum ke kantor? " tanya beruntun dari Kyle.
" Zihan menyayat pergelangan tangannya. Dia ingin mencoba bunuh diri" ucap Rafael membuat mata Kyle melotot di seberang sana "Kamu bawakan baju ganti untukku,dan antarkan ke Rumah sakit Holly Spirite" perintahnya dan membuat Kyle memberenggut kesal seketika.
" Awas saja kamu,Bos " gemas Kyle.
Kyle tak habis pikir,kenapa Rafael menginginkan wanita yang tengah mengandung janin lelaki lain. Padahal Rafael dapat dengan mudah mendapatkan wanita yang dirinya inginkan. Di manapun dan siapa pun itu.
__ADS_1
▪︎¤¤¤▪︎
Bersambung...