
Hari sudah semakin siang,setelah membeli ponsel untuk Zihan. Gabriel mengajak Zihan mampir dahulu ke sebuah restoran untuk mengisi perut mereka yang sudah bersenandung minta di isi.
" Habis ini,pulang lah. Om akan pergi ke kantor dulu" kata Gabriel di sela-sela mereka makan.
" Hm "
" Aku gak lama koq,ada rapat penting yang tidak bisa di tunda. " ucap Gabriel lagi
" He'em " balas Zihan seketika menghentikan Gabriel yang sedang makan.
" Kamu tunggulah di rumah dan persiapkan dirimu untuk malam panjang kita lagi " kata Gabriel
" Hm "
Tangan Gabriel di lipat di dada,tatapan matanya mengarah tajam menatap Zihan.
" Kenapa berhenti,Om? " tanya Zihan dengan wajah polosnya.
" Hm " balas Gabriel.
" Hm, ok " ucap Zihan melanjutkan makannya.
Gabriel geram menahan amarah. Zihan yang tidak peka masih tetap melanjutkan makan.
" Kamu itu sengaja ? " tanya Gabriel.
" Hah " Zihan menatap Gabriel,melongo menatap wajahnya. " Sengaja? Maksud,Om? " lanjutnya.
aaarrrght....
Gabriel mengerang frustasi. Sikaf Zihan membuat kemarahannya naik satu level. Ajaib rasanya menghadapi Zihan yang mempunyai sisi lain yang lebih menjengkelkan. Entah itu polos atau bodoh. Gabriel berfikir mungkin di antara keduanya benar.
" Zihan,dari tadi Om bicara dan kamu hanya menjawab hm hm doang? " ucapnya dengan nada frustasi.
Setelah itu membuang nafas kasar.
" Terus? " balas nya.
" Ya Tuhan.... Apa ini karma untukku,karna mencintai anak dari kakak ku sendiri dan menganbil hal yang paling berharga untuknya? " batin Gabriel bersuara.
Di sisi lain,Zihan tertawa dalam hati. Dia sebenarnya enggan untuk menikah dengan gabriel apalagi sekarang harus menutup rapat rapat apa yang ia rencanakan.
Dalam hatinya,dia bertekad akan membuat Gabriel percaya bahwa dia menerima pernikahan ini. Tapi di balik itu ada alasan yang akan Zihan sembunyikan sampai waktunya tiba.
" Sudahlah. Aku sudah gak berselera makan. Kamu bisa pulang sama Koko " Gabriel berdiri meninggalkan Zihan dengan kekesalannya.
Sedangkan Zihan tertawa karena telah berhasil mempermainkan Gabriel.
" Ini hanya permulaan,Om. Apa yang telah Om ambil dari Zihan,maka Om harus membayar semuanya. Zihan pastikan Om akan menyesal seumur hidup,Om " gumam Zihan sambil tersenyum menyeringai.
__ADS_1
♡♡♡
Gabriel yang baru tiba di kantornya memasang wajah yang lebih serem lagi. Istri yang baru ia nikahi beberapa jam yang lalu sudah membuat dia jengkel setengah mati. Bahkan beberapa karyawan yang menyapanya mendapat tatapan lebih tajam dari biasanya.
" Kenapa lagi tuh muka si bos? " bisik karyawan 1
" Lagi dapet kali " bisik karyawan 2
" Gila tu muka,lutut gue ampe kretek kretek. Gemetar sumpah " bisik karyawan 1
" Nyeremin... pasti bakal ada badai tiba tiba " lanjut karyawan 1
" Udah pasti "
Gabriel yang menyadari bahwa kedua karyawan yang baru di lewatinya sedang berbisik tentang dirinya. Gabriel membalikan tubuhnya membuat ke dua karyawan itu semakin susah bernapas.
" Kalian ber-2 saya pecat " ucapnya dingin sambil berlalu.
Sedangkan ke dua karyawan tadi hanya bisa membuang napas kasar sambil melongo. Terkejut dengan ucapan bosnya tersebut. Nasib malang buat mereka yang sudah bergosip tentang bos gilanya. Jadi kena sasaran deh.
****
Sementara di mansion Gabriel,Zihan langsung mengaktifkan ponsel pemberian Gabriel. Dia sudah tak sabar ingin segera menghubungi orang tuanya. Hito dan Erina.
Rasa rindu juga rasa bersalah tiba tiba menyeruak masuk dalam hatinya. Dia benar benar tak bisa menerima apapun yang Gabriel lakukan padanya.
tut...tut...tut...
" Hallo,Mom " ucap Zihan.
" Sayang....Apa kabar? kemana saja kamu,nak ?. Mom and Dad kangen kamu. Bram juga suka nanyain kamu. " tanya Erina bertubi tubi.
Bram Khèdiar Shaletta, pemuda tampan berumur 16 tahun. Adik dari Zihan,yang selama ini selalu merindukan sosok Zihan.
" Zihan minta maaf Mom, ponsel Zihan ada yang ambil sewaktu Zihan di Bandara ( bohong Zihan) jadi Zihan tidak bisa menghubungi Mom. Lagian mau minta tolong sama Om,Om nya pun baru pulang perjalanan bisnis. " ucapnya " Zihan di sini kabar baik,kalau Mom and Dad juga Bram pa kabar? " lanjutnya.
Erina terkejut dengan kebohongan Zihan. Walau nyatanya semua yang Zihan ucapkan itu kebohongan tapi rasa cemas di hati Erina mendadak mode On.
" Kami baik baik saja.Dan apa kamu baik baik saja sayang,waktu ponselmu hilang? " cemas Erina.
" Tentu Mom,semua berkat Om,Gabriel " jawab Zihan. " O iya,Mom. Aku gak bisa ngobrol lama lama,soalnya aku mau mulai siapin pendaftaran buat kuliah " lanjutnya.
" Okelah. Semangat ya Sayang. Doa kami menyertai langkah mu " ucap Erina.
Setelah sambungan telpon berakhir,berakhirlah pula semua rasa yang Zihan tahan. Dia kini menangis sambil mendekap ponselnya.
Fikirannya kembali pada saat Zihan tiba di bandara. Seharusnya saat Gabriel bertingkah aneh,dia sudah mulai mencurigai. Namun akibat Zihan yang tak pernah mempunyai pikiran negatif,jadi ia berusaha juga untuk menepis keanehan Gabriel.
Bekas pelukan itu. Kejadian itu kini terngiang kembali.
__ADS_1
Aku janji akan balas semua perlakuan kamu Gabriel... batin Zihan berjanji.
Karena rasa lelah akibat banyaknya air mata yang keluar,akhirnya Zihan tertidur.
♡♡♡
Koko sedari tadi mondar mandir di depan kamar yang Zihan tempati. Pasalnya sudah hampir 6 jam Zihan mengurung diri di kamar.
Yang Koko khawatirkan ketika nanti Gabriel pulang dan mengetahui nyonya mudanya belum makan malam. Apalagi sebentar lagi waktunya Gabriel tiba di rumah.
" Aduh,non Zihan kenapa gak keluar dari tadi ? " gumam Koko.
Niat mau ketok pintu pun di urungkannya. Koko masih trauma dengan sikaf terakhir Zihan di kala Koko meminta Zihan terus menerus untuk makan malam.
Dia masih ingat bagaimana tatapan Zihan dan kelakuan Zihan yang sempat membanting pintu hingga pegangan pintu copot pas dia masuk kamar. Ingatan itu masih membekas di otak Koko.
" Koko " sapa seseorang di belakang Koko.
Deg....
" I.. iya Tuan " jawabnya menunduk.
(Mampus gue batin Koko )
" Kenapa kaya setrikaan kamu? " tanyanya.
" anu...anu.. Tuan. Nona,Zihan sejak tadi belum keluar dari kamarnya " jawab Koko.
Di saat itu juga mata tajam Gabriel tambah tajam.
" Apa dia sudah makan? " selidiknya.
" Belum,Tuan " Koko menjawab dengan pelan.
Tanpa nunggu lama,Gabriel meminta Koko membawa kunci cadangan. Karna kamar Zihan di kunci.
BRAKKK....
" ZIHANNN " teriak Gabriel.
▪︎▪︎▪︎▪︎
haiyo....Zihan Kenapa lagi ya..
Kayanya gabriel cemas banget tuh...
Sampai jumpa lagi di episode selanjutnya. Tetap pantengin,Ok...
jangan lupa LIKE,serta sarannya..
__ADS_1
Terima kasih